
"Kasella jangan pura-pura tidak ingat kalau aku tidak menyukai istriku di sentuh oleh pria lain!" Darren menatap tajam kearah sahabat nya.
"Darren aku tidak ingat! Lagian pak Dadang juga tidak menyuruh ku untuk membawa perawat wanita." Andhika pun langsung membela dirinya itu.
"Aduh! Masalah lagi ni." Pak Dadang yang merasa ada masalah yang akan menimpa dirinya dengan segera menundukkan kepalanya itu. "Maaf tuan muda, saya lupa memberitahu dokter Kasella." Pak Dadang pun langsung meminta maaf pada tuannya itu.
Mata Darren sudah memerah mendengar ucapan yang di katakan bawahannya tersebut. Ingin sekali rasanya dia memukul pria paruh baya yang ada di hadapannya. Namun, dia juga tidak tega memukul orang yang sudah bekerja bersamanya selama 10 tahun.
"Pak! Sudah berapa kali saya bilang. Dengar ucapan saya baik-baik dan sampai kan sesuai dengan yang saya katakan! Bukan kah anda tau saya tidak suka melihat orang yang bekerja dengan saya melakukan kesalahan!" Darren berbicara dengan suara tertahan nya karna amarah.
"Darren tenang lah," Viola yang melihat Darren marah seperti itu dengan segera menggenggam tangan suaminya agar lebih tenang.
"Maaf kan saya tuan muda, saya bersedia menerima hukuman apapun yang tuan berikan." Dengan segera pak Dadang berlutut dihadapan Darren membuat semua orang sangat terkejut.
"Bangun lah pak!" Andhika yang melihat pria yang ada di samping nya berlutut dengan segera ia menyuruh pak Dadang untuk bangun.
"Maaf Dokter Kasella, saya tidak bisa bangun sebelum tuan menyuruh saya! Hari ini saya benar-benar melakukan banyak kesalahan! Maafkan saya tuan muda." Lirih pak Dadang pada Darren. Viola yang melihat pak Dadang seperti itu hendak turun dari tempat tidur nya.
"Kau mau kemana?" Tatap tajam Darren pada Viola, ketika melihat istri nya hendak bangun.
"Tentu saja aku ingin menyuruh pak Dadang untuk bangkit dari situ." ujar Viola dengan suara nya yang agak tinggi.
"Kau berani berbicara tinggi pada ku?" Darren mendengar ucapan Viola merasa sangat terkejut.
"Bagaimana bisa aku tidak berbicara tinggi pada mu, ketika aku mengetahui suamiku ini tidak memiliki sifat kasian sedikit pun!" Ketus Viola pada Darren dengan tatapan nya.
"Viola Talisa!! Tidur di atas tempat tidur mu dengan benar! Jika kau berani turun selangkah saja dari tempat tidur ini, akan ku patahkan kaki mu itu agar kau tidak bisa berjalan lagi!" Kali ini Darren semakin meninggi kan suara nya yang membuat Andhika dan pak Dadang merasa ketakutan dan sangat gemetar.
"Darren kau kejam sekali!" Viola yang mendengar ucapan suaminya, dengan segera ia menutupi wajah nya dengan selimut.
Darren yang melihat Viola seperti itu hanya bisa menghela nafas nya dengan sangat kasar. Jika dia tidak berbicara tinggi maka istrinya akan semakin keras kepala dan sulit untuk diatur.
"kau! Bangun lah. Aku tidak suka melihat orang yang terduduk lemas di hadapan ku seperti itu." Perintah Darren dengan suara berat nya pada pak Dadang.
"Tuan maaf kan saya! Saya bersedia menerima hukuman apapun yang tuan berikan." Pak Dadang masih bersikukuh memohon pada tuan nya itu.
"Pergi lah ke lantai 4 dan renungkan lah apa kesalahan mu dan hukuman apa yang pantas saya berikan untuk mu. Waktu mu hanya 2 jam!" Tegas Darren lagi pada pak Dadang. Pak Dadang yang mendengar ucapan tuan nya dengan segera bangkit dari berlutut nya itu.
"Baik tuan muda, setelah 2 jam selesai saya akan menjumpai tuan." Dengan segera pak Dadang keluar dari kamar tuan dan juga nyonya nya itu.
Setelah melihat kepergian pak Dadang , Darren hanya bisa menghela nafas nya. Sementara Kasella hanya bisa bergumam di dalam hati dan menatap ngeri kearah sahabat nya itu. Dan soal Viola? Kalian tidak perlu memikirkan tentang nya saat ini! Karna, dia masih tetap bersembunyi di bawah selimut nya itu. Hehehe...
"Tuan muda, anda kejam sekali!" Kasella hanya tersenyum saja melihat sahabatnya dan berjalan mendekat ke Darren.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" Darren yang melihat sahabatnya itu mendekat langsung menghentikan nya.
"Tentu saja, aku ingin mengobati istri mu itu." Kesal Kasella pada Darren, dia sudah sangat lelah dengan urusan nya di rumah sakit dan sekarang ada satu orang yang selalu membuat nya stres jika berhadapan langsung.
"Tuan Kasella, apa kau lupa aku tidak ingin ada pria lain yang menyentuh istriku!" Ujar Darren dengan tatapan sinis nya itu pada Andhika.
"Tuan muda yang terhormat, sekali lagi ku ingat kan pada mu! Nama ku itu Andhika dan bukan Kasella. Oh iya soal istri mu itu aku mengingat nya dengan sangat jelas! Namun, karna saat ini tidak ada perawat wanita dengan sangat terpaksa aku harus turun tangan sendiri untuk mengobati nyonya muda, tuan muda yang terhormat!" Andhika tersenyum tipis pada sahabat nya. Jujur saja dia ingin sekali memukul sahabat nya itu. Tapi, karna sahabat nya memiliki kehidupan yang sangat penting di kalangan masyarakat kelas atas. Membuat nya mengurungkan niatnya itu.
"Jika kau berani menyentuh istriku sehelai saja! Maka habis lah kau Kasella." kini ucapan Darren mulai serius terdengar oleh Andhika membuat Andhika menjauh beberapa langkah dari sahabat nya itu.
"Darren, dokter Andhika hanya ingin mengobati ku. Jadi tidak masalah jika dia menyentuh ku Darren." Viola yang mendengar perdebatan mereka. Mulai memberanikan dirinya untuk keluar di balik selimut nya itu.
"Istri ku! Sekarang kau sudah berani menampakkan wajah mu itu dari balik selimut." Darren tersenyum tipis melihat kelakuan Viola.
"Sebenarnya aku masih takut. Namun, karna kepala ku sangat sakit mendengar kalian berdebat jadinya aku berusaha untuk melerai perdebatan kalian." ujar Viola pada Darren dengan memegangi kepalanya itu.
"Mengapa kau tidak bilang pada ku kalau kepala mu sakit lagi?" Darren yang mendengar ucapan Viola dengan segera ia melihat kepala istri nya itu.
"Bagaimana bisa aku bilang pada mu. Jika kau saja selalu marah pada ku." Ketus Viola dengan suara kecil nya.
"Kau itu!" Darren pun mencubit pipi istri nya tersebut.
"Bagaimana bisa aku melihat keromantisan mereka berdua di hadapan ku seperti itu! Benar-benar menjengkelkan." Andhika hanya menghela nafas nya saja. Darren yang mendengar hembusan nafas Andhika langsung menatap kearah Andhika.
"Tidak ada apa-apa tuan muda," Andhika hanya memutar bola mata nya dengan malas. Dia tidak ingin jika harus berdebat lagi dengan Darren.
"Cih! Bilang saja kau tidak suka aku bermesraan dengan istri ku dihadapan mu." ujar Darren dengan senyum sinis nya pada Andhika.
"Jika kau mengetahui nya mengapa kau menanyai nya!" Andhika hanya bisa mengalah saja.
"Tuan muda, jadi sebenarnya aku bisa mengobati istri mu atau tidak? Jika tidak, maka aku harus kembali kerumah sakit sekarang." Andhika yang sudah muak berada di kediaman sahabat nya yang penuh penekanan itu ingin cepat-cepat keluar dari kediaman tersebut.
"Kasella! Percuma aku membayar mu dengan sangat besar jika kau saja bermalas-malasan seperti itu." Darren tau sahabat nya tidak ingin berlama-lama disana sehingga Darren hanya bisa menahan rasa kesal nya.
"Tuan muda, saya tidak bermalas-malasan! Bagaimana aku bisa mengobati istri mu jika kau saja melarang ku untuk menyentuh nya." kini Andhika mengusap wajah nya dengan sangat kasar.
"Baiklah kau boleh mengobati istri ku! Tapi, hanya aku yang boleh menyentuh nya!" Tegas Darren lagi pada Andhika.
"Apa!!" Kini tidak hanya Andhika yang terkejut. Viola juga merasa sangat terkejut.
"Tuan muda, bagaimana caranya aku mengobati istri mu. Jika hanya kau yang menyentuh nya?" Andhika pun menatap Darren dengan penuh tanda tanya nya.
"Kau yang memakai alat stetoskop nya dan aku yang mengarahkan alat itu ke dada istriku." Ujar Darren lagi pada Andhika. Yang membuat Andhika dan Viola tercengang mendengar nya.
__ADS_1
"Ada apa? Apa saran ku tidak bagus?" Darren yang melihat mereka tercengang menatap nya merasa aneh.
"Tidak tuan muda, saran mu sangat bagus! Bahkan benar-benar luar biasa." Andhika tersenyum lebar pada Darren.
"Iya suamiku saran mu benar-benar di luar dugaan kami." ujar Viola pada Darren.
"Tentu saja! Aku kan terlahir menjadi orang yang sangat pintar!" Darren yang mendengar ucapan mereka hanya tersenyum dengan membusung kan dada nya itu.
"Dasar singa, bagaimana bisa dia bangga dengan pemikiran yang aneh nya itu." gumam Viola di dalam hati nya dengan tersenyum menatap kearah suaminya.
"Kau benar-benar gila sahabat ku! Semenjak kau mengenal gadis ini otak mu semakin tidak sehat. sebaiknya aku harus mengecek mu secara diam-diam nanti nya." Gumam Andhika di benak nya dan menggeleng kan kepalanya itu.
"Tunggu apa lagi! Cepat obati istri ku! Dan apa saja yang harus ku lakukan." Kini Darren menatap intens sahabat nya yang menggelengkan kepalanya itu.
"Eh, baik tuan muda." Dengan segera Andhika berjalan mendekat kearah Viola dan juga Darren.
Andhika pun membuka tas nya dan mengeluarkan beberapa alat dan juga obat untuk istri sahabatnya. Sementara Darren melakukan tugas nya dengan sangat baik. Hal yang bersangkutan tentang menyentuh istri nya itu hanya dia saja yang melakukan nya. Sementara yang lain nya Andhika yang melakukan nya.
"Aku merasa disini profesi ku sebagai dokter seperti di injak-injak oleh mahkluk aneh ini!" Kesal Andhika pada Darren ketika melihat sahabatnya itu merebut alat Dokter nya begitu saja.
Tidak menunggu waktu yang lama pengobatan pun berjalan dengan lancar, ya walaupun di situ Andhika merasa sangat kesal.
"Baik tuan muda, istri mu sudah baik-baik saja! Dia hanya perlu istirahat secukupnya nya, makan makanan yang bergizi dan juga meminum obat nya." Andhika pun memasukkan alat pengobatan nya kembali kedalam tas nya.
"Baik Kasella, aku akan menjaga istri ku." Darren pun mengulurkan tangan professional nya pada Andhika.
"Kalau begitu saya pamit tuan muda. Ada banyak pasien yang menunggu saya. Semoga anda lekas sembuh ya nyonya." Andhika membalas uluran tangan sahabat nya dan tersenyum pada Viola.
"Terimakasih dokter Andhika." Ujar Viola dengan tersenyum.
"You're welcome, Nyonya muda." Andhika tersenyum pada Viola dan melangkah menuju pintu kamar Darren.
Andhika yang sudah berada di luar kamar sahabat nya itu langsung menghela nafas nya dengan sangat lega. Jujur saja untuk berhadapan dengan Darren membuat Andhika sangat repot. Andhika pun memasuki lift umum milik sahabat nya itu dan menekan tombol lift.
Tidak menunggu waktu yang lama Andhika pun sudah tiba di lantai 1. dengan segera Andhika berjalan menuju pintu utama. ia berharap tidak akan ada orang yang bisa menghentikan langkahnya dan benar saja Andhika sudah keluar dari kediaman sahabat nya itu tanpa ada yang menghentikan nya.
"syukurlah aku selamat!" Andhika mengelus dada nya yang menandakan dia sudah lebih tenang dan lega.
Kini Andhika masuk kedalam mobil nya dan melajukan mobil nya dengan kecepatan yang sedang meninggalkan kediaman sahabat nya tersebut.
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1