
Viola tidak habis pikir bagaimana bisa suami nya itu sanggup berada di ruangan yang sudah jelas-jelas mengingatkan bagaimana kelam nya hidup dia dulu.
"Siapa kau?" Terdengar suara dari arah belakang membuat Viola sontak menjatuhkan wine yang ada di tangan nya itu.
"Berani nya kau masuk keruangan ini tanpa ijin dari ku!" Bentak Darren dengan suara yang sangat marah. Apalagi ketika ia melihat minuman nya sudah di pecah kan oleh gadis yang membelakangi diri nya.
Viola yang mendengar ucapan itu langsung membalikkan tubuh nya untuk memastikan pemilik suara yang sudah membentak dirinya.
"Viola?" Darren sangat terkejut ketika ia tau siapa wanita yang ada diruangan nya.
"Darren," Viola berlari begitu saja sehingga membuat dirinya tanpa sadar sudah menginjak pecahan botol wine yang ia jatuh kan itu.
"Istriku," Darren yang melihat Viola berlari dengan sangat cepat menangkap tubuh Viola saat dirinya hendak terjatuh.
"Darren kenapa kau ingin meninggalkan ku?" Viola tidak memperdulikan wajah Darren yang terlihat marah saat dirinya melakukan hal ceroboh seperti itu.
Darren tidak menjawab sama sekali ucapan dari Viola. Saat ini Darren langsung mengangkat tubuh Viola dan meletakkan nya di atas tempat tidur yang ada diruangan rahasia nya itu.
"Darren kau mau kemana?" Viola yang melihat Darren akan pergi dengan sangat cepat ia memegang tangan Darren.
"Kau tidak lihat bagaimana keadaan kaki mu itu! Aku akan panggil Kasella sekarang juga." Ujar Darren pada Viola dengan wajah yang sudah sangat khawatir.
"Aku tidak mau! Sudah cukup susah aku lepas dari pantauan dokter Andhika dan sekarang kau ingin membawa ku dengan mudah nya pada dia." Ketus Viola yang tanpa sadar mendapatkan tatapan tajam dari Darren.
"Viola Talisa! Kau kabur dari rumah sakit?" Darren menaikan nada bicara nya ketika mendengar ucapan Viola.
"Aww!! Darren sakit sekali." Viola yang tidak ingin dimarahi oleh Darren langsung mengeluarkan jurus akting nya itu dihadapan Darren.
"Apa nya yang sakit istriku? Kepala mu? Atau kaki mu?" Wajah Darren seketika terlihat khawatir saat wanita yang sangat ia cintai mengeluh kesakitan.
"Hati ku!" Viola mengambil tangan Darren dan meletakkan nya di dada nya membuat Darren menatap Viola dengan sangat lama.
"Diam lah disini!" Cukup lama Darren menatap Viola. Darren yang tersadar ternyata kaki Viola masih mengeluarkan darah. Langsung bangkit dari duduk nya
"Aku ikut," Viola ingin bangun dari duduk nya namun, Darren menghentikan Viola.
"Duduk lah dan tunggu aku!" Tegas Darren pada Viola membuat Viola menundukkan wajah nya.
Darren yang melihat Viola sudah nurut hanya bisa menghela nafas nya saja. Dan mengambil kota p3k di dalam laci meja kerja nya yang ada diruang nya itu.
"Bagaimana bisa kau berjalan tanpa melihat dulu?" Darren tidak habis pikir melihat tingkah konyol istri nya yang tidak berubah-ubah.
"Aww!!" Viola langsung meringis saat Darren menaruh Betadine pada kaki nya.
"Huff huff," Dengan cepat Darren meniup kaki Viola saat melihat wajah Viola yang kesakitan.
"Darren, kenapa kau mau meninggalkan ku?" Tanya Viola dengan wajah yang serius menatap Darren.
"Kita kembali kerumah sakit sekarang!" Darren yang sudah selesai memperban kaki Viola. Hendak membawa Viola kembali kerumah sakit.
"Aku tidak mau." Viola menepis tangan Darren dari nya.
"Kau belum sembuh Viola." Darren kembali ingin membawa Viola kerumah sakit.
__ADS_1
"Segitunya kau ingin aku pergi?" Viola menatap tidak percaya kearah Darren.
"Kau itu bicara apa Viola? Aku hanya tidak ingin kesehatan memburuk." Darren tersenyum pada Viola dan menghapus air mata Viola.
"Aku sudah baik-baik saja Darren!" Teriak Viola pada Darren.
"Bagaimana bisa kau bilang kau sudah baik-baik saja! Sedangkan Andhika mengatakan kau harus lebih di pantau lagi." Darren menatap Viola dengan wajah yang tidak dapat di artikan.
"Dari mana kau tau aku harus di pantau lagi?" Viola menatap intens wajah Darren.
"Sudah tidak usah mengalihkan pembicaraan! Kita kerumah sakit sekarang." Darren langsung menggendong tubuh Viola secara paksa. Membuat gadis itu terus saja memberontak.
"Darren turunkan aku!" Teriak Viola pada Darren.
"Aku akan menurunkan mu jika kita sudah sampai di rumah sakit nanti." Tegas Darren pada Viola.
"Aku bilang turun kan!" Viola menatap Darren dengan mata yang sudah sangat marah.
"Kali ini saja dengar kan ucapan ku Viola!" Darren menyatukan kening nya pada kening Viola membuat wajah mereka sangat dekat.
"Kau lah yang harus mendengar kan ku saat ini Darren." Ujar Viola dengan suara yang sudah mengecil.
"Baiklah! Sekarang apa yang ingin kau katakan? Setelah kau sudah selesai mengatakan nya kita akan kembali kerumah sakit." Darren menatap intens wajah Viola.
"Baiklah," Viola mengulurkan tangan nya tanda kesepakatan diantara mereka. Darren yang melihat uluran tangan Viola langsung membalasnya.
"Apa ini?" Viola langsung mengambil surat cerai mereka yang ia jatuhkan diatas lantai.
Darren menatap kearah dokumen tersebut lalu mengambil nya dan membuka dokumen itu.
"Darren kau benar-benar ingin bercerai dengan ku?" Mata Viola sudah berkaca-kaca menatap kearah Darren.
"Bukan kah itu keinginan mu Viola! Sudah ku katakan apapun yang kau ingin kan pasti akan ku berikan." Darren mengelus kepala Viola.
"Tapi kenapa kau tidak menolak nya?" Viola menatap Darren dengan wajah yang sudah sangat sedih.
"Aku sudah menolak namun, kau bilang hidup mu hancur bersama ku. Maka, aku akan membuat dirimu memiliki kehidupan yang lebih baik lagi." Jawab Darren pada Viola.
"Kau jahat Darren! Aku benci pada mu." Viola langsung memukul dada bidang Darren membuat Darren kaget melihat sikap Viola.
"Viola!!" Tanpa sadar Darren meninggikan suaranya itu membuat Viola tersentak.
"Kau membentak ku?" Viola menatap Darren dengan mata yang terlihat masih di penuhi air mata nya itu.
"Aku tidak membentak mu." Darren menghela nafas nya dengan sangat panjang.
"Aku hanya tidak ingin luka mu semakin parah karna terlalu banyak bergerak." Darren mengusap pipi Viola.
"Jika kau tidak ingin luka ku semakin parah. Lalu kenapa kau mau meninggalkanku begitu saja Darren?" Viola yang sudah lelah langsung terduduk di atas lantai.
"Apa yang kau lakukan istri ku?" Melihat sikap Viola membuat Darren benar-benar tidak habis pikir lagi.
"Darren jangan pergi." Viola langsung nangis sekuatnya di hadapan Darren.
__ADS_1
"Viola kau baik-baik saja?" Darren yang melihat Viola menangis langsung memegang kening Viola untuk memastikan kalau dia baik-baik saja.
"Darren maafkan aku." Saat Darren sudah berjongkok di hadapan nya Viola pun memeluk tubuh Darren dengan sangat erat.
"Kenapa kau harus minta maaf Viola?" Darren semakin bingung melihat sikap Viola yang sangat aneh.
"Darren kau mencintaiku?" Viola Menangkup wajah suaminya itu sehingga kedua bola mata mereka saling bertemu.
"Jawab lah!" Teriak Viola pada Darren yang masih menatap nya dengan wajah yang sulit untuk di mengerti.
"Apakah itu penting? Lagian kita juga sudah akan berpisah Viola Talisa! Jadi kurasa itu juga sudah tidak ada artinya lagi." Jawab Darren dengan suara datarnya pada Viola. Membuat hati Viola benar-benar merasa sangat sakit sekali.
"Darren," Viola melepaskan tangan nya dari wajah Darren dan menundukkan wajah nya agar Darren tidak melihat bagaimana buruk nya dia saat ini.
"Kau sudah selesai? Maka kita kerumah sakit sekarang." Darren hendak mengangkat tubuh Viola kembali. Namun Viola langsung menahan tangan Darren.
"Apa lagi sekarang Viola?" Darren yang melihat Viola kembali berulah hanya bisa menghela nafas nya dengan kasar.
"Kau tidak usah memperdulikan bagaimana kondisi ku saat ini Darren! Bukan kah kau sudah mengatakan kita akan bercerai. Jadi kurasa tidak wajar terlalu memperhatikan calon mantan istri mu ini." Ujar Viola dengan suara yang pelan membuat Darren terdiam.
"Ijin kan aku melakukan ini untuk yang terakhir kali nya untuk mu Viola." Darren menatap Viola yang masih berdiam di tempat nya.
"Baiklah! Ini yang terakhir kali nya kau mengkhawatirkan ku Darren. Tapi, jika suatu saat kau mendengar hal yang terjadi sesuatu pada ku. Kau tidak perlu lagi menghawatirkan ku!" Viola berbicara dengan intonasi yang sangat serius.
"Baiklah jika itu mau mu!" Darren yang mendengar ucapan Viola memejamkan mata nya. Jujur saja rasanya sakit sekali saat mendengar ucapan dari Viola.
"Kau yakin? Bagaimana jika aku tiba-tiba menghilang? Dan bahkan orang-orang mu sekalipun tidak bisa mencari di mana keberadaan ku? Kau baik-baik saja bukan?" Viola menatap mata Darren dengan mata nya yang terlihat merah.
"VIOLA TALISA! Kau itu sedang bicara apa?" Amarah Darren langsung naik saat ucapan Viola selesai.
"Antar aku kerumah sakit." Pinta Viola dengan mengalihkan pandangannya itu.
"Dengarkan aku!" Darren tau ada yang tidak beres dengan Viola saat ini. Sehingga membuat Darren harus mengontrol emosi nya itu.
"Walaupun kita sudah berpisah aku akan tetap menjaga mu dari jauh. Viola ku harap kau jangan pernah berpikir untuk menghilang dari dunia ini! Karna dengan kita akan bercerai saja aku sudah sangat gila! Apalagi kalau kau menghilang." Darren menyatukan keningnya pada Viola.
"Jangan menyiksa ku lebih dari ini istriku!" Lirih Darren yang tanpa sadar air mata Darren sudah keluar.
"Lalu kenapa kau ingin pergi?" Mata Viola menatap dengan sangat intens kearah Darren.
"Pergi?" Darren malah kembali bertanya pada Viola.
"Setelah aku menandatangani surat cerai itu kau akan pergi bukan?" Tanya Viola dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Dari mana kau tau itu?" Darren tampak terkejut mendengar ucapan dari Viola.
"Sekretaris mu." Jawab Viola.
"BOBBY CHARLTON!" Darren terlihat kesal pada sekertaris nya yang tidak bisa menjaga rahasia nya itu.
"Darren kenapa kau mau meninggalkan ku?" Isak Viola.
"Tenanglah! Kesehatan mu bisa memburuk Viola." Darren langsung memeluk tubuh Viola yang tampak sudah menangis sesenggukan.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...