Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 65 Obrolan serius antara Viola dan Shelly


__ADS_3

2 hari kemudian...


Tidak terasa 2 hari sudah berlalu begitu cepat nya. Viola tau hari ini adik nya akan segera berangkat ke Paris.


"Tok .. tok .. tok," Viola mengetuk pintu kamar adik nya.


"Masuk lah!"


"Tara sedang apa?" Viola yang sudah masuk kedalam kamar nya menatap adik nya yang sedang menatap sebuah album foto.


"Kakak!" Dengan sekita Tara sudah menangis dengan kuat nya di hadapan Viola.


"Tara sayang, mengapa kau menangis dek?" Viola sangat terkejut melihat adik nya yang nangis di hadapannya.


"Kakak aku tidak ingin jauh dari mu." Lirih Tara dengan air mata nya yang sudah berlinang.


"Cup cup, Tara sayang jangan seperti ini ya! Kakak gak bisa jika melihat mu cengeng seperti ini." Viola menghapus air mata adik nya itu.


"Kakak tidak sedih apa melihat ku pergi?" Tangis Tara kembali pecah mendengar ucapan kakak nya.


"Tara kakak sedih jika jauh dari mu! Bahkan kakak sangat-sangat sedih jika kau tidak ada bersama kakak. Tapi satu hal yang harus Tara ingat! Papa dan mama ingin melihat salah satu dari anak nya itu sukses. Jika kakak tidak bisa maka yang harus sukses sekarang itu dirimu dek! Kakak sekarang sudah menikah dan juga sudah menyekolahkan mu. Apa kau tidak ingin sedikit pun membanggakan kakak dan juga orang tua kita yang sudah ada di alam sana?" Viola menatap adik nya dengan sangat intens.


"Maafkan aku kak." Tara yang sadar akan ucapan nya. Ia langsung memeluk Viola dengan sangat erat.


"Aku sadar kak! Aku egois. Hanya karna tidak ingin jauh dari mu aku sampai melupakan keinginan terakhir papa dan mama." Isak Tara pada Viola yang sudah ada di dekapan hangat Viola.


"Sudah jangan nangis lagi ya? Kakak tau kok apa yang Tara rasakan saat ini. Sekarang yang harus Tara lakukan hanya tersenyum ya." Viola menghapus air mata adik nya dan tersenyum pada Tara.


"Kakak! Kak Shelly kok tidak ada ucapan selamat pada ku?" Tanya Tara pada Viola.


"Oh iya kakak lupa memberitahu kak Shelly. Yasudah kakak video call kak Shelly aja ya." Viola mengambil ponselnya itu dan menelpon sahabat nya yang sudah 2 hari ini belum ia hubungi.


"Drtt .. drtt.. drtt.." getar ponsel Shelly.


"Siapa sih yang nelfon! Gak tau apa kalau aku sedang marah." Shelly langsung melihat ke ponselnya dan seketika itu juga emosi Shelly semakin bertambah.


"Viola! Masih ingat rupanya dia." Kesal Shelly dan mengangkat panggilan nya itu.


"Hai sahabat ku yang cantik," sapa Viola dengan tersenyum menatap kearah Shelly. Viola tau kalau sahabat nya itu sedang marah besar padanya.


"Masih ingat sama gue Lo?" Sinis Shelly pada Viola yang membuat Viola merasa bersalah.


"Ayolah Shell! Jangan seperti anak kecil." ujar Viola pada Shelly yang semakin membuat Shelly emosi.

__ADS_1


"Lo bilang gue seperti anak kecil? Lo sadar gak sih bagaimana perasaan gue yang mengkhawatirkan keadaan Lo! Dan dengan gampang nya Lo bilang gue kayak anak kecil? Gila Lo Vi!" Nafas Shelly sudah tidak teratur lagi karna emosi yang ia luapkan itu.


"Hai kak Shelly," Tara sadar sedang ada peperangan yang sangat mencekam terjadi diantara kakak nya dan juga sahabat kakak nya itu.


"Tara? Bagaimana keadaan mu sekarang adik kecil ku?" Shelly merasa sudah mereda mendengar suara dari Tara.


"Aku sehat kak! Kak Vio juga sehat kok kak. Oh iya kenapa kakak sangat khawatir? Bukan nya 2 hari yang lalu kak Vio tidur di rumah kakak?" Tanya Tara dengan wajah bingung nya.


Kini Shelly dan Viola saling menatap satu sama lain. Mereka lupa kalau Tara tidak tau akan kejadian yang sebenarnya.


"Tentu saja kak Shelly sangat khawatir adik kecil. Kau kan tau 2 hari yang lalu kakak mu itu pergi begitu saja tanpa ada yang jaga. Makanya kakak sangat khawatir dek! Kakak juga sudah bilang sama kakak mu yang keras kepala itu untuk segera menghubungi kakak jika sudah sampai di rumah nya. Tapi nyatanya apa cobak?" Kesal Shelly lagi.


"Hayo kak Vio! Kak Shelly jadi marah kan. Seharusnya kakak tu kasih kabar ke kak Shelly." Tara kembali memanasi suasana yang sudah panas itu.


"Jangan memanasi suasana Verlin Tara!" Tegas Viola pada Tara. Untuk pertama kali nya wajah Viola terlihat serius di mata Shelly dan juga Tara.


"Maaf kak." Tara menundukkan kepalanya itu di hadapan Viola.


"Eh ubul! Lo jangan marahin adik gue ya." Shelly menatap Viola dengan tajam nya.


"Sudah .. sudah! Gue minta maaf Shell. Gue salah! Lo kan tau keadaan yang sebenarnya bagaimana. Darren sudah menghukum gue selama 2 hari ini. Lagian ada yang lebih penting dari ini Shell dan gue mohon Lo bisa bantu gue." Viola memohon pada Shelly membuat Tara dan Shelly juga sangat terkejut.


"Giliran kayak gini aja Lo baru minta bantuan gue! Kemarin-kemarin Lo kemana aja?" Shelly tau Viola sangat serius dengan ucapan nya. Namun dia juga tidak akan melupakan rasa kekesalan nya itu.


"Gak banyak lagi?" Tara dan Shelly sangat terkejut mendengar ucapan Viola yang mengucapkan kata-kata itu.


"Tara diam lah!" Viola menatap adik nya dengan tajam.


"Kakak apa maksud mu? Aku benar-benar tidak mengerti kak!" Tara menatap wajah kakak nya itu.


"Tara diam lah! Kakak sedang ngomong sama kak Shelly." Viola menghela nafas nya itu dengan sangat kasar.


"Kak!" Tara menatap kakak nya dengan sangat kesal.


"Tara keluar lah sebentar! Nanti kakak akan memberitahu mu yang sebenarnya. Kali ini biar kan kakak ngomong serius dulu ya Tara sayang sama kak Shelly." Viola membelai rambut adik nya dengan sangat lembut.


"Kak ada apa? Jangan membuat ku takut." Lirih Tara pada Viola.


"Tidak ada apa-apa dek! Nanti kakak akan memberitahu mu Tara. Sekarang tolong biarkan kakak berbicara berdua saja dengan kak Shelly ya." Viola tersenyum menatap Tara.


"Baiklah kak," Tara tau jika kakak nya sudah berkata 2 kali berati dia harus menuruti nya dan jangan membantah. Tara segera keluar dari kamar nya itu. Setelah melihat Tara keluar Viola hanya menghela nafas nya di hadapan Shelly.


"Vi! Ada apa?" Shelly melihat kekhawatiran yang mendalam di mata sahabat nya. Shelly tau sahabat nya saat ini sedang membutuhkan dirinya walaupun sebenarnya dia sendiri masih kesal pada Viola.

__ADS_1


"Shell Tara akan berangkat ke Paris hari ini." Viola menundukkan kepalanya. Dia tau Shelly akan marah lagi padanya.


"Apa! Vi, Lo kelewatan banget sih! Bisa-bisanya Lo beritahu gue disaat keberangkatan Tara sekarang juga." Raung Shelly pada Viola.


"Shell! Gue aja terkejut mendengar keberangkatan Tara yang mendadak ini. Lo kan tau suami gue orang nya seperti apa! Jika dia sudah memutuskan maka yang harus gue lakukan adalah menuruti keputusan nya itu." Viola mengusap wajah nya dengan kasar.


"Maksud Lo si muka es itu yang bikin kita semua terkena serangan jantung seperti ini?" Shelly menatap Viola dengan sangat intens.


"Tentu saja si tuan singa itu! Jika bukan dia siapa lagi yang akan berani melakukan hal seperti ini." Viola mendengus dengan sangat kesal nya.


"Baik lah! Jadi bantuan apa yang Lo harapkan dari gue?" Shelly tidak ingin melihat Viola merasa kesal lagi. Karna, kekesalan Viola lebih mengerikan dari kekesalan nya itu.


"Shell! Gue gak bisa anter Tara ke bandara. Jadi gue mohon Lo tunggu Tara di bandara dan semangati dia lagi. Gue gak mau lihat dia sedih Shell!" ujar Viola dengan air mata yang sudah mulai menetes.


"Vi, kenapa Lo gak bisa antar Tara ke bandara? Bukankah hal ini yang sangat Lo impikan?" Shelly tidak percaya mendengar ucapan Viola pada nya.


"Shell! Kalau gue nemenin Tara ke bandara itu sama saja gue membahayakan keselamatan Tara." Viola menghela nafas nya itu.


"Maksud Lo Vi?" Shelly tidak mengerti akan ucapan Viola padanya.


"Shell, Darren memiliki banyak sekali musuh di luar sana! Kemarin Darren memberitahu ku tentang identitas baru Tara! Tara di sana hanya sebagai mahasiswa yang menerima beasiswa. Walaupun sebenarnya itu semua rencana Darren. Darren tidak ingin musuh dia yang ada di luar sana mengetahui hubungan antara Tara dan keluarga besar Khan. Karna, bisa membahayakan Tara Shell. Pengawasan Tara dan juga para bodyguard hanya menjaga Tara dengan jarak yang jauh dari Tara. Itu membuat ku sangat khawatir Shell." Viola menghapus air matanya itu.


"Shell ku mohon semangati Tara di bandara nanti dan juga pasti kan Tara menaiki pesawat tersebut tanpa ada masalah sedikit pun " mohon Viola pada Shelly.


"Vi mengapa hidup Lo jadi membingungkan seperti ini? Gue aja bingung mengartikan tentang hidup Lo. Bisa dikatakan Lo itu beruntung karna mendapat suami yang sangat sempurna. Namun bisa di katakan juga Lo itu sangat menderita mendapatkan suami yang belum tentu mencintai Lo." Shelly hanya bisa menggelengkan kepalanya itu.


"Shell gue sendiri aja bingung dengan kehidupan gue saat ini." Viola menundukkan kepalanya.


"Ah yasudah lah! Gue paling malas melihat Lo nangis di hadapan gue. Baiklah ubul ku sayang! Lo tenang aja urusan Tara serahkan saja pada gue. Karna mau bagaimana pun Tara itu juga adik gue." Shelly membusung kan dada nya dihadapan Viola


"Makasih Shell! Cuma Lo yang bisa mengerti gue." Viola merasa sangat terharu akan ucapan Shelly padanya.


"Ets! Ingat satu hal apa yang ada dalam perjanjian sahabat kita?" Shelly menatap Viola dengan tajam.


"Tidak ada kata terimakasih di dalam persahabatan!" Seru Shelly dan juga Viola dengan tertawa kecil.


"Baiklah Shell! Udah dulu ya gue harus bantu Tara beres-beres dulu. Lo tunggu aja Tara di bandara! Nanti gue kasih dimana tepat nya Tara berada di WhatsApp ya." Viola melambaikan tangan nya pada Shelly yang menandakan untuk mengakhiri panggilan nya.


"Oke ubul, gue juga mau siap-siap dulu." Shelly pun membalas lambaian tangan tersebut.


Panggilan video call antara kedua sahabat ini sudah berakhir. Viola merasa benar-benar sangat lega. Ia pun turun dari ranjang adik nya itu dan membuka pintu kamar adik nya dan menyuruh Tara untuk masuk kembali. Karna Viola juga ingin memberikan beberapa nasihat pada Tara.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2