
Flash back on.
Saat itu Darren masih menatap ke para bodyguard dan juga supir nya dengan sangat tajam.
"Kalian, pergi dari sini!" Darren pun mengalihkan pandangannya ke arah pelayan di kediaman nya yang masih berdiri dengan takut.
"Ba-baik tuan muda." Pelayan itu pun dengan lari kecil meninggalkan tuan muda nya yang sudah sedingin es.
Kini tatapan Darren kembali tajam pada supir dan juga bodyguard nya yang masih tertunduk itu.
"Mengapa diam!" Sergah Darren pada mereka semua. "Apa kalian tidak tau kesalahan apa yang kalian buat ha!!" kini nafas Darren sudah sangat memburu dengan amarah nya.
"Tu-tuan muda, maaf kan kami." Hanya itu saja yang bisa mereka ucapkan saat ini. Jika tuan nya masih punya sedikit hati saja mungkin mereka akan aman. Namun apakah tuan nya memiliki hati??
"Kalian pikir dengan kalian minta maaf dengan ku, luka di tangan istriku itu akan segera sembuh!" Darren terus saja marah pada mereka. Mendengar kata maaf dari mereka semakin membuat Darren marah.
"Tu-tuan saya benar-benar minta maaf. Saat itu nyonya muda meminta kunci mobil nya dan pergi begitu saja. Saya tidak bisa menghentikan nya." ujar supir yang sudah di tugaskan untuk mengantar Viola kemana pun dengan nada yang sangat gemetar.
"Jadi maksud mu istri ku yang salah?" raung Darren pada supir itu dan mencekram kerah baju supir tersebut.
"Ti-tidak tuan muda, nyonya muda tidak salah. Saya yang salah!" Supir tersebut sudah sangat ketakutan dan berusaha menahan badannya itu yang sudah gemetaran.
"Kau memang salah! Jika istriku itu memaksa seharusnya kau menghubungi ku terlebih dahulu!" tegas Darren pada supir tersebut.
"Ba-baik tuan muda." Jawab supir itu dengan kepalanya yang tertunduk.
"Dan kalian!" Mata Darren beralih ke pada bodyguard yang bertugas menjaga nyonya muda nya itu.
"Bukan kah tugas kalian menjaga istriku? Lantas mengapa kalian bisa membuat nya di culik ha?" Amarah Darren sangat besar. Jika saja dia tidak menemukan istrinya, mungkin entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ma-maaf tuan muda. Kami sudah berusaha menjaga nyonya muda, namun mereka lebih banyak dari kami." ujar ketua bodyguard yang ada di sana.
"Percuma saja saya membayar kalian semua, jika tidak ada gunanya!" Darren menghela nafas nya dengan sangat kasar.
"Ma-maaf kan kami tuan muda!" Mereka berusaha meminta maaf pada tuan nya itu. Mereka juga takut jika tuan mereka memecat mereka.
"Sebagai hukumannya, kalian semua kerja tanpa henti selama 2 bulan tanpa gaji sedikit pun!" ujar Darren dengan nada tingginya.
"Apa kah kalian tidak terima dengan hukuman ini?" Darren yang melihat mereka hanya diam saja kembali menatap mereka satu persatu.
"Ka-kami semua terima tuan muda!" jawab mereka dengan sangat ragu.
__ADS_1
"Bagus, waktu 2 bulan itu sangat sebentar! Jika istri ku tidak di temukan selama 5 hari mungkin saja hukuman kalian selama 5 bulan. jika 12 hari tentu saja akan jadi 1 tahun. Jika sebulan, maka kalian pikir kan saja seberat apa hukuman kalian itu! Jadi bersyukur lah karna istri saya cepat di temukan!" Darren pun pergi meninggalkan mereka dengan aura dingin nya.
"Te-terimakasih tuan muda!" Mereka merasa lega karna tuan muda mereka tidak memecat mereka semua. Ya walaupun mereka akan kerja selama 2 bulan tanpa gaji.
"Jika Viola tidak di temukan selama sebulan mungkin aku sudah tidak akan jadi tuan muda kalian lagi! Karena aku akan gila jika istriku itu tidak ada!" gumam Darren dengan langkah nya memasuki kediaman.
Flash back off
...πΎπΎ...
Darren dan Viola sudah berada di kamar mereka. Viola merasa sangat rindu pada kamar nya itu, dia juga ingin sekali segera tidur.
"Darren aku merindukan kamar ini." ujar Viola dengan melihat keseluruhan ruangan nya.
"Hanya kamar saja yang kau rindukan? Aku sebagai suami mu tidak kau rindukan?" Darren pun langsung memeluk tubuh Viola dari arah belakang.
"Darren apa yang kau lakukan?" Viola sangat terkejut melihat Darren memeluk nya dengan sangat erat. Jujur saja Viola sendiri merasa rindu dengan pelukan suami nya itu.
"Istriku! Aku sangat merindukanmu." Darren kini semakin kuat memeluk Viola.
"Deg!" Rasanya untuk saat itu juga jantung Viola seperti ingin copot saja.
"Darren, lepaskan! Aku tidak bisa bernafas." Viola berusaha mendorong tubuh Darren dengan pelan. Agar Darren juga tidak marah lagi padanya.
"Darren, apa kau masih marah pada ku?" tanya Viola dengan tatapan mata sendu nya pada Darren.
"Hahaha, kau itu!" Darren menyentuh hidung Viola dengan gemas. "Aku tidak pernah marah pada mu Viola! Aku hanya kesal saja. Kau sudah memancing ku, namun kau tidak ingin bertanggung jawab!" Darren kini mendudukkan Viola ke atas tempat tidur mereka.
"Kapan aku memancing mu?" Viola yang tidak mengerti kembali menatap suaminya itu.
"Sudah, sekarang istirahat lah!" Darren yang tidak ingin berdebat lagi pada istri nya itu. Langsung menyuruh Viola untuk tidur.
"Tapi, jelas kan dulu pada ku Darren." Viola semakin penasaran dengan apa yang di ucapkan Darren padanya.
"Aku akan menjelaskan nya jika kau sudah bangun nanti!" Darren mencium kening Viola dengan sangat lembut.
"Janji ya?" Viola menjulurkan jari kelingking nya pada Darren sepeti anak kecil saja.
"Iya janji, honey." Darren pun membalas jari kelingking Viola padanya.
"Terimakasih!" Entah kenapa Viola merasa senang berada di samping Darren. Seperti ada rasa aman tersendiri yang selalu melindungi nya.
__ADS_1
"Sekarang tidur lah istri ku!" Darren pun berbaring di samping Viola dengan posisi membelai rambut Viola.
"Emh," dengan segera Viola memejamkan mata nya dan memeluk Darren.
Kini Viola sudah tertidur dengan sangat lelap nya. Darren terus saja menatap wajah cantik itu dengan sangat intens. Entah mengapa Darren merasa sangat takut jika harus kehilangan Viola lagi. Darren berdiri dari ranjang nya dan berjalan perlahan ke arah pintu kamar nya dan membiarkan Viola beristirahat di sana.
"Bagaimana?" Tanya Darren melalui sambungan telefon nya.
"Darren mereka semua sudah aku selesai kan!" balas Bobby melalui sambungan telfon tersebut.
"Bob, aku tidak ingin kau melukai fisik mereka saja! Aku juga ingin kau melukai mental mereka!" ujar Darren dengan sangat tegas nya pada sahabat nya itu.
"Darren! Sebaiknya kau lupakan saja. Mereka juga sudah di beri pelajaran. Aku tidak ingin masalah ini terdengar oleh mama dan juga omay mu." Bobby berusaha menenangkan sahabat nya itu.
"Bob, kau tau bukan aku seperti apa?" kini Darren berbicara dengan suara tajam nya pada Bobby.
"Karna, aku sangat mengerti kau seperti apa! Makanya aku ingin menghentikan mu agar masalah ini tidak semakin panjang." Kini Bobby dan Darren pun saling beradu argumen mereka masing-masing.
"Bob, kau tidak tau seperti apa rasanya kehilangan orang paling aku sayangi. Jika kau sudah punya pasangan nanti mungkin kau akan mengerti!" ujar Darren dengan suara berat nya dan memutuskan telfon nya.
"Aku memang tidak memiliki pasangan, namun aku lebih paham soal cinta dari pada mu Darren." ujar Bobby ketika Darren memutuskan panggilannya.
Bobby kini kembali menatap ponselnya, ketika melihat ada pesan singkat yang ia terima.
"Aku tidak mau tau! Kau harus menghancurkan semua orang yang terlibat dalam hilang nya istriku itu!" Perintah Darren melalui pesan singkat nya.
"Baiklah Darren, tapi jika Tante dan juga omay marah karna hal ini, aku tidak ingin bertanggung jawab! Karna ini adalah perintah mu bukan atas keinginan ku sendiri!" Tegas Bobby lagi pada Darren.
"Jika mereka marah aku tidak akan melibatkan mu!" Balas Darren dengan singkat.
Kini Bobby yang melihat balasan itu hanya bisa menghela nafas nya saja. Dia sudah sangat lelah menghadapi sahabat nya yang sangat banyak mau nya itu.
"Lebih baik aku pulang dan beristirahat saja!" Bobby bangkit dari kursi kerja nya.
Tidak menunggu waktu yang lama kini Bobby sudah berada di dalam mobil dan melaju kan mobil nya itu dengan sangat kencang.
"Nona Shelly! Haha, mengapa aku bisa teringat pada nya tiba-tiba sih!" Bobby pun tersenyum dan terus saja melajukan mobil nya.
Jujur saja sejak pertama melihat Shelly, Bobby merasa sedikit tertarik padanya. Namun karna Shelly memiliki mulut yang sangat pedas dengan kata-kata nya membuat rasa tertarik itu menjadi biasa saja. Karna tugas Bobby adalah melindungi orang-orang yang paling di sayangi nyonya muda nya itu.
Bobby tidak sempat mengurus masalah percintaan dalam kehidupan nya itu. Jangan kan untuk urusan cinta nya. Urusan pribadi nya saja dia sudah sangat kuwalahan. Karna, tugas Bobby selalu saja mengurus sahabat sekaligus tuan muda nya itu.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...