Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 70 dasar tidak waras!


__ADS_3

"Kak Shelly!" Tara langsung tersenyum lebar dan berlari cepat kearah Shelly.


"Uhh adik kecil kak Shelly udah besar sekarang!" Shelly pun membalas pelukan Tara dengan sangat erat.


"Tara pasti akan sangat merindukan kak Shelly nanti nya." Lirih Tara.


"Hey! Jangan menangis seperti ini. Kak Shelly gak suka ya." Shelly melepaskan pelukan mereka dan menghapus air mata Tara.


"Nona Shelly?" Bobby berjalan mendekat kearah Shelly dan tersenyum padanya.


"Tara, siapa dia?" Shelly yang tidak kenal oleh pria yang memanggil nya itu, dia pun menatap kearah adik angkat nya.


"Dia tuan Bobby kak! Sekretaris nya kakak ipar. Saat ini dia di suruh kakak ipar menyamar sebagai papa Tara." Bisik Tara pada Shelly membuat Shelly ingin sekali tertawa.


"Paman anda siapa ya?" Tanya Shelly dengan tawa yang sudah mulai di tahan nya.


"Paman??" Bobby menatap tajam kearah Shelly ketika ia di panggil paman oleh Shelly.


"Iya paman! Emang nya saya harus memanggil anda siapa?" Shelly menautkan kedua alisnya itu.


"Nona Shelly sebaiknya jangan lah terlalu berpura-pura! Anda sangat tidak ahli dalam bidang tersebut." Bobby tersenyum tipis pada Shelly membuat Shelly menatap nya dengan sangat kesal.


"Kau itu payah sekali! Di ajak bercanda saja tidak bisa." Gerutu Shelly dengan wajah yang sudah cemberut.


"Menggemaskan sekali!" Bobby menatap wajah Shelly yang terlihat imut di matanya.


"Tuan Bobby?" Shelly yang di tatap terus oleh Bobby merasa sangat risih.


"Tuan Bobby!" Teriak Shelly ketika panggilannya tidak di jawab oleh Bobby.


"I-iya nona Shelly." Bobby merasa sangat malu ketika dirinya sudah ketahuan oleh Shelly.


"Mengapa anda melihat saya seperti itu?" Tanya Shelly pada Bobby.


"Saya tidak melihat anda." Jawab Bobby dengan suara berat nya.


"Jelas-jelas kau tadi menatap ku dengan sangat serius! Tapi kau bilang tidak melihat ku? Kau itu menyebalkan sekali sih!" Suara nafas Shelly sudah saling memburu karna kekesalan yang telah ia luapkan.


Bobby hanya diam saja dan menatap kearah lain. Dia tidak menjawab pertanyaan Shelly atau pun membalas perkataan nya. Bobby tau jika dia menjawab nya maka urusan nya tidak akan pernah selesai.


"Kak Shelly! Sudah jangan marah lagi." Tara berusaha menenangkan kakak angkat nya.


"Iya Tara, kau benar sekali! Untuk apa aku marah-marah gak jelas pada seorang paman seperti nya." Sinis Shelly pada Bobby.


"Kau bilang aku apa?" Bobby menatap kearah Shelly dengan sangat tajam.


"Paman! Kau itu kan papa nya Tara dan Tara itu adik angkat ku. Tentu saja aku harus memanggil mu paman!" Shelly menjulurkan lidahnya itu di hadapan Bobby.


"Nona Shelly, saya harap anda bisa menjaga lidah anda itu! Karna saya tidak akan bisa menjamin lidah anda akan tetap bisa bersama anda seterusnya!" Tegas Bobby dengan senyum tipis di bibir nya.


"Kau itu kejam sekali!" Shelly menelan saliva nya dengan sangat susah. Tidak hanya Shelly yang bergidik ngeri, namun Tara juga merasakan hal yang sama.


"Dan satu hal lagi nona Shelly. Anda tidak boleh memanggil nama asli nona Tara. Yang harus anda panggil adalah nona Stella Qianzy! Karna demi keselamatan nya dia harus menyandang status palsu nya itu." Jelas Bobby pada Shelly.

__ADS_1


"Baiklah tuan Bobby!" Shelly memutar bola matanya dengan sangat malas.


"Tara, bagaimana nilai mu di sekolah?" Shelly beralih bertanya pada Tara.


"Nona Shelly!" Bobby menatap Shelly dengan tajam ketika ia mendengar Shelly memanggil nama Tara.


"Maaf tuan Bobby," Shelly hanya bisa tersenyum kaku saja.


"Stella bagaimana nilai sekolah mu?" Shelly menatap kearah Tara.


"Nilai ku sangat bagus kak Shelly! Aku juga katanya dapat beasiswa disana. Tapi, beasiswa boongan kak!" Bisik Tara dengan suara pelan nya. Namun masih bisa terdengar oleh Bobby.


"Stella kita harus menuju pesawat sekarang. Sudah saat nya kau berangkat!" Bobby yang sudah selesai melewati berbagai macam tahapan-tahapan sebelum lepas landas hanya bisa menghela nafas nya. Belum lagi dia harus menunggu antrian dengan orang lain. Berbeda sekali saat ia menaiki pesawat pribadi sahabat nya itu.


"Yah! Baru juga ngobrol sama kak Shelly!" gerutu Tara dengan wajah cemberut nya.


"Ta- eh maksudnya Stella sayang, Stella jangan sedih yah! Kak Shelly pasti akan sesering mungkin menghubungi Stella kok." Shelly mengusap rambut Tara dengan sangat lembut.


"Janji ya kak?" Tara menatap wajah Shelly dengan sangat intens.


"Iya janji sayang." Shelly mengulurkan jari kelingking nya sebagai ikat janji diantara mereka.


"Bodoh sekali mereka berdua! Mereka tidak tau apa waktu di sana dan di sini berjarak sangat jauh. Jika kau tidur maka dia bangun! Dan sebaliknya." Bobby yang menatap mereka hanya menghela nafas saja.


"Mari Stella sayang!" Ujar Bobby dengan suara yang penuh penekanan nya pada mereka berdua.


"Baik papa," balas Tara dengan tawa yang ingin di tahan.


"Ayuk paman kita antar Stella sekarang." Shelly merangkul tangan Tara dan berjalan di depan Bobby.


Kini Tara sudah duduk di dalam pesawat yang akan mengantar nya ke negara yang sangat asing bagi Tara. Wajah sedih Tara terlihat sangat jelas walaupun Tara sudah mencoba menyembunyikan kesedihannya di hadapan Shelly.


"Kak Shelly jaga kak Viola ya!" Sebuah pesan terkirim di ponsel Shelly.


Tara sudah menyiapkan beberapa pesan yang akan di kirimkan nya pada Shelly dan juga kakak nya Viola sebelum ponsel nya di matikan.


Shelly merasa terharu mendapatkan pesan dari adik angkat nya. Dia tau sejak tadi Tara menyembunyikan kesedihannya. Oleh karna itu sejak tadi Shelly berusaha menghibur Tara.


"Mengapa kau menangis?" Bobby yang melihat Shelly menangis terus menatap nya.


"Tuan Bobby apakah Tara sudah pergi dari negara ini?" Tanya Shelly dengan wajah yang sudah berlinang air mata itu.


"Nona Shelly 30 menit lagi nona Tara akan take off." Balas Bobby dengan suara berat nya.


"Take off?" Shelly menatap Bobby dengan sangat serius.


"Lepas landas nona." Jawab Bobby dengan suara yang sudah kesal.


"Oh itu toh!" Shelly mengusap wajah nya yang basah itu.


"Nona Shelly!" Panggil seseorang dari arah belakang Shelly. Membuat Shelly membalikkan tubuh nya dan menatap kearah pria itu.


"Tuan Evan?" Shelly terkejut melihat orang yang memanggil nya.

__ADS_1


"Lelaki berengsek itu! Mau apa dia disini? Apa dia mengikuti ku?" Bobby menatap tajam kearah Evan. Seperti nya jika dia ketahuan kali ini. Satu-satunya cara yang tepat menghadapi nya adalah membunuh Evan.


"Sedang apa anda di sini nona?" Evan sudah tepat di hadapan Shelly dan sudah ada Roy yang berada di belakang Evan yang selalu mengikuti kemanapun Evan pergi.


"Sa-saya sedang mengantar--"


"Sedang mengantar calon anak nya!" Sela Bobby dengan senyum tipis nya itu.


Evan menatap kearah pria yang menurut nya lumayan berusia di bandingkan dirinya itu. Dilihat nya dengan sangat intens pria berkacamata hitam itu dengan sangat dalam. Seperti nya Evan mengenal pria itu. Tapi siapa? Begitu lah yang ada di pikiran nya.


"Calon anak? Apa maksudmu paman?" Shelly menatap kearah Bobby dengan senyum paksa nya.


"Paman?" Evan beralih menatap kearah Shelly. Ia bingung dengan apa yang terjadi di hadapan nya itu.


"Sayang, kau itu selalu saja malu mengakui ku! Apa karna aku ini duda? Makanya kau tidak ingin mengakui ku?" Bobby menatap Shelly dengan senyum licik nya.


"Kau itu apa-apaan sih?" Bisik Shelly pada Bobby.


"Ikuti saja alur drama ini! Jika kau tidak ingin melihat adik angkat mu itu dalam bahaya. Apa kau lupa siapa pria yang ada di hadapan mu itu!" Balas Bobby dengan suara yang sangat pelan. Ia berusaha mengingatkan Shelly akan kejadian penculik kan yang terjadi pada sahabat nya.


"Nona Shelly?" Evan merasa ada yang tidak beres diantara kedua orang ini.


"Maaf sayang aku takut tuan Evan tidak percaya kalau kau itu calon suami ku! Oleh sebab itu aku memanggil mu paman." Shelly merangkul tangan kekar Bobby dan menyandarkan kepalanya di bahu Bobby.


"Tuan Evan maaf sekali membuat anda tidak nyaman dengan kemesraan kami. Tuan Evan sedang apa disini?" Tanya Shelly dengan senyum yang di buat-buat nya.


"Saya akan berangkat ke new York hari ini. Nona Shelly sendiri sedang apa di sini?" Tanya Evan dengan penuh penyelidikan nya.


"Bukan kah tadi calon suami saya sudah bilang pada anda ya? Kami sedang mengantar putri kami untuk bersekolah disana tuan Evan. Lebih tepatnya calon putri ku nanti. Karena dia adalah putri dari calon suami ku dengan istri pertama nya." Jelas Shelly dengan suara yang penuh penekanan nya.


"Mengapa gadis ini harus menjelaskan nya secara terperinci sih!" Geram Bobby di dalam benak nya.


"Bos, kita harus cepat!" Roy melihat kearah jam tangan nya dan segera berbicara dengan Evan. Hanya sebuah anggukan saja yang di berikan Evan pada nya.


"Maaf nona Shelly saya tidak bisa berlama-lama disini! Saya harap jika kita berjodoh maka kita akan bertemu lagi." Evan mengulurkan tangannya pada Shelly.


"Saya harap begitu tuan Evan!" Shelly tersenyum dan membalas uluran tangan Evan pada nya.


"Maaf dia calon istri saya! Jadi jangan terlalu lama menyentuh nya." Bobby pun segera melepaskan tangan mereka. Membuat Evan sedikit kesal padanya.


"Kau itu gila ya?" Shelly langsung memaki Bobby setelah melihat Evan dan juga bawahannya benar-benar sudah pergi.


"Maaf nona Shelly! Hari ini saya sangat sibuk. Oleh karena itu mohon maaf sekali saya tidak bisa menemani anda untuk bertengkar." Bobby langsung meninggalkan Shelly di bandara internasional tersebut tanpa menggubris sedikit pun makian dari Shelly.


"Dasar laki-laki tidak waras! Tidak punya sopan santun sedikit pun. Percuma saja kau memiliki ketampanan seperti itu jika kau saja tidak bisa menghormati seorang wanita." Teriak Shelly dengan nafas nya yang sudah memburu.


Shelly pun pergi dari bandara tersebut dengan perasaan marah dan kesal nya. Ia terus saja memaki Bobby di dalam hati nya itu.


"Roy selidiki siapa pria tadi!" Perintah Evan begitu iya sudah ada di dalam pesawat pribadi nya.


"Baik bos," jawab Roy dengan sangat hormat nya pada evan


Evan yang sudah menerima jawaban dari bawahannya itu kembali diam. ia sama sekali seperti orang yang tidak memiliki perasaan akan apa pun. yang ada di pikiran Evan saat ini hanyalah anak dari adik kesayangannya. pesawat pribadi Evan kini sudah take off, begitu juga dengan pesawat yang Tara naikin sudah lepas landas.

__ADS_1


^^^Bersambung..^^^


...****************...


__ADS_2