
Dua Minggu sudah berlalu ... Viola dan Darren menjalani hari-hari seperti biasanya. Darren yang memiliki sifat yang sulit untuk di tebak, membuat Viola semakin bimbingan.
Viola bingung melihat sikap Darren yang tiba-tiba baik padanya. Namun, dengan seketika dia menjadi dingin, sedingin-dingin nya.
Darren sendiri juga bingung dengan perasaannya. Dia tidak ingin terlibat akan sebuah perasaan, apalagi itu tentang cinta.
Dia hanya bisa mengontrol sikap nya seperti biasanya, agar Viola tidak menaruh harapan lebih pada nya.
......................
Kediaman One Drn.khan ...
Hari ini adalah hari weekend. Darren lebih memilih untuk segera pindah dari kediaman pertama nya. Kepindahan ini memang pasti akan terjadi, omay dan mama Darren pun sudah tahu Darren pasti akan pindah. Namun, kapan itu pindah nya mereka berdua Belum tahu, termasuk Viola sendiri.
Darren memutuskan untuk pindah ke kediaman kedua nya lebih cepat. Dia tidak ingin terus-menerus dipantau oleh omay dan juga mama nya. Darren merasa risih jika kegiatannya selalu diperhatikan oleh omay dan mama nya..
"Sudah pagi ... sudah pagi. good morning ... good morning. ayo bangun! ayo bangun! bringggggg ... brinnggg."
"Ribut sekali sih!!" Viola membuka matanya, dan langsung mematikan suara alarm suaminya itu. "Sudah jam 6 pagi ternyata! Oh iya, Darren dimana ya?? Tumben dia tidak ada." Viola langsung melihat-lihat keseluruhan kamar nya. Namun, dia tidak jugak menemukan Darren.
"Ah yasudah lah! Aku juga tidak ingin melihat dia pagi-pagi begini." Viola langsung bangkit dari tempat tidur nya, "untuk apa juga aku mencari nya. Aku kan masih kesal padanya! Dua Minggu lalu dia selalu saja memaksa ku untuk tidur di satu tempat tidur yang sama dengan nya. Ya, walaupun tidak terjadi apa-apa. Tapi, itu kan sudah termasuk melecehkan harga diri ku!! Dasar laki-laki mesum! Katanya dia tidak suka didekati oleh wanita, apalagi disentuh. Tapi, nyatanya apa!" Viola terus saja memaki-maki Darren, dengan berjalan kedalam kamar mandinya. Untuk membersihkan diri nya.
"Aaaaaaa .... " Viola berteriak ketika dia memasuki kamar mandinya nya.
"Kau gila ya!!" sergah Darren pada Viola.
"Kau yang gila!" Balas Viola, yang masih menutupi wajah nya.
"Aku?? Jelas-jelas kau yang berteriak seperti itu. Tapi, kau yang bilang aku gila." Darren langsung menatap Viola dengan tatapan tajam nya.
"Tentu saja aku berteriak seperti itu! Jika, yang aku lihat adalah pemandangan yang seperti ini!" Viola langsung membuka matanya dan membalas tatapan Darren.
"Pemandangan seperti apa?" Darren yang sudah tahu maksud perkataan Viola, langsung tersenyum.
"Pakai handuk mu! Kau tidak malu apa? Bahkan, aku sudah melihat yang seharusnya tidak untuk ku lihat! Aahh ... Sebaiknya aku keluar sekarang! mengotori mata ku saja!" Viola langsung melangkahkan kakinya dengan cepat untuk keluar. Namun, sayang sekali langkah kaki nya kalah cepat dari Darren.
"Mengapa terburu-buru istri ku! Bukan kah ini terlihat bagus?" Darren langsung membusungkan dada nya dihadapan Viola, membuat Viola menutup kedua mata nya.
"Darren!! Hentikan lah. Aku sedang tidak ingin bercanda." ketus Viola pada Darren. Dan hendak mendorong tubuh Darren darinya. Tapi, tenaga nya kalah dari Darren.
"Aku juga tidak sedang bercanda istri ku! Bukan kah ini hal yang wajar? Jika, suami istri didalam kamar mandi bersama." Seringgai Darren menatap wajah merah Viola.
"Darren! Kau tidak menyukai ku! Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi." Viola langsung berbicara dengan sangat mudah nya di hadapan Darren, tanpa dia sadari sendiri dengan kata-katanya.
"Having sex itu bukan untuk orang yang saling menyukai saja istri ku! Bahkan, untuk orang yang tidak saling kenal saja bisa melakukan hubungan itu! Untuk meluapkan semua nafsu mereka. Apalagi kita istri ku, kita adalah suami istri. Jadi hal seperti itu memang sudah seharusnya terjadi bukan?" Darren langsung memandangi wajah Viola.
"Tapi, aku tidak mau melakukan nya dengan orang yang tidak menyukai ku sama sekali!!!" Raung Viola pada Darren. Dan dengan seketika air mata Viola langsung mengalir dengan sangat cepat.
"Mengapa kau menangis??" Darren yang melihat Viola menangis merasa sangat terkejut.
"Aku tidak menangis!" Viola langsung mengusap air matanya.
"Jadi ini apa? Jika, kau tidak menangis. Lantas darimana air ini berasal?" Darren yang mendengar jawaban Viola, Darren langsung menghela nafas nya dengan berat nya.
"Tidak tau!" Ketus Viola.
"Sudah jangan menangis! Aku hanya bercanda tadi." Darren langsung mengusap air mata Viola.
"Benarkah itu?" Viola memandangi wajah Darren dengan sangat dalam.
"Tentu saja! Aku tidak ada minat menyentuh gadis berdada kecil seperti mu!" Darren menjentikkan jari nya kening Viola.
"Aww sakit tahu!! Kurasa ini tidak terlalu kecil dengan apa yang kau bilang tadi." Dengan polos nya Viola memegangi kedua bukit kembarnya.
"Kau itu! Bodoh sekali!" Darren pun menggeleng kan kepalanya melihat kepolosan Viola.
"Enak saja bilang aku bodoh." Dengan seketika Viola menundukkan kepalanya. "AAAaaa...!"
"Kau itu kenapa lagi! Senang sekali berteriak seperti ini. Syukurlah setiap malam aku mengaktifkan sistem kedap suara di kamar ini. Jadi mama dan omay ku tidak akan mendengar nya." Darren benar-benar kesal melihat Viola yang terus saja berteriak tidak jelas seperti itu.
"Mengapa kau tidak memakai baju handuk mu sih!" Viola langsung menutup wajah nya.
"Oh iya! Aku lupa." Dengan segera Darren mengambil baju handuk nya dan langsung mengenakan nya. "Sudah tidak perlu menutup mata mu lagi! Aku sudah menutup nya."
"Bagus lah!" Viola pun membukakan matanya.
"Kau itu harus terbiasa melihat nya! Apalagi jika kita sudah pindah ke kediaman kedua ku nanti." ujar Darren pada Viola.
"Mengapa aku harus terbiasa? Jika kita sudah pindah ke kediaman mu yang kedua, tentu saja aku akan memilih kamar yang tidak sekamar dengan mu!" seru Viola pada Darren.
"Berani nya kau!" Darren langsung menatap Viola dengan sangat tajam.
__ADS_1
"Mengapa kau menatap ku seperti itu! Aku kan berkata benar. Kau itu, menakutkan sekali ...!" Viola yang melihat Darren menatap nya merasa merinding di tangan nya.
"Kau dengar ini baik-baik! Walaupun, kita pindah nantinya. Kau akan tetap tidur sekamar dengan ku!" sergah Darren pada Viola.
"Tapi mengapa?" Viola merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan Darren padanya.
"Karna kau itu istri ku." Jawab Darren dengan suara datar nya.
"Hanya karna itu?"
"Tentu saja! Jadi, karna apa lagi." Darren memandang wajah Viola.
"Baiklah! Lagian, perpindahan nya juga belum di pastikan kapan. Jadi, aku tidak perlu merasa khawatir." gumam Viola didalam hatinya.
"Mana kutahu karna apa lagi! Yasudah aku setuju dengan mu! Tapi, jika kita sudah pindah nanti. Kau jangan menyentuh ku!" Viola langsung membalas tatapan Darren padanya.
"Aku jugak tidak berminat menyentuh mu!" Darren pun keluar dari kamar mandinya. dan Meninggalkan Viola sendirian disana.
"Keluar begitu saja seperti biasanya! Dasar Mr.Ice. sudahlah lebih baik aku mandi saja! Lagian dia sudah keluar!" Viola pun segera melepaskan pakaian nya. Dan berendam di bathtub.
Setelah selesai mandi, Viola pun mengenakan pakaian nya. Dan berjalan keluar dari kamar nya. Ketika Viola hendak turun, Viola melihat Darren sedang mengobrol dengan mama dan juga omay nya.
"Sayang, bukan kah ini terlalu cepat?" Mama memandangi wajah putra nya.
"Ma ... Aku sudah terlalu lama disini! Aku lebih tenang jika aku berada dikediaman ku sendiri." ujar Darren pada mama nya.
"Nak, ini kan juga kediaman mu sendiri. Jadi tidak ada bedanya sayang." Timpal omay.
"Iya sayang! Yang dikatakan omay benar." Mama terus saja memohon pada putra nya.
"Mereka sedang berbicara apa ya? Sepertinya serius sekali." Viola terus saja memandangi omay, mama dan juga Darren yang tengah duduk di ruang tengah mereka.
"Ma ... Omay. Aku tau ini juga kediaman ku. Tapi, aku lebih mudah mengurus pekerjaan ku di kediaman kedua ku ma. Disana juga banyak berkas-berkas perusahaan penting. Jadi, aku tidak bisa meninggalkan kediaman kedua ku terlalu lama omay." Darren dengan sabar nya menjelaskan alasan nya pada mama dan juga omay nya.
"Darren ... Kau kan bisa menyuruh Bobby untuk mengantar kan berkas-berkas perusahaan itu ke sini. Jadi, jangan terlalu khawatir sayang." Mama terus saja memaksa putra nya untuk tidak pergi. Bukan karna, takut ditinggal oleh putra nya. Namun, mama tidak ingin jauh-jauh dari mantu kesayangan nya itu.
"Ma, mengapa mama tidak mengerti aku! Bobby tidak mungkin terus-menerus kesini. Dia juga harus mengurus urusan kantor. Lagian aku sering mengerjakan urusan perusahaan di malam hari. Jadi, tidak mungkin aku menyuruh Bobby di luar jam kerja nya ma." Darren langsung menghela nafasnya dengan sangat panjang.
"Sudah lah Ra! Jangan memaksa putra mu seperti ini. Dia juga tidak ingin meninggalkan mu." Omay menepuk pundak menantu nya.
"Ma ...! Omay ...! Ada apa dengan kalian?" Viola yang sudah turun kebawah langsung menemui Mereka bertiga yang berada diruang tengah.
"Viola? Sejak kapan kau sudah berada disana?" tanya Darren, menatap kearah Viola.
"Kemarilah sayang!" Mama langsung melambaikan tangan nya pada menantu kesayangan nya itu.
"Baiklah ma!" Dengan segera Viola menghampiri mama mertua nya.
"Baiklah Darren! Jika, kau memang benar-benar ingin pindah. Maka, pindah lah sendiri saja. Jangan membawa menantu kesayangan ku ini bersama mu juga!" seru mama menatap putra nya dengan sangat kesal.
"Ra! Kau ini apa-apaan sih!" Omay langsung menyenggol lengan menantu nya.
"Mama!! Dia ini kan istri ku. Jadi, tidak mungkin aku berada di sana sedangkan dia berada disini." Darren sangat emosi mendengar ucapan mama nya.
"Terserah! Mama tidak akan membiarkan kau membawa menantu kesayangan mama ini bersama mu!" Dengan segera mama langsung merangkul Viola.
"Tunggu dulu! Ini sebenarnya ada apa?" Viola yang tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan hanya diam saja. Namun, ketika namanya mulai di bawa-bawa dia pun langsung angkat bicara.
"Nak, hari ini Darren berniat untuk kembali ke kediaman keduanya bersama mu. Omay dan mama sudah tahu, pasti hal ini akan terjadi! Tapi, kami tidak percaya kalau kalian akan pindah secepat ini." Jelas omay pada Viola.
"Pindah?? Ke kediaman keduanya?? Mengapa dia tidak memberi tahu ku?" gumam Viola didalam hati nya.
"Darren. Kau tidak bilang pada ku kalau kita akan pindah?" Viola langsung menatap wajah Darren yang memerah karna, menahan emosi nya.
"Aku kan sudah bilang pada mu! Kau tidak ingat saat kita berada di dalam kamar mandi tadi?" ujar Darren dengan suara datar nya.
"Apa jangan-jangan maksud dari jika, aku sudah berada di kediaman kedua nya aku harus membiasakan diri untuk melihat nya tidak berpakaian seperti itu adalah ini? Karna, dia akan pindah makanya, dia berbicara tentang kediaman keduanya pada ku tadi? Tapi, tadi aku sempat menyetujui semua perkataan nya! Bahwa, aku akan tidur sekamar dengan nya. Oh Viola betapa bodohnya dirimu sekarang!" Viola langsung memukuli kening nya sendiri.
"Sayang ada apa?" Mama yang melihat menantu nya seperti itu langsung terkejut. Sedangkan, Darren hanya tersenyum kecil melihat tingkah konyol istri nya.
"Eh ini ma! Tidak apa-apa ma, Vio tadi hanya merasa pusing saja." elak Viola pada mama nya.
"Vio, kalau tidak enak badan. Istirahat lah nak!" Ujar Omay pada cucu mantu nya.
"Ahh, sudah tidak papa kok omay." balas Viola.
"Oh iya Darren. Mengapa kita pindah nya cepat sekali?" tanya Viola pada Darren.
"Kau tidak perlu tau! Yang kau perlu tau adalah kau harus tetap bersama ku." ujar Darren dengan nada dingin nya.
"Ehm, dasar singa!"
__ADS_1
"Mama tidak mengizinkan mu membawa Viola bersama mu!" Mama langsung menarik Viola kearah belakang nya.
"Mama dia ini istri ku! Dia harus bersama ku." Darren tidak menyangka kalau mama nya sangat keras kepala seperti itu padanya.
"Makanya, jangan pindah!" Balas mama dengan nada emosinya.
"Ra! Kau tidak boleh seperti itu." Omay langsung menatap mantu nya dengan sangat tajam.
"Aku tidak peduli ma!" Mama terus menggenggam tangan menantu kesayangan nya.
"Viola! Kau ikut dengan ku atau tidak!" Darren langsung menatap Viola dengan suara tingginya.
"Aku ikut dengan mu." Viola paham maksud kata-kata suaminya itu. Lagian, jika dia menolak Darren. Maka, habis lah dia.
"Mama dengar kan? Istri ku saja ingin ikut bersama ku. Masaan mama tega melarang nya untuk ikut bersama ku juga!" Darren menghela nafas nya dengan sangat panjang.
"Viola sayang. Kau bersama mama saja ya! Biarkan saja suami mu ini pergi sendirian. Toh jika dia merindukan mu dia akan datang sendiri kesini!" ujar mama menatap menantu nya dengan sangat lembut.
"Anak mu tidak akan pernah merindukan ku ma! Dia pasti akan menyiksa ku. Jika, aku tidak pergi bersama nya." gumam Viola.
"Mama!" Darrren benar-benar sangat marah pada mama nya. Tapi, mama nya tidak memperdulikan nya sama sekali. Dia tau bahwa, putra nya tidak akan pernah bisa menyakiti nya.
"Aurora Khan! Kau sudah keterlaluan. Mama tidak suka itu!" Omay yang biasa nya tidak pernah memarahi menantu nya, langsung marah ketika mendengar ucapan menantu nya itu.
"Mengapa mama membentak ku?" Aurora tidak percaya sama sekali, Kalau mama mertua nya membentak dirinya.
"Karna kau salah Ra." Omay langsung menghela nafas nya dengan sangat dalam.
"Mama, Vio harus ikut kemana pun suami Vio pergi. Karna, itu sudah kewajiban Vio ma." Viola langsung menenangkan suasana yang dari tadi panas yang dirasakan nya.
"Tapi, Vio mama tidak ingin jauh-jauh dari mu." ujar mama menatap Viola dengan sangat dalam.
"Ra! Bukannya kau tidak ingin putra mu yang jauh dari mu?" Omay benar-benar terkejut mendengar ucapan menantu nya.
"Ma. Aku tidak memperdulikan Darren! jika, dia ingin meninggalkan ku. maka, pergilah! Lagian, dia kan selalu saja meninggalkan mama nya ini. Jadi, aku sudah terbiasa ma. Tapi, jika Viola yang pergi aku tidak bisa ma. Karna, aku sudah biasa dengan kehadiran nya disini." Mama Darren menatap menantu nya dengan sangat dalam. Sementara, omay hanya diam saja.
"Mama! Aku ini kan putra mu! Mengapa kau berbicara seperti itu?" Darren tidak percaya dengan apa yang di dengar nya tadi.
"Darren, kau memang Putra ku. Tidak ada yang bisa memungkiri hal itu. Jika, mama lebih menyayangi menantu mama ini. Kau jangan menyalahkan mama. Karna, itu salah mu sendiri. Yang tidak pernah memperhatikan mama. Hanya, Vio yang selalu memperhatikan mama." Bela mama Darren pada putranya. Darren tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tau dia tidak akan pernah menang jika harus berdebat dengan mama nya.
"Vio janji deh ma! Vio akan sering kemari untuk menemui mama dan juga omay." Viola langsung tersenyum menatap mama dan juga omay nya.
"Pokok nya mama tidak akan membiarkan Viola pergi!" Mama terus saja bersikukuh dengan ucapan nya.
"Mama! jika aku tidak membawa istri ku pulang bersama ku. Bagaimana cara nya aku bisa memberikan Kalian cucu secepatnya? Jika, istri ku saja berada disini!" Sergah Darren pada mama nya. Mama dan juga omay langsung membuka mulut nya karna, kaget mendengar ucapan Darren.
"Ha??" Viola juga merasakan hal yang sama dengan mama dan jugak omay.
"Baiklah sayang! Jika, seperti itu kau boleh membawa Viola bersama mu!" Dengan segera mama nya langsung menyerahkan Viola kepada Darren. Sedangkan, Viola masih dalam keadaan nya yang sangat terkejut.
"Yasudah pergi saja sekarang nak! Agar kau bisa segera membuat nya!" Omay langsung tersenyum menatap Viola dan cucu nya.
"Jika, aku tahu alasan ini akan berhasil secepat ini. Maka, sudah kulakukan dari tadi. dan aku tidak perlu berdebat seperti itu dengan nama!" Darren yang melihat omay dan mama nya seperti itu hanya bisa menghela nafas nya saja.
"Darren! Kau ini apa-apaan sih!" Viola berbicara dengan berbisik pada suaminya.
"Ini adalah cara yang paling cepat untuk aku gunakan! Jadi, kau ikuti saja!" Darren menatap Viola dengan sangat intens.
"Terserah mu saja!" Kesal Viola.
"Yasudah ma, omay! Aku dan istriku pergi dulu ya." Dengan segera Darren berpamitan pada orang yang paling disayangi nya.
"Iya nak." Jawab omay.
"Hati-hati ya sayang! Kau harus menjaga menantu ku dengan baik!" seru mama pada putranya.
"Mama tenang saja!"
"Tunggu dulu! Kita akan pergi sekarang?? Tapi, aku belum membereskan barang-barang kita." Viola langsung menghentikan langkah kaki suaminya.
"Kau tidak memerlukan nya." Balas Darren.
"Kau gila ya! Pakaian ku ada di sana semua. Bagaimana bisa kau bilang aku tidak memerlukan nya." Viola berbicara dengan intonasi tingginya pada Darren.
"Viola Talisa! Kau lupa apa? Sebelumnya, kau kemari jugak tidak membawa apa-apa bukan. Jadi, hal ini juga sama terjadi dengan yang sebelumnya. Semua kebutuhan mu sudah ada disana. Kepala pelayan disana sudah menyiapkan nya! Jadi kau tenang saja." Darren benar-benar sangat kesal dengan Viola. Ditambah lagi dengan kejadian mama nya tadi.
"Emm baiklah!" Viola tidak ingin berdebat dengan Darren. Dia lebih memilih untuk mengalah saja. Sedangkan, mama dan juga omay hanya menggeleng kan kepalanya. Melihat tingkah mereka berdua yang sudah memasuki mobil nya.
"Semoga saja Darren segera memiliki anak ya ma!" Ujar mama Darren pada mertua nya.
"Iya Ra! Semoga saja mereka cepat memberi mama cicit." Omay dan mama langsung tersenyum secara bersamaan.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...