
"Hentikan!" Viola menyentuh kepala nya yang terasa sakit dan menyuruh para bodyguard tersebut menghentikan langkah mereka.
Laura menghembuskan nafas nya dengan sangat lega. Dan kembali menatap kearah Viola dengan tersenyum sinis.
"Ada apa? Kau ingin membalas ku?" Laura menatap kearah Viola dengan senyum licik nya.
"Nona Laura! Seharusnya anda itu takut sekarang. Hanya sebuah tepukan dari tangan ku saja bisa membuat mu tidak kembali dengan hidup-hidup!" Viola mengelap darah nya dengan dress yang ia gunakan.
"Silahkan! Aku tau kau pasti tidak akan berani melakukan nya. Terlebih lagi aku sedang hamil!" Laura berusaha menutupi rasa ketakutan nya itu.
🧑 : Nyonya muda tidak kalah mengerikan nya dari tuan muda ya?
🧒: Iya kau benar! Sekarang pikirkanlah bagaimana nasib kita selanjutnya.
Seluruh karyawan tersebut menelan saliva mereka dengan sangat susah dan seluruh tubuh mereka gemetar ketika mereka sadar kesalahan mereka kali ini sangat lah fatal.
"Nyonya muda walaupun perasaan anda sangat hancur mendengar ucapan dari perempuan busuk ini. Tapi, anda tetap tegar dan berani menghadapi nya." Bobby merasa salut melihat sikap Viola yang sangat berwibawa itu.
"Kepala ku sakit sekali!" Viola memegangi kepalanya dan hendak memundurkan langkahnya itu dari Laura.
"Nyonya muda ada apa?" Tanya kepala bodyguard pada Viola.
"Kepala saya sakit sekali!" Jawab Viola dengan memegangi kepalanya.
"Bawa nyonya muda ke rumah sakit dokter Kasella sekarang!"
"Baik!" Jawab para bawahan dari kepala bodyguard tersebut.
"Tidak perlu! Yang perlu kalian lakukan adalah ambil kotak p3k dan juga memberi aku udara dengan tidak berkumpul seperti ini!" Perintah Viola pada mereka. Mereka ragu menuruti perintah nyonya muda nya. Karna, tuan muda mereka sudah memerintahkan untuk mengawasi nyonya muda nya dengan baik-baik.
"Ikuti perintah dari nyonya muda!" Bobby menyuruh mereka untuk melakukan perintah dari nyonya muda nya.
Mereka pun mengikuti perintah nyonya muda nya. Sehingga memaksa seluruh karyawan yang ada di sana untuk menjauh dari nyonya muda mereka.
"Hanya sebuah benturan saja kau sudah seperti ini? Bagaimana bisa dia memiliki istri penyakitan seperti mu!" Laura hanya bisa menatap sinis kearah Viola.
"Nona Laura, tidak kah anda berpikir serendah apa diri anda itu?" Viola berusaha menahan rasa sakit nya dan membalas tatapan Laura pada nya.
"Kau! Berani sekali kau mengatakan kata-kata itu lagi padaku!" Laura kembali meluapkan amarahnya di hadapan Viola.
"Anda tidak terima? Tapi, itu lah kenyataan nya!" Viola tertawa kecil di hadapan Laura. Laura semakin memanas.
Viola yang saat ini berdiri jauh dari meja resepsionis. Membuat Laura susah untuk menggapai Viola. Di belakang Viola ada lift umum yang digunakan oleh para karyawan untuk transportasi mereka menuju ke lantai lainnya.
"Sebaiknya aku dorong saja dia kearah lift itu! Jika dia terbentur di lift tersebut maka mungkin saja dia akan mengalami kondisi yang kritis dan tidak sadarkan diri. Lagian para bodyguard nya juga berdiri cukup jauh dari nya." Senyum Laura terukir sangat lebar.
Bobby yang tau arti dari senyuman itu dengan sangat cepat berlari kearah Viola. Namun sayang sekali Laura sudah mendorong Viola terlebih dahulu sebelum Bobby menghentikan nya.
Ting!
Sebuah lift terbuka dan ada seseorang di dalam sana yang sudah menangkap Viola yang hendak terbentur ke dalam lift.
Bruk!
Viola yang sadar sudah ada di pelukan seseorang langsung mengangkat kepalanya yang sudah berdarah itu dan ingin berterimakasih karna sudah menolong nya.
__ADS_1
"Terimaka-" suara Viola terhenti ketika ia menyadari siapa pria tersebut.
"Istri ku! Mengapa kau ada disini?" Tanya Darren dengan wajah yang terkejut dan membawa Viola keluar dari lift.
Semua orang yang ada di sana terdiam, terkejut, ketakutan sehingga rasa nya mereka tidak sanggup lagi untuk berdiri. Laura yang tau keadaan akan sangat buruk terjadi padanya. Hendak melarikan diri namun, Bobby langsung menahan tangan nya itu. Bobby tidak ingin hanya dia saja yang terkena amukan dari Darren. Dia juga harus melibatkan dalang utama yang membuat keadaan seperti ini.
"Jangan sentuh aku!" Viola menolak tubuh Darren yang memeluk nya itu.
"Ada apa?" Tanya Darren dengan mata menatap kearah wajah Viola yang sudah menangis.
"Tunggu! Mengapa kau berdarah?" Darren menarik tangan Viola dan melihat kearah luka yang sebelumnya hampir sembuh namun berdarah kembali.
"Bukan kah sebelumnya luka mu sudah hampir sembuh? Mengapa sekarang berdarah lagi?" Darren melihat ke sekeliling dan tersadar ada terjadi sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Ada apa ini?" Tatap tajam Darren menatap ke mereka semua.
"Matilah aku!" Gumam mereka semua secara serempak di dalam hati nya.
"Tu-tuan mud-"
"Lepaskan! Sudah aku bilang jangan sentuh aku." Viola melepaskan tangan Darren yang memegang tangan nya itu.
Darren menatap wajah istri nya yang sudah sembab. Untuk kedua kalinya ia sudah melihat keadaan kacau yang terjadi pada istri nya. Amarah di dalam hati Darren mulai keluar ketika menatap wajah seorang wanita yang sudah di pegang oleh Bobby.
"Dari mana wanita ini bisa masuk?" Tanya Darren dengan suara tinggi nya membuat semua orang tidak berkutik sedikit pun.
"Istri ku, kemarilah! Duduk di sini. Aku akan menghubungi dokter Kasella! Dia akan segera mengobati mu." Darren menghapus air mata Viola yang sudah mengalir terus-menerus itu.
"Aku tidak mau!" Viola menghempaskan tangan Darren dari wajah nya.
"Kau kenapa?" tanya Darren dengan nada yang ia tahan agar tidak melakukan kesalahan yang akan menyakiti istri nya.
"Kalian semua tidak berguna! Bukan kah sudah ku bilang untuk melindungi istri ku dan jangan biarkan dia terluka sedikit pun! Apa kalian sangat menyepelekan perintah ku sekarang!" Raung Darren kearah para bodyguard yang membuat bodyguard itu menundukkan kepala mereka.
Mereka benar-benar sangat ketakutan mendengar suara dari tuan muda mereka yang terlihat marah.
"Ma-maaf kan kami tuan muda," jawab mereka semua serentak.
Karyawan yang berada di lantai 1 itu benar-benar sudah sangat ketakutan. Mereka tidak tau harus berbuat apa dan berkata apa agar emosi tuan muda mereka mereda.
🧑 : Sebaiknya kita pergi saja! Dan tidak mencampuri urusan tuan muda. Aku takut!
🧒 : Iya kita pergi saja yuk ke meja kerja masing-masing.
Para karyawan pun hendak melangkahkan kakinya untuk menjauh dari Darren. Mereka sangat ketakutan ketika tau mereka sudah melakukan kesalahan yang tidak dapat untuk di maafkan.
"Jangan ada yang berani melangkah kan kaki kalian menjauh dari sini!" Darren menatap tajam kearah karyawan yang masih berkumpul itu dan hendak menjauh.
"Siapa dari kalian yang berani menyentuh istriku!" Sergah Darren menatap tajam ke semua orang. Namun, tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
Viola masih diam saja menahan rasa sakit nya itu dan memilih untuk duduk agar jauh dari Darren. Ia benar-benar marah pada Darren! Rasa amarahnya sudah tidak dapat ia tahan lagi.
"Pak, bawa kemari kota p3k nya!" Viola berbicara pelan pada bodyguard yang ada di hadapannya.
"Baik nyonya muda," dengan langkah pelan nya bodyguard tersebut mendekat kearah nyonya muda mereka dan memberikan kotak p3k tersebut pada nyonya muda nya.
__ADS_1
Darren yang mendengar ucapan Viola hanya diam dan masih menatap tajam ke semua orang yang ada di sana.
"Bobby, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tinggal rapat sebentar saja keadaan sudah tidak beres seperti ini. Apa kau tidak bisa bekerja dengan baik!" Darren menatap kearah sahabat nya yang hanya diam saja dan menundukkan kepalanya.
"Dan kau! Mengapa kau bisa kemari? Bukan kah aku sudah bilang padamu jangan pernah kau tunjukkan lagi wajah mu itu di hadapan ku?" Darren beralih menatap tajam kearah Laura.
"Sayang .." Laura hendak menghampiri Darren dan memeluk nya. Hanya itu lah satu-satunya cara ia agar selamat.
"Satu langkah saja kau mendekat pada ku! Maka akan ku pasti kan kau akan kehilangan kedua kaki mu itu!" Darren berbicara dengan intonasi suara yang keras pada Laura.
Semua orang yang berada di sana sudah menelan saliva mereka dengan susah. Mereka hanya memikirkan bagaimana nasib mereka masing-masing yang akan terjadi.
"Sayang kau tega sekali pada ku!" Lirih Laura pada Darren.
"Kau pikir aku peduli pada mu!" Darren hanya tersenyum sinis saja pada Laura.
Viola yang sudah selesai mengobati luka yang ada di kepala nya sendiri bangkit dari duduk nya.
"Pak, bisa tolong panggil pak Sukirman di parkiran untuk menjemput saya!" ujar Viola pada bodyguard tersebut. Namun bodyguard itu hanya diam saja dan tidak berani menuruti perintah nyonya muda nya.
"Baiklah jika bapak takut pada Darren saya bisa pergi sendiri!" Viola hanya tersenyum tipis. Dia pun melangkah kan kaki nya itu hendak meninggalkan Darren yang ada di sana.
Darren menghela nafas nya dengan berat menatap kearah Viola yang akan pergi darinya dengan segera Darren menahan tangan Viola.
"Kau mau kemana?" Tanya Darren dengan suara datar nya.
"Tentu saja aku mau pergi!" balas Viola yang sangat keras pada Darren.
"Peperangan dunia akan segera di mulai!" gumam Bobby di dalam hatinya.
Semua orang yang berada disana menatap kearah Darren dan juga Viola. Mereka juga sangat terkejut hanya nyonya muda mereka saja lah yang berani membentak tuan muda mereka di depan semua orang.
"Kau pikir bisa pergi dari ku setelah kau sudah masuk kedalam kehidupan ku?" Tatap tajam Darren mengarah kearah Viola. Ia benar-benar takut jika harus kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.
"Mengapa aku tidak bisa pergi dari mu? Bukan kah kau sudah menikah dengan perempuan itu dan memiliki anak dengan nya! Apakah aku harus terus bersama mu dan menahan rasa sakit ku ini dan melihat kemesraan kalian nanti nya ha? Walaupun kau tidak pernah bilang kalau kau mencintai ku. Tapi, hati ku benar-benar terasa sakit sekali jika harus melihat suami ku bersama wanita lain! Kau tidak akan mengerti bukan? Karena kau tidak mencintai ku sama sekali! Aku benci pada mu Darren Abraham Khan!" Teriak Viola dengan sangat kuat nya membuat semua orang membelalakkan mata mereka.
Hanya Viola lah yang berani meneriaki nama Darren di depan semua orang. Bobby, Laura, para bodyguard dan karyawan lain nya menelan saliva mereka dengan sangat susah dan bergidik ngeri.
"Gadis bodoh! Berani sekali dia menyebutkan nama Darren di depan semua orang. Dia tidak takut apa jika Darren marah karna namanya di panggil sembarangan." Laura tersenyum sinis melihat pertengkaran mereka.
"Darren, semoga saja kau bisa meredam emosi mu di hadapan Viola." Bobby sudah sangat cemas memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Darren diam sejenak berusaha mengontrol emosi nya dan mencerna setiap perkataan dari istri nya itu.
"Ada apa dengan mu?" Darren mendekati Viola dan menghapus kan air mata istri nya.
"Aku benci pada mu Darren! Selama seminggu ini kau mendiamkan aku dan pulang larut malam. Mungkin saja kau sedang bersama model terkenal itu untuk menghabiskan waktu bersama kan?" Viola sudah sangat lelah terus menerus berteriak. Dia langsung mendudukkan dirinya di atas lantai.
🧑 : Tuan muda tidak marah sedikit pun pada Nyonya muda yang sudah berani menyebut nama tuan muda sembarangan ya?
🧒 : Kurasa tuan muda sangat mencintai Nyonya muda. Sehingga rasa amarah tuan muda di tahan oleh tuan muda.
🧑 : Seperti nya begitu.
Para karyawan berbisik-bisik dengan suara sekecil mungkin. Laura sempat mendengar beberapa kata yang di ucapan para karyawan itu dan membuat nya merasa sangat marah.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...