
Kediaman two drn. Khan
Viola yang sudah tiba di kediaman milik suaminya dengan sangat cepat ia keluar dari mobil tanpa di buka kan terlebih dahulu oleh supir pribadi milik Bobby.
"Terimakasih pak! Bapak sudah boleh pergi." Perintah Viola pada supir tersebut dan langsung masuk ke dalam kediaman nya.
"Pak," teriak Viola membuat semua pelayan dikediaman tersebut langsung keluar dan betapa terkejutnya mereka melihat nyonya muda mereka berada di kediaman saat ini.
"Nyonya muda," pak Dadang yang berada di ruang makan langsung berlari mendengar ada seseorang yang berteriak.
"Dimana Darren?" Tanya Viola yang terlihat sudah ngos-ngosan.
"Nyonya muda bukan kah nyonya masih sakit. Kenapa nyonya berada disini?" Pak Dadang terlihat sangat khawatir menatap kearah nyonya muda nya.
"Pak, bukan waktu nya menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan. Sekarang yang ingin aku cari adalah suami ku pak." Viola terlihat sangat tidak baik-baik saja. Kedua mata nya yang khawatir dan ketakutan terus saja menghantui nya.
"Nyonya muda, sejak pagi tadi saya tidak melihat tuan muda." Jawab pak Dadang dengan wajah yang tertunduk.
"Sedikitpun pak?" Viola menatap intens wajah pak Dadang.
"Sejak tuan muda pulang dari rumah sakit tuan muda sangat jarang sekali keluar. Kecuali di malam hari nyonya." Jawab pak Dadang kembali pada Viola.
"Darren kenapa kau seperti ini," terlihat dengan sangat jelas air mata Viola sudah keluar dari mata nya.
"Nyonya muda," pak Dadang langsung memegang tubuh Viola saat Viola hampir saja terjatuh karna dirinya masih terasa sangat lemah untuk di gerakkan.
"Terimakasih pak," Viola kembali berusaha berdiri seperti semula.
"Nyonya muda, sebaiknya nyonya kerumah sakit sekarang! Saya takut kalau tuan muda tau nyonya masih belum sembuh dan sudah pulang. Maka, tuan muda akan membunuh kami semua." Pak Dadang sudah sangat ketakutan. Setelah bagaimana mereka mendapatkan hukuman karna tidak menuruti perintah dari nya yang melarang Viola untuk keluar.
Viola menatap kearah pak Dadang. Pak Dadang memang benar-benar ketakutan. Tapi, saat ini yang paling penting adalah Darren.
"Pak, saya akan kelantai 6 sekarang." Ujar Viola pada pak Dadang.
Pak Dadang yang mendengar ucapan Viola langsung membelalakkan matanya itu. Tidak hanya pak Dadang saja seluruh pelayan yang ada di lantai bawah juga sama terkejutnya dengan pak Dadang.
"Tapi Nyonya--" pak Dadang bingung harus melarang atau tidak. Karna selama ini yang pak Dadang ketahui tuan muda nya itu tidak pernah membawa nyonya muda nya kelantai 6.
"Kali ini saya yang akan bertanggung jawab jika Darren marah pak." Viola berusaha menenangkan pak Dadang dan langsung berjalan kearah lift pribadi mereka dengan sangat tergesa-gesa.
"Kuharap kau belum meninggalkan ku Darren," lirih Viola di dalam lift dengan air mata yang terus mengalir.
Viola yang sudah tiba di lantai 6 menatap dengan wajah yang sulit di artikan. Lantai 6 terlihat sangat penuh misteri saat dirinya keluar dari lift.
"Viola fokus pada Darren!" Viola memukul pipi nya sendiri. saat dirinya sudah sangat terpesona dengan lantai 6.
"Kurasa itu pintu nya!" Saat Viola melihat kearah satu ruangan yang terlihat sangat jelas di mata nya. Viola berjalan sangat cepat kearah pintu tersebut.
Viola yang sudah tiba di depan ruangan lantai 6 yang sangat besar dari pada ruangan lain nya. Tanpa basa-basi lagi Viola hendak membuka ruangan tersebut namun sayang sekali ruangan itu memerlukan password untuk membuka nya.
__ADS_1
"Sial! Kenapa harus di kunci sih." Kesal Viola saat dirinya sudah kehabisan cara untuk membuka pintu ruangan tersebut.
"Mungkin tanggal lahir Darren!" Dengan sangat cepat Viola memasukkan tanggal lahir Darren.
Salah!
Terdengar ruangan tersebut berbunyi saat ia memasuki password yang salah membuat Viola sontak kaget saat tiba-tiba saja ada suara.
"Viola tenang lah! Kau belum mati hanya karna suara dari ruangan ini." Viola mengelus dada nya itu.
"Tanggal lahir papa Darren?" Viola menekan tanggal lahir papa Darren yang ternyata benar saja pintu ruangan tersebut langsung terbuka.
Welcome young lady!
Viola yang mendengarnya kembali terkejut. Ia sangat kaget saat ruangan tersebut sudah terlihat sangat akrab dengan diri nya. Padahal ini adalah kali pertama Viola datang kemari.
"Kenapa kalian mengenal ku?" Tanya Viola dengan nada yang masih kebingungan.
Perlahan viola memasuki ruangan tersebut dengan langkah yang terlihat sangat gemetar. Langkah pertama Viola memasuki ruang tersebut lampu ruangan langsung mati membuat Viola sangat takut.
"Darren," panggil Viola.
"Kau tau bukan aku takut gelap?" Lirih Viola dengan air mata yang kembali keluar.
Cukup lama Viola berdiri di ruangan tersebut tanpa melanjutkan langkah kedua nya karna ruangan tersebut sangat lah gelap. Viola mencoba memberanikan dirinya kembali dan mulai melangkah kan kaki nya. saat langkah kedua Viola lakukan, terdapat layar besar langsung menyala membuat Viola kembali terkejut.
"Papa," teriakan seorang anak kecil dari layar tersebut membuat Viola semakin bingung.
"Sayang sudah cukup! Kasian Darren." Viola langsung terkejut saat dirinya melihat ada mama mertua nya di layar tersebut.
"Mama?" Viola menutup mulut nya itu.
"Darren masuk lah dan bersihkan dirimu! Setelah ini kita akan makan ya sayang." Viola terus saja menatap Kearah layar itu.
"Tidak mau, Darren hanya mau sama papa." Melihat kemanisan dari Darren kecil membuat Viola tersenyum.
"Lihatlah sekarang! Bahkan anak ku sendiri sudah tidak ingin menuruti ku lagi." Aurora tersenyum menatap kearah suaminya.
"Bayi kecil ku adalah anak yang penurut! Jadi tidak mungkin dia tidak nurut. benarkan sayang?" Papa Darren menatap anak nya dengan senyum di wajah nya.
"Tentu saja! Darren kan anak yang cerdas dan juga baik seperti papa." Mendengar suara Darren yang masih sangat anak-anak membuat Viola merasa sedih.
Namun, tiba-tiba saja rekaman tersebut berganti saat usia Darren 10 tahun.
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday Darren!" Terlihat sangat jelas wajah mama Darren, papa Darren dan juga Darren sangat bahagia. Di rekaman tersebut mereka sedang merayakan ulangtahun Darren dengan sangat bahagia.
"Sayang buat permohonan dulu." Mama Darren menghentikan putra nya saat ingin meniup lilin ulang tahun nya.
"Pa, apa Darren harus membuat permohonan dulu?" Darren malah menatap kearah papa nya yang saat ini mengelus rambut nya itu.
__ADS_1
"Lakukanlah jika Darren menginginkan nya." Papa Darren tersenyum kearah Darren.
"Baiklah, maka Darren ingin memohon agar Darren memiliki kehidupan yang lebih bahagia di ulang tahun selanjutnya. Dan Darren juga ingin ketika besar nanti memiliki istri seperti mama." Dengan wajah yang malu Darren mengatakan permohonan nya di depan mama dan juga papa nya.
"Sayang, lihat lah Putra mu itu." Mama Darren langsung tertawa mendengar perkataan Darren membuat wajah Darren langsung cemberut.
"Pa, lihat mama!" Darren langsung memeluk papa nya karna ejekan oleh Aurora.
"Sayang," papa Darren malah berpura-pura sendang memarahi istri nya itu walaupun sebenarnya ia sedang menahan tawa nya.
Viola yang masih menatap rekaman tersebut ikut tertawa juga melihat bagaimana polos nya Daren saat itu.
"Darren, benar kata mama! Kau terlihat persis seperti papa mu. Bahkan kau sangat dekat dengan papa mu." Viola terus saja menatap rekaman tersebut.
Viola yang sudah terlarut dengan rekaman masa kecil Darren yang sedang ia lihat. Namun, tiba-tiba saja rekaman tersebut malah menghilang dan langsung menuju ke rekaman lain nya.
"15 tahun ku?" Viola menautkan kedua alisnya saat melihat tulisan yang tertera pada layar itu.
"Itu kan Darren?" Viola melihat Darren memegang sebuah piala dengan berjalan sambil melompat-lompat. Wajah Darren terlihat sangat senang dan berjalan kearah tangga.
"Jangan-jangan ini rekaman--" Viola langsung memundurkan langkahnya itu dan menutup mulut nya.
"Tidak Darren! Kau jangan keruangan itu." Viola berbicara sendiri dengan layar yang ia tatap.
"Papa pasti bangga!" Ujar Darren remaja saat hendak membuka ruangan kerja papa nya.
"Jangan Darren!" Viola langsung berteriak dengan sangat kuat nya. Syukurlah ruangan tersebut kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar nya saat berteriak.
"Papa!" Darren menjatuhkan piala nya ketika ia melihat papa nya sudah berada di lantai.
"Darren," Viola langsung terduduk di lantai melihat kejadian itu. betapa sedih nya Viola saat melihat wajah Darren.
"Pa, bangun lah!" Darren yang saat itu masih sangat remaja mulai kebingungan saat melihat papa nya terjatuh di lantai. Ia berteriak membuat semua orang berlari menghampiri Darren. Tidak hanya Darren saja yang terkejut, mama Darren juga langsung terjatuh melihat suaminya berada di lantai. Darren remaja terus saja menggenggam tangan papa nya.
Setelah rekaman tersebut selesai layar besar itu pun mati secara tiba-tiba. Sementara viola masih berada di lantai dan memegang dada nya itu.
"Aku paham mengapa kau jadi seperti ini Darren." Suara Viola sudah sangat serak akibat tangis yang ia keluarkan.
Viola berusaha bangkit dengan memegang sesuatu yang ada di samping nya. Viola melangkahkan kaki nya itu. Maka seluruh lampu di ruangan tersebut langsung menyala.
"Ruangan macam apa ini?" Viola menatap nya dengan wajah yang sangat terpesona.
Terlihat di sana ada wine yang tersusun rapi dan sangat banyak. Lukisan yang indah, foto keluarga nya yang sangat besar.
"Aku tau kenapa di kediaman ini tidak ada foto keluarga Darren sama sekali! Ternyata selama ini Darren meletakkan foto keluarga nya disini." Viola memegang foto tersebut yang sudah terbingkai besar.
Berbagi macam penghargaan ada diruangan ini. Ternyata Darren selama ini menyimpan hasil prestasi nya di sini. Viola benar-benar tidak percaya ternyata pria yang sudah hampir setahun bersama nya memiliki rahasia yang cukup besar. Di ruangan ini benar-benar membuat Viola tidak henti-hentinya merasa kagum dan juga sedih. Semuanya ada di ruangan ini.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1
...****************...