Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 167 Berangkat ke Singapura!


__ADS_3

"Jadi kak, saat kak Shelly tiba kami pun sempat mengobrol sebentar. Hingga tiba-tiba saja muncul seorang pria kalau gak salah namanya Evan kak! Nah di sana baru lah drama diantara mereka berdua di mulai." Lanjut Tara kembali.


"Terus apa lagi?" Tanya nyonya Charlton.


"Terus, saat itu identitas Tara harus di sembunyikan agar tidak ada yang boleh tau. Dan tuan Bobby bersama kak Shelly berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Namun, karna tuan Bobby adalah seorang duda anak 1 dan anak nya itu adalah aku. Maka, kak Shelly menjadi calon istri tuan Bobby."


"Tapi, siapa sangka kini akhirnya mereka menikah!" Tara kembali tertawa begitu juga dengan yang lain saat sudah mengetahui keseluruhan cerita nya.


"Jadi begitu! Baguslah kalau memang kalian memiliki kisah kalian sendiri. Deddy pikir kalian menikah hanya karna kesalahan yang terjadi malam itu." Tutur tuan Charlton.


"Tentu saja tidak ded! Aku tidak akan menyentuh wanita yang tidak kusukai." Tegas Bobby.


"Berarti kau mencintai putri ku?" Mata papa Shelly menatap intens Bobby.


"Sangat! Aku sangat mencintai nya entah sejak kapan. Tapi, yang pasti rasa itu semakin besar begitu aku tau ia mengandung anak ku." Bobby menatap mata Shelly yang berkaca-kaca. Ia sangat bahagia memiliki wanita yang ia cintai. Walaupun sedikit ada problem sebelum menikah. Namun, akhirnya mereka menikah juga.


"Bagus lah jika seperti itu! Kami harap kalian akan bahagia selamanya." Mama Shelly membelai rambut Putri nya.


"Bobby Charlton! Kau adalah keturunan keluarga besar Charlton. Jangan buat wanita yang sudah menjadi istri mu ini menderita! Karna di dalam buku besar keluarga Charlton. Pria yang menyandang nama ku tidak boleh menyakiti wanita sedikit pun. terlebih lagi istri nya sendiri! Jika itu terjadi maka kau ku pecat sebagai anak dan penerus ku!" Tekan tuan Charlton pada putra nya dengan nada yang sangat serius. Membuat Viola, Tara dan juga Shelly menelan Saliva nya.


Bobby, Andhika,Vaya yang sudah tau bagaimana silsilah dari keluarga masing-masing terlihat sangat santai dan tenang. Karna, mereka tau begitulah cara keluarga mereka mendidik untuk menghormati seorang wanita dan menjadi wanita yang tetap sopan.


"Baik dad! Aku mengerti. Dan aku berjanji tidak akan mengecewakan semua orang yang ada disini." Jawab Bobby sembari menegapkan kan dada nya


"Baguslah! Kalau begitu kita lanjutkan acara nya."


Saat semua orang sudah menganggukkan kepalanya, acara pun di mulai kembali dengan sangat meriah. Walaupun hanya ada keluarga saja yang berada di sana tidak menutup kemungkinan acara tidak meriah.


Mama dan juga omay Darren tidak bisa menghadiri pernikahan Bobby dan Shelly di karenakan omay harus berobat di Singapura. tiga hari sebelum resepsi pernikahan Bobby dan Shelly di laksanakan. Tiba-tiba saja penyakit omay semakin memburuk sehingga membuat mereka sangat khawatir dan terpaksa dilarikan ke Singapura.


Jujur saja walaupun di mata Darren dan Viola bahagia saat pernikahan kedua nya. Namun, perasaan mereka sangat menghawatirkan kondisi omay. Hingga setelah acara selesai mereka langsung memutuskan untuk berangkat ke Singapura bersama Tara juga.


"Vi gue ikut ya? Bagaimanapun mereka juga sudah seperti keluarga gue." Pinta Shelly dengan wajah yang sedikit memelas.


"Tidak Shell! Lo saat ini hamil. Yang terpenting adalah jaga kesehatan Lo! Jangan buat gue semakin cemas memikirkan Lo disini juga." Viola mengusap bahu sahabat nya itu.


"Iya kak Shelly! Apa yang dikatakan kak Vio benar. Kakak sebaiknya disini bersama yang lain. Kami akan terus memberikan kakak kabar. Apalagi suami kakak juga pasti akan tau perkembangan disana. Karna dia sekertaris dari kakak ipar!" Tara berusaha membuat Shelly tenang.


"Bobby tidak ikut dengan kita!"


"Ha? Tapi kenapa?" Bobby sontak mendengar ucapan dari Darren.


"Bob, kau harus mengurus perusahaan ku disini. selama aku fokus pada pengobatan omay." Jelas Darren.


"Kau benar Darren!" Viola tersenyum kecil dan menghela nafas nya.


"Iya sebaik nya sekretaris Bobby di sini saja mengurus perusahaan dan juga Shelly! Tenang lah semuanya akan baik-baik saja." Ujar Viola menatap Shelly dan Bobby.


"Baiklah tuan muda, nyonya muda!" Bobby hanya bisa mengikuti perintah dari mereka.


"Istriku, kita pergi sekarang!" Darren memanggil Viola saat mobil mereka sudah tiba di pintu utama hotel.


"Kalau begitu kami pergi dulu ya! Shell jaga kesehatan Lo." Shelly memeluk sahabatnya itu dan bersalaman dengan semua orang begitu juga pada Vaya. Tara yang berada di belakang Viola mengikuti semua yang di lakukan kakak nya itu.


Akhirnya Darren, Viola dan Tara masuk ke mobil meninggalkan mereka di sana. Perasaan Shelly bercampur jadi satu antara sedih dan juga bahagia. Ia sedih seharusnya hari ini ia tidak merayakan apapun disaat sahabat nya ada masalah. Namun, ia juga bahagia kini ia bersama orang yang ia cintai.


...🌹🌹...


Malam hari nya...


Shelly yang sedang duduk di ujung ranjang nya terus menunduk kan kepala nya dengan tangan yang sudah dingin. Sungguh ia sangat gugup malam ini.


"Apa Bobby akan menyentuh ku malam ini?" Pikir Shelly berkali-kali.


"Tapi, apa dia mau tidur bersama ku? Aku ragu dia tidak mau! Terlebih lagi yang terjadi pada kita saat itu dalam keadaan mabuk. Arghh! ayo lah Shell! Kau harus tetap tenang. Jangan sampai dia tau kalau kau itu sedang gemetaran." Shelly mengacak-acak rambut nya sendiri.

__ADS_1


.


.


.


Ceklek


.


.


.


tiba-tiba saja suara pintu yang sedang terbuka membuat mata Shelly melebar menatap kearah pintu tersebut.


"Kau tidak mandi?" Tanya Bobby saat melihat Shelly masih mengenakan gaun pengantin nya.


Bobby berjalan kearah lemari sembari mengusap rambut basah nya dengan handuk.


"I-ini aku mau mandi!" Kata Shelly dan berjalan kearah kamar mandi.


Sementara Bobby yang melihat kepergian Shelly hanya senyum dan berjalan kearah sofa yang terletak di sudut kamar nya begitu ia sudah selesai mengenakan pakaian tidur nya. Ia pun membuka laptop nya dan menyelesaikan urusan nya secepat mungkin.


Hampir satu jam Shelly tidak keluar dari kamar mandi. Membuat Bobby sedikit terkejut dan berjalan kearah kamar mandi.


"Shell," panggil Bobby sambil mengetuk pintu tersebut.


"Kau baik-baik saja?" Bobby yang tidak mendapat kan jawaban dari Shelly sedikit khawatir.


"Jawablah! Sebelum ku buka paksa pintu ini." Tekan Bobby yang sudah mulai panik.


"Baiklah! Jangan salah kan aku jika aku melihat semuanya." Dengan cekatan nya Bobby pun mendobrak pintu itu.


Betapa terkejutnya Bobby saat melihat Shelly sedang merendam kan tubuh nya di dalam bathtub dengan earphone pada telinga nya dan memejamkan matanya itu.


Teriak Shelly saat ia melihat ada bayangan yang sedang berdiri di belakang nya.


"Kau gila ya? Kenapa kau masuk? Kau kan tau aku sedang mandi!" Kecam Shelly pada Bobby.


Bobby hanya menatap tajam Shelly lalu keluar dari dalam kamar mandi tersebut dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"What?? Dia kenapa?" Shelly bingung melihat wajah Bobby yang tiba-tiba saja berubah menjadi menakutkan. ia pun segera mengenakan Bathrobe nya dan berjalan keluar menghampiri Bobby.


"Kau kenapa?" Tanya Shelly saat Bobby kembali fokus pada layar yang ada di hadapan nya.


"Bobby!" Shelly sangat kesal panggilan darinya tidak di jawab oleh Bobby.


"Tidak apa-apa! Istirahat lah." Kata Bobby melihat sekilas Shelly dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kau marah?"


"Tidak!"


"Bohong! Jelas-jelas dari wajah mu kau terlihat marah pada ku. Bilang apa salah ku? Kenapa kau marah tanpa sebab padaku." Mendengar ucapan Shelly membuat Bobby menghentikan pekerjaannya.


"Marah tanpa sebab kau bilang?" Bobby menatap tajam kearah Shelly.


"Lalu, apa alasan mu marah pada ku?" Kesal Shelly pada suaminya.


"Shelly ku peringatan sekali lagi! Jika kau sedang mandi jangan kau pakai alat gak berguna ini!" Bobby pun langsung mengambil earphone yang ada di tangan Shelly dan melemparkannya hingga earphone tersebut rusak.


"Bob kau--"


"Kau tau tidak? Aku sangat khawatir saat melihat mu lama sekali di dalam sana! Terlebih lagi saat aku memanggil mu, kau tidak menjawab sama sekali!"

__ADS_1


Shelly yang mendengar perkataan Bobby mengedipkan kedua matanya berkali-kali, menatap tidak percaya kearah Bobby.


"Mengkhawatirkan ku?"


"Cih, sudah lah lupakan saja!" Bobby sangat malas untuk berdebat dengan wanitanya itu. lebih baik ia memilih melanjutkan kembali pekerjaannya saat ini.


"Maafkan aku,"


Melihat sikap dingin Bobby jujur membuat hati Shelly sedikit sedih. Ia tidak ingin di malam pertama nya menjadi malam dimana ia bertengkar dengan pria yang kini sudah berstatus menjadi suaminya.


"Bob, aku benar-benar minta maaf! Aku janji tidak akan membuat mu khawatir lagi." Shelly menggoyangkan lengan suami nya yang masih tidak bergeming.


"Percuma kita menikah kalau kau saja tidak ingin melihat wajah ku!" timpal Shelly kembali.


Bobby langsung menghentikan pekerjaannya saat Shelly berkata seperti itu. Ia mengalihkan pandangannya ke Shelly yang sudah menunduk.


"Hem!" helaan nafas Bobby terdengar berat di telinga Shelly. Bobby mulai memegang kedua pipi Shelly agar menatap diri nya.


"Apa?" Tanya Shelly dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh Bobby.


"Kau marah?" Bobby menatap intens wajah Shelly. Ia berusaha menelusuri apa yang ada di pikiran istri nya saat ini.


"Tidak! Untuk apa aku marah sama suami yang tidak mau melihat ku." Balas Shelly dan kembali mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Maafkan aku sayang! Kau tau bukan aku sangat takut kau kenapa-kenapa. Apalagi saat ini kau tengah berbadan dua."


Bobby mengelus pipi Shelly dengan sangat perlahan. Sementara Shelly menatap pria yang selama ini terlihat dingin menjadi sangat hangat pada nya. Mungkin Bobby bukan lah cinta pertama nya, tapi Bobby merupakan cinta pada pandangan pertama bagi Shelly.


"Karna itu kau merusak pintu kamar mandi itu? Dia tidak salah apa-apa Bob." Lirih Shelly.


"Shelly, bisa-bisanya disaat seperti ini kau malah memikirkan pintu!" Bobby kembali kesal melihat tingkah laku Shelly.


"Hehehe aku bercanda sayang." Shelly yang gagal mencairkan suasana canggung diantara mereka hanya bisa menggaruk tekuk nya itu.


"Kau itu!" geram di rasanya hingga membuat ia mencubit pipi Shelly dengan sangat gemas nya.


"Sakit tau!" ketus Shelly.


"Maaf sayang," Bobby tersenyum sembari mengelus pipi Shelly.


mesalah mereka pun selesai. Shelly saat ini duduk disamping Bobby yang tengah sibuk dengan pekerjaan nya.


Shelly terlihat gugup, ingin sekali mengatakan sesuatu pada Bobby saat Bobby kembali pada lembar di atas mejanya. Namun, ia takut Bobby berpikir yang tidak-tidak jika ia mengatakan hal tersebut.


"Shell ayo lah! Kau pasti bisa!"


Entah sudah berapa kali ia menyemangati diri nya untuk berbicara pada Bobby. Tapi, nyali nya kembali ciut. Bobby mulai tersadar ada sesuatu yang ingin dikatakan istri nya saat ini. Karna, sejak tadi gelagat Shelly sangat aneh.


"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Bobby dan mulai menghentikan pekerjaannya.


Sontak Shelly gelagapan ketika pria yang ada di samping nya itu menatap dengan tersenyum kearah nya.


"Oh Tuhan! Kenapa ia terlihat sangat tampan saat aku lebih dekat dengan nya." Kagum Shelly terus menatap wajah Bobby.


"Sudah puas lihat nya?" Bobby menjentikkan jari nya di depan Shelly, membuat Shelly tersadar dan menelan Saliva nya itu.


"Ti-tidak kok! Kepedean sekali kau." Elek Shelly.


Bobby tertawa melihat wajah Shelly yang memerah. Bobby jelas tau saat ini Shelly hanya malu saja, hingga ia memilih berbohong di hadapan nya.


"Wajah mu tidak bisa membohongi ku!" Ujar Bobby kembali mencubit pipi Shelly.


Shelly pun mengelus pipi nya dan terus saja bergerutu sakit saat lagi dan lagi Bobby mencubit pipi nya.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2