Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 98 Aku merindukanmu!


__ADS_3

Perusahaan drn.khan.


Kini Andhika dan juga Vaya sudah tiba di perusahaan Darren. Andhika pun turun dari mobil yang di mana Vaya juga ikut turun.


"Vaya, koper mu di keluarin atau tidak?" Tanya Andhika pada Vaya.


"Tidak usah kak! Aku hanya sebentar saja disini. Setelah itu antarkan aku ke apartemen kak Bobby saja ya kak." Ujar Vaya pada pada Andhika.


"Baiklah jika begitu." Andhika pun langsung masuk ke dalam perusahaan Darren.


"Kak aku takut." Vaya memegang tangan Andhika dengan sangat kuat.


"Tidak perlu takut! Ada aku disini." Andhika hanya tersenyum saja melihat Vaya.


"Ah kakak saja takut pada kak Darren malah sok-sokan melindungi aku." Ketus Vaya pada Andhika membuat Andhika hanya mengelus tekuk belakang nya.


Mereka berdua langsung masuk ke lift dan menekan lantai Presdir. Karna Bobby sebagai sekretaris dari Darren. oleh karna itu Bobby berada di lantai yang sama dengan Darren. sehingga membuat mereka harus kesana.


Ting!


Pintu lift pun terbuka, Andhika langsung berjalan menuju keruangan Bobby sementara Vaya sekilas melihat kearah ruangan Darren. Namun, ia tidak bisa melihat Darren karna pintu nya tertutup.


"Kakak!" Panggil Vaya ketika melihat wajah kakak nya sedang mengurus beberapa dokumen.


"Vaya kau sudah kembali?" Tanya Bobby dengan suara datar nya.


"Kak kau keterlaluan! Aku kan menyuruh agar kau yang menjemput ku. Tapi, kenapa bisa kak Kasella yang menjemput ku kak?" Protes Vaya pada kakak nya itu.


Andhika yang kesal namanya selalu di panggil seperti itu hanya bisa menghela nafas nya saja.


"Kan sudah ku katakan pada mu Vaya. Aku itu sangat sibuk! Yang penting kau kan tidak di jemput oleh supir ku melainkan dengan dokter aneh ini." Ujar Bobby dengan suara cuek nya.


"Hey bro! Lo itu bukan nya berterimakasih karna aku sudah menyempatkan waktu untuk jemput adik Lo dan yang Lo lakuin malah menghina ku." Andhika menatap kearah Bobby dengan sangat tajam.


"Wah sepertinya ada yang marah." Bobby hanya tertawa kecil saja.


"Kak, kak Darren dimana?" Vaya menatap kakak nya dengan sangat serius.


"Untuk apa kau menanyainya?" Wajah Bobby kembali dingin menatap adik nya itu.


"Aku hanya ingin bertemu dengan nya kak." Balas Vaya pada Bobby.


"Vaya ku harap dengan kembali nya kau ke Indonesia. Kau tidak membuat masalah disini!" Bobby menatap tajam kearah Vaya membuat Vaya menelan saliva nya dengan sangat susah.


Ia tau jika kakak nya sudah berkata seperti itu. Berarti kakak nya memang benar-benar serius dengan ucapan nya itu.


"Kak kau tidak perlu khawatir." Balas Vaya pada kakak nya.


"Baguslah jika kau tau itu! Sebaiknya kau pulang saja ke apartemen ku Vaya. Aku banyak pekerjaan disini." Bobby terus saja fokus pada dokumen dan juga layar yang ada di hadapannya.


"Kak kau itu apa-apaan sih! Aku baru pulang ke Indonesia loh. Kau tidak berniat gitu memeluk ku? Kau itu sama saja kayak ka Darren." Vaya kesal melihat sikap kakak nya yang selalu cuek pada nya.


"Vaya kau tidak perlu heran lagi pada kakak mu ini! Dia kan memang seperti itu. Kadang gila nya kumat kadang gila nya juga sembuh." Andhika pun langsung tertawa melihat wajah Bobby menatap nya dengan sangat tajam.


"Andhika! Jaga ucapan mu itu." Tatapan membunuh Bobby beralih pada Andhika membuat Andhika sedikit takut.

__ADS_1


"Bro jangan di ambil hati. Aku hanya bercanda!" Andhika menepuk pundak sahabat nya.


"Kau tau dokter Andhika? Aku paling tidak suka di ajak bercanda di saat aku sedang mode serius." Balas Bobby dengan sedikit mengancam pada Andhika.


"Baiklah maafkan aku sekertaris Bobby." Andhika pun menghela nafas nya itu.


Saat Bobby ingin membalas ucapan Andhika. Tiba-tiba saja telpon kantor Bobby berbunyi.


"Keruangan ku sekarang!" Begitulah perintah dari telpon tersebut. Membuat Bobby sedikit khawatir.


"Kak kau mau kemana?" Tanya Vaya pada kakak nya saat melihat Bobby hendak pergi.


"Aku akan keruangan tuan muda sekarang! Untuk membahas masalah pekerjaan. Kau pulang lah dulu nnti aku akan menyusul." Perintah Bobby pada adik nya.


"Aku ingin ikut kak," teriak Vaya dan langsung mengikuti langkah kaki kakak nya yang sudah jauh.


"Perang dunia akan segera di mulai!" Andhika hanya tersenyum kecil saja dan langsung beralih ke kursi kerja Bobby.


Ia sangat malas jika menyaksikan perdebatan diantara mereka. Sehingga Andhika memutuskan untuk duduk di kursi kerja sahabat nya itu.


Sementara Bobby yang sudah berada di depan pintu ruang kerja sahabat nya berusaha untuk mengatur nafas nya. Namun, Bobby langsung terkejut saat melihat Vaya sudah berada di samping nya dengan tersenyum padanya.


"Vaya! Kau mau apa kemari?" Tatap tajam Bobby pada adik nya itu.


"Aku ingin ikut bertemu dengan kak Darren kak." Jawab Vaya dengan suara enteng.


"Tidak! Kau harus pulang sekarang. Aku tidak ingin ada masalah! Terlebih lagi masalah pekerjaan ku sudah banyak. Jadi, aku tidak ada waktu untuk mengurus masalah antara kau dan juga tuan muda." Tegas Bobby pada adik nya.


"Pokok nya aku mau ikut kak!" Vaya bersikukuh dengan pendirian nya itu membuat Bobby mengusap wajah nya dengan kasar.


"Baiklah kak aku mengerti!" Ujar Vaya dan memutar bola matanya dengan malas.


Akhirnya Bobby pun mengetuk pintu kerja Darren. Setelah mendapatkan ijin untuk masuk dengan sangat perlahan Bobby masuk keruangan sahabat nya yang sangat dingin itu.


"Tuan muda anda mencari sa--"


"Kak Darren! Aku sangat merindukan kakak." Vaya langsung beralih kearah Darren dan memeluk Darren yang tengah fokus pada kerjaan nya.


Darren yang mendapat pelukan dari Vaya dengan sangat cepat meleraikan pelukan Vaya padanya. Sementara Bobby yang melihat Vaya melakukan hal itu merasa sangat marah. Karna, sebelum masuk ke ruangan Darren Bobby sudah mengingatkan Vaya untuk tidak berbuat masalah.


"Vaya kemari!" Tatap tajam Bobby pada Vaya membuat Vaya sedikit takut dan langsung kembali ke samping Bobby.


"Bob, bagaimana masalah kerjasama dengan perusahaan Wiliam company?" Darren tidak memperdulikan atau pun mempermasalahkan kelakuan Vaya padanya. Ia hanya berbicara pada Bobby tanpa melihat kearah Bobby dan jiga Vaya.


"Semua nya sudah ku atur tuan muda," balas Bobby dengan sedikit tertunduk.


Bobby tau Darren tidak akan mempermasalahkan perlakuan Vaya padanya. Karna, Darren sendiri masih sangat menghargai hubungan persahabatan mereka.


"Kak Darren aku sudah kembali! Kau tidak ingin menyambut ku?" Vaya menatap kearah Darren dengan perasaan kecewa nya.


Darren tidak menjawab ucapan Vaya pada nya. Dia kembali fokus pada layar yang ada di depannya dan juga dokumen yang ada di atas meja kerja nya itu.


"Bob, kau boleh keluar sekarang! Aku banyak sekali pekerjaan yang memang aku sendiri yang harus menghandle nya." Perintah Darren pada Bobby.


"Baik tuan muda," jawab Bobby dan hendak menyuruh Vaya untuk keluar bersama nya.

__ADS_1


"Kak Darren! Aku tau kau marah pada ku. karna aku membatalkan pernikahan kita 2 tahun lalu. Tapi, kau juga tidak bisa bersikap dingin seperti ini pada ku." Vaya menatap kearah Darren dengan suara yang sudah sangat marah. Ia berusaha menahan emosi nya itu tapi Vaya tidak sekuat itu untuk tidak marah.


"Vaya! Kau--''


"Vaya, aku tidak marah pada mu! Semua yang terjadi 2 tahun lalu sebaiknya kau lupakan saja. Karna, aku sudah melupakan nya sejak 2 tahun yang lalu." Jawab Darren dengan nada datar nya. namun terdengar sangat menyakitkan oleh Vaya.


"Kak kau--"


"Vaya, sebaiknya kita keluar sekarang!" Bobby langsung menarik tangan adik nya yang sudah menangis.


Bobby tidak ingin Darren mengasihani Vaya seperti 2 tahun yang lalu. Ia terpaksa menerima Vaya hanya karna keluarga dan juga sahabat nya itu. Namun, saat itu Bobby yakin Darren bisa mencintai Vaya dengan berjalan nya waktu. Tapi, sayang sekali adik nya sendiri lah yang membuat masalah.


"Kak aku tidak ingin pergi!" Berontak Vaya pada kakak nya.


"Menurut lah pada ku atau kau akan ku pulang kan kembali ke London!" Kini Bobby sudah berbicara tinggi pada Vaya membuat Vaya hanya bisa terdiam saja. Bisa gagal semua tujuan Vaya jika dia di pulang kan oleh kakak nya itu.


"Kak kau jahat!" Isak Vaya pada Bobby. Tapi, Bobby tidak memperdulikan ucapan adik nya itu dan terus berjalan keluar.


Sementara di sisi lain Darren menghela nafas nya dengan sangat panjang. Ia menatap kearah pintu ruangan nya yang sudah tertutup kembali. Darren pun beralih ke arah ponsel nya dan menekan tombol di ponsel nya.


"Istriku," begitu panggilan sudah di angkat wajah Darren terlihat tersenyum.


"Ada apa Darren?" Tanya Viola dari handphone yang ia pegang.


"Aku merindukan mu." Ujar Darren dengan suara yang di buat-buat nya.


"Wah suamiku! Padahal baru saja kita bertemu di meja makan pagi tadi. Kenapa kau sudah merindukan istri mu ini." Goda Viola saat Darren hendak menggoda nya.


"Lebih bagus aku merindukanmu dari pada wanita lain!" Darren merasa kesal saat mendengar ucapan Viola. Ia berharap Viola membalas ucapan nya dengan kata-kata yang sama. Namun, yang di harapkan Darren tidak terjadi.


"Awas saja jika kau berani!" Ancam Viola pada Darren.


"Aku pun tidak akan mau dengan wanita yang bukan istri ku sendiri." Balas Darren dengan suara yang agak tinggi pada Viola.


"Baiklah suamiku aku tau itu! Aku juga sangat-sangat merindukan mu." Viola berbicara dengan suara yang manis yang di dengar oleh telinga Darren membuat Darren langsung tersenyum.


"Nah gitu kan enak di dengar." Darren masih saja tersenyum. Ia merasa bahagia saat kata-kata itu keluar dari mulut istrinya yang selalu saja menguji kesabaran nya.


"Katanya pekerjaan mu banyak! Kenapa kau menelpon ku Darren?" Tanya Viola pada Darren.


"Karna, aku merindukan mu."jawab Darren dengan sangat gampang nya.


"Darren! Jika kau merindukan ku seharusnya kau itu secepat mungkin menyelesaikan urusan kerjaan mu! Agar kau juga bisa pulang lebih cepat dan bertemu dengan ku." Kesal Viola saat tau alasan suaminya itu.


"Kau benar juga ya istri ku!" Darren pun langsung mengelus tekuk leher nya.


"Yasudah tunggu apa lagi suamiku tercinta? Mati kan telpon nya dan lanjut kan lah pekerjaan mu." Ujar Viola dengan suara yang sangat lembut.


"Baiklah istriku! Aku lanjut kerja dulu ya. Kau baik-baik di sana." Darren menirukan suara ciuman melalui telpon nya membuat Viola tersenyum.


"Iya suamiku. Semangat ya kerja nya!" Viola pun melakukan hal yang sama dengan melakukan ciuman virtual nya pada Darren.


Darren yang mendengar suara kecupan dari istri nya semakin senang dan mematikan ponselnya itu. Mood yang tadi sudah hilang karna kehadiran Vaya langsung kembali bagus karna suara dari istri nya. Dengan wajah yang terus saja tersenyum Darren kembali melanjutkan pekerjaan nya itu.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2