
New York presbyterian hospital..
Akhirnya ambulance pun tiba di rumah sakit new York, Erik dengan perasaan tidak karuan terus saja menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Dokter..!" Teriak Erik dengan sangat keras nya membuat seluruh yang berada di rumah sakit melihat kearah nya.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter pada perawat yang sudah menuruni brankar dari ambulance
"Pasian mengalami kecelakaan dok dan dia sedang hamil besar..!" Balas perawat itu.
"Baiklah..! Bawa pasien keruangan operasi! Kita harus segera menyelamatkan ibu dan bayi nya." Perintah dokter pada perawat lain nya.
Dokter berserta beberapa para perawat pun mendorong brankar itu dengan sangat cepat dan juga alat pernapasan yang perawat itu pegang. Sementara Erik terus menangis dan juga mendorong brankar yang sudah ada Vivian diatasnya.
"Sayang kau jangan takut..! Kau pasti baik-baik saja." Erik menatap wajah Vivian dengan sangat cemas.
"Kau itu..! Sudah jelas kau yang takut." Vivian yang masih setengah tersadar berusaha tersenyum menahan rasa sakit nya.
"Kau jangan banyak bicara sayang. Nanti luka mu akan memburuk." Erik menghapus air mata Vivian. Tanpa Vivian sadari dia sendiri juga sudah berlinang air mata sejak tadi. Bukan karna sakit yang ia rasa. Namun, ada ketakutan sendiri yang menghantuinya.
"Erik boleh aku mengatakan sesuatu?" Vivian menatap lekat pria yang terus menggenggam tangan nya itu.
"Nona sebaiknya anda jangan terlalu banyak berbicara. Karna itu akan buruk untuk dirimu dan juga bayi mu." ujar dokter yang masih mendorong brankar itu.
"Kau dengar sayang..! Kau akan mengatakan nya setelah kau sudah membaik ya?" Erik mencium tangan Vivian dengan sangat lembut.
Brankar yang didorong itu akhir nya pun sudah tiba didepan ruangan operasi. Dengan segera perawat itu membuka pintu ruangan operasi yang akan Vivian jalani untuk memperjuangkan hidup mati nya di dalam ruangan itu.
"Tuan sebaiknya anda disini saja! Kami akan melakukan yang terbaik." Dokter pun hendak membawa brankar Vivian kedalam.
"Dokter beri saya waktu 1 menit saja untuk bicara pada Erik." Lirih Vivian pada dokter tersebut.
"Tapi, nona kondisi mu sudah sangat memburuk." Dokter yang merasa cemas melihat wajah pasien nya yang sudah sangat pucat menahan rasa sakit di seluruh tubuh nya itu.
"1 menit saja..! Saya mohon dok." Vivian terus saja memohon.
"Baiklah nona." Dokter pun masih berdiri di depan ruangan operasi itu.
"Vivian ada apa?" Erik yang sudah ketakutan melihat Vivian yang selalu saja tersenyum walaupun dia menahan rasa sakit yang teramat.
"Sayang berjanji lah pada ku..! Apapun yang terjadi kau harus tetap menyelamatkan anak kita..!" Vivian menggenggam tangan Erik dengan sangat erat nya.
"Apa yang kau katakan..!" Bentak Erik pada Vivian dengan wajah yang terus saja dibasahi dengan air matanya. "Kau akan baik-baik saja! Begitu juga dengan anak kita."
__ADS_1
"Iya aku tau. Aku hanya ingin kau lebih mementingkan anak kita dibandingkan diriku ini!" Vivian berusaha menarik nafas nya secara perlahan. Dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit nya itu.
"Erik dengarkan aku!" Vivian mengusap wajah Erik yang sudah sangat kacau itu. "Aku sudah sangat senang bisa bersama mu dan juga mengandung anak mu ini! Aku juga sudah cukup lama tinggal di dunia ini. Jika kau mengalami suatu pilihan yang sangat sulit. Tolong jangan memikirkan tentang ku! Dan aku juga ingin kau hidup dengan baik jika aku tidak bersama mu." Vivian tersenyum menatap wajah Erik yang masih menangis.
"Vivian apa yang kau bicara kan." Erik menangis menggenggam tangan Vivian.
"Nona kondisi mu sudah sangat memburuk. Kami harus segera melakukan penanganan." Dokter pun membawa masuk brankar Vivian bersama perawat lain nya.
"Aku mencintaimu..!" lirih Vivian dengan tersenyum menatap wajah Erik yang sudah jauh dari tatapan nya ketika pintu ruangan operasi itu tertutup.
"Aku juga mencintaimu..!" Erik pun langsung terduduk di kursi dekat ruangan operasi Vivian. Dia benar-benar sangat kacau. Takut akan kehilangan seseorang yang sangat ia cintai itu.
Lampu operasi pun menyala yang berarti Vivian sedang memperjuangkan hidup nya dan bayi nya itu. Erik terus saja mondar-mandir seperti orang gila. Dia kadang melihat melalui kaca namun hasil nya nihil. Erik sama sekali tidak dapat melihat Vivian didalam sana. Tidak menunggu waktu yang lama dokter pun keluar.
"Dok bagaimana kondisi Vivian dan juga bayi nya?" Erik langsung bertanya ketika melihat dokter itu sudah keluar dari ruang operasi.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan. Kondisi nona Vivian sangat buruk..! Jadi hanya ada satu nyawa saja yang bisa kami selamatkan." Dokter itu pun menundukkan kepalanya.
"Apa maksudmu..?" Erik menatap tajam kearah dokter tersebut.
"Tuan kau harus membuat keputusan. Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu diantara keduanya. Jadi keputusan itu ada ditangan mu tuan. Ibu nya atau bayi nya." Dokter itu menepuk pundak Erik dengan sangat perlahan. Dia sendiri tau itu adalah keputusan yang sangat sulit. Namun Erik juga teringat akan ucapan Vivian padanya.
"Tidak bisakah kau menyelamatkan keduanya?" Erik memohon pada dokter yang ada dihadapannya.
Jika Erik memilih Vivian itu akan baik bagi Erik. Tapi, bagaimana dengan Vivian..? Dia akan merasa kecewa karna Erik juga tidak menginginkan anak nya itu. Dengan Erik memilih dirinya sama saja membuktikan bahwa Erik juga melakukan hal yang sama seperti tuan Anggara.
Erik menarik nafas nya dalam-dalam meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan nya kali ini adalah yang terbaik, "selamat kan bayi nya dok!"
"Baik kami akan melakukan yang terbaik..!" Dokter pun masuk keruang nya dan melakukan operasi sesar pada Vivian dengan segera. Karna Vivian sudah banyak kehilangan darah.
Tidak menunggu waktu yang lama lampu operasi pun mati dan sudah terdengar suara tangisan bayi didalam nya yang menandakan bahwa putri nya itu sudah lahir.
Erik sendiri bingung harus bahagia karna kehadiran putri nya atau sedih karna kehilangan wanita yang paling dia cintai itu.
Dokter keluar dari ruangan nya dan menggendong bayi perempuan Erik.
"Selamat tuan bayi anda selamat..! Namun--" dokter pun terdiam tidak melanjutkan kata-kata nya itu.
"Saya tau dok," Erik mengambil putri nya. Menciumi wajah putri nya yang sangat cantik persis seperti wajah Vivian. Dia juga kasian pada putri nya yang sudah kehilangan mommy nya sejak ia lahir.
"Maaf kan Daddy sayang..!" Erik mengusap wajah merah putri nya dengan sangat lembut berjalan masuk keruang operasi, melihat kearah Vivian yang sudah tidak bergerak sama sekali.
"Sayang lihat lah putri kita! Dia sama seperti mu." Erik menaruh putri nya di samping Vivian.
__ADS_1
"Vivian kenapa kau tega meninggalkan ku seperti ini." Erik sudah benar-benar tidak sanggup lagi menahan rasa sakit nya kehilangan Vivian begitu saja.
"Kau tau bukan aku tidak bisa tanpa mu Vi!" Erik menggenggam erat tangan Vivian dan menundukkan kepalanya.
"Kau pasti sudah tau ini akan terjadi bukan? Makanya kau menyuruh ku untuk mengambil keputusan yang sangat sulit bagi ku!" Erik menatap lekat wajah Vivian.
"Bangun Vi..! Kumohon bangun lah." Erik memeluk Vivian dan juga putri nya itu.
"Tuan kasihan pasien jika tuan seperti ini. Sebaiknya tuan harus melakukan pemakaman segera agar pasien juga bisa tenang." ujar salah satu perawat yang masih berada didalam.
Erik pun menghapus air matanya dan mengendong kembali putri nya yang masih sangat kecil itu . Dia berusaha ikhlas untuk melepaskan Vivian namun dia sendiri sadar itu akan sangat sulit baginya.
"Aku akan segera menemuimu sayang..! Maaf jika aku egois." Erik mencium kening Vivian dengan sangat lama.
Pemakaman Vivian pun sudah di laksanakan yang dimana hanya ada Erik, putri nya dan juga ibu panti asuhan berserta anak-anak panti lainnya yang hadir di pemakaman Vivian. Erik sendiri juga tidak ingin Evan mengetahui tentang kesedihan nya itu. Jadi, dia lebih memilih diam ketika hal itu terjadi. Karna Evan juga sedang ada perjalanan keluar kota untuk bisnis nya. Evan sendiri juga berniat setelah dia pulang dari luar kota maka, dia akan membantu masalah adik nya itu. Namun sayang semua sudah terlambat. Nasi juga sudah menjadi bubur yang dimana hanya penyesalan saja.
...๐พ๐พ...
Seminggu sudah berlalu...
Erik masih meratapi foto Vivian bersama nya. Dia merasa hampa ketika Vivian tidak ada. Apartemen nya juga sangat sepi. Erik menatap kearah putri nya itu.
"Sayang maafkan Daddy ya? Daddy harus meninggalkan mu. Daddy yakin uncle mu akan menjemput mu nak." Erik mengusap wajah nya itu dan menyentuh lembut pipi putri nya.
"Daddy yakin Elvira akan jadi anak yang sangat cantik dan juga cerdas ketika dewasa nanti." Erik menciumi wajah putri nya itu. "Karna, mommy mu sudah memprediksi masa depan mu nak." Erik menetes air matanya.
Dan akhir kisah cinta dari Erik pun selesai..
Erik memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sesuai yang ia ucapkan, ia akan tiada jika Vivian tiada. Ia akan ada jika Vivian ada. Urusan putri nya Erik sudah mengatur nya secara terperinci sebelum meninggalkan putri nya itu.
Dan tuan Anggara?? Hanya ada rasa kekecewaan saja yang Erik tanam kan kepada kedua orang tua nya itu.
^^^Sad Ending...^^^
...****************...
~Sekedar curahan hati author aja๐
sebelumnya author minta maaf sebesar-besarnya buat para pembaca yang author sayangi๐.
sebenarnya author jugak gak ada niat sama sekali untuk berlama-lama up novel ini๐. tapi karna author sendiri juga terlalu banyak urusan di dunia nyata, jadi nya cerita novel ini tertunda. kadang author juga sedih selalu di tuntut untuk cepat-cepat up novel ini๐, apalagi sering sekali pembaca novel ini menurun secara drastis. yang membuat author langsung merasa kecewa dan tidak bersemangat untuk melanjutkan novel ini. karna menulis sebuah cerita itu tidak semudah yang author bayangkan.
author juga tau para pembaca yang setia author sangat suka cerita yang author tulis sehingga tidak sabar menunggu kelanjutan nya. author benar-benar sangat berterimakasih buat para reader yang sudah suka sama novel yang author buat dan juga sudah men-support author ๐. author usaha kan untuk menyelesaikan novel ini. jadi author harap buat pembaca yang tercinta tolong dukung terus novel ini, agar author juga semakin bersemangat melanjutkan kisah nya.
__ADS_1
~Terima kasih, salam sayang dari saya(Author Menikahi Seorang Miliarder Dunia)๐ค