
"Pa, ma?" Panggil Shelly saat kedua orang tua nya masih diam.
"Baiklah kami setuju! Tapi, itu bukan berarti kami menerima pria itu sebagai menatu kami sepenuhnya. Tapi, ini semua kami lakukan demi bayi yang ada di perut mu itu." Jawab papa Shelly dengan tatapan yang masih marah.
"Selain itu, suami Viola juga meminta maaf atas apa yang di perbuat oleh pria yang menghamili mu dan dia juga berjanji akan membuat kamu dan anak mu memiliki kehidupan yang bahagia bersama dengan pria itu. Jika suatu saat kamu tidak bahagia. maka, ia sendiri yang akan mengakhiri pernikahan kalian!" Timpal mama Shelly menatap putri nya.
"Shelly janji pa, ma. Shelly dan anak Shelly akan bahagia selalu bersama Bobby!" Wajah Shelly terlihat berseri membuat Viola merasa sedikit lega.
"Bagus lah jika begitu! Saat bayi kalian lahir pernikahan kalian akan di buat semegah mungkin." Tutur orang tua Shelly kembali.
"Apa pa, ma?" Tatap Shelly yang masih tidak mengerti.
"Kalian akan menikah 2 kali! Minggu depan adalah yang pertama dan setelah bayi kalian lahir baru lah kalian akan menikah dengan megah." Ucap papa Shelly.
"Tapi--"
"Itu sudah keputusan dari keluarga calon suami mu." Papa Shelly malas sekali harus berdebat dengan putri nya yang banyak sekali pertanyaan.
"Baik om, Tante! Shelly mengerti kok. benarkan Shelly?" Viola langsung mencubit pinggang sahabat nya itu
"Aww!" Shelly meringis kesakitan lalu menatap kedua orang tua nya.
"Eh iya pa, ma! Shelly akan ikuti semua nya." Jawab Shelly dengan senyum terpaksa nya lalu menatap tajam kearah Viola.
"Baguslah,"
"Oh iya, Om Tante kami berdua tidak bisa berlama-lama disini! Soalnya kami juga mau mengurus pengunduran Shelly di tempat kerja nya." Viola berdiri dari duduk nya sambil tersenyum.
"Hem selalu saja kalian ya! Setiap kemari pasti ada saja alasan nya untuk segera cepat-cepat pergi." Mama Shelly mencubit pipi Viola.
"Hehehe bukan begitu Tante. Tapi, memang kali ini kami harus segera menyelesaikan semuanya." Ujar Viola.
"Iya ma, aku juga harus menyelesaikan urusan ku sebelum menikah."Shelly tersenyum tipis pada orang tuan nya.
"Baiklah kalau begitu kalian boleh pergi!" Papa Shelly tersenyum pada mereka.
"Jaga kesehatan kalian berdua ya!" Viola dan Shelly mengangguk kan kepalanya.
"Dan untuk kau Shelly! Jaga cucu mama dengan baik." Mama Shelly menatap intens Shelly.
"Pasti ma! Shelly akan selalu menjaga bayi Shelly." Shelly memeluk mama nya dengan sangat erat nya. ia sangat rindu akan pelukan mama nya itu
Setelah mereka berdua berpamitan. Mereka pun pergi meninggalkan orang tua Shelly dan langsung masuk kedalam mobil sambil tersenyum kearah kedua orang tua Shelly. Saat ini tujuan mereka adalah ketempat kerja Shelly. Sudah dua Minggu lebih Shelly tidak ada kabar sama sekali di tempat kerja nya itu. Ia takut bos nya akan mengomelinya.
...🌞🌞...
Alvi Cafe.
Saat ini mereka berdua sudah tiba di tempat Shelly bekerja. Shelly memegang tangan sahabat nya dengan sangat kuat. Ia saat ini merasa gugup.
"Tenanglah Shell," Viola menepuk-nepuk punggung tangan sahabat nya.
Mereka berdua pun masuk ke cafe tersebut yang dimana semua mata tertuju kearah Viola. Viola yang di tatap seperti itu merasa kebingungan. Seharusnya yang jadi pusat perhatian saat ini adalah Shelly bukan diri nya.
"Shell, kenapa semua orang menatap ku?" Tanya Viola pada sahabat nya.
"Kau lupa siapa diri mu itu?" Sinis Shelly dengan tersenyum tipis.
"Huftt!!" Viola hanya bisa menghela nafas nya saja.
"Dari mana saja kau?" Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang mereka membuat mereka berdua membalikan tubuh mereka.
"Pa-pak Alvi," panggil Shelly dengan suara gemetar nya.
__ADS_1
"Itu atasan yang Lo bilang mesum itu ya Shell?" Bisik Viola pada sahabat nya.
Alvino yang melihat kini sudah ada dua orang wanita di hadapan nya. Langsung menghampiri mereka berdua.
"Kemana saja kau dua Minggu ini? Aku telah mencari mu kemana-mana." Ucap Alvino sembari memeluk Shelly tiba-tiba membuat Viola membelalakkan matanya.
"Pak lepasin! Semua orang menatap kita." Shelly berusaha melepaskan pelukan atasan nya itu.
"Sebentar saja! Aku sangat merindukan mu." Bisik Alvi dengan suara serak nya.
"Ehem," Viola berusaha mencairkan suasana yang ada di sekitar nya.
"Anda--" Alvi yang tersadar akan suara Viola. Kini ia menatap Viola setelah melerai pelukan nya pada Shelly.
"Viola Talisa --" Viola mengulurkan tangan nya itu sebagai tanda perkenalan pada atasan sahabat nya.
"Alvino Mahendra," saat Alvi ingin membalas uluran tangan nya. Tiba-tiba saja kepala bodyguard sudah lebih dulu mencekram tangan Alvi membuat semua orang menatap kearah kepala bodyguard.
"Pak," Viola menatap tajam kearah kepala bodyguard yang sudah hampir membuat tangan seorang Alvino Mahendra pucat karna cengkraman kuat dari kepala bodyguard.
"Maaf nyonya muda," kepala bodyguard pun melepaskan cengkraman nya itu lalu kembali berdiri di belakang Viola.
"Vi, the best!" Shelly mengacungkan jari jempol nya pada sahabat nya. Karna masalah nya kini semakin bertambah.
"Maafkan aku Shell," Viola merasa bersalah pada sahabat nya.
"Seperti nya saya sekarang mulai mengenal anda!" Alvi tersenyum kecil kearah Viola
"Tentu saja anda mengenal saya! Bukan kah tadi saya sudah memperkenalkan diri saya." Jawab Viola dengan santainya.
"Emh benar yang anda katakan." Sebuah senyuman yang sulit di mengerti tersungging di bibir Alvi.
"Pak saya ingin bicara penting sama bapak." Shelly ingin menyelesaikan masalah nya secepat mungkin dengan atasan nya itu.
"Kalian tetap disini!" Tegas Viola saat para bodyguard nya hendak mengikuti mereka masuk.
"Tapi--"
"Tidak ada tapi-tapi!" Potong Viola dengan wajah serius nya.
Kepala bodyguard langsung mengirim pesan pada tuan muda nya. Setelah mendapat kan balasan dari tuan mudanya. Baru lah kepala bodyguard menuruti perkataan nyonya muda nya membuat Viola semakin kesal.
"Duduk lah!" Perintah Alvino saat gadis yang ada di hadapan nya sudah tiba di ruangan nya.
"Terimakasih," Viola tersenyum sementara Shelly hanya memasang wajah yang bingung.
"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Tatap Alvi kearah Shelly.
"Emh," Shelly bingung harus mulai dari mana untuk mengatakan semua nya pada Alvi.
"Bicara lah Shell!" Viola sedikit kesal melihat sahabatnya yang sejak tadi seperti orang kebingungan.
"Saya ingin mengundurkan diri pak!" Ucap Shelly secara cepat membuat Alvi menatap nya tidak percaya.
"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan Shelly Rula!" Tatap tajam Alvi kearah Shelly.
"Saya sedang tidak berbicara omong kosong pak. Saya mengundurkan diri dari cafe bapak!" Ucap Shelly kembali.
"Aku tidak bisa membiarkan mu keluar begitu saja! Kau pikir cafe ku ini bisa seenak nya kau perlakukan. Setelah dua Minggu kau menghilang tanpa kabar. Kini kau malah ingin mengundurkan diri??" Nafas Alvi sudah tidak teratur karna menahan rasa amarah nya itu.
"Maaf saya ikut campur! Tapi, sahabat saya berhak untuk tetap bertahan atau tidak di cafe anda." Viola menatap Alvi saat Alvi menatap diri nya dengan sangat tajam.
"Dia sudah terikat kontrak di cafe ini. Masih ada setengah tahun lagi jika dia ingin keluar!" Balas Alvi kearah Viola.
__ADS_1
"Tapi, di dalam kontrak itu juga tertera seorang karyawan berhak keluar jika ia tengah hamil." Ujar Viola membuat Alvi menaikan alis nya.
"Darimana kau tau itu?" Tanya Alvi pada Viola.
"Itu tidak penting!" Viola tersenyum sinis kearah Alvi. Syukur lah saat Shelly ingin bekerja Viola sempat membaca isi kontrak kerja nya Shelly sebelum di tandatangani.
"Benar itu tidak penting! Tapi, yang penting sekarang sahabat mu itu tidak hamil. jadi tidak ada alasan bagi nya untuk keluar sebelum masa kontrak nya berakhir."
"Ah, tuan Alvi harus dari mana aku katakan pada mu?" Viola menghela nafas nya
"Jika, aku berkata seperti itu. Berarti sahabat ku ini sedang hamil!"
Deg
Ucapan Viola membuat Alvi langsung menatap kearah Shelly.
"Benarkah itu Shelly?" Alvi kembali memastikan ucapan dari istri miliader dunia ini benar atau tidak.
"Cih! Kau pikir aku berbohong? Yang benar saja. Bagaimana mungkin aku berbohong jika itu menyangkut sahabat ku." Kesal Viola pada pria yang sejak tadi membuat nya kesal.
"Yang dikatakan sahabat saya benar pak. Oleh karna itu saya ingin mengundurkan diri." Shelly membalas tatapan atasannya yang sejak tadi menatap intens kearah nya.
"Kenapa kau tega melakukan itu pada ku?"
"Melakukan apa?" Ucapan Alvi yang tiba-tiba seperti itu tentu saja membuat Shelly dan juga Viola tidak mengerti sama sekali.
"Bukan kah kau selalu menolak untuk menikah dengan ku! Lalu kenapa sekarang tiba-tiba kau sudah mengandung?" Tatap tajam Alvi kearah Shelly membuat Shelly semakin merasa bersalah.
"What's??" Viola menatap jengah kearah Alvi.
"Shell, Lo?" Viola mengalihkan tatapannya kearah Shelly.
"Vi kan gue sudah pernah bilang sama Lo sebelum nya! Atasan gue ini selalu berbicara yang tidak masuk akal." Bisik Shelly pada Viola.
"Sekarang gue ngerti apa maksud dari ucapan Lo Shell," Viola tersenyum kecil lalu beralih menatap kearah Alvi.
"Pak, bukan kah sudah saya katakan sebelumnya. Saya tidak mencintai bapak! Terlebih lagi bapak adalah atasan saya. Saya paling tidak suka memiliki hubungan dengan seorang yang terhubung dengan pekerjaan." Terang Shelly sembari menghela nafas nya. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana jalan pikir atasan nya itu.
"Tapi, bukan kah kau juga mengatakan tidak ingin terlibat dalam hubungan apapun?" Kini sorot mata Alvi seperti ingin membunuh Shelly saat itu juga.
"Ah jangan konyol tuan Alvi. Sangat mustahil jika wanita berbica seperti itu! Karna kita tidak akan pernah tau seperti apa itu takdir." Sinis Viola kearah Alvi membuat emosi Alvi tersulut.
"Anda kalau tidak tau permasalahan nya, sebaiknya anda diam!" Tatap tajam Alvi kearah Viola membuat Viola hanya tersenyum kecil saja.
"Saya tidak akan angkat suara kalau saya tidak tau permasalahan nya."
"Ha, sombong sekali! Kau pikir hanya karna kau istri dari seorang miliarder dunia yang terkenal kejam itu aku akan takut?" Alvi menatap remeh kearah Viola membuat emosi Viola naik.
"Pak Alvi! Jaga ucapan anda." Raung Viola pada Alvi
"Ada apa? Kau tersinggung?"
"Hah! Benar-benar pria yang tidak masuk akal." Viola menghela nafas nya dengan kasar.
"Syukurlah kau tidak bersama pria seperti dia Shell. Se arogan nya sekertaris Bobby setidaknya sekertaris suami ku itu lebih baik daripada diri nya." Sindir Viola.
"Apa kau bilang?" Kini malah emosi Alvi yang meluap-luap mendengar ucapan dari Viola.
"Kau tuli ya? Aku malas berbicara dengan orang tuli seperti mu."
"Jaga langkah anda Alvino Mahendra!" Shelly yang sejak tadi diam langsung bicara tinggi saat Alvi ingin menghampiri sahabat nya.
Alvi menghentikan langkah nya menatap Shelly dengan sangat lekat. Gadis yang tidak pernah memanggil nya dengan sangat lengkap dan nada yang tinggi membuat Alvi masih tidak percaya sama sekali.
__ADS_1