Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 36 siapa sebenarnya kalian?


__ADS_3

Viola yang berada di dalam mobil terus saja memberontak pada orang yang kini sedang menahan pukulan Viola.


"Sebenarnya kalian itu siapa sih? Mengapa kalian menculik ku? Aku salah apa?" Viola menatap pria yang duduk disampingnya dengan sangat intens. Namun, pria itu hanya diam saja. Roy yang melihat tuan nya diam saja berusaha untuk menenangkan suasana yang sangat menegangkan itu.


"Nona, sebaiknya anda diam saja di disana dan jangan berbuat ulah!" Roy yang masih menyetir menatap tajam kearah Viola.


"Siapa anda? Berani sekali anda menyuruh ku diam disaat seperti ini ha? Anda pikir apa ada orang yang akan diam jika dirinya sedang di culik seperti ini?" Viola kini membalas tatapan tajam dari Roy melalui kaca mobil.


"Gadis ini benar juga ya! Mana ada orang yang akan diam jika dirinya sedang diculik." gumam Roy dalam hatinya.


"Ya, tapi setidaknya nona sedikit lebih tenang!" Roy yang tidak dapat membalas kata-kata Viola hanya bisa mengeluarkan kata-kata seadanya saja.


"Dasar aneh!" gerutu Viola. Evan yang mendengar perbincangan mereka hanya tersenyum tipis saja.


"Bos, kita bawa kemana gadis ini?" tanya Roy pada Evan.


"Ke apartemen yang dekat dengan perusahaan suaminya saja. Dengan begitu suaminya juga tidak akan berpikiran bahwa, istrinya sedang kita sembunyikan disana." tutur Evan dengan suara dingin nya.


"Baik bos," jawab Roy


Viola yang mendengar ucapan pria yang ada di sebelah nya dengan sangat lekat. Dia ingin memastikan apakah sebelumnya dia pernah bertemu dengan pria tersebut atau tidak. Tapi, entahlah Viola sendiri masih merasa sangat pusing. Darah ditangan Viola terus saja keluar. Membuat nya semakin melemah.


"Kau kenapa?" tanya Evan, ketika melihat Viola yang terus menutupi tangan nya dengan sangat kuat.


"Tidak papa," singkat Viola. Viola benar-benar tidak ingin mereka tau jika dirinya sedang lemah.


"Lantas, mengapa kau memegangi tangan mu seperti itu?" selidik Evan menatap Viola dengan sangat intens.


"Ini kan tangan ku! Jadi suka-suka aku lah mau memegang tangan ini seperti apa!" ketus Viola dan segera membuang muka nya kearah lain. Agar pria yang ada disampingnya itu tidak merasa curiga sama sekali.


Sementara Roy yang mendengar ucapan gadis yang ada di samping bos nya merasa ingin tertawa. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang bisa melawan perkataan dari bosnya itu.


"Kasian bos kenak skak oleh gadis ini!" gumam Roy dengan tersenyum kecil.


"Roy..." Evan yang mengerti senyum dari bawahan nya merasa kesal.


"Maaf bos." jawab Roy, yang tau maksud panggilan bos nya itu


Roy pun kembali fokus kearah jalan dan tidak ingin cari masalah lagi dengan bos nya. Viola yang semakin lemah berusaha menguatkan dirinya sendiri.


"Ayo Viola! Kamu pasti sanggup! Darren dimana kamu sekarang? Aku benar-benar membutuhkan mu saat ini!" lirih Viola.


Darah yang terus keluar dari tangan Viola terlalu banyak. Pecahan kaca mobil yang terbesit di pergelangan tangan Viola lumayan dalam dan hampir mengenai nadi Viola. Jika darah itu tidak di hentikan maka konsekuensi nya akan sangat tinggi.


Viola terus saja menutupi tangan nya yang berdarah itu dengan baju nya dan menekan nya agar darahnya berhenti. Tapi, Viola benar-benar sudah sangat lemah dan tanpa sengaja Viola menyenderkan kepalanya ke pundak Evan.


"Hey...!" Evan yang tersentak dengan sikap gadis yang ada di sampingnya. Dia pun langsung membentak gadis itu.

__ADS_1


"Maaf ..." Dengan segera Viola menegakkan tubuh nya kembali.


"Sini...!" Evan yang sudah mulai curiga, langsung menarik tangan Viola. Dia melihat baju yang gadis itu kenakan sudah berwarna merah seperti noda darah.


"Apa yang kau lakukan?" Viola menarik kembali tangannya. Namun, Evan tetap menarik tangan Viola.


"Awww ...! Lepaskan! Sakit tau." lirih Viola yang sangat merasa kesakitan pada tangannya itu.


"Diam lah dan jangan bergerak!" Evan berbicara dengan sangat penuh penekanan pada Viola.


"Dasar pria aneh! Bagaimana bisa aku diam jika, kau saja memegangi tangan ku seperti itu!" kesal Viola. Sementara Evan tidak memperdulikan nya sama sekali.


Evan yang melihat darah gadis yang ada disampingnya itu sangat banyak merasa iba. Dia benar-benar tidak menyangka gadis yang sangat anggun dimatanya bisa menahan rasa sakit seperti ini.


"Dasar gadis bodoh! Bisa-bisanya dia menahan luka separah ini begitu saja dan menutupi nya dari ku! Dia pikir aku bakalan tidak tau apa." Evan melihat kearah belakang dan mencari kotak P3K di belakang mobil nya.


"Bos ada apa?" Roy yang melihat bos nya mencari sesuatu di belakang tempat duduk bos nya, membuatnya kebingungan.


"Diam lah! Dan fokus pada jalan saja!" ujar Evan dengan suar beratnya.


"Baik bos," jawab Roy. Roy tau jika bos nya sudah seperti itu. Maka, jangan coba-coba untuk membantah nya. Sementara Viola yang melihat Evan merasa sangat kesal.


"Kau itu sangat aneh! Semua orang kau suruh untuk diam. Sementara, kau saja sangat menganggu ku dengan banyak bergerak seperti itu!" ketus Viola.


"Aku tidak aneh! Yang aneh itu kau. Jelas-jelas kau sedang terluka seperti ini. Tapi, kau diam saja seperti tidak terjadi apa-apa pada tubuh mu itu!" Evan yang sudah menemukan kotak P3K, dengan segera dia membuka kotak itu dan mengambil alkohol untuk membersihkan darah yang ada di tangan Viola.


"Apakah sesakit itu?" Evan menatap Viola dan tanpa sengaja mata mereka berdua pun saling bertemu satu sama lain.


Roy merasa ada yang janggal pada bos nya. Karna, sebelumnya Roy tidak pernah melihat bos nya menatap seorang gadis seperti itu. Dan yang ia ketahui sosok wanita yang membuat Evan untuk bersenang-senang adalah Laura Kiehl seorang model yang sangat terkenal.


"Ada apa dengan mu bos? Aku harap kau tidak menyukai istri dari presdir yang terkenal kejam itu." gumam Roy dalam hatinya.


Viola yang merasa ditatap terlalu lama oleh lelaki yang ada didepannya. Dengan segera Viola mengalihkan pandangannya. Sementara Evan sudah merasa sangat malu karna, menatap seseorang begitu lama.


"Ada apa dengan ku? Mengapa aku merasa aneh ketika bersama nya?" pikir Evan.


Viola yang melihat pria yang ada di hadapannya itu dengan sangat lembut mengobati lukanya merasa kebingungan. Untuk pertama kalinya dia melihat orang yang sedang melakukan penculikan berbuat baik dengan orang yang ia culik sendiri.


"Kau sebenarnya siapa? Kulihat kau tidak jahat. Tapi, mengapa kau menculik ku seperti ini? Apa kau lawan bisnis dari suami ku?" Viola mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya. Tapi, Evan tidak memperdulikan nya sama sekali


"Luka mu sudah ku obati! Jika kau terluka lagi. Maka, itu bukan urusan ku!" Evan menghempas kan tangan Viola begitu saja. Viola yang mendengar ucapan dari pria itu merasa sangat kesal.


"Dasar makhluk aneh! Emangnya aku mau untuk kau obati. Kau saja yang menarik tangan ku dengan paksa! Bahkan jika aku terluka lagi, aku tidak Sudi untuk kau obati!" kesal Viola dan mengelus tangan nya yang di hempas kan oleh pria yang berada disampingnya.


Evan yang mendengar ocehan Viola hanya diam saja dan tidak ingin berdebat sama sekali. Namun ...


"Drrtt ... Drrtt ... Drrtt ..." getar ponsel Evan berbunyi.

__ADS_1


"Roy alihkan panggilan ponsel ku itu melalui sambungan mobile handsfree," ujar Evan ketika melihat ponsel di depan Roy bergetar.


"Bos tapi, ...."


"Roy! Kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi?" Evan yang mendengar jawaban dari bawahan nya itu merasa sangat emosi dan menatap nya dengan sangat tajam.


"Baik bos." Dengan segera Roy menyambung kan panggilan tersebut melalui mobile handsfree. Ketika panggilan tersebut di angkat oleh Roy sebuah teriakan pun terdengar sangat keras.


"EVAN ANGGARA!!! Bisa-bisanya kau ke Indonesia tanpa, mengabari mama mu dulu ha?" Bentak mama Evan dengan nada yang sangat tinggi membuat Evan terkejut dan Viola juga sangat terkejut.


"Mama..!" begitu Evan mendengar ucapan dari ponsel nya. Langsung menatap tajam kearah Roy.


"Oh ternyata namanya itu Evan Anggara!" gumam Viola dan hanya diam saja untuk mendengarkan perbincangan mereka.


"Bos ini bukan salah ku! Bos lah yang menyuruh ku untuk mengangkat nya. Aku sudah berusaha untuk menghentikan mu bos. tapi, bos tidak memperdulikan ku sama sekali!" Roy mendapati tatapan tajam dari bos nya. Dengan segera ia membela dirinya.


"Ma! Aku sedang ada urusan pekerjaan yang sangat mendadak di Indonesia. Jadi, aku lupa untuk memberi mu kabar." Evan hanya menghela nafas nya saja.


"Bu dia berbohong! Dia sedang ..." Dengan segera Evan menutup mulut Viola yang sudah berteriak dengan sangat keras membuat Roy secara spontan memutuskan panggilan tersebut.


"Kau itu bisa diam tidak!" Bentak Evan menatap tajam kearah Viola.


"Tidak!" Viola pun mengalihkan pandangannya kearah luar jendela.


"Kenapa kau memutuskan panggilan nya Roy?" Evan pun menatap bawahannya itu.


"Jika tidak ku putuskan panggilan itu, maka nyonya besar akan curiga bos." Balas Roy.


Evan menghela nafasnya. Dia merasa sangat lelah hari ini, ditambah lagi dengan kelakuan Viola padanya. Tidak menunggu waktu yang lama mereka pun tiba di apartemen milik Evan yang baru di beli nya.


"Roy kau bawa masuk wanita ini!" Perintah Evan pada bawahannya.


"Bagaimana aku membawa nya masuk bos? Dia saja sangat garang seperti singa betina!" Roy hanya menatap gadis yang ada didepan nya yang sudah menatap nya dengan sangat tajam.


"Jika kau berani mendekati ku, akan ku tunjang milik mu yang berharga itu!" Viola berbicara dengan sangat tajam nya pada pria yang ingin mendekati nya.


"Bos bagaimana ini?" Roy merasa merinding mendengar ucapan Viola padanya.


"Dasar bodoh!" Evan yang mulai muak mendengar perkataan Viola dan Roy. Dia pun langsung memukul belakang Viola. Sehingga Viola jatuh pingsan.


"Kau bawa dia tanpa ada orang yang curiga sedikitpun!" Perintah Evan yang berlalu masuk kedalam apartemen nya.


"Baik lah bos ..." Roy melihat Viola sudah pingsan itu. Dengan segera ia mengangkat tubuh Viola secara perlahan dan membawa Viola masuk ke apartemen milik bos nya itu.


Ketika sudah berada didalam apartemen. Evan segera masuk kedalam kamar nya untuk membersihkan dirinya. Sementara, Roy ia meletakkan tubuh Viola secara perlahan di atas tempat tidur yang bersebelahan kamar nya dengan bosnya. Roy sudah sangat kelelahan, dia memilih untuk keruang tengah dan beristirahat di sofa milik bos nya itu.


^^^...Bersambung......^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2