Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 165 What's!!


__ADS_3

"Ah sudah lah! Lupakan saja." Lanjut Darren kembali lalu menatap kearah Viola.


"Kita pulang sekarang!" Darren menarik tangan Viola secara lembut.


"Tapi Darren --"


"Istriku," Darren menatap Viola hingga Viola terdiam saat tau maksud tatapan suaminya.


"Beri aku hukuman!" Tutur Bobby yang membuat langkah Darren terhenti.


"Hukuman? Cih jangan bodoh." Sinis Darren kearah Bobby


"Aku serius! Beri aku hukuman apapun. Agar kau mau memaafkan ku!" Bobby menatap sungguh-sungguh pada Darren.


"Jangan gila!" Bisik Shelly.


"Kau tidak perlu merasa ragu! Aku siap menerima apapun itu hukuman dari mu." Boby menghiraukan ucapan Shelly dan tetap menatap sahabatnya.


Ia sadar, selama ini dia lah yang sangat egois. Walaupun sahabat nya itu berwajah datar dan juga kejam. Namun, sahabat nya tidak pernah sekalipun menyinggung nya apalagi memutuskan persahabatan dengan nya dan juga Andhika.


"Bob, kau jangan lupa! Hukuman yang sebelum nya ku berikan hampir membuat mu mati!"


Deg


Ucapan dari Darren membuat Viola dan Shelly menelan Saliva nya. Tapi, tidak dengan Bobby! Dia tetap pada pendiriannya itu.


"Lebih baik seperti itu! Dari pada aku harus hidup dalam rasa bersalah ku." Bobby memasang wajah tegas nya membuat Darren tersenyum tipis.


"Baiklah kalau itu mau mu!"


"Darren!" Viola mencubit lengan suaminya agar tidak bertindak di luar akal sehat.


"Tuan muda, saya mohon jangan hukum dia dengan berat! Pandang lah saya sebagai sahabat dari istri tuan." Shelly tidak ingin Bobby kenapa-kenapa. Mengingat saat ini diri nya sedang hamil membuat Shelly semakin khawatir.


"Tenanglah! Aku tidak akan membunuhnya." Darren menghela nafas nya itu.


"Bobby Charlton hukuman mu akan di terima oleh anak mu nantinya." Senyuman menakutkan terukir di wajah Darren membuat Viola merinding.


"Tidak! Aku tidak ingin anak ku yang tidak tau apa-apa menerima kesalahan orang tua nya." Tolak Bobby dengan sangat cepatnya.


"Kalau begitu lupakan lah! Kau tidak perlu repot-repot untuk menyuruh ku menghukum mu." Darren kembali melanjutkan langkahnya bersama Viola.


"Tunggu!" Shelly langsung menghentikan langkah kaki Darren.


"Apa yang kau lakukan!" Bobby langsung menekan bahu Shelly yang saat ini berada di samping nya.


"Shell!" Viola menatap tidak percaya kearah Shelly


Padahal niat Viola adalah setelah sampai di kediaman Meraka. Viola lah yang akan berusaha membujuk suami nya itu. Namun, Shelly bertindak sembrono lagi


"Ada apa?" tanya Darren dengan suara datar

__ADS_1


"Tuan muda, sebaiknya katakan terlebih dahulu apa hukumnya! Jika masih sanggup di terima oleh anakku nanti nya. Maka, akan kami lakukan!" Tutur Shelly dengan suara gemetar nya menatap wajah menakutkan Darren.


"Aku tidak akan mengatakan nya! Kalau kalian tidak mau menerima nya." Sinis Darren dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Ka-kami akan melakukan nya." Shelly memejamkan mata nya lalu menghentikan kembali langkah Darren.


"SHELLY!!" Bobby dan juga Viola langsung membentak Shelly membuat Shelly hampir sedikit menangis.


Bukan tanpa alasan ia melakukan nya, namun bagi Shelly lebih baik saat anak nya lahir ayah mereka tetap sehat daripada tidak. Shelly juga yakin pasti anak nya tidak akan marah padanya jika ia mengambil keputusan itu.


"Baiklah!" Darren tersenyum puas lalu kembali duduk di sofa bersama Viola.


"Hukuman untuk mu!" Darren menatap kearah Bobby


"Putra mu nanti nya harus menjadi orang kepercayaan putra ku jika suatu saat aku memiliki seorang putra!" Darren tersenyum penuh makna di hadapan Bobby.


"Bagaimana kalau kita memiliki seorang putri?" Viola menatap suami nya itu dengan sangat intens.


"Maka, ia akan menjadi calon suami putri kita nanti nya sayang!"


"APAA!!" Kini Shelly dan Viola benar-benar sangat terkejut dengan keputusan Darren yang di luar akan sehat.


"Darren kau tidak bisa melakukan hal itu! Kau sama saja membuat anak-anak kita dalam kesulitan." Tekan Viola.


"Sayang, aku yakin anak-anak kita akan menerima keputusan ku."


"Bagaimana kalau kita nanti nya memiliki seorang putra dan juga putri?" Viola menatap tajam wajah suaminya. Ia ingin melihat apa yang akan suami nya katakan lagi.


"Maka, putra nya nanti akan menjadi orang kepercayaan putra kita dan juga calon suami putri kita!" Tukas Darren dengan sangat enteng nya.


"Aku tidak bisa melakukan itu! Hukum aku saja dan jangan melibatkan anak ku." Bobby memohon di hadapan Darren.


"Kalau begitu lupakan saja! Kau tidak perlu memohon di hadapan ku." Sinis Darren dengan menatap tidak suka kearah Bobby.


"Darren, kau sudah dewasa! Jangan seperti ini." Viola berusaha membujuk suaminya.


"Jangan konyol istriku! Aku melakukan nya juga ada alasan." Darren langsung menghela nafas nya secara kasar.


"Kau terima hukuman dari ku atau tidak?" Kini Darren menatap serius kearah mereka.


Mereka berdua tampak berpikir keras, hingga saat nya Shelly buka suara membuat Viola masih tidak percaya dengan sahabat nya yang setuju akan keputusan Darren.


"Maaf jika saya lancang! Tapi, bagaimana jika saya melahirkan seorang bayi perempuan?" Tanya Shelly ragu pada Darren.


"Maka, hukuman kalian tidak berlaku! Dan aku akan memaafkan calon suami mu itu. Berdoalah anak kalian perempuan! Tapi, jika itu seorang anak laki-laki. Kalian jangan menyesal dan tetap lah untuk bersyukur." Darren tersenyum lalu bangkit dari duduk nya.


"Baiklah, karna kau sudah menerima hukuman ku. ku rasa semua nya akan baik-baik saja!" Darren kembali mengandeng tangan Viola.


"Bob, kembali lah bekerja dan urus semua masalah perusahaan yang sudah tertunda. Kau tidak mau bukan di hari spesial mu nanti aku memberikan mu pekerjaan?" Sinis Darren dan langsung meninggalkan mereka berdua disana.


Setelah sepasang suami istri itu pergi kini mata bobby tersorot tajam kearah Shelly. Shelly yang di tatap seperti itu hanya bisa menundukkan wajah nya.

__ADS_1


"Apa yang sudah kau lakukan Shelly Rula??" Bobby benar-benar menahan diri nya agar tidak lepas kendali.


"Aku melakukan itu, karna aku tidak ingin persahabatan mu hancur!"


"Tapi, kau menghancurkan kehidupan anak kita nanti nya!" Tekan Bobby membuat Shelly menatap mata Bobby.


"Sebegitu buruk kah aku sebagai seorang ibu?" Tanya Shelly dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Bukan itu maksud ku," Bobby mengusap wajah nya secara kasar lalu mengusap wajah Shelly.


"Sayang, aku tidak ingin anak kita menanggung kesalahan ku." Timpal Bobby kembali


"Tapi, aku yakin anak kita pasti mengerti keputusan orang tua nya Bob. Dan semoga aja bayi kita perempuan! Maka, semua nya akan baik-baik saja." Shelly berusaha menenangkan Bobby.


Bobby pun terdiam lalu memeluk Shelly. Saat ini perasaan nya bercampur aduk! Ia bingung harus berbuat apa. Di satu sisi ia tidak ingin persahabatan nya hancur, namun di sisi lain ia juga tidak ingin anak nya yang belum lahir menanggung hukuman dari perbuatannya.


...🎋🎋...


Sementara Viola yang sudah berada di dalam mobil bersama Darren. Menatap Darren dengan sangat kesal.


"Kenapa kau berbuat seperti itu?" Tanya Viola dengan sangat marah.


"Berbuat apa?" Darren yang terlihat santai hanya menyandarkan tubuhnya di kursi mobil sembari memijat pelipisnya itu.


"Kenapa harus anak-anak kita yang terlibat antara kau dan juga Bobby? Kau sadar tidak aku sulit untuk hamil! Bagaimana jika nanti aku tidak bisa hamil. Apa yang akan terjadi dengan anak mereka? Tidak mungkin mereka terus menunggu Darren!" Kecam Viola dengan suara setengah teriak nya.


"Istriku, aku sangat lelah hari ini! Kita bahas nanti saja." Tutur Darren dengan suara yang sangat lembut.


"Aku tidak mau! Kita harus selesaikan semua nya detik ini juga." Dengan wajah yang sudah merah Viola menunjuk-nunjuk Darren kearah dada bidang nya.


"Kenapa kau sangat marah sayang?" Darren menghela nafas nya. Membuka kedua mata nya itu lalu mengusap pipi Viola yang sudah panas.


"Tentu saja aku marah! Aku tidak ingin masalah ini semakin merembet kemana-mana."


"Istriku, aku melakukan itu hanya sekedar menghukum Bobby saja! Semua nya tergantung apa pilihan putra mereka nanti nya." Ucap Darren dengan sangat santai.


"Apa maksud mu?" Viola semakin tidak mengerti dengan jalan pikir suaminya itu.


"Istriku dengar! Aku tidak mungkin melakukan hal yang membuat anak ku nantinya merasa tidak punya kebebasan! Apalagi anak mereka." Darren menghela nafas nya lalu menatap wajah Viola.


"Jika suatu hari nanti anak mereka akan menikah dengan putri kita. Itu hal yang sangat bagus! karna hubungan saudara kita sekarang menjadi semakin dekat. Namun, jika anak-anak nanti nya akan menolak dan tidak ingin menuruti apa yang sudah di sepakati oleh kedua orang tua mereka. Maka, aku tidak akan memaksa nya! Aku berkata seperti itu hanya ingin membuat mereka tau bagaimana rasa nya jika orang yang mereka sayangi menjadi pertaruhan dalam milih-memilih." Jelas Darren pada Viola membuat Viola mengangguk-angguk kepalanya.


"Ah sudah lah kau tidak perlu terlalu mengerti! Dan satu hal lagi jangan katakan apa yang aku katakan hari ini pada sahabat mu itu!" Darren semakin merasa pusing di kepalanya.


"Em, baiklah! Aku sedikit mengerti dari ucapan mu. Kau hanya ingin memberikan Bobby pelajaran! Apa yang kau rasakan saat itu ketika aku berada di tangan pria yang hampir membunuh ku. Kau ingin buat Bobby tau bagaimana rasa nya jika dia harus memilih antara orang yang dia sayangi atau dirinya sendiri."


"Gadis pintar!" Darren sangat lega setelah mendengar ucapan Viola. Ia tidak menyangka setelah penjelasan nya panjang lebar, akhirnya Viola mengerti juga.


"Darren aku janji tidak akan beritahukan pada siapapun tentang ini! Karna aku juga sedikit kesal pada sekretaris mu itu yang sudah mengambil kehormatan sahabat ku begitu saja." Timpal Viola dengan wajah yang tersenyum.


Darren langsung menarik viola kedalam pelukannya. Ia mencium kening Viola berkali-kali. Entah lah, bagi Darren sangat sulit mengukur seberapa besar cintanya terhadap Viola. Mungkin sudah tidak bisa diukur lagi karena dengan ada nya viola membuat Darren sangat berubah. Biasanya Darren tidak pernah menggunakan perasaan nya dalam mengambil suatu keputusan. Namun, kali ini Darren mengunakan perasaan nya agar istri nya tidak merasa takut saat bersama nya.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


...****************...


__ADS_2