
"Apa ada lagi?" Tanya Viola setelah cukup menatap kearah dokumen tersebut dan mengambil nya.
"Tidak ada nyonya muda," jawab Bobby pada Viola.
"Bob, dimana terakhir kali kau menemui Darren?" Tanya Viola pada sekertaris suaminya itu.
"Dikediaman kedua nyonya muda." Bobby menatap wajah istri dari sahabat nya yang terlihat sangat panik dan takut.
"Baiklah, aku akan mulai mencari Darren di kediaman kedua dulu.". Dengan sangat cepat Viola berlari kearah pintu. membuat Shelly sangat khawatir.
"Vi! Hati-hatilah." Teriak Shelly saat melihat sahabatnya yang tidak peduli akan kesehatan nya sendiri.
Viola hanya membalikkan tubuh nya tersenyum kearah Shelly lalu kembali berlari. Ia benar-benar takut Darren akan pergi meninggalkan nya. Terlebih lagi ia sudah salah paham pada Darren yang pada kenyataannya itu bukan kesalahan Darren. setelah melihat kepergian nyonya muda nya mata Bobby beralih kearah adik nya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Bobby pada Vaya.
"Kak, apakah aku sudah melakukan hal yang tidak membuat mu malu mempunyai adik seperti ku?" Mata Vaya berkaca-kaca menatap kearah Bobby membuat Bobby merasa sangat bersalah karna sudah memarahi adik nya.
"Maafkan kakak Vaya!" Dengan sangat erat nya Bobby memeluk adik nya itu.
"Akhirnya semua sudah baik-baik saja! Tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi disini." Shelly menghela nafas nya dengan sangat lega.
"Nona Shelly, bukan kah ketika sahabat mu kecelakaan kau paling membenci Vaya?" Andhika menatap kearah Shelly dengan suara yang agak pelan agar Bobby tidak terganggu dengan mereka.
"Aku tidak membenci siapapun. Namun, aku akan sangat marah jika sahabat ku yang di ganggu." Jawab Shelly yang terus menatap kearah Bobby dan juga Vaya.
"Anda sulit untuk di tebak nona Shelly." Andhika masih menatap wajah Shelly yang tersenyum.
"Tidak perlu menebak tentang diriku dokter Andhika. Jika kau ingin mengetahui tentang ku cukup kau berteman saja dengan ku. Maka, kau akan mengetahui semuanya!" Shelly membalas tatapan mata Andhika membuat kedua bola mata mereka saling bertemu.
"Haruskah aku berteman dengan mu?" Andhika menaikan satu alis nya itu dan sedikit tersenyum.
"Aku tidak memaksa seseorang untuk berteman dengan ku. Tapi, seperti nya akan sangat menyenangkan jika memiliki teman seperti mu." Balas Shelly dengan mengigit bibir bawah nya dan mulai tertawa pelan melihat reaksi wajah Andhika.
"Kau tergoda dokter Andhika?" Bisik Shelly di telinga Andhika.
"Seperti nya begitu," Andhika membalas bisikan Shelly pada nya membuat kedua wajah mereka tampak sangat dekat.
Bobby yang sudah melerai pelukan adik nya tanpa sengaja melihat kedekatan antara Andhika dan Shelly membuat hati Bobby terasa sangat marah.
"Ada apa kak?" Vaya yang melihat wajah kakak nya yang sudah berubah langsung melihat kearah mana kakak nya melihat.
"Dokter Andhika Kasella?" Panggil Vaya pada Andhika. Sebenarnya Vaya sama terkejut nya melihat Andhika yang sangat akrab pada gadis yang sudah menampar dirinya itu.
"Kasella!" Untuk pertama kali nya Bobby memanggil Andhika seperti itu saat panggilan dari adik nya tidak di jawab oleh Andhika.
"Bob, kau panggil aku apa tadi?" Kedua mata Andhika beralih kearah Bobby saat ada yang memanggil nya seperti Darren memanggil dirinya.
"Jika kau tidak suka di panggil seperti itu. Maka, dengarkan lah saat orang lain memanggil nama mu atas kemauan sendiri." Bobby menatap datar kearah Andhika lalu beralih kearah Shelly yang hanya diam saja di tempat nya.
"Maaf tuan Bobby yang terhormat! Mungkin saat aku di panggil diri ku saat itu sedang tidak fokus." Andhika tersenyum saat tau kemana arah mata sahabat nya.
"Mengapa kalian semua melihat kearah ku?' Shelly yang sadar di tatap oleh 3 orang sekaligus yang ada diruang itu merasa sangat risih.
__ADS_1
"Mari berkencan dengan ku nona Shelly?" Ucapan Andhika sontak membuat mereka semua melebarkan kedua mata mereka.
"Kak, kau sehat?" Vaya yang mendengar ucapan Andhika menatap kearah Andhika.
"Tentu saja aku sehat! Lagian pria mana yang tidak akan tergoda jika ada wanita yang sudah menggoda dirinya." Andhika tersenyum menatap kearah Shelly.
"Hahahaha konyol sekali! Hanya sebuah gigitan kecil di bibir ku saja kau sudah tergoda." Shelly langsung tertawa yang membuat nya tanpa sadar mendapatkan tatapan tajam dari Bobby.
"Dia konyol dan aku gila!" Dengan perasaan yang emosi Bobby langsung menarik tangan Shelly dengan kasar membuat Shelly kaget saat dirinya di tarik seperti itu.
"Aww! Sakit tau. Kau itu kenapa? Lepaskan aku!" Shelly memberontak saat tangan nya terus saja di genggam oleh Bobby.
"Tidak akan ku lepas kan sampai kau mengakui apa kesalahan mu itu." Tekan Bobby dengan suara yang agak tinggi dan membawa Shelly keluar dari ruangan itu.
Sementara Vaya yang tidak mengerti melihat sikap kakak nya langsung mendekati Andhika yang terlihat tersenyum menatap kearah kakak nya itu.
"Kak kau kenapa?" Tanya Vaya.
"Aku? Memang nya aku kenapa?" Andhika malah balik bertanya pada Vaya membuat Vaya menatap nya dengan sangat jengkel.
"Kalian semua membuat ku gila!" Vaya hendak meninggalkan Andhika sendirian diruangan itu.
"Vaya," panggil Andhika dengan suara yang melembut membuat langkah Vaya terhenti.
"Ada apa kak?" Vaya membalikkan badan nya menatap wajah Andhika yang sedang melihat nya dengan sangat serius.
"Apa disini masih ada dia?" Andhika memegang dada Vaya membuat kedua mata Vaya melebar melihat tingkah pria yang ada di hadapannya.
.
"Tentu saja aku baik. Kau lupa aku ini seorang dokter!" Andhika tersenyum menatap kearah Vaya.
"Baguslah jika seperti itu." Vaya membalas senyuman Andhika pada nya.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku pada mu Vaya." Andhika kembali menatap Vaya dengan tatapan intens nya.
"Entahlah kak! Aku sendiri tidak tau bagaimana perasaan ku saat ini. Aku sendiri bingung dengan perasaan ku kak!" Vaya menghela nafas nya itu.
"Bingung kenapa?" Tanya Andhika.
"Bingung karna rasa ku terhadap kak Darren benar rasa cinta atau hanya sebuah ke obsesian ku saja kak." Mengingat kembali bagaimana dirinya bersikap bodoh karna mengejar pria yang jelas-jelas dirinya tau bahwa pria itu tidak mencintai dirinya. Membuat Vaya sedikit merasa kan hal yang sangat sesak pada dada nya.
"Tenang lah! Semua nya sudah baik-baik saja. Kau sudah melakukan yang terbaik." Andhika mengelus kepala Vaya dengan sangat lembut.
"Makasih kak!" Vaya memeluk tubuh Andhika membuat Andhika sangat terkejut.
"Vaya, jika suatu saat ada pria yang ingin mendapatkan hati mu. Bagaimana sikap mu menghadapi nya?" Tanya Andhika dengan membalas pelukan Andhika.
"Aku akan berpikir secara matang untuk memulai suatu hubungan kak. Terlebih lagi jika pria yang ingin mendapatkan hati ku itu adalah orang yang baru aku kenal." Jawab Vaya pada Andhika tanpa melepaskan pelukan nya.
"Bagaimana jika orang itu adalah orang yang sudah lama kau kenal?" Andhika kembali bertanya pada Vaya membuat Vaya melerai pelukan nya pada Andhika.
"Kak ada apa dengan mu? Kenapa kau mulai banyak bertanya hari ini." Vaya sedikit merasa aneh melihat sikap pria yang ada dihadapan nya tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Vaya! Hanya saja aku terlalu mengkhawatirkan dirimu." Andhika tersenyum pada Vaya saat gadis yang sudah sangat lama ia kenal menatap dirinya.
"Kuharap begitu!" Vaya menyipitkan kedua mata nya pada Andhika membuat Andhika sedikit tertawa.
"Kau itu!" Dengan sangat gemas Andhika mencubit pipi Vaya.
"Sakit tau!" Vaya mengelus pipi nya yang terasa sedikit panas akibat cubitan dari Andhika.
"Sudah jangan mengalihkan pembicaraan dari ku! Sekarang jawab lah pertanyaan ku tadi." Andhika kembali ke topik awal nya menatap kearah Vaya.
"Pertanyaan yang mana kak?" Vaya menautkan kedua alis nya saat ia tidak ingat pertanyaan dari Andhika pada nya.
"Vaya," Andhika menatap kearah Vaya dengan sangat kesal.
"Kak pernyataan mu itu cukup banyak! Tentu saja aku tidak ingat." Gerutu Vaya melihat wajah Andhika yang menatap nya dengan tatapan seperti itu.
"Baiklah sekarang dengarkan pertanyaan ku! Bagaimana jika orang yang ingin mendekati mu adalah orang yang sudah lama berada di dekat mu?" Andhika menatap dalam wajah Vaya.
"Emh," Vaya tampak berpikir saat ingin menjawab ucapan dari pria yang sudah ia anggap sebagai kakak nya itu.
"Perlu waktu berapa berapa lama untuk menjawab nya?" Tanya Andhika pada Vaya
"kak, jika orang itu sedekat diri ku dengan mu. Mungkin aku akan membuka hati ku untuk nya." Jawab Vaya yang spontan membuat Andhika langsung terdiam.
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?" Tanya Andhika kembali pada Vaya.
"Emh mungkin karna aku bahagia dekat dengan mu kak. Mungkin jika pria itu seperti dirimu aku tidak akan lagi merasakan sakit hati seperti ini." Vaya tersenyum menatap Andhika membuat Andhika hendak mendekat kan wajah nya pada Vaya.
"Kak kau mau apa?" Vaya sangat terkejut melihat Andhika yang sudah memegang wajah nya itu.
"Bagaimana jika orang itu aku?" Ucapan Andhika sontak membuat Vaya sangat terkejut.
"Kak, kau gila ya?" Vaya berusaha mendorong tubuh Andhika yang terlalu dekat dengan nya.
"Aku masih waras Vaya!" Jawab Adhika yang menyatukan kening nya dengan kening Vaya.
"Jika kau masih waras kau tidak akan berkata seperti itu pada ku kak." Vaya berusaha melepaskan diri nya dari Andhika.
"Vaya Charlton pikir kan lah ucapan ku pada mu! Sudah lama aku tertarik pada mu." Tanpa sadar ucapan Andhika lagi-lagi membuat Vaya semakin terkejut.
"Uhuk .. uhuk .. uhuk.." Vaya langsung tersedak air ludah nya sendiri mendengar ucapan dari Andhika.
"Dasar anak kecil!" Andhika langsung mencubit pipi Vaya dengan sangat lembut dan menjauhkan dirinya itu dari Vaya.
"Kak kau sedang mengerjai ku ya?" Wajah Vaya tampak terlihat sangat kesal saat melihat perubahan sikap dari Andhika.
"Aku tidak bercanda Vaya! Aku serius dengan ucapan ku barusan pada mu." Ucap Andhika kembali pada Vaya.
"Pikir kan lah ucapan ku pada mu! Jika aku boleh mengejar mu maka dengan senang hati aku akan mendekati mu." Tegas Andhika dengan wajah yang tersenyum puas melihat rona merah di kedua pipi Vaya
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1