
Viola menatap tajam kearah wanita tersebut,"jika kau tau siapa aku, maka kau akan menyesali nya!" Tekan Viola.
"Menyesal??" Pelayan tersebut langsung tertawa
Melihat wanita tersebut dan yg lain nya ikut tertawa membuat Viola semakin geram. Namun, tiba-tiba saja..
"Maaf nona, bukan kah anda Viola Talisa?" Tanya salah seorang yang sedang berbelanja disana.
"Iya benar," jawab Viola.
Para pelayan tadi langsung menatap kearah wanita yang terkenal orang kaya. Karna dia adalah langganan di mall tersebut.
"Jadi benar ini anda?? Wah saya sangat beruntung bisa bertemu dengan istri dari seorang miliarder dunia." Wajah wanita tersebut langsung berbinar.
"What's!!" Para pekerja di sana saling menatap satu sama lain.
"Anda tau nona? Saya benar-benar mengagumi anda." Wajah wanita tersebut masih berseri-seri menatap Viola.
"Terimakasih," Viola hanya tersenyum saja.
"Tu-tunggu dulu! Apa maksud mu mengatakan dia adalah istri dari seorang miliarder dunia?" Tanya pelayan itu yang masih tidak mengerti.
"Ah yang benar saja! Anda tidak tau siapa dia? Dia adalah istri pemilik mall ini." Ucap nya pada pelayan.
"Itu tidak mungkin!" Pelayan tersebut langsung tertawa kecil walaupun hati nya berkata lain.
"Kau tidak percaya? Baiklah akan ku tunjukkan. Walaupun mereka sudah menghapus berita tersebut secara permanen. Namun, aku sempat men screenshot nya." Wanita tersebut langsung membuka ponsel nya dan menunjukkan pada pelayan tersebut.
Sementara Viola dan Shelly bergegas meninggalkan mereka disana begitu ia melihat para bodyguard hendak mendatangi mereka. Karna tidak ingin semua orang ketakutan oleh sebab itu Shelly dan Viola langsung meninggalkan tempat tersebut.
"Ter-ternyata dia istri dari Tuan Muda," Pelayan itu pun langsung menelan saliva nya dengan sangat susah.
Ia melihat sekitar nya namun, sosok wanita yang sudah ia hina tidak ada lagi. Sungguh saat ini ia menyesali perbuatannya itu. Tidak hanya dia saja para pelayan lain yang sempat ikut menghina viola juga ketakutan.
Disisi lain Viola dan Shelly sudah berada di halaman depan mall.
"Mengapa kalian mengikuti saya? Bukan kah sudah saya katakan untuk membiarkan saya bersama sahabat saya tanpa gangguan sedikit pun!" Viola menatap tajam mereka.
"Maaf nyonya muda, ini semua perintah dari tuan muda." Jawab kepala bodyguard.
"What's!! Bagaimana dia bisa tau gue sama lo shell?" Viola menatap sahabat nya.
"Vi, lo lupa suami lo itu siapa?" Shelly menghela nafas nya.
"Karna keluguan lo itu. Bahkan lo sendiri tidak tau kalau tidak mungkin suami lo tidak mengetahui rencana tidak masuk akal lo itu. " Ucap nya kembali namun di dalam hati.
"Lo benar shell!" Viola sadar mau sekeras apapun dirinya melarikan diri dari Darren. Tetap saja suaminya itu pasti dapat menemukan nya dengan sangat mudah.
Rencana yang awal nya tadi ingin berbelanja, kini berubah menjadi acara makan. Karna sejak tadi sahabat nya terus menerus merengek karna lapar. Hingga membuat Viola memutuskan untuk makan terlebih dahulu dan langsung pulang. Jujur saja, semngat empat lima yang sebelumnya ia tunjukkan berubah menjadi orang yang sangat kelelahan.
"Hati-hati ya vi, " Ucap nya saat ia sudah tepat berdiri di depan apartemen nya. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama bersama sahabat nya itu.
__ADS_1
"Emh, " Viola tersenyum .
"Semoga malam ini berjalan sesuai harapan ya ubul!" Shelly kembali menyemangati sahabat nya walaupun ia sendiri tidak terlalu yakin rencana shabat nya itu berhasil
Viola menganggukkan kepala nya itu sembari tersenyum lebar. Walaupun ia sendiri saat ini sangat gugup. Tapi, ia harus melakukan nya demi keluarga kecil mereka agar lebih lengkap.
Mobil pun berlalu meninggalkan Shelly seorang diri. Shelly yang tengah menatap nanar kepergian sahabat nya langsung terkejut saat seseorang memeluk nya dari arah belakang.
"Apa kau lelah?" Bisik bobby di telinga Shelly. Membuat Shelly sedikit merinding.
Shelly membalikan tubuh nya lalu tersenyum dan memeluk suaminya itu. Ia sangat merindukan suaminya walaupun hanya terpisah beberapa jam saja.
"Bob, aku mengkhawatirkan vio." Lirih nya
"Oh iya, bukan kah seharusnya kau bersama suaminya vio? Kenapa sekarang kau ada disini? " Shelly yang sadar ada kejanggalan langsung melerai pelukan nya itu.
Bobby menghela nafas nya secara kasar lalu mengusap pipi istrinya itu.
"Kita bicara di dalam saja! Cuaca saat ini itu kurang bagus untuk mu berlama-lama di luar. " Bobby pun menggandeng tangan Shelly berjalan masuk begitu mendapatkan anggukan dari istri nya.
Sementara saat ini Viola tengah duduk di ranjang nya dengan pakaian yang sangat sexy. Bahkan bisa di katakan saat ini yang Viola kenakan sangat lah terbuka.
"Kenapa Darren belum pulang juga ya? " Pikir nya melihat kearah jam lalu beralih kearah pintu kamar.
Viola semakin merasa tegang, ia takut rencana yang sudah ia susun dengan sangat rapi gagal begitu saja. Bahkan sebelum di mulai!
Namun tiba-tiba saja lamunan Viola buyar begitu pintu kamar nya di buka secara kasar.
"Da-darren! " Viola sangat terkejut melihat penampilan suaminya yang terlihat sangat kacau.
"Istri ku, "
"Kenapa kau terlihat seperti ini? " Tanya Viola dengan wajah yang panik.
"Aku hanya sedikit bersenang-senang sayang. Saat ini aku benar-benar marah! Hingga membuat salah satu pengawal ku yang berkhianat itu kehilangan lidah nya!"
"Whatt?? " Viola yg mendengar ucapan Darren sangat terkejut
"Sudah lah lupakan saja!" Darren pun langsung membelai wajah Viola dengan sangat lembut.
"Da-darren kau baik-baik saja? " Jujur saja walaupun semua ini rencana Viola. Tapi ia benar-benar khawatir melihat keadaan suaminya.
"Istri ku, kau tau jelas mengapa aku terlihat seperti ini! "
Deg!
Mendengar ucapan suaminya membuat jantung Viola berhenti sekejap karna terkejut.
"Ha? Ak-aku? " Viola menunjuk dirinya sendiri dengan suara terbata-bata
"Istriku, aku tau keinginan mu memiliki seorang anak sangat besar! Tapi pernah kah kau bertanya aku menginginkan nya atau tidak? " Darren menatap intens wajah Viola.
__ADS_1
"Baiklah! Sekarang ku tanya pada mu Darren. Sebenarnya kau ingin memiliki anak bersama ku atau tidak? Mengapa kau selalu menghindar jika aku membahas tentang aku ingin memiliki anak!" Emosi Viola seketika langsung meluap.
Darren mengusap wajah nya dengan kasar begitu ia sudah mulai setengah sadar. "Aku juga menginginkan seorang anak Viola Talisa! Bahkan keinginan ku lebih besar darimu. Tapi aku menekan rasa ingin ku agar kau tetap baik-baik saja! Kau lupa aku hampir gila saat mengetahui kau terbaring koma di rumah sakit. "
"Ta-tapi kau jelas tau dokter andhika bilang aku bisa hamil walaupun itu sangat sulit. Aku subur Darren! Aku masih bisa mengandung! Rahim ku masih ada! Kenapa kau melarang seorang perempuan untuk hamil. Kau lupa wanita akan merasa sempurna jika ia sudah memenuhi semua tugas nya sebagian seorang wanita! Walaupun harapan ku untuk hamil itu 1% aku akan tetap berusaha Darren." Amarah dan kesedihan di hati Viola beraduk jadi satu. Air mata nya mengalir cukup deras.
"Sayang, " Darren langsung memeluk istrinya itu. Ia mencoba menenangkan hati Viola.
"Aku tau perasaan mu. Tapi aku takut Viola! Aku sangat takut kehilangan mu."
"Darren, " Panggil Viola sembari melerai pelukan suaminya. "Kau menangis? "
"Tidak, " Elak Darren.
"Jangan bohong!" Jujur saja Viola sempat terkejut saat baju nyaa terasa basah ketika Darren memeluk nya.
Darren yang sejak tadi hanya terlihat mencoba menahan rasa emosi nya saat berdebat dengan diri nya. Ternyata Darren menahan rasa sedih nya secara diam-diam.
"Sudah lah, kau harus istirahat! Aku tidak ingin kondisi mu kembali tidak sehat." Perintah Darren.
"Darren!! "
Mata Viola kembali marah saat suaminya Lagi-lagi menghindar dari topik mereka saat ini.
"Viola hentikan semua ini! Kau tidak lelah jika harus berdebat soal ini terus? " Darren menatap tidak percaya kearah Viola.
"Kau egois Darren! "
"Kau--"
"Kenapa? Kau marah?" Viola kembali menantang suaminya itu yang tengah berusaha mengendalikan diri nya.
"Hanya kau takut kehilangan ku, kau membuat aku selalu menderita Darren. Kau membuat ku selalu bertanya-tanya pada diri ku sendiri apakah aku benar-benar seorang wanita yang seutuhnya? Apakah aku benar-benar wanita yang setelah menikah akan bahagia? Memiliki keluarga kecil. Dan mempunyai beberapa anak untuk mengisi kekosongan kediaman ini saat kau sedang bekerja! Aku menginginkan kehangatan di kediaman ini Darren! Bukan kemegahan yang kau berikan padaku!" Nafas Viola sudah naik turun karna rasa sesak di dadanya.
"Istri ku, " Darren berusaha mendekati Viola.
"Berhentilah Darren! Aku tidak butuh kau menenangkan ku disaat aku seperti ini. Karna satu-satunya alasan ku seperti ini adalah dirimu. Jika aku tau nantinya akan seperti ini, lebih baik aku mati saja saat tiba di rumah sakit dokter andhika! "
"VIOLA!!!" Darren langsung mencekram tangan istri nya itu dngan kuat.
"Kau marah? Maka marah lah! Aku tidak akan merubah kata-kata ku kembali! " Dengan sekuat tenaga Viola melepaskan tangan Darren dan meninggalkan Darren sendirian didalam kamar.
Dengan perasaan yang sangat marah Viola berjalan menuju lift dengan baju nya yang sangat seksi membuat para pelayan dan juga bodyguard yang sedang berjaga langsung menundukkan Kepala nya. Sungguh mereka merasa ketakutan kenapa bisa menghadapi situasi yang bisa membuat nyawa mereka terancam.
Tidak lama nyonya muda mereka keluar, tuan muda mereka pun keluar dari dalam kamar dengan aura membunuhnya saat menatap para pria yang ada di kediaman ini.
"Kalian yang melihat istri ku keluar tadi, besok jumpai saya! " Tekan Darren lalu melanjutkan langkah nya.
Mereka saling tatapan satu sama lain. Padahal saat nyonya muda mereka keluar mereka langsung menundukkan kepalanya. Walaupun, mereka melihat sedikit saja.
Viola yang sudah tiba di kamar tamu langsung masuk dan mengubah pin pada pintu kamar nya agar Darren tidak bisa masuk. Ia sangat lelah jika harus berdebat lagi dengan suaminya itu. Rencana yang sudah ia susun rapi-rapi ternyata berakhir dengan momen yang membuat diri nya menguras tenaga dan emosi.
__ADS_1
^^^Bersambung.... ^^^
...****************...