
"Bob, kau lihat lah drama yang di buat oleh keluarga ku itu." Bisik Darren pada Bobby dengan mata malas nya ketika melihat mereka.
"Iya Darren kau benar sekali! Tadi Tante Aurora dan juga omay terlihat sangat serius sekali ketika berbicara! Namun ketika istri mu itu datang suasana berubah 360°." Bobby menggelengkan kepalanya menatap kearah 4 wanita yang ada dihadapannya.
"Itulah sebabnya aku segera pindah dari kediaman pertama ku Bob!" Darren menghela nafas nya dengan sangat panjang.
"Yang sabar ya sahabat ku!" Bobby menepuk bahu Darren.
"Bob kau sedang mengejekku ya?" Darren kini menatap tajam kearah Bobby.
"Apa? Kau gila ya Darren! Mana berani aku mengejek mu." Suara Bobby sangat kuat membuat ke empat orang yang sedang berbincang menatap kearah mereka berdua.
"Bob! Kau ingin mati ya?" Darren yang di tatap oleh ke empat wanita yang ada di depannya menekan kalimat nya dan menatap tajam kearah Bobby.
"Ma-maafkan aku tuan muda!" Bobby sendiri juga terkejut dengan suara nya yang tidak bisa di kondisikan itu.
"Habis lah aku kali ini!" Ujar Bobby di dalam hati nya dengan menelan saliva nya dengan susah.
"Darren ada apa?" Viola menatap kearah suaminya.
"Tidak ada apa-apa istriku!" Darren hanya tersenyum kecil saja menahan rasa malunya.
"Sudah sayang biarkan saja suami mu yang aneh itu!" tutur mama Darren yang langsung membuat wajah Darren menjadi sangat kesal.
"Aneh? Mama bilang aku aneh?" Kini Darren berbicara dengan nada yang sudah di tahan nya.
"Sayang! Kau itu seperti tidak tau mama mu saja." Omay berusaha menenangkan cucu nya itu.
"Oh iya Tara! Omay ada hadiah untukmu. Buka nya nanti saja ya ketika kau sudah tiba di Paris!" Omay memberikan sebuah kotak kecil pada Tara.
"Mama juga ada hadiah untuk Tara. Maafin mama ya tidak bisa antar Tara ke bandara. Soalnya kakak ipar mu itu payah sekali." Mama Darren pun langsung memberikan sebuah kotak besar untuk Tara dan membelai rambut Tara.
"Tidak apa-apa kok ma. Kakak ipar juga melakukan nya demi kebaikan Tara." Tara tersenyum pada mama Darren.
"Makasih ya omay, mama untuk kado nya. Tara bahagia sekali." Ingin sekali Tara menangis disitu. Namun, ia mengingat dengan jelas apa yang dikatakan kakak nya itu.
"Sudah tidak ada waktu lagi! Tara bisa ketinggalan pesawat nantinya. Yang dia naikin bukan pesawat pribadi jadi tidak bisa semaunya untuk dia pergi!" Darren yang melihat kearah jam tangan nya sudah merasa kesal. Dia merasa heran bagaimana bisa para wanita menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk berbincang saja.
"Iya kakak ipar! Omay, ma, kak Vio Tara pergi dulu ya." Tara pun berpamitan pada mereka. Viola sudah berusaha untuk menahan air matanya itu namun sayang sekali bagi seorang kakak melihat kepergian adik pasti akan sangat sulit. Sehingga air mata Viola sudah mengalir begitu saja.
"Sayang jangan sedih ya! Kan masih ada mama dan juga omay. Ya kan omay?" Mama Darren menatap kearah mama mertua nya itu.
"Iya sayang masih ada omay dan juga mama yang akan menemani mu." Omay kearah Viola dan membelai rambut nya.
Mama Darren yang melihat Viola semakin menangis ketika melihat Tara sudah keluar dari gerbang pintu utama dengan segera mama Darren memeluk menantu kesayangan nya itu. Darren tidak tega sama sekali melihat Viola menangis seperti itu. Tapi Darren juga harus bersikap seperti seorang kepala rumah tangga yang baik. Yaitu dengan bersikap tegas dan bertanggung jawab dengan keputusan nya.
"Bob, karna kau sudah berani berteriak pada ku tadi. Yang harus kau lakukan adalah menyamar sebagai supir yang sudah tua. Yaitu kau sebagai papa nya dari Stella Qianzy! Anggap saja ini sebagai hukuman mu." Darren tersenyum tipis melihat wajah sahabat nya yang sangat terkejut itu.
"WHAT'S! Darren setidaknya izinkan aku menyamar seperti orang yang berkelas! Atau setidaknya sebagai kakak nya Stella Qianzy bukan sebagai papa nya!" Protes Bobby pada Darren.
__ADS_1
"Tidak ada penolakan!" Darren pun masuk ke kediaman nya dengan aura dingin.
"Baiklah aku akan mematuhi perintah mu tuan muda!" Dengan langkah kaki yang malas nya Bobby masuk ke dalam mobil nya mengikuti mobil Tara.
Kini hanya ada omay dan juga mama Darren yang masih ada di depan pintu utama kediaman Darren setelah gerbang tersebut tertutup.
"Sayang maafin mama ya tidak bisa menemani mu lebih lama disini! Soalnya mama harus membawa omay untuk ke rumah sakit." Mama Darren merasa bersalah harus meninggalkan menantu kesayangan nya itu sendirian dalam keadaan sedih.
"Tidak apa-apa ma! Kesehatan omay jauh lebih penting." Viola menghapus air matanya dan tersenyum menatap kearah mama Darren dan juga omay.
"Sayang omay janji akan sering mengunjungi mu dan juga Darren." Omay pun memeluk Viola yang sudah terlihat berantakan.
"Makasih omay." ujar Viola dengan suara gemetar nya karna menahan tangis.
"Oh iya! Darren dimana nak?" Mama Darren yang menyadari tidak ada keberadaan putra nya langsung menatap kearah Viola.
"Mungkin Darren masih banyak pekerjaan ma." Viola tau Darren adalah pria yang tidak punya hati sama sekali karna sudah membiarkan nya menangis tanpa membujuk nya sama sekali.
"Ah dasar anak itu! Sudah menjadi kebiasaan nya yang menghilang tanpa pamit sedikit pun!" Geram mama Darren dengan nada yang di tahan nya.
"Sabar Ra! Mau bagaimana pun dia tetap putra mu." Omay hanya tersenyum saja melihat kelakuan menantu nya yang tidak pernah akur sama sekali dengan cucu kesayangan.
"Mama sih yang terlalu memanjakan nya!" Gerutu Aurora dengan nada kesal nya.
"Aurora kau juga memanjakan putra mu itu." Omay yang tersenyum berjalan masuk ke dalam mobil nya. Sementara Aurora hanya menghela nafas nya saja.
"Sayang mama pergi dulu ya! Vio harus jaga kesehatan dan jangan terlalu lama dalam kesedihan." Mama Darren mecium pipi menantu kesayangan nya itu.
"Sayang ingat akan janji mu ya." Omay berbicara dari dalam mobil nya.
"Janji apa omay?" Tanya Viola dengan nada bingung nya.
"Segera beri omay cicit dan juga mama mertua mu ini cucu!" Jawab omay dengan penuh semangat nya. Membuat Viola jadi salah tingkah.
"Ma! Viola itu masih sedih. Mama terus saja mengganggu nya." Mama Darren menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mertua nya yang tidak pernah berubah.
"Ra! Mama tidak menggangu Viola. Mama hanya mengingatkan janji yang mereka ucap kan pada mama dulu!" Omay hanya tersenyum saja dan berusaha menahan tawa nya melihat wajah cucu mantu nya itu sudah memerah.
"Vio sayang! Vio jangan terlalu pikir kan apa kata omay ya. Omay memang seperti itu yang tidak pernah selalu sabar." Mama tersenyum pada Viola dan membelai rambut Viola.
"Iya ma Vio ngerti kok." Viola hanya menahan rasa kesal nya itu.
"Emang nya omay pikir buat anak itu segampang yang omay bayangkan! Terlebih lagi cucu mu itu sangat dingin omay." Lirih Viola di benak nya.
"Yasudah sayang mama pergi dulu ya. Ingat jaga kesehatan mu!" Mama Darren pun masuk ke dalam mobil nya yang sudah ada omay di dalam nya.
"Iya ma hati-hati ya omay, mama!" Viola pun melambaikan tangan nya pada omay dan juga mama nya.
"Iya sayang." Balas omay dan juga mama secara bersamaan dan tersenyum pada Viola.
__ADS_1
Viola menatap nanar kepergian kedua orang yang selalu memberi nya semangat itu dengan tersenyum. Untuk kedua kalinya Viola merasakan kehangatan sebuah keluarga. Viola menghapus sisa air mata yang ada di pipi nya itu dan berjalan menuju lift pribadi nya.
"Darren keterlaluan!" Kesal Viola mengingat kembali akan sikap Darren yang tiba-tiba menjadi dingin padanya.
Kini Viola sudah berada di lantai 2 dengan langkah gontai nya Viola memasuki kamar nya itu tanpa melihat kearah kanan kiri.
"Kemarilah!" Sebuah suara yang langsung membuat kepala Viola yang tertunduk jadi terangkat karna suara yang ada di depannya.
"Darren!" Viola terkaget melihat Darren sudah ada di atas tempat tidur nya.
"Mengapa kau sangat terkejut istri ku?" Darren menatap wajah istri nya yang cantik sudah berubah sembab karna sejak tadi istri nya itu terus saja menangis.
"Tentu saja aku kaget! Aku pikir kau ada di ruang kerja mu." Ketus Viola dengan mulut nya yang sudah maju.
"Kau itu! Kemarilah!" Darren berbicara dengan penuh penekanan nya.
"Em baiklah." Viola hanya tersenyum kaku dan berjalan mendekat kearah Darren.
"Ada apa?" Kini Viola sudah duduk di samping suami nya itu dan menatap Darren dengan kesal.
"Mengapa kau melihat ku seperti itu?" Darren yang melihat Viola menatap nya dengan intens merasa sangat risih.
"Tidak apa-apa!" Jawab Viola dengan nada datar nya dan menatap kearah lain.
"Istri ku! Katakan lah apa yang ada di pikiran mu itu!" Ujar Darren dengan suara tegas.
"Tidak ada apa-apa suamiku!" Ketus Viola dan membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Darren.
"Kau marah pada ku?" Darren menatap punggung istri nya dan menghela nafas nya.
"Tidak! Bagaimana bisa aku marah pada seorang miliarder dunia." Tutur Viola dengan nada nya yang di buat-buat.
"Baiklah jika kau tidak marah pada ku." Darren pun bangkit dari atas tempat tidur nya hendak meninggalkan Viola sendirian dikamar nya.
"Mungkin kau butuh waktu sendirian istri ku." Gumam Darren di dalam hatinya.
"Kau mau kemana?" Viola yang melihat Darren hendak membuka pintu langsung menatap nya.
"Keruang kerja!" Balas Darren dengan nada dingin nya. Dan hendak melangkah keluar.
"KAU JAHAT DARREN!" Teriak Viola pada Darren membuat Darren menghentikan langkahnya. Tanpa membalikkan tubuhnya itu.
"Mengapa kau tidak melihat ku? Apa kau sudah muak menatap ku! Ya ternyata aku salah tentang mu. Kau sama sekali tidak memperdulikan kan aku!" Sergah Viola dengan nafas nya yang sudah tersengal-sengal.
"Cih! Bodoh sekali aku! Tentu saja kau tidak peduli pada ku. Kau kan tidak mencintai ku sama sekali!" Semua rasa yang Viola pendam langsung Viola keluar kan semuanya.
"Deg!"
Darren membalikkan tubuhnya dan menatap Viola dengan ekspresi yang tidak bisa di tembak membuat Viola menelan saliva nya itu dengan susah. Karna sudah berani membentak Darren dengan sangat kejam.
__ADS_1
^^^Bersambung..^^^
...****************...