
"Omay, ma! Kurasa perbincangan kita sudah selesai sampai disini. Aku benar-benar butuh istirahat setelah melakukan perjalanan yang panjang." Ucap Darren pada omay dan juga Aurora.
"Kalau omay dan mama mau menginap disini. Panggil saja kepala pelayan! Dia akan menyiapkan semua nya." Timpal Darren lagi.
"Tidak perlu sayang," omay pun bangkit dari duduk nya sambil tersenyum.
"Iya Darren tidak perlu, karna mama mau bawa omay melakukan check-up rutin hari ini. Makanya, tadi sebelum pergi kami singgah sebentar kesini karna teringat kalian akan pulang." Ujar mama Darren.
"Em baiklah ma kalau begitu." Darren mengangguk-angguk kepalanya.
"Yasudah mama sama omay pulang dulu ya." Aurora tersenyum lalu memeluk putra nya dan melepaskan pelukannya
"Jaga istri mu dan seluruh keluarga mu dengan baik sayang," bisik omay saat ia bergantian memeluk cucu nya itu.
"Iya pasti omay," jawab Darren dengan nada seriusnya.
Mereka berdua pun akhirnya pergi meninggalkan kediaman two drn.khan yang diantar kan oleh kepala pelayan.
Sementara Darren yang sudah melihat kepergian omay dan juga mama nya langsung berjalan kearah lift dan menekan tombol lantai dua. Ia ingin menenangkan suasana hati istri nya itu.
...🌞🌞...
Seminggu kemudian...
Kondisi Bobby saat ini sudah lumayan membaik saat menerima penjagaan yang ketat oleh Andhika.
"Hari ini, hari terakhir ku merawat mu Bobby Charlton!" Sinis Andhika pada Bobby.
"Emh, terimakasih." Bobby tersenyum kecil pada sahabat nya itu.
"Oh iya dimana Shelly?" Saat melihat Shelly tidak ada di kamar nya membuat Bobby sedikit khawatir.
"Tidak perlu khawatir! Dia sedang menemui orang tua nya dan juga menyelesaikan urusan nya terlebih dahulu sebelum kalian menikah." Balas Andhika sembari membereskan alat-alat medis nya.
"Kenapa dia tidak mengajak ku?"
"Itu karna kau belum terlalu sehat! Lagian kalau kau ikut bersama nya yang ada kau jadi beban untuk nya!" Sindir Andhika menatap kearah Bobby dengan tersenyum ngejek.
"Kau benar Andhika," Bobby menghela nafas nya itu. Ia benar-benar pria tidak berguna! Disaat seperti ini bukan nya melindungi gadis yang ia cintai. Ia malah menjadi beban untuk gadis itu.
"Lagian aku heran dengan sahabat mu itu. Bisa-bisanya dia memberikan hukuman seperti ini!" Mengingat kembali kejadian Minggu lalu membuat rasa kesal Andhika kembali.
"Dia juga sahabat mu!" Sinis Bobby pada Andhika.
"Iya kau benar! Dia juga sahabat ku. Tapi, sahabat macam apa yang menyiksa sahabat nya seperti ini." Kesal Andhika kembali.
"Andhika berhati-hati lah saat berbicara! Lagian dia menghukumki karna aku salah. Dan kau tau sendiri bukan? Hukuman ini termasuk paling ringan." Bobby tersenyum getir saat ia menerima hukuman atas kesalahannya yang lalu dan juga Vaya.
"Tapi, dia itu sudah keterlaluan!" Tekan Andhika menatap kearah Bobby.
"Kau tau Bob, dia itu memang seorang miliarder dunia yang kejam! Dan kau--" saat melihat wajah Bobby yang sudah aneh membuat Andhika menatap nya dengan jengah.
"Ada apa? kenapa wajah mu seperti itu."
"Diam lah! Kalau kau tidak ingin kenak masalah." Bobby berusaha memberi kode ke Andhika untuk melihat kebelakang.
"Tenanglah Bob! Kau bisa mengumpat nya sesuka hati mu. Lagian dia juga tidak ada disini!" Andhika menepuk bahu nya itu.
Bobby hanya menghela nafas nya dan langsung membalikkan tubuh Andhika saat itu juga membuat Andhika ingin marah. namun kemarahan nya hilang seketika melihat siapa yang sudah berdiri di hadapan nya.
"Da, Da-darren!" Andhika sangat terkejut melihat Darren sudah berdiri di hadapan nya dengan tangan yang berada di dalam kantong celana nya.
"Bob, kenapa kau tidak bilang kalau ada dia disini?" Andhika mengancing gigi nya melirik kearah Bobby.
__ADS_1
"Aku sudah menyuruh mu untuk diam! Itu berarti dia ada disini." Bisik Bobby dan bangkit dari duduk nya.
"Tu-tuan muda," sapa Bobby pada Darren.
Darren hanya menatap kearah mereka dengan tatapan dingin nya membuat suasana menjadi tegang.
"Darr-"
"Pernikahan mu akan di adakan di hotel grand Hyatt," tutur Darren dan langsung meninggalkan ruangan Bobby.
Andhika yang melihat Darren seperti itu merasa semakin ketakutan begitu juga dengan Bobby.
"Perasaan ku tidak enak Bob," ucap Andhika menatap kearah Bobby.
"Aku pun begitu," balas Bobby.
Namun, tiba-tiba saja handphone Andhika berbunyi hingga membuat Andhika menghentikan percakapan nya.
"Siapa?" Tanya Bobby saat melihat raut wajah Andhika
"Agen rahasia," Andhika menelan Saliva nya dengan sangat susah.
"Semangat kawan!" Bobby yang tau akan arti panggilan itu langsung menepuk pundak sahabat nya.
"Sialan kau!" Umpat Andhika dan menepis tangan Bobby.
"Dokter Andhika kasella! Setelah resepsi pernikahan sekretaris Bobby dan juga nona Shelly selesai. Kau harus segera berangkat ke daerah terpencil sebagai dokter sukarelawan selama 6 bulan!" Ucap agen rahasia tersebut saat panggilan nya di angkat oleh Andhika
"Apa! Kalian gila ya. Aku tidak mau!" Dengan perasaan yang sangat marah Andhika langsung menolaknya.
"Jika anda menolak maka sertifikat izin kedokteran anda di tarik oleh tuan muda." Balas ketua agen rahasia kembali.
"Kenapa aku harus melakukan itu? Apa salahku?" Andhika yang masih tidak terima terus saja marah-marah
"Tapi--"
"Karna tugas saya sudah selesai. Saya mohon ijin untuk mengakhiri panggilan ini dokter Andhika kasella." Sela agen rahasia dan langsung memutuskan panggilan tersebut.
"Arghh!!" Andhika pun mengusap wajah nya dengan sangat kasar.
"Sabar lah! Lagian hukuman yang diberikan Darren juga punya alasan yang tepat." Bobby berusaha menenangkan Andhika.
"Tapi ini sudah kelewatan! Bagaimana bisa aku--" Andhika tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya karna saat ini kepalanya sudah terasa sangat pusing
"Semua nya akan baik-baik saja! Percaya sama gue bro."Bobby tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak sahabat nya.
"Emh, baiklah." Hanya senyuman terpaksa nya saja yang bisa ia lakukan untuk membalas senyuman Bobby.
"Oh iya, Shelly pergi sama siapa menjumpai orang tua nya?" Bobby berusaha mengalihkan pembicaraan nya agar Andhika sedikit tenang.
"Sama istri miliader kejam itu," ketus Andhika.
"Sudah lah! Kau tidak perlu marah lagi. Darren juga melakukan nya karna kita salah!" Ucap Bobby sambil menghela nafas nya dengan berat.
"Baiklah, baiklah!" Jawab Bobby malas.
Sementara disisi lain kini tengah terlihat Shelly dan juga Viola duduk di hadapan orang tua Shelly dengan wajah yang ketakutan.
"Ada apa ini? Kemana saja kau seminggu ini Shelly Rula!" Tatap tajam papa Shelly kearah putri nya itu.
"Om Satria, jangan memarahi Shelly." Lirih Viola menatap kearah papa Shelly yang sudah di anggap nya sebagai papa nya sendiri.
"Sayang kami tidak memarahi nya," ujar papa Shelly tersenyum kearah Viola. Membuat Shelly menaikan alis nya.
__ADS_1
"Papa, anggap aku sebagai putri nya tidak sih!" Ketus Shelly didalam hati nya.
"Shell, Lo tenang aja mereka tidak akan memarahi Lo lagi." Viola memegang tangan sahabat nya dengan perasaan lega.
"Lo pikir bakal semudah itu ubul." Shelly tersenyum sinis pada sahabat nya.
"Papa dan mama gue belum tau kejadian yang gue alami selama ini. Kalau pun mereka tau pasti mereka sudah membunuh gue dari tadi!" Bisik Shelly membuat Viola menelan Saliva nya dengan sangat susah
"Kenapa kalian berdua berbisik-bisik?" Mama Shelly menelisik kedalam mata mereka berdua.
"Pa, ma ... Aku--" Shelly benar-benar sangat gemetaran saat ingin memberitahukan yang sebenarnya pada orang tua nya
"Shell, bagaimana kalau gue saja yang memberitahu kan semuanya pada om dan juga Tante?" Viola langsung menawarkan diri nya agar Shelly tidak gemetaran lagi.
"Tidak bul! Masalah ini biar gue yang hadapi." Ujar Shelly sambil menepuk-nepuk dada nya sendiri agar ia lebih berani lagi.
"Ada apa ini?" Papa Shelly yang sejak tadi melihat mereka berbisik-bisik mulai merasa curiga.
"Pa, ma! Aku hamil?" Ungkap Shelly dengan sangat cepat sambil memejamkan mata nya.
Viola pun ikut ketakutan, ia memeluk sahabatnya. Karna takut tiba-tiba kedua orang tua Shelly ingin memukul Shelly agar ia bisa melindungi sahabat nya yang tengah hamil.
"Pa, ma?" Shelly yang tidak melihat reaksi apapun langsung membuka matanya begitu juga dengan Viola.
"Maafkan aku pa, ma! Aku benar-benar khilaf. Pria itu akan bertanggung jawab sepenuhnya." Shelly langsung merangkak kearah papa dan mama nya.
"Iya om, Tante. Maafkan Shelly!" Timpal Viola yang ikut bersama sahabat nya bertekuk lutut dihadapkan orang tua Shelly.
Papa dan juga mama Shelly hanya bisa menghela nafas nya lalu menyuruh Shelly dan juga Viola untuk bangkit.
"Viola sayang, lain kali kamu jangan seperti ini lagi. Om dan tante tidak sanggup jika harus menghadapi amarah suami mu itu." Ucap mama Shelly sambil mengusap rambut Viola.
"Pa, ma? Kalian tidak marah pada ku?" Tanya Shelly dengan nada yang sangat ragu.
"Tentu saja kami marah padamu! Saat mendengar mu sudah kehilangan kehormatan mu. Ingin rasa nya kami membunuh mu sekaligus pria yang sudah menghamili mu!" Raung papa Shelly terhadap putri nya membuat putri nya tertunduk malu.
Viola terus saja memegang tangan sahabat nya itu. Jujur saja ia juga ketakutan melihat tatapan papa nya Shelly.
"Hemmm," orang tua Shelly menarik nafas nya perlahan lalu memegang wajah Shelly dengan sangat lembut.
"Tapi, syukurlah suami sahabat mu ini mendatangi kamu 2 hari yang lalu sebelum kalian datang."
"Apa!!" Mereka berdua langsung terkejut menatap satu sama lain. Lalu bergantian menatap kearah orang tua Shelly.
"Loh, kenapa kalian sangat terkejut? Memang nya suami mu tidak memberitahukan nya pada mu?" Tanya mama Shelly pada Viola.
"Tidak ada Tante," jawab Viola dengan wajah yang masih kaget.
"Mungkin dia lupa! Atau mungkin dia ingin kalian berani dalam menghadapi masalah apapun sendiri." Tutur papa Shelly.
"Memang nya Darren bilang apa om, Tante?" Tanya Viola dengan perasaan ragu nya.
"Dia mengatakan apa yang terjadi diantara kalian dengan di dasari cinta. Hingga membuat kalian tidak berpikiran panjang dan melakukan hal itu supaya bisa menikah. Karna suami Viola bilang keluarga dari pria yang menghamili Shelly dari keluarga terpandang. Makanya, mereka melakukan itu supaya bisa tetap menikah dengan persetujuan atau pun tidak dengan persetujuan!" Jelas mama Shelly pada mereka. Membuat mata mereka berdua menjenggil menatap tidak percaya.
"Vi, bagaimana bisa suami Lo buat skenario begitu bagus?" Bisik Shelly pada Viola.
"Aku juga tidak percaya sama suami ku itu," Viola menaikkan bahu nya tanda ia masih belum bisa percaya.
"Ja-jadi apa papa dan mama setuju dengan pernikahan ku Minggu depan?" Shelly dan Viola menatap intens kearah sepasang kekasih paruh baya yang ada di hadapan mereka.
Orang tua Shelly saling menatap satu sama lain. Tatapan mereka sangat sulit di mengerti oleh Viola dan juga Shelly. Hingga membuat suasana semakin tegang.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1
...****************...