
Flash back on
Viola yang sudah berada di ruangan tempat suami nya bekerja itu langsung melihat kearah sekitar dan menatap kesebuah ruangan lain yang ada di ruangan Darren.
"Aneh! Sebelum nya aku juga pernah kemari. Tapi, kenapa aku tidak pernah melihat ruangan ini ya?" Pikir Viola di dalam hati nya dan memasuki ruangan tersebut.
"Ternyata benar! Ini tempat istirahat Darren. Apa selama seminggu ini dia selalu beristirahat disini? Makanya dia selalu pulang larut malam! Atau--" Viola tidak bisa membayangkan nya lagi jika Darren menghabiskan malam dengan gadis yang sudah ia tampar 2 kali itu.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi ya di lantai bawah? Aku sangat penasaran. Tapi, aku juga takut!'' Viola duduk di kursi yang di depan nya sudah ada cermin yang lumayan besar dan juga ada sebuah meja.
"Wajah ku?" Viola memegangi wajah nya yang terlihat sangat kacau. Sudah susah payah ia mempersiapkan dirinya itu agar suaminya tidak malu dengan penampilan nya. Namun, yang ia dapatkan malah sebaliknya.
"Viola mengapa kau bodoh sekali! Seharusnya kau itu harus terlihat tetap cantik walaupun sedang marah!" Viola terus saja mengutuk dirinya sendiri.
"Darren ... Kau sudah selesai belum ya? Aku khawatir! Terlebih lagi tangan mu itu terluka." Viola kembali termenung di depan cermin ketika ia mengingat suaminya.
Viola yang terus saja termenung di depan cermin tidak menyadari kalau sudah ada seseorang yang masuk keruangan tempat ia berada.
"Istriku!" Panggil Darren pada Viola.
"Darren," dengan segera Viola bangun dari duduknya.
Viola berlari kearah Darren dengan khawatir. Sejak tadi Viola memikirkan bagaimana keadaan tangan suaminya yang berdarah itu. Viola juga sangat penasaran apa yang terjadi pada Laura. Kini Darren dan juga Viola sudah saling berhadapan dan menatap satu sama lain nya
Flash back off
"Kenapa kau berlari seperti itu ha? Nanti luka mu itu semakin parah." Darren yang melihat Viola berlari hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kau itu berlebihan sekali sih! Lagian ini hanya luka kecil saja." Ketus Viola pada Darren.
"Istri ku! Bagi ku itu bukan lah luka kecil! terlebih lagi jika ada seseorang yang berani melukai mu baik fisik mu atau pun batin mu itu adalah masalah besar bagi ku. Aku akan memberi kan mereka pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka karna sudah berani menyentuh dan melukai mu!" Tegas Darren pada Viola.
Viola yang melihat kembali sikap suaminya yang sangat arogan itu langsung kembali duduk di atas tempat tidur yang ada di ruangan itu.
"Darren kemarilah!" Viola meminta suaminya untuk duduk di samping nya.
"Ada apa? Apa luka nya terasa sakit? Tenang lah istriku! Kasella akan segera kemari dan mengobati mu." Darren berjalan kearah Viola dan melihat kening Viola yang terluka karna Laura.
"Aku tidak apa-apa! Tapi, kau yang sedang tidak baik." Viola menghela nafas nya. Ia menyentuh tangan Darren untuk melihat tangan suaminya itu.
"Sakit?" Tanya Viola dengan suara yang seperti merasakan sakit melihat luka di tangan Darren.
"Tidak! Aku baik-baik saja istriku. Sekarang istirahat lah!" Perintah Darren pada Viola. Membuat Viola sedikit kesal.
"Diam lah! Kau itu selalu saja menyuruh ku untuk beristirahat! Bagaimana kalau nanti aku beristirahat selama nya dan tidak akan terbangun lagi? Kau pasti senang kan? Karna tidak akan ada lagi yang berani melawan dan membentak mu." Ketus Viola. Ia merasa benar-benar sangat kesal karna Darren selalu saja menyuruh nya untuk beristirahat. Padahal dia sudah banyak beristirahat sehingga membuat nya jenuh.
"Jaga lah bicara mu!" Darren langsung menepis tangan Viola yang ada di tangan nya.
"Sudah berapa kali ku katakan! Jangan kau ucapkan kata-kata yang akan membuat ku marah! Apa kau tidak mengerti juga? Sampai kapan sifat mu seperti ini terus menerus! Viola Talisa aku sudah cukup sabar menghadapi mu selama ini. Bisa kah kau jangan selalu menguji kesabaran ku!" Darren menatap tajam Viola membuat Viola memundurkan duduk nya.
"Aku hanya bercanda! Apa harus kau semarah ini padaku?" Viola berbicara pelan namun masih terdengar oleh Darren.
"Aku tidak suka bercanda mu itu!" Darren menatap intens kearah Viola.
"Jika kau berani mengatakannya lagi, maka kau akan menerima apa akibat nya Viola." Darren bangkit dari duduk nya hendak meninggalkan Viola. Agar Viola bisa berpikir akan kesalahan nya.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" Tanya Viola.
"Aku ingin memastikan apa Kasella sudah tiba atau belum." Elak Darren pada Viola. Darren sangat malas untuk berdebat dengan Viola yang pada akhirnya Viola juga lah yang akan menangis.
"Baiklah! Pergi saja jika kau mau. Aku juga ingin pulang kerumah ku." Viola pun ikut bangkit dari duduk nya.
"Duduk lah ditempat mu!" Tegas Darren pada Viola ketika mendengar ucapan Viola.
"Untuk apa aku duduk? Bukan nya kau ingin pergi? Maka aku juga akan pergi." Viola terus saja bersikeras dengan pendirian nya.
"Aku hanya pergi untuk melihat Kasella!" Darren menatap tajam kearah Viola.
"Aku juga hanya pergi untuk pulang!" Balas Viola.
"Kau itu kenapa keras kepala sekali sih?" Darren menahan emosi nya. Sejak tadi ia selalu saja menahan emosi karna Viola.
"Kau juga sama keras kepalanya dengan ku! Sudah tau kau juga sedang terluka. tapi, kau malah mementingkan ku. Darren kau itu harus urus diri sendiri dulu baru orang lain!" Viola meluapkan seluruh pemikiran nya pada Darren.
Darren yang mendengar ucapan Viola langsung kembali berjalan mendekat kearah Viola dan memeluk Viola dengan sangat erat nya. Ia sama sekali tidak menyangka ternyata Viola juga sangat perhatian padanya.
"Kau itu bukan orang lain istriku! Tentu saja aku harus lebih mementingkan mu dari pada diri ku sendiri." Bisik Darren di telinga Viola.
"Apa maksudmu?" Viola melepaskan pelukan Darren dari nya secara perlahan dan menatap wajah Darren.
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Darren yang membuat Viola langsung terkejut menatap kearah Darren tanpa mengedipkan matanya sama sekali.
"Kenapa kau diam istri ku?" Darren yang tidak mendapatkan jawaban dan melihat istri nya hanya diam saja merasa sangat lucu.
"Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Tanya Viola dengan suara gugup nya.
"Aku hanya bertanya saja!" Balas Darren tanpa ekspresi apapun.
"Hahahaha, istriku! Kau tau hari ini kau telah melakukan kesalahan besar karna sudah berani membentak ku di depan semua orang." tiba-tiba suara Darren terdengar sangat mengerikan oleh Viola.
"Itu karna kau yang buat aku seperti itu!" Bela Viola pada dirinya sendiri.
"Itu salah mu karna tidak mau mencari kebenaran terlebih dahulu." ujar Darren pada Viola.
"Bagaimana cara nya aku mencari kebenaran nya?" Tanya Viola pada Darren.
"Kau bisa menanyakan nya pada ku!" Balas Darren pada Viola dan kembali duduk di samping Viola ketika melihat Viola sudah duduk kembali.
"Aku bertanya padamu?" Viola tersenyum sinis pada Darren. "Belum lagi aku bertanya padamu, kau sudah sangat dingin seperti es batu!" Ketus Viola.
"Kau itu!" Darren pun mengelus kepala Viola dengan sangat lembut.
"Darren, boleh aku bertanya?" Viola memberanikan diri menatap wajah Darren yang masih menatap dirinya.
"Kau ingin bertanya apa?" Tanya Darren balik pada Viola.
"Apa kau benar-benar pernah em--" Viola bingung harus mengatakan nya atau tidak.
"Katakan saja istriku!" Darren hanya sibuk menatap luka di kening Viola dan meniupi nya sesekali.
"Kau dan laura--" Viola kembali menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Maksud mu apa yang dikatakan oleh wanita tidak tau diri itu benar?" Darren melihat intens wajah Viola. Viola hanya membalas perkataan Darren dengan anggukan nya saja.
"Tentu saja tidak! Istri ku, kau itu jangan pernah percaya dengan ucapan nya. Walaupun aku terkenal dengan sangat kejam. Tapi, aku juga bukan pria sembarangan yang mau menghabiskan malam dengan wanita seperti nya." Jelas Darren pada Viola.
"Tapi, dia bilang dia sedang mengandung anak mu!" Lirih Viola.
"Kau percaya apa yang diucapkan nya?" Tanya Darren dengan suara yang agak meninggi
"Tentu saja aku percaya! Dia itu seorang model yang sangat terkenal. Jadi mana mungkin kau tidak tergoda padanya. Terlebih lagi kau selalu pulang larut malam selama seminggu ini!" ujar Viola dengan suara yang kesal.
"Istri ku! Kau itu kenapa polos sekali sih. Jika pun iya aku berhubungan dengan nya tidak mungkin selama seminggu ia langsung hamil! Dan satu hal yang perlu kau ketahui, aku lebih tergoda pada mu lagi daripada wanita seperti dia." Bisik Darren pada Viola membuat Viola merasa gugup.
"Viola jaga sikap mu! Darren hanya sedang menggoda mu saja." Viola mengelus dada nya yang terus saja berdegup dengan kencang.
Tatapan Darren dan Viola saling bertemu. Mereka menatap cukup lama hingga nafas mereka saling terasa satu sama lainnya.
"Aku sangat menginginkan mu!" ujar Darren dengan suara yang sangat lembut.
"Boleh aku menyentuh mu?" Tanya Darren yang terus menatap Viola membuat Viola semakin berdebar.
"Da-darren, kau jangan terus saja menggoda ku! Aku tidak yakin iman ku ini kuat atau tidak." Viola mengalihkan pandangannya membuat Darren tersenyum.
"Aku lebih senang jika kau tergoda pada ku." Darren memegang dagu Viola dengan lembut dan mengarahkan nya pada dirinya.
"Darren! Hentikan. Bukan nya kau bilang tidak mencintai ku?" Tanya Viola pada Darren.
"Kapan aku bilang seperti itu dihadapanmu?" Darren kembali bertanya pada Viola.
"Kapan ya?" Viola kembali memikirkan ucapan Darren padanya.
"Sudah tidak perlu diingat lagi!" Darren menatap wajah Viola dengan sangat dalam nya.
Darren hendak memajukan tubuh Viola lebih dekat dengannya membuat Viola semakin berdebar-debar. Kedua manik mata mereka yang sangat indah itu saling bertemu.
"Sudah berapa lama aku tidak mencium mu?" Tanya Darren pada Viola.
"Tidak tau!" Balas Viola dengan tersipu malu.
"Kau itu lucu sekali." Darren mencubit pipi Viola
Mereka berdua yang terus menatap satu sama lain dalam diam. Dengan segera Darren membaur bibir Viola dengan nya. Viola masih kaku dengan ciuman Darren, hanya senyuman kecil yang terlihat di bibir Darren. Darren pun menuntut Viola agar membalas ciuman nya. Darren langsung memeluk tubuh Viola dengan sangat erat dan terus ******* bibir kecil Viola. Lama-kelamaan ciuman itu menjadi sangat panas sehingga membuat Viola kehabisan nafas nya dan melepaskan ciuman mereka secara perlahan.
"Ada apa istri ku?" Tanya Darren pada Viola.
"Aku belum terbiasa." Balas Viola dengan wajah yang malu. Bisa-bisanya di saat seperti ini dia malah membuat ulah.
"Tidak apa-apa. Aku akan membuat mu terbiasa!" Balas Darren dengan tersenyum.
Darren kembali mencium bibir Viola. Kali ini dia melakukan nya dengan perlahan agar istrinya bisa mengambil nafas sesekali. Perlahan Darren hendak membuka baju Viola. Viola yang tau tindakan Darren hanya diam saja dan menerimanya. Membuat senyuman terukir di wajah Darren.
Brak!
"Dimana pasien ku!"
Darren yang melihat pintu nya terbuka secara tiba-tiba langsung terkejut dan menatap kearah orang yang membuka pintu nya itu dengan sangat kesal dan geram.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...