
Pagi harinya...
"kakak.. ! Kak .. !" Tara terus saja mengetuk pintu kamar kakak nya.
"Tara? Mengapa dia berteriak seperti itu sih!" Viola langsung bangun dari tidur nya. "Badan ku sakit sekali. Pasti karna, semalaman aku tidur di sofa." Viola pun berjalan kearah pintu kamar nya.
"Kakak! Kenapa lama sekali buka pintu nya?" ketus Tara pada kakak nya.
"Tara! Kau itu kenapa ? Pagi-pagi sudah berteriak seperti itu?" Viola yang kesal pada adik nya hanya bisa menahan rasa kesalnya saja.
"Pagi kakak bilang?? Lihat tu jam berapa!" Tara semakin kesal pada kakak nya.
"Emang nya jam berapa sih?" Viola yang mendengar kekesalan adik nya langsung melihat kearah jam tangan nya. "Ha! Sudah jam 9 ! Mengapa aku bangun sesiang ini sih!
"Mengapa kakak bertanya padaku!" kesal Tara.
"Uuhh adik kecil ku! Ada apa dengan mu Tara? Apa kau sedang datang bintang?" Viola yang melihat adik nya marah langsung mencubit pipi tembem adik nya itu.
"Kakak..!" Tara yang di cubit oleh kakak nya semakin merasa jengkel. "Kakak lupa hari ini hari apa?"
"Kakak ingat sayang." Viola menghela nafas nya dengan sangat baik.
"Terus? Kenapa kakak bangun sesiang ini?" Tara menatap kakak nya dengan penuh kekesalan.
"Maaf Tara..! Oh iya kamu gak ke sekolah dek?" Viola yang melihat Tara masih berada di kediaman ini membuat nya tersadar.
"Hari ini kelulusan ku kak. Jadi, aku bisa datang agak lama. Kakak bareng aku aja ya kesekolah nya?" Dengan segera Tara mengajak kakaknya.
"Kakak lama kesana dek! Mungkin jam 11 atau 12 nanti! Kayak nya kakak pergi kesana bareng sama kak Shelly Tara. Soalnya dia pernah bilang kalau Tara lulus nanti harus ajak dia ke acara kelulusan mu Tara." jelas Viola pada adik nya.
"Hemm ... ! Baik lah kak." Tara menundukkan wajahnya dengan kecewanya.
"Tara..! Mengapa kau cemberut seperti itu dek? Kakak pasti datang kok. Apalagi bareng kak Shelly! Emang nya Tara gak seneng ya?" Viola menatap adik nya dengan sangat lembut.
"Tentu saja senang kak! Hanya saja aku malas pergi kesekolah bareng bodyguard kakak ipar." ujar Tara dengan nada sendu nya.
"Tara itu semua untuk kebaikan mu. Jangan kan kamu dek! Kakak sendiri saja selalu diawasi oleh bodyguard si singa itu." Viola langsung tersenyum menatap adik nya.
"Yasudah kak! Aku siap-siap dulu ya." tutur Tara pada Viola.
"Iya dek!" balas Viola.
Tara pun meninggalkan Viola sendirian disana, Viola yang sudah melihat adik nya menjauh hanya bisa tersenyum saja. Dan kembali kekamarnya untuk kerumah sahabat nya itu.
"Darren kemana ya?" Viola langsung melihat keseluruhan kamar nya.
"Apa dia masih marah pada ku ya? Darren hanya soal aku menampar wajah mu saja, kau semarah ini padaku? Lantas, bagaimana dengan ku yang kau lihat tidak mengenakan apapun dihadapan mu? Seharusnya aku lah yang marah pada mu! Bukan sebaliknya." kesal Viola yang mengingat akan kejadian kemarin.
"Sudah lah! Lebih baik aku bersiap-siap dulu." Viola pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sahabat nya. Tidak menunggu waktu yang lama Viola selesai dan segera turun kebawah.
"Pak..!" Viola yang melihat pak Dadang langsung memanggil nya.
"Iya nyonya muda. Nyonya memerlukan sesuatu?" tanya pak Dadang dengan penuh hormat pada Viola.
"Tidak ada pak! Saya cuma mau nanya aja kok. Bapak lihat suami saya tidak?" Viola menatap pak Dadang yang ada dihadapannya.
"Tuan muda sudah berangkat ke perusahaannya nyonya muda. Tuan muda juga bilang kalau nyonya mau makan, nyonya bisa makan sendiri saja. Dan kalau nyonya mau ke acara nyonya Tara silahkan. Hanya saja harus ada sepuluh bodyguard yang mengikuti nyonya muda." Pak Dadang langsung memberitahukan pada nyonya mudanya atas perintah tuan nya.
"APA.. !" Viola yang mendengar ucapan pak Dadang sangat terkejut. "Kenapa gak sekalian seratus bodyguard saja pak yang menjaga saya!"
"Jika nyonya mau seratus bodyguard. saya bisa bilang ke tuan nyonya." Pak Dadang hanya tersenyum saja.
"Mengapa aku bisa terjebak di lingkungan aneh seperti ini sih." Viola hanya bisa menangisi nasibnya sendiri.
"Tidak perlu pak! Oh iya bilang pada tuan muda itu bahwa, saya tidak memerlukan bodyguard yang dia perintah kan itu." Viola pun langsung berjalan keluar dari kediaman Darren. Sedangkan pak Dadang tidak bisa melarang nyonya nya sama sekali. Karna, jika dia melarang nyonya nya sama saja dia cari mati.
"Nyonya..! Kau benar-benar tidak tau bagaimana perilaku tuan muda." Pak Dadang pun kembali berjalan mengawasi para pelayan yang ada di kediaman Darren.
"Dasar makhluk astral.. ! Alien.. ! Vampir berdarah ungu.. ! Manusia yang ga ada di bumi .. ! Bagaimana bisa dia menyuruh sepuluh bodyguard untuk mengawal ku. Emang nya aku ini istri nya presiden apa .. ! AAhhh mama tolong anak mu ini." Viola terus saja memaki-maki Darren di sepanjang jalan nya.
"Nyonya muda..!" Panggil seseorang dari belakang.
"Iya." jawab Viola dengan nada kesal nya.
"Nyonya mau kemana? Saya supir baru disini. Nama saya Sukirman. Jadi, kemanapun nyonya pergi pasti saya antar ya." ujar supir pribadi di kediaman Darren.
"Boleh saya minta kunci mobil nya pak?" Viola menatap supir yang ada dihadapannya.
"Tentu saja nyonya! Ini memang mobil nyonya muda. Jadi, nyonya berhak atas kunci mobil ini." Dengan segera supir pribadi Viola menyerahkan kunci mobil yang Viola minta.
__ADS_1
"Terimakasih pak.. !" Viola yang sudah mendapatkan kunci mobil nya langsung masuk ke mobil dan melaju kencang meninggalkan supir pribadi nya itu.
"Nyonya muda ...!" Teriak pak Sukirman yang melihat nyonya nya melaju begitu saja.
"Ada apa pak?" Pak Dadang yang mendengar teriakkan supir pribadi nyonya muda nya langsung keluar.
"Nyonya muda membawa mobil sendirian. Bagaimana ini pak?" tanya pak Sukirman pada pak Dadang.
"Gawat! Jika tuan muda tau nyonya mengemudi mobil sendirian dan tidak ada bodyguard yang mengawasi nya. Kita semua yang ada di sini bisa mati!" Wajah pak Dadang langsung memucat.
"Kita harus apa pak?" Tanya pak Sukirman itu lagi.
"Bapak saja tidak tau, apalagi saya!" ketus pak Dadang. "Salah satu caranya kita harus menelfon sekretaris tuan muda." timpal pak Dadang. Pak Dadang langsung meninggalkan pak Sukirman sendirian dan segera menelfon sekertaris tuan nya.
"Drrtt drtt drtt," getar ponsel Bobby berbunyi berkali-kali. Karna, panggilan pak Dadang tidak di angkat. Jadi, pak Dadang menelfon sekertaris tuan nya berkali-kali sampai di angkat.
"Siapa sih! Gak tau apa orang lagi ada rapat penting!" kesal Bobby dan memeriksa ponsel nya.
"Bob.. ! Siapa yang menelfon mu?" Darren yang melihat Bobby memegang ponsel nya langsung bertanya.
"Kepala pelayan di kediaman mu tuan." jawab Bobby.
"Yasudah! Kau keluar lah dan angkat telfon nya!" Perintah Darren pada Bobby.
"Baik tuan..!" Dengan segera Bobby keluar dari ruang rapat perusahaan Darren. Dan mengangkat ponselnya.
"Hallo tuan Bobby.." sapa pak Dadang.
"Tidak usah basa-basi .. ! Ada apa menelfon pak? Saya sedang ada rapat penting." Bobby berbicara dengan tegas nya.
"Baiklah tuan Bobby..! Saya cuman mau bilang bahwa, nyonya muda tiba-tiba saja pergi mengendarai mobil sendirian tanpa ada supir dan juga bodyguard tuan Bobby." jelas pak Dadang pada Bobby.
"Kalian itu bagaimana sih..! Untuk menjaga satu orang saja kalian tidak beres seperti ini.. ! Saya tidak bisa menanggung kemurkaan seorang Darren Abraham Khan nanti nya pada kalian semua!" Bobby yang mendengar perkataan dari kepala pelayan benar-benar sangat marah. Dia saja yang mendengar nya sudah semarah ini apalagi jika yang mendengar nya Darren.
"Maaf tuan Bobby.. ! Nyonya muda hari ini terlihat sedang marah. Jadi, kami semua tidak bisa melarang nya." Pak Dadang hanya bisa menahan rasa takut nya saja.
"Saya kasih waktu 3 jam! Jika, dalam waktu 3 jam kalian tidak bisa menemukan nya. Maka, saya akan memberitahu Darren. Dan kalian semua tau kan apa yang akan terjadi nantinya!" Bobby pun menutup ponselnya. Pak Dadang hanya bisa menghela nafas nya dengan sangat berat. Dan memerintahkan semua bodyguard yang ada di kediaman tuan nya untuk mencari nyonya muda nya.
"Ada apa Bob?" Darren yang melihat Bobby masuk langsung menanyakan nya.
"Bukan hal yang penting tuan." jawab Bobby yang menahan rasa marah nya.
"Yasudah kita lanjutkan lagi rapat nya!"
Mereka pun melanjutkan rapat penting yang sempat tertunda tadi.
...πΎπΎ...
Rumah Shelly...
"Assalamualaikum Shell.. !" Viola menekan bel rumah Shelly.
"Iya, wa'alaikumsalam." Shelly pun membuka pintu rumah nya. "Vio.. ! Ada apa kemari?"
"Shell.. ! Lo gak seneng gue kemari?" Viola yang mendengar ucapan Shelly semakin kesel.
"Bukan gitu ubul. Gue heran aja! Semenjak Lo nikah, Lo kan jarang banget datang ke rumah gue." ketus Shelly.
"Iya deh maaf! Oh iya Shell hari ini di sekolah Tara ada acara perpisahan sekolah nya. Dia mau Lo datang jugak kesana." ujar Viola yang masih berdiri di depan pintu Shelly.
"Benarkah?" Shelly tidak menyangka sama sekali.
"Ya iyalah..! Lo mau pigi gak?" Viola terus saja berbicara dengan intonasi kesal nya.
"Tentu saja dong! Apalagi jika itu acara perpisahan adik kecil ku." Shelly langsung bahagia. "Lo tunggu sebentar disini ya! Gue mau siap-siap dulu." Shelly pun masuk kerumahnya untuk bersiap-siap.
"Lo keterlaluan Banget sih Shell... ! Gue ini kan sahabat Lo. Masaan Lo tega nyuruh gue nunggu di luar seperti ini." teriak Viola pada sahabat nya.
"Lo lebay banget sih bul ! Gue cuman sebentar aja. Gak bakalan bikin kulit putih Lo itu jadi hitam kok!" Balas Shelly dari dalam rumah.
Shelly yang sudah selesai bersiap-siap langsung menghampiri sahabatnya yang sudah menunggu dirinya itu dengan wajah yang sangat kesal.
"Yuk kita berangkat.. !" ajak Shelly.
"Lama banget sih Shell!" kesal Viola.
"Vi! Lo cuman nunggu 10 menit loh? Masaan itu lama sih!" Shelly benar-benar kesal melihat sahabatnya itu marah-marah saja.
"Lama!" Ketus Viola.
__ADS_1
"Sebenarnya Lo kenapa ha?" Shelly yang melihat sahabatnya seperti itu langsung menghela nafas panjang nya.
"Lo tau gak sih! Si Darren itu benar-benar gila!" Viola yang sudah tidak tahan lagi menahan amarah nya. Dengan seketika meluapkan semua nya pada Shelly.
"Memang nya dia kenapa? Dia jahat sama Lo?" tanya Shelly dengan tatapan intens nya.
"Tidak! Dia tidak jahat. Hanya saja dia nyuruh 10 bodyguard hanya untuk jagain gue , udah gitu dia beliin gue mobil mahal ini dan tidak lupa jugak dengan supir pribadi untuk gue! Gila gak sih." Viola pun menunjukkan mobil yang ada di depannya.
"Woy Vi! Lo itu seharusnya bahagia dong. Lo sekarang udah jadi orang kaya! Apalagi punya mobil semahal ini!" Shelly menatap kagum kearah mobil yang ditunjuk oleh sahabat nya itu.
"Bisa tidak nanti saja kagum nya!" ketus Viola. "Dari pada dia ngasih gue mobil semahal ini. Lebih baik dia anggap lunas saja hutang gue padanya. Kan gampang! Gak harus repot seperti ini."
"Ubul ! Kau itu kenapa sih? Jika dia sudah memberikan nya maka biarkan saja." Shelly kembali memenangkan sahabat nya itu
"Aahh.. ! Lo gak ngerti Shell. Gue ini kesal! Lo tau gak sih Shell?" Viola menatap sahabatnya itu.
"Mana gue tau! Lo kan belum kasih tau gue. Gimana sih Lo ni!" Shelly yang melihat sahabatnya seperti itu langsung masuk kedalam mobil. Begitupun dengan Viola.
"Seharusnya Lo tau Shell!" Viola terus saja berbicara sepanjang jalan.
"Emang nya kenapa bul?" Shelly menatap sahabatnya yang sedang menyetir.
"Aku malu! Darren pernah melihat tubuh ku yang tidak mengenakkan pakaian apapun." Viola yang sudah kesal langsung menceritakan hal yang paling memalukan bagi nya pada Shelly.
"Hahahaha ... Vi Lo gila ya!" Shelly yang mendengar perkataan Viola terus saja tertawa terbahak-bahak.
"Lo yang gila.. ! Sahabat macam apa yang menertawakan sahabat nya yang sedang seperti ini." Viola yang melihat Shelly tertawa semakin tersulut emosi nya.
"Hahahaha ... Maaf bebs!" Shelly pun mengusap perut nya yang keram akibat tertawa.
"Lo keterlaluan Shell! Sahabat Lo sedang kesal. Eh loh malah ketawa!" gerutu Viola pada sahabat nya.
"Habis nya Lo itu lucu sih.. !" Shelly langsung menarik nafas nya panjang-panjang. "Sahabat gue yang paling cantik. Dengar ya! Jika, si tuan Darren itu melihat tubuh Lo yang tidak mengenakkan pakaian. Itu hal yang wajar Vi! Karna, dia sekarang sudah menjadi suami lo." Shelly berusaha menenangkan suasana hati Viola.
"Shell.. ! Lo kan tau pernikahan kami bukan atas dasar cinta. Jadi, dia gak berhak atas diri gue." Viola terus saja marah-marah.
"Vi! Mau bagaimana pun. Dia itu tetap suami lo. Jadi, itu merupakan hak nya. Lo gak boleh seperti itu! Lo mau jadi istri durhaka ha? Nanti kalo Lo di kutuk jadi janda bertelur kapok lo!" Shelly yang melihat wajah sahabat nya itu memerah langsung ketawa.
"Gini nih! Kalok punya sahabat yang otak nya keseleo. Jadi, susah kalok mau curhat." Kesal Viola yang langsung tersenyum melihat wajah Shelly yang memerah.
......................
SMA MAHATMA GANDHI SCHOOL, Jakarta Pusat.
Tidak menunggu waktu yang lama mereka pun sampai di sekolah Tara.
"Dimana adik kecil ku Vi?" tanya Shelly pada Viola.
"Shell.. ! Kalau Lo tanya ke gue. Lah gue nanyak ke siapa? Kan kita berdua sama-sama Disni." Viola yang tadi nya berniat untuk menghibur diri dengan mengajak Shelly. Eh malah semakin di buat kesal oleh sahabat nya.
"Oh iya gue lupa." Shelly menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Haduh....!" Viola pun berjalan masuk kesekolah dengan penuh kekesalan nya.
"Tunggu gue Vi!" teriak Shelly. Yang di tinggal oleh sahabat nya. Dan berjalan cepat mengejar sahabat nya itu.
Akhirnya mereka pun bertemu dengan Tara. Tara yang sangat cantik mengenakan pakaian perpisahan sekolah nya seperti sedang wisuda membuat Viola takjub.
"Dek.. !" Panggil Viola.
"Kakak.. ! Kak Shelly..!" Tara yang melihat seseorang yang memanggil nya langsung membalikkan badannya dan berlari kearah Kakak nya.
"Kakak lama sekali! Ini kan sudah jam 12. Acara perpisahan ku sebentar lagi akan selesai. Kakak keterlaluan!" lirih Tara pada kakak nya.
"Hey adik kecil! Kau itu seharusnya bersyukur. Karna, kakak mu ini sudah datang ke acara perpisahan mu." Dengan segera Shelly mencubit pipi tembem Tara.
"Aww kak Shelly!! Sakit tau." ketus Tara dengan wajah cemberut nya.
"Shell ... Lo itu jahat sekali pada Tara!" Viola tersenyum pada sahabat nya.
"Hahahaha ... Hitung-hitung untuk kenangan buat Tara Vi! Dia kan sudah lulus sekarang. Pasti, sebentar lagi dia akan berangkat ke Paris." Shelly tersenyum menatap Tara dan mengelus pipi Tara.
"Lo benar Shell!" Dengan seketika wajah Viola berubah menjadi sedih.
"Kakak jangan sedih! Kalau kakak sedih seperti ini. Aku semakin tidak ingin pergi." Isak Tara pada kakak nya.
"Hey! Kau tidak perlu khawatir dek. Kakak gak sedih kok! Yasudah kita duduk yuk." Viola pun mengajak adik nya untuk duduk.
Viola, Shelly dan Tara duduk berdampingan dengan melihat acara perpisahan adik nya yang sangat meriah itu. Dan penghargaan Tara sebagai siswa terpintar di sekolah nya membuat Viola dan Shelly sangat bangga sekaligus merasa terharu. Shelly memang bukan lah kakak kandung Tara. Tapi, bagi Shelly Tara sudah seperti adik nya sendiri. Dia tidak akan pernah membiarkan adik kecil nya itu menangis di hadapan nya.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...