
"kau itu kenapa?" Darren yang melihat Andhika seperti itu hanya menatap nya saja.
"Kau itu aneh! Bagaimana caranya aku menyembuhkan istri mu ini, tanpa menyentuh nya?" tanya Andhika pada Darren.
"Kau Dokter nya! Mengapa kau bertanya padaku." Darren berjalan menghampiri Viola yang masih duduk di bed hospital.
"Darren aku ingin pulang. Kalau tidak kau saja yang mengobati ku di kediaman mu. Lagian luka ku ini tidak terlalu parah." Viola yang sudah muak melihat perdebatan diantara mereka memilih untuk pulang. Bukan nya dia sembuh malah lebih parah di buat oleh kedua pria yang ada dihadapannya itu.
"Istri ku! Kau tidak akan pulang sebelum luka mu ini sudah membaik." tegas Darren pada Viola.
"Baiklah." Viola pun menundukkan kepalanya.
"KASELLA! Kau itu seorang dokter. Tapi, kenapa pemikiran mu itu minimalis sekali sih!" Darren yang melihat kearah Andhika hanya bisa menghela nafas nya saja.
"Maksudnya?" Andhika yang belum mengerti maksud ucapan Darren berusaha untuk mencari tau.
"Kau itu sudah memiliki rumah sakit sendiri! Bukan kah seharusnya disini banyak perawat dan dokter umum perempuan yang bisa mengobati istri ku!" jelas Darren dengan sedikit kesal pada Andhika.
"Mengapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya ya?" Andhika yang baru sadar hal itu langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Mengapa kau bertanya padaku." Kesal Darren dengan nada yang sudah lumayan tinggi. "Sebaiknya lekas sembuhkan luka istri ku ini! Aku sudah muak berlama-lama melihat wajah mu."
"Tuan muda, kata-kata mu itu pedas sekali." Andhika yang mengerti akan ucapan sahabat nya. Dengan segera iya menghubungi dokter Miya
Tidak menunggu waktu yang lama, dokter Miya pun memasuki ruangan Andhika.
"Dokter Andhika!" panggil Miya. "Ada apa memanggil saya?"
"Silahkan Dokter Miya!" Andhika yang sudah melihat Miya masuk. Dia pun menyuruh Miya untuk mendekat padanya.
"Dokter Miya, tolong periksa pasien saya!" timpal Andhika lagi.
"Pasien?" Darren yang mendengar ucapan Andhika langsung menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja pasien! Lantas aku harus memanggil nya istri ku gitu? Seperti kau memanggil nya." Andhika mendengus kesal pada Darren. Setiap dia berkata dan melakukan sesuatu pasti Darren selalu protes.
"Kau harus memanggil nya nyonya muda!" sergah Darren pada Andhika.
"Baiklah tuan muda." Andhika yang malas untuk berdebat memilih untuk mengalah.
Miya yang melihat kedua pria yang ada dihadapannya bertengkar memilih untuk diam saja. Sedangkan Viola hanya bisa menghela nafas nya berulang kali.
"Miya lakukan lah!" Andhika yang melihat Miya tidak bertindak langsung menatap nya.
"Dokter Andhika, maaf sebelumnya nya. Bukankah ini pasien dokter ya? Mengapa harus saya yang memeriksa nya?" tanya Miya dengan sangat kebingungan.
"KASELLA! Jika dia tidak ingin memeriksa istriku. Sebaiknya kau pecat saja wanita ini!" Raung Darren pada Andhika membuat Viola dan Miya langsung terkejut.
"Tu-tuan maafkan saya!" Miya yang sadar siapa lelaki yang ada dihadapannya langsung meminta maaf.
"Darren, dia itu tidak tau ini istri mu! Sudah lah tidak usah berdebat." ujar Andhika. Sementara Darren masih menatap tajam kearah Miya.
__ADS_1
"Suamiku." Viola mencoba menggenggam tangan Darren berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Kau tenang lah." Darren membalas genggaman Viola dengan sangat lembut dan kembali menatap kearah Miya.
"Kau harus menyembuhkan luka istri ku dalam waktu 5 menit! Jika tidak, maka kau akan tau apa akibatnya." Darren pun menatap kearah Andhika juga. Andhika mengerti akan tatapan itu. Yang artinya Darren tidak bermain-main dengan ucapan nya tadi.
"Dokter Miya! Saya yakin kau pasti bisa." Andhika berusaha memberikan semangat pada Miya yang sudah kelihatan panas dingin itu.
"Tapi dok--" Miya menundukkan kepalanya. Bagaimana bisa dia menyembuhkan luka seseorang dalam waktu 5 menit. Dia manusia biasa bukan tuhan yang bisa melakukan hal seperti itu.
"Dokter Miya, tenang lah. Kau hanya perlu memberikan obat pada luka ku ini dan mengganti kan perban yang sudah berlumuran darah ini dengan yang baru." Viola tersenyum lembut pada Miya.
"Aku akan menenangkan suamiku jika nanti dia memarahi mu lagi!" Viola yang tau akan ketakutan Miya berusaha menghilangkan rasa takut itu.
Viola sendiri sadar masalah dia saja belum selesai. Bagaimana bisa dia menambah masalah lagi.
"Terimakasih nyonya muda." Miya langsung merasa lega mendengar ucapan Viola. "Saya periksa ya nyonya." timpal Miya yang langsung memeriksa Viola dan mengobati luka yang ada di pergelangan tangan Viola. Syukur lah Darren membawa Viola ke dokter dengan segera. Jika tidak maka luka Viola akan infeksi yang bisa menyebabkan masalah serius.
"Bagaimana?" Tanya Darren ketika melihat Miya sudah selesai memeriksa istri nya itu.
"Nyonya muda sudah tidak apa-apa tuan. Syukur lah tuan membawa nya segera. Jadi luka nya belum terinfeksi." jelas Miya pada Darren yang langsung membuat Darren merasa lega.
"Baguslah jika seperti itu." Darren menghela nafas nya.
"Oh iya tuan muda. Saya sarankan luka nyonya muda jangan terkena air dulu dan juga perban di pergelangan tangan nya harus sering di ganti. Setidaknya akan mempercepat luka di pergelangan tangan nyonya muda cepat sembuh tuan." Miya yang tidak ingin disalahkan lagi jika terjadi sesuatu pada Viola, memilih untuk langsung menjelaskan semuanya agar dia tidak terkena masalah.
"Baiklah dokter Miya, saya rasa tuan muda sudah jelas dengan yang anda katakan. Anda boleh pergi sekarang!" Andhika yang melihat Darren hanya memasang wajah dingin nya berusaha untuk mencair kan suasana.
Viola yang sudah selesai di periksa masih merasa lemas di seluruh tubuh nya. Untuk berdiri saja dia sudah sempoyongan. Viola menatap kearah Darren yang masih diam hanya bisa menghela nafasnya saja.
"Hey tuan muda! Istri mu itu sudah lelah. Kau tidak ingin membawa nya pulang?" Andhika yang melihat Darren diam langsung menepuk bahunya.
"Aku tau. Kau tidak perlu mengatakan nya padaku!" Darren menatap tajam kearah Andhika.
"Kalau kau tau, lantas kenapa kau diam seperti patung di situ ha?" Sinis Andhika pada Darren.
"Tuan Kasella! Seperti nya hanya kau saja yang berani bilang aku patung. Kau tidak takut apa akan akibat nya nanti!" Darren tersenyum tipis menatap kearah Andhika dan berjalan kearah Viola.
"Kau itu selalu di bawa ke hati Darren. Oh iya satu lagi ku ingat kan pada mu. Nama ku itu Andhika bukan Kasella!" kesal Andhika yang terus mendengar namanya di panggil seperti itu oleh sahabat nya.
"Bukan nya sama saja!" Darren yang tidak menghiraukan Adhika memilih untuk memeriksa tangan istrinya.
"Tentu saja tidak. Kasella itu marga keluarga ku. Sedangkan Andhika itu baru namaku." terang Adhika dengan sangat tegas nya pada Darren.
"Sudah lah aku tidak ingin bertengkar dengan mu!" Darren menendang kaki sahabat nya itu.
"Kau--" Andhika yang tidak terima di tendang langsung menunjuk kearah Darren.
"Apa??" Darren menatap tajam kearah Andhika ketika dirinya di tunjuk seperti itu.
"Hehehe bukan apa-apa tuan muda! Aku hanya mau bilang pasien ku di rumah sakit internasional sudah menunggu. Sebaiknya aku pergi sekarang!" Dengan segera Andhika keluar sebelum Darren memakan nya hidup-hidup disana.
__ADS_1
"Darren kau itu kejam sekali padanya." Viola yang melihat mereka hanya tersenyum.
"Istri ku! Dia itu tidak waras. Jadi pantas aku memperlakukan nya seperti itu." Darren membelai rambut Viola melihat wajah nya sangat dalam. Betapa ia sangat merindukan Viola.
"Oh iya, dokter itu kan sudah punya rumah sakit sendiri. Lalu kenapa dia harus kerumah sakit yang lain?" tanya Viola dengan bingung.
"Rumah sakit ini hanya untuk orang yang tidak mampu!" ujar Darren yang langsung duduk di samping Viola.
"Maksudnya Darren?" Viola yang masih tidak mengerti, malah semakin bingung di buat Darren.
"Istri ku, dokter yang ada dihadapan mu tadi membangun rumah sakit ini hanya untuk orang-orang tidak mempunyai biaya pengobatan. Andhika memilih kerumah sakit internasional hanya untuk melihat orang-orang yang pulang hanya karna kekurangan uang untuk berobat. Jika seperti itu maka Andhika akan membawa nya kesini untuk pengobatan gratis." jelas Darren lagi pada Viola.
"Kenapa dia tidak membuat poster pengobatan gratis saja disini?" tanya Viola lagi.
"Istri ku, kau sekarang jadi banyak bertanya ya?" Darren yang melihat wajah Viola memerah langsung tersenyum.
"Andhika Kasella itu sahabat ku dan juga Bobby. Aku bersahabat dengan Bobby sejak kecil. Sedangkan Kasella kami bersahabat sejak aku masih SMA." jelas Darren tentang Andhika. "Dulu Kasella pernah melihat seorang anak kecil yang berjualan makanan keliling. Andhika menjumpai anak itu. Dia juga bertanya kenapa masih kecil malah berjualan dan tidak sekolah? Hanya sebuah pertanyaan itu siapa sangka jawaban nya membuat Andhika tidak bisa tidur. Anak itu bilang dia ingin mencari uang untuk membawa ibu nya kerumah sakit."
"Lalu?" Viola yang melihat Darren berhenti langsung menatap Darren dengan penasaran.
"Lalu ketika Andhika ingin memberi anak itu uang siapa sangka dia lupa membawa uang. Andhika pun pulang ke rumah menyuruh anak itu untuk menunggunya. Karna dia mau mengambil dompet nya." Darren menghela nafas nya.
"Darren mengapa kau berhenti?" Viola semakin penasaran di buat oleh Darren.
"Setelah itu ketika Andhika kembali anak kecil itu sudah tidak ada. Dia mencari nya kemana-mana tapi tidak ketemu. Andhika pun menghela nafasnya dan berusaha untuk tenang. Namun, 3 hari kemudian anak itu berjualan lagi dengan wajah pucat. Ketika Andhika menghampiri nya anak itu langsung marah pada Andhika. Jika saja Andhika tidak menyuruh nya untuk menunggu mungkin dia bisa langsung membawa ibu nya kerumah sakit saat ibunya jatuh dari kamar mandi. Karna terlalu lama membuat ibu nya meninggal dunia. Anak itu pun menangis terisak-isak di hadapan Andhika membuat Andhika merasa bersalah sampai sekarang. Dan soal rumah sakit yang dia bangun, dia hanya tidak ingin kejadian seperti itu terjadi lagi. Andhika juga sengaja tidak memberi tau pengobatan gratis seperti itu dan malah membuat rumah sakit nya tidak bagus di mata orang , hanya untuk tidak dimanfaatkan orang lain akan kebaikan nya itu. Hanya orang-orang yang pernah dia obati saja yang tau Bagus nya rumah sakit ini." Darren tersenyum melihat Viola yang hendak menangis.
"Darren, mengapa hari ini aku banyak sekali mendengar cerita sedih?" Viola langsung memeluk Darren dengan tangis yang ia tahan.
"Benarkah itu? Siapa yang berani membuat istri ku ini sedih?" tanya Darren yang membalas pelukan Viola.
"Kau tau Darren ketika aku sudah menemukan saudara kembar ku. Tapi, dalam keadaan sudah tiada. Dan dia meninggal dalam keadaan yang sedih. Aku benar-benar tidak tau harus seperti apa! Tadi ketika aku membaca kisah mereka ingin sekali aku menangis sekeras-kerasnya. Tapi, aku tidak ingin lemah di mata Evan. Biar kau saja yang melihat ku seperti ini " Viola terus saja menangis sekuat nya.
"Hush hush hush, istri ku kau akan sangat jelek jika menangis seperti ini." Darren mengelus kepala Viola.
"Darren apa aku benar-benar jelek?" Viola mendongakkan wajahnya kearah Darren.
"Tentu saja tidak!" ujar Darren pada Viola. "Kau itu sangat cantik. Yasudah kita pulang sekarang ya! Kau pasti sudah lelah." Darren pun mengendong tubuh Viola kearah mobil nya. Dia sendiri tau istri nya itu sudah sangat syok.
"Darren aku bisa jalan sendiri." Viola yang malu di lihat oleh dokter Miya dan beberapa perawat lain nya langsung membenamkan wajahnya di bidang dada Darren.
"Istri ku! Kau itu sedang sakit jadi sebaiknya kau diam lah!" Darren terus saja berjalan tanpa menghiraukan bisik-bisik seseorang yang menatap nya.
"Wahh..! Tuan muda tidak seperti apa yang kita dengar ya? Nyatanya dia sangat sayang dan juga romantis pada istri nya." Bisik perawat pada perawat lain nya.
"Iya kau benar!" Balas perawat lainnya secara serempak.
Viola yang sudah sangat malu hanya bisa diam saja sambil menundukkan kepalanya. Sementara Darren hanya tersenyum saja. Kini mereka sudah sampai di mobil. Tidak menunggu waktu yang lama mobil Darren pun sudah melaju dengan kecepatan sedang dan menuju kembali ke kediaman keduanya.
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1