Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 56 sebuah kemarahan yang berujung kekhawatiran


__ADS_3

"Istriku! Bangun lah, kau itu jangan bercanda! Aku tidak suka." Darren menggenggam tangan Viola dan sangat terkejut melihat perban yang terbalut di kepala istri nya itu. Melihat perban di tangan Viola saja Darren sudah merasa sangat sakit, apalagi melihat luka di kepala istri nya yang ada darah di perban tersebut. Membuat Darren semakin marah.


"JAWABB!! apa yang terjadi pada Viola?" Raung Darren pada mereka semua. Pak Dadang yang sudah mengerti akan tatapan mata dari seorang Darren Abraham Khan. Langsung memberanikan dirinya untuk menjawab. Karna itu juga merupakan tugas nya untuk menjaga nyonya muda nya.


"Tu-tuan muda, nyonya tadi pingsan dan kepala Nyonya tertusuk batu kerikil yang ada di taman." Pak Dadang pun semakin ketakutan ketika melihat tuan nya itu bangkit dari duduk nya.


"Benar-benar keterlaluan!!" Darren langsung menampar wajah pak Dadang dengan sangat kuat. "Bukan kah aku menyuruh kalian semua untuk menjaga Viola? Mengapa hanya menjaga satu orang saja kalian tidak becus seperti ini??" Darren sudah sangat emosi nafasnya juga sudah saling berseteru.


"Maafkan kami tuan muda," jawab mereka serentak.


"Maaf?? Mudah sekali kalian berkata maaf." Darren pun menatap kearah pelayan wanita itu.


"Kau!! Suruh Kasella kemari dalam waktu 5 menit! dan jangan lupa untuk menyuruh nya membawa perawat wanita!" Perintah Darren pada pak Dadang dengan sorot mata nya yang sangat menakutkan.


"Baik tuan muda." Dengan segera pak Dadang menghubungi Dokter Andhika.


"Viola, bangun lah! Apa kau tau? Melihat kau tidak bergerak sedikit pun seperti ini lebih menakutkan di bandingkan aku melihat mu sedang marah pada ku." Darren terus saja memegang tangan istrinya itu.


...🌾🌾...


Kediaman Andhika Kasella..


Saat ini Andhika sedang mengurusi beberapa data-data yang ada di rumah sakit nya sendiri. Menerima cukup banyak pasien membuat Andhika sangat kelelahan. Andhika pun memejamkan mata nya sejenak di kursi kerja nya.


"Drrtt ... Drrtt ... Drrtt," getar ponsel Andhika.


"Siapa sih yang menelfon? Tidak tau apa dari semalam aku belum juga istirahat. Baru saja memejamkan mata sudah di ganggu seperti ini." Kesal Andhika dengan wajah nya yang sudah sangat lelah itu.


"Kepala pelayan Darren? Pasti ada masalah yang akan membuat ku sangat repot!" Andhika yang melihat kearah ponsel nya langsung mendengus dengan kesal.


"Selamat siang, dengan saya dokter Andhika Kasella. Ada yang bisa di bantu?" tanya Andhika pada pak Dadang.


"Selamat siang Dokter Andhika Kasella! Tuan muda menyuruh Anda untuk segera datang ke kediaman kedua nya dalam waktu 5 menit! Jika anda telat 1 detik saja maka bersiaplah akan akibatnya." Ujar pak Dadang pada Andhika yang langsung membuat Andhika sangat marah.


"Maaf kepala pelayan, dalam waktu 5 menit sangat tidak mungkin saya akan sampai kesana. Bisa kah anda memberikan saya waktu 15 menit?" ujar Andhika dengan nada yang di tahan nya.


"Maaf Dokter Andhika ini adalah perintah tuan muda. Saya tidak bisa melanggar nya. Saya harap anda dapat mengerti. Selamat siang Dokter Andhika," pak Dadang pun langsung memutuskan panggilan tersebut. Yang langsung membuat Andhika semakin kesal.


"Apa!! Berani sekali dia memutuskan panggilannya begitu saja. Dia pikir aku ini bukan manusia apa yang bisa dia suruh sesuka hatinya." Kesal Andhika pada pak Dadang.


Sementara pak Dadang yang sudah memutuskan panggilannya tersebut kembali menatap kearah tuan mudanya.

__ADS_1


"Bagaimana?" Tanya Darren dengan suara berat nya.


"Tuan muda, dokter Andhika bilang dia bisa datang dalam waktu 15 menit." Jawab pak Dadang dengan suara yang ditahannya.


"Prang!!" Darren pun membalikkan meja yang ada di depannya. Sehingga membuat semua orang semakin ketakutan.


"Berani sekali dia menawarkan waktu pada ku!!" Raung Darren dengan suara sangat tinggi sehingga membuat seluruh ruangan itu bergema.


"Tu-tuan muda, saya pikir dokter Andhika tidak akan mungkin berani melanggar perintah anda." ujar pak Dadang dengan suara takut nya.


"Baiklah, jika Kasella terlambat datang ke kediaman ini. Maka kalian semua akan menerima hukuman 2 kali lipat!" Sergah Darren dengan suara tajam nya. Yang membuat semua orang semakin ketakutan.


Namun, ketika Darren hendak melanjutkan kata-katanya lagi. Tubuh Viola mulai beraksi, Viola membuka matanya perlahan menatap keseluruhan ruangan yang dimana hanya samar-samar saja yang terlihat oleh Viola. Akibat luka di kepala membuat Viola merasa pusing di kepala nya.


"Istri ku! Kau sudah sadar?" Darren pun langsung menggenggam tangan Viola dengan sangat erat.


"Darren? mengapa kau ada disini? Bukan nya kau sedang marah pada ku ya?" Viola pun berusaha bangkit dari tidur nya.


"Kau tetap lah berbaring Viola! Tubuh mu itu sangat lemah. Jadi jangan memaksa kan diri!" Perintah Darren pada Viola.


"Darren, apa yang terjadi padaku? Aaww, Darren kepala ku sakit sekali." Viola yang merasa sakit di kepala nya langsung memegangi kepalanya.


"Istri ku, bertahan lah! Sebentar lagi Kasella akan segera mengobati mu." Darren yang melihat Viola meringis seperti itu merasa sangat khawatir.


"Aku tidak pernah marah padamu istri ku." Darren pun menghapus air yang ada Dimata istri nya itu. "Sekarang kau harus diam! Aku tidak ingin luka mu bertambah buruk Viola."


"Darren, apa Tara sudah pulang? Aku tidak ingin dia melihat keadaan ku yang seperti ini." Viola tidak mempedulikan perkataan Darren. Yang dia khawatir kan sekarang adalah adik nya itu.


"Viola Talisa!!" Darren yang melihat Viola terus saja memberontak langsung berbicara tinggi pada Viola.


"Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini kau terus saja melawan apa perkataan ku!" Darren pun menatap tajam kearah Viola. Sedangkan pelayan yang berada disana masih dengan kepala tertunduk mereka


"Darren maafkan aku," lirih Viola pada Darren. Dia lupa kalau suaminya itu sudah menyuruh nya untuk diam.


Darren yang melihat Viola tertunduk hanya bisa menghela nafas nya saja, "istriku! Kau itu sangat berarti bagi ku. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa! Jadi menurut lah apa kata ku untuk saat ini. Masalah adik mu itu aku sudah mengurus nya, Kau tidak perlu khawatir lagi." Darren pun membelai rambut Viola dengan sangat lembut.


"Apa? Dia bilang aku berarti baginya? Benarkah itu? Apa aku sedang bermimpi? Stop!! Stop Viola Talisa. Kau itu jangan banyak menghayal, tidak mungkin kan seorang singa akan berkata demikian." gumam Viola yang masih menatap kearah suaminya.


"Kau!" Darren menunjuk kearah kepala pelayan.


"Iya tuan muda," jawab pak Dadang dengan sangat hormat.

__ADS_1


"Jika Kasella sudah sampai di sini, suruh dia untuk ke kamar ku!" Perintah Darren lagi pada mereka.


"Baik tuan muda." Pak Dadang pun mengangguk kan kepalanya.


"Dan satu hal lagi! Kalian semua harus membuat makanan bergizi dalam waktu secepat mungkin! Karna, istri ku hanya makan sedikit tadi. Aku tidak ingin ada kesalahan lagi yang kalian buat. Ingat!! Kesalahan yang kalian buat hari ini tidak akan pernah aku lupakan! Diam ku bukan berati memberi kan kalian semua kebebasan. Kalian akan mendapatkan hukuman nanti nya." Ujar Darren dengan aura dingin nya. Menatap kesemua pelayan disana.


"Kami ingat tuan muda." Jawab mereka dengan sangat serentak.


"Bagus," Darren pun kembali menatap kearah istri nya setelah memerintahkan mereka semuanya.


"Darren, mengapa kau memarahi mereka?" Viola yang masih tidak mengerti sama sekali. Dia terus saja menatap kearah pelayan yang sangat sibuk menyiapkan makanan untuk dirinya. Koki utama di kediaman tersebut saja sudah sangat pucat mendengar perintah tuan muda nya. Mereka tidak ingin terjadi kesalahan yang akan membuat mereka kehilangan nyawanya.


"Istri ku, kau itu sedang terluka! Tentu saja itu semua karna mereka yang tidak becus menjaga mu!" Tatapan Darren tajam menatap mereka semua.


"Darren, aku terluka karna ulah ku sendiri! Mereka tidak bersalah sama sekali." jelas Viola pada Darren. Viola tidak ingin suasana dikediaman tersebut jadi panas.


"Aku tau kau orang yang seperti apa! Oleh karna itu lah aku memerintahkan mereka semua untuk menjaga istri ku yang ceroboh ini." Darren pun mencubit hidung Viola.


"Aww! Darren sakit tau." Ketus Viola pada Darren dengan bibir nya yang manyun.


"Jika kau tau itu sakit, lalu mengapa kau membuat luka yang akan membuat mu sakit?" tanya Darren dengan menghela nafasnya.


"Luka ini karna ketidaksengajaan Darren! Sedangkan sakit yang kau buat ini karena kau itu sengaja melakukan nya." Balas Viola dengan mengelus hidung nya itu.


"Darren, jangan memarahi mereka lagi! Mereka tidak salah, aku yang salah!" timpal Viola lagi dengan nada yang memelas.


"Kau itu," Darren menghembuskan nafas nya secara perlahan. "Aku harus lebih tegas pada mereka semua agar mereka tidak melakukan kesalahan yang akan membuat ku sangat murka." Darren pun mengelus kepala Viola.


"Tapi Darren, mereka tidak melakukan kesalahan apapun." Ujar Viola lagi pada suaminya itu.


Sementara para pelayan dan juga pak Dadang yang mendengar ucapan nyonya muda nya merasa sangat tersentuh. Bagaimana bisa ada seseorang yang membela kaum kecil seperti mereka itu.


"Nyonya muda, sampai akhir hayat saya. akan saya ingat semua kebaikan yang nyonya muda lakukan." Ujar pak Dadang dalam hati nya. Begitu juga dengan pelayan lainnya yang berbicara di dalam hati mereka masing-masing.


"Kau bilang mereka tidak melakukan kesalahan?" Geram Darren pada Viola dengan tatapan intens nya. "Apa kau tau gara-gara keteledoran mereka, kau jadi seper-"


"Kakak..! Apa yang terjadi pada mu??" Teriak Tara dari arah depan menatap kakak nya yang sudah terluka.


"TARA?!" seru Darren dan juga Viola dengan sangat terkejut menatap kearah Tara.


Kini semua yang berada di kediaman tersebut langsung terdiam melihat kedatangan Tara. Viola merasa takut jika adik nya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya itu. Darren masih terdiam, saat ini Darren sedang memikirkan kata-kata apa yang cocok untuk ia ucapkan pada adik ipar nya itu. Agar adik ipar nya tidak meras curiga pada dirinya dan juga istri nya itu.

__ADS_1


^^^...Bersambung......^^^


...****************...


__ADS_2