
Cukup lama Viola menangis di pelukan Darren membuat Darren hanya bisa mengelus belakang Viola saja. Setelah Viola merasa agak mendingan Viola langsung menatap Darren.
"Sudah tenang?" Tanya Darren dengan suara yang datar.
"Emh," Viola menganggukkan kepalanya itu.
"Kau itu membuat ku cemas saja!" Darren menghela nafas nya lalu mengangkat tubuh Viola keluar dari ruangan milik nya.
"Kita mau kemana?" Tanya Viola yang sudah di gendong oleh suami nya ala ala bridal style.
"Suasana di ruangan ini tidak bagus! Oleh karna itu kau terlalu terbawa perasaan hari ini." Jawab Darren dengan suara datar nya.
"Darren kau mengejekku?" Viola mencubit dada bidang suaminya.
"Kau sudah makan?" Tanya Darren tanpa menjawab ucapan Viola.
"Darren aku tidak lapar." Viola menatap wajah suaminya yang masih fokus menatap kearah depan menuju ke lift pribadi nya.
"Setidaknya perut mu harus ada isi nya." Darren yang sudah berada di dalam lift menekan tombol lift nya menuju kearah kamar mereka.
"Darren, kenapa kau terlihat tidak terurus? Padahal belum lama aku meninggalkan mu. Bahkan kau tidak mengunjungi ku sama sekali!" Kesal Viola pada Darren.
"Sekarang duduk lah di sini!" Darren yang sudah sampai ke kamar nya langsung meletakkan tubuh Viola di pinggir ranjang nya.
"Kau mau kemana?" Tanya Viola pada Darren.
"Viola, sudah berapa kali kau menanyakan pertanyaan itu?" Darren menggelengkan kepalanya itu.
"Aku takut kau pergi." Lirih Viola membuat langkah kaki Darren terhenti.
"Darren bisa kah kita tidak bercerai?" Viola memberanikan dirinya menatap kearah Darren.
"Kau bilang apa?" Darren menghampiri Viola yang masih duduk di tepi ranjang.
"Aku minta maaf Darren," suara tangis Viola kembali keluar mengingat bagaimana bisa diri nya berbuat hal yang menyakiti hati orang yang sangat ia cintai itu.
"Kenapa kau harus minta maaf sayang," Darren mengusap air mata Viola.
"Seharusnya aku tidak mengambil keputusan tanpa mendengar penjelasan dari mu terlebih dahulu. Aku menyesal Darren! Aku tidak ingin bercerai dari mu. Jangan pergi Darren! Aku sangat mencintaimu! Ucapan ku sebelumnya yang mengatakan aku sudah tidak mencintai mu itu bohong Darren. Aku terlalu marah padamu dan juga sedih karna kehilangan bayi kita. Oleh karna itu aku berkata hal yang menyakiti hati mu." Isak Viola dengan suara yang sudah naik turun.
Di tatap nya wajah Viola dengan sangat jelas oleh Darren. Darren ikut sedih mendengar ucapan Viola. Namun, ia juga tau itu adalah hal yang wajar jika Viola marah padanya.
"Kau tau istriku?"
Violla langsung menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari Darren.
"Tidak ada wanita lain yang menempati hati ku ini selain dirimu!" Darren meletakkan tangan Viola di dada nya.
"Kau lah wanita satu-satunya yang ada di hati ku. Kau lah yang awal dan kau lah yang akhir. Bahkan jika aku pergi nanti kau akan tetap jadi pemenang di hati ku." Darren tersenyum kecil menatap Viola yang masih tidak mengerti ucapan nya.
"Rasa nya konyol dan sakit sekali mengingat bagaimana kau bilang kalau hubungan kita ini salah!" Ujar Darren membuat Viola merasa bersalah.
__ADS_1
"Darren aku minta maaf," Viola menundukkan kepalanya itu di hadapan Darren.
"Sejak awal hubungan ini tidak salah istriku! Pertama kali kita bertemu aku sudah tertarik pada mu. Mengingat bagaimana cara aku, mengikat dirimu dengan ku termasuk adalah hal yang sangat bodoh. Bagaimana bisa seorang Darren Abraham Khan terlalu memaksa gadis berusia 20 tahun untuk menikah Dengan nya? Bahkan aku sendiri tidak tau mengapa aku sangat menginginkan mu saat itu. Tapi karna rasa gengsi ku terlalu besar aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang aku simpul kan hanyalah hubungan ini sebatas kau berhutang pada ku." Darren memejamkan mata nya.
"Istriku, tidak kah kau melihat bagaimana sikap ku yang perlahan berubah hanya untuk mu?" Tanya Darren pada Viola.
"Aku tau kau mulai lembut pada ku." Jawab Viola dengan suara yang pelan.
"Lantas mengapa bisa kau berpikir aku tidak mencintaimu?" Darren berdiri dari hadapan Viola dan hendak keluar dari kamar nya. Ia tidak ingin emosi saat ini mengontrol diri nya itu.
"Karna kau tidak pernah bilang kalau kau mencintai ku Darren!" Teriak Viola dengan suara yang serak.
"Istirahat lah dulu! Aku akan keruang kerja ku sebentar." Hanya ucapan itu saja yang keluar dari bibir Darren membuat hati Viola terasa sangat sakit.
"Darren mengapa sekarang kau yang terlihat marah pada ku?" Lirih Viola dan mulai merebahkan diri nya di atas tempat tidur miliknya dan Darren.
"Aku rindu dengan kamar ini! Seluruh ruangan ini hanya ada aroma mu dan juga diri ku saja disini." Viola tersenyum dan mulai memejamkan mata nya yang terlihat lelah.
Sementara Bobby yang sudah sampai di apartemen nya langsung memaksa Shelly untuk masuk ke dalam apartemen nya itu.
"Tuan Bobby lepaskan aku! Kau bisa saja aku penjara kan karna sudah bertindak kelewatan batas dengan ku." Kesal Shelly saat tangan nya terus saja di pegang oleh Bobby.
"Penjarakan saja jika itu mau mu." Jawab Bobby dengan suara datar nya.
"Sebenarnya kau kenapa sih?" Shelly mulai berbicara dengan nada informal nya pada Bobby.
"Kenapa kau bersikap seperti itu pada Andhika?" Wajah Bobby terlihat sangat tajam menatap diri nya membuat Shelly sedikit bergidik.
"Kenapa kau harus bersikap seintim itu dengan nya?" Bobby menatap wajah Shelly yang terlihat sudah memerah.
"Itu urusan ku!" Shelly langsung mengalihkan pandangannya yang tanpa ia sadari dirinya sudah mendapatkan tatapan tajam dari bobby.
"Nona Shelly," sentak Bobby membuat Shelly terkejut.
"Tu-tuan Bobby kau mau apa?" Shelly sangat terkejut ketika Bobby sudah menolak tubuh nya dengan kuat sehingga dirinya sudah dalam keadaan terlentang sementara Bobby berada di atas nya.
"Kau tau nona Shelly? Aku tidak suka jika melihat mu bersama laki-laki lain." Tegas Bobby membuat Shelly menelan Saliva nya itu dengan sangat susah.
"K-kau aneh tuan Bobby!" Shelly berusaha mendorong tubuh Bobby.
"Aku memang aneh!" Bobby menangkap tangan Shelly dan langsung menahan kedua tangan Shelly di atas kepala Shelly.
"Ayolah tuan Bobby jangan kekanak-kanakan seperti ini!" Kesal Shelly.
"Aku sendiri tidak tau kenapa aku bersikap seperti ini pada mu. Rasanya hati ini marah saat melihat mu sangat dekat dengan pria lain." Bobby menyatukan kening nya itu pada Shelly membuat Shelly terdiam.
"Kenapa kau harus marah? Kita tidak ada hubungan apapun. Dan jika aku ingin dekat dengan pria manapun itu hak aku! Lagian aku juga tidak ingin terlalu lama jomblo sedangkan sahabat ku sendiri saja sudah menikah." Shelly berusaha mencairkan suasana yang sangat mencekam itu.
"Kalau begitu kau menikah saja dengan ku!" Bobby langsung menatap wajah Shelly yang terlihat melotot kearah nya.
"Kau tidak demam tapi kenapa bicara mu selalu saja membuat ku terkejut!" Shelly masih tercengang oleh ucapan Bobby pada nya.
__ADS_1
"Entahlah! Mungkin kurasa aku menyukaimu." Ujar Bobby dan hendak mencium bibir Shelly.
"Stop! Aku belum setuju untuk kau bersama ku." Shelly menahan bibir Bobby dengan tangan nya.
"Setuju atau tidak aku tidak peduli! Jika aku sudah memutuskan untuk memiliki mu maka kau pasti akan menjadi milik ku! cepat atau lambat." Bobby pun kembali menahan tangan Shelly membuat Shelly hendak memberontak.
Saat Bobby ingin mencium bibir Shelly tiba-tiba saja ponsel Bobby berdering berkali-kali membuat Bobby sangat kesal
"Siapa sih! Ganggu saja." Umpat Bobby dan langsung mengambil ponselnya.
"Da-darren?" Suara Bobby langsung terbata-bata ketika ia melihat siapa yang menelepon dirinya.
"Loh tuan Bobby kok jadi gugup? Apakah pembunuhan mu yang menelpon?" Ejek Shelly saat ia melihat wajah Bobby yang sudah berubah.
"Diamlah!" Bobby menatap Shelly dengan tatapan yang kesal.
"Syukurlah suami Vio menelpon! Kalau tidak aku pasti sudah menjadi santapan untuk nya." Gumam Shelly di dalam hati nya.
"Bobby Charlton!!" Saat panggilan tersebut diangkat oleh Bobby saat itu lah juga sudah terdengar suara seseorang yang terdengar benar-benar marah.
"Iy-iya tuan muda," jawab Bobby dengan menelan Saliva nya itu.
"Kenapa Viola bisa keluar dari rumah sakit?" Darren berbicara dengan kalimat yang di tekan oleh nya.
"It-itu tuan--" Bobby bingung harus bagaimana menjelaskan nya pada tuan muda nya itu.
"Tuan Bobby, kalau kau tidak bisa menjelaskan nya biar aku saja!" Bisik Shelly pada Bobby membuat Shelly langsung mendapat kan tatapan tajam oleh nya.
"Suruh Kasella kirim rekaman cctv yang ada di ruang rawat Viola ke email ku sekarang juga! Aku terlalu malas mendengar penjelasan dari pria yang berbicara saja terbata-bata seperti kau saat ini." Sinis Darren membuat Bobby terdiam.
Darren pun langsung memutuskan panggilan nya itu sehingga terlihat sangat jelas bagaimana kesal nya wajah dari Bobby.
"Tuan Bobby?" Panggil Shelly dengan suara pelan nya.
"Bagus lah kau tidak menjawab!" Shelly yang melihat Bobby masih diam perlahan-lahan berjalan kearah pintu apartemen agar bisa kabur dari cengkraman Bobby.
"Tetap lah di tempat mu Shelly!" Bobby mengalihkan pandangannya kearah Shelly yang hampir membuka pintu apartemen nya itu.
"Aku tidak mau!" Dengan sangat cepat Shelly membuka pintu tersebut dan hendak lari. Namun ia kalah cepat dengan Bobby yang sudah menarik tangan nya terlebih dahulu.
"Kau tau nona Shelly? Suami dari sahabat mu itu baru saja memaki-maki diri ku! Dan sebagai ganti rasa kesal ku ini kau harus di hukum." Bobby menyunggingkan senyuman di hadapan Shelly membuat raut wajah Shelly berubah.
"Kenapa harus aku yang di hukum? Lagian yang memarahi mu kan bukan aku." Protes Shelly saat diri nya di jatuhkan hukuman tanpa kesalahan apapun.
"Itu karna kau sudah mengejek ku." Jawab Bobby dengan sangat gampang nya.
"Tuan Bobby! Kau memang gila! Bahkan benar-benar sudah tidak waras lagi." Shelly sangat marah mendengar jawaban dari Bobby.
Sementara Bobby malah terlihat sangat senang saat dirinya berulangkali di marahin oleh Shelly.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1
...****************...