Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 122 kekhawatiran Shelly


__ADS_3

"Begitu aku mendengar nya aku langsung kemari." Wajah Shelly memang sangat terlihat ketakutan dan khawatir. Ia takut Viola kenapa-kenapa. Dan ia juga khawatir bagaimana kondisi bayi nya.


"Nona Shelly tenang kan diri mu." Bobby yang melihat keadaan Shelly dengan rambut berantakan merasa kasian.


"Bagaimana aku bisa tenang! Jika sahabat ku saja terbaring di brankar rumah sakit ini." Raung Shelly pada Bobby dengan air mata nya yang terus mengalir.


Bobby yang mendengar suara Shelly hanya bisa menghela nafas saja. Semua orang saat ini benar-benar panik.


"Sekarang aku tanya pada mu! Bagaimana kondisi Viola?" Tanya Shelly dengan penuh penekanan nya.


"Nyonya muda koma nona Shelly," jawab Bobby dengan suara yang pelan.


"Viola koma?" Shelly hampir saja terjatuh mendengar berita tentang koma nya Viola. Kalau tidak ada Bobby mungkin saat ini dia berada di lantai.


"Lalu bagaimana kondisi bayi nya?" Shelly menatap lekat wajah Bobby.


"Janin nyonya muda masih terlalu muda sehingga membuat diri nya keguguran." Lagi-lagi kata-kata Bobby membuat Shelly shock dan langsung pingsan.


Berbeda sekali dengan omay dan juga mama yang saat ini berada di ruangan Andhika. Di sana mama dan omay terus saja menatap wajah Andhika dengan segala macam pertanyaan yang ada di pikiran nya.


"Kenapa saya tidak tau kalau menantu saya sedang hamil?" Mama Darren menatap intens wajah Andhika.


"Tante, tidak hanya Tante saja yang tidak tau kalau Viola sedang hamil. Bahkan Darren sendiri tidak mengetahui tentang kehamilan Viola Tante." Andhika menghela nafas nya dengan panjang


"bagaimana bisa dia tidak mengetahui nya?" Omay dan juga Aurora menatap terkejut kearah Bobby.


"Karna kehamilan Viola baru hari ini di ketahui oleh Viola sendiri dan ingin memberikan Darren sebuah kejutan dengan kehamilan nya. Namun, karna masalalu Darren dan juga Vaya. Yang membuat Viola salah paham! Sehingga--" Andhika tidak yakin untuk melanjutkan cerita nya lagi. Karna ia sudah berjanji pada Bobby. Namun, jika ia tidak memberitahu kan semua nya pada omay dan juga mama sahabat nya itu. Maka tidak akan ada orang yang bisa menenangkan Darren.


"Se-sehingga apa?" Wajah mama Darren sudah terlihat sangat sedih.


"Viola menjadi salah paham dan mengemudi kan mobil nya di kecepatan yang tinggi Tante." Andhika yang sudah menyelesaikan ucapan nya hanya bisa menundukkan kepalanya itu.


"Ini semua salah ku ma." Mama Darren langsung memeluk ibu mertua nya itu dengan sangat erat.


"Sayang jangan menangis." Omay yang mengerti maksud perkataan dari menantu nya langsung mengusap punggung Aurora.


"Jika saja dulu aku tidak memaksa Darren untuk bertunangan dengan Vaya. Maka Darren tidak akan pernah memiliki masa lalu dengan Vaya ma." Isak Aurora pada mertua nya.


"Kau tidak salah sayang! Ini semua di luar kendali kita." Omay berusaha menenangkan Aurora yang masih menangis.


"Tan, aku tau Tante sedih! Tapi jika Tante seperti ini. Lalu siapa yang akan menenangkan Darren? Dia kehilangan bayi nya dan bahkan saat ini kondisi istri nya masih di dalam pengawasan." Jujur saja sebagai seorang dokter Andhika sudah melakukan sebaik mungkin. Namun, yang memilih untuk bertahan adalah Viola sendiri.


"Kenapa kau berkata seperti itu nak?" Omay menatap wajah Andhika.


"Karna kondisi Viola masih koma! Hanya Viola sendiri yang bisa memilih untuk bertahan atau tidak. Yang Andhika khawatir kan Viola tidak ingin berjuang omay." Andhika benar-benar merasa bersalah karna tidak bisa melakukan lebih untuk sahabat nya.


"Ma, aku sudah kehilangan cucu. Kali ini aku tidak ingin kehilangan menantu ku ma!" Tangis Aurora semakin menjadi mendengar ucapan dari Andhika.

__ADS_1


"Aurora! Bersikap lah dewasa. Sekarang kita harus memberi semangat untuk Viola agar Viola mau berjuang." Omay berusaha mengontrol diri nya yang terlihat sangat lelah. Namun, sebagai yang paling tua omay berusaha menenangkan suasana.


"Yang dikatakan omay benar Tante. Mungkin saja setelah mendengar suara dari keluarga nya Viola akan segera bisa melewati masa kritis nya." Ujar Andhika pada Aurora.


Aurora yang mendengar ucapan dari ibu mertua nya dan juga dokter pribadi anak nya itu. Dengan sangat cepat Aurora mengusap air mata nya.


"Mah ayo kita keruangan Viola! Aku khawatir pada Viola dan juga Darren." Aurora langsung bangkit dari duduk nya yang membuat kedua insan tersebut terbengong melihat kearah Aurora.


"Mah, kenapa diam? Ayo kita kembali kesana." Aurora yang melihat ibu mertua nya hanya diam dan menatap dirinya merasa aneh.


"Eh iya kau benar Ra!" Omay yang tersadar pun ikut bangkit dari duduk nya.


"Dokter Andhika mari--" senyum kecil Aurora mengarah kearah Andhika yang masih saja terdiam di tempatnya.


"I-iya Tan," jawab Andhika dengan raut wajah yang menahan rasa malu.


Mereka pun akhirnya keluar dari ruang kerja Andhika dan kembali menuju ke tempat Darren berada. Mereka semua sangat khawatir melihat keadaan Darren yang terus saja menatap kearah Viola dari luar ruangan. Saat mereka menatap Darren mata mereka beralih kearah Bobby yang tengah memangku seorang wanita di atas tempat duduk rumah sakit.


"Bobby ada apa ini?" Tanya omay pada Bobby.


"Gadis ini?" Andhika yang melihat wajah gadis yang tengah pingsan merasa tidak asing.


"Vaya sedang apa disini?" Ketika semua orang fokus pada Shelly. Mata Aurora malah fokus pada gadis yang berdiri di samping Bobby.


"Tante, Vaya kesini cuma mau--"


"Tante, Vaya tau Vaya salah! Tapi ini semua tidak sepenuhnya kesalahan Vaya Tan." Vaya berusaha membela dirinya yang tengah di sudut kan itu.


"Vaya, tentu kau salah! Bukan kah sebelumnya kau sendiri yang menghilang bagaikan di telan bumi. Lalu kenapa sekarang kau datang setelah Darren memiliki kehidupan nya yang baru?" Mama Darren menggoyangkan tubuh Vaya dengan sangat kuat.


"Ra, sudah cukup! Jangan memperkeruh suasana." Omay yang melihat menantu nya tengah marah berusaha melerai.


Andhika yang tidak tega Vaya di perlakukan seperti itu hendak menarik tangan Vaya agar menjauh untuk sementara waktu.


"Kak, aku tidak mau pergi!" Vaya melerai tangan Andhika yang yang tengah memegang tangan nya.


"Vaya, mengerti keadaan saat ini! Jangan membuat kakak mu semakin merasa bersalah karna ulah mu." Andhika melirik kearah Bobby yang hanya menunduk saja.


"Aku tidak sepenuhnya salah kak! Istri kak Darren saja yang tidak--"


"Ti-tidak apa?" Shelly terbangun dari pingsannya dengan menggosok-gosok kening nya itu.


Shelly melihat semua orang yang berdiri di depan nya itu. Hanya Bobby seorang saja yang saat ini berada di samping Shelly.


"Dimana Viola??" Tanya Shelly dengan suara yang sangat tinggi.


"Wihh, suara nya melengking sekali." Andhika mengusap telinga nya itu.

__ADS_1


"Anda dokter Andhika kan?" Shelly menatap kearah Andhika.


"Iya benar," jawab Andhika.


"Saya Shelly! Sebelum nya saya pernah kemari bersama dengan pria ini." Shelly menunjuk kearah Bobby lalu menatap kembali kearah Andhika.


"Oh ternyata itu anda. Pantes saja saya lihat wajah anda tidak asing." Jawab Andhika setelah ia mengingat siapa Shelly.


"Oh iya, kamu!" Shelly menunjuk kearah Vaya yang masih berdiri di depan nya.


"Aku?" Vaya menunjuk diri nya sendiri yang merasa kebingungan.


"Iya kamu! Kau lupa aku siapa?" Shelly menautkan kedua alisnya menatap tajam kearah Vaya.


"Kau--" Vaya mulai mengingat-ingat apakah sebelum nya ia pernah bertemu dengan Shelly atau tidak.


"Ah terlalu lama untuk menunggu mu berpikir! Aku gadis yang kau tabrak 1 bulan yang lalu." Shelly merasa kesal jika mengingat kejadian tersebut.


"Oh ternyata gadis yang tidak punya sopan santun itu dirimu." Vaya yang sudah mengingat nya hanya memutar bola matanya saja.


"Apa kau bilang--" geram rasanya Shelly mendengar ucapan Vaya. Walaupun Vaya lebih tua sedikit dari nya. Jika menyangkut harga diri maka Shelly tidak akan tinggal diam.


"Sudah-sudah! Mengapa kalian bertengkar?" Andhika yang melihat pertengkaran mereka menghela nafas nya itu.


"Oh kau benar dokter Andhika." Shelly menepuk keningnya.


"Sekarang bagaimana kondisi Viola dok? Dia baik-baik saja kan? A-apa benar Viola kehilangan bayi nya?" Shelly menatap serius kearah Andhika.


Andhika hanya menundukkan kepalanya itu. Ia bingung harus berkata apa, karna jujur saja Shelly adalah orang yang paling dekat dengan Viola.


"Nak, kau pasti lelah karna berlari saat datang kemari. Bagaimana kalau nak Shelly istirahat dulu?" Omay membujuk Shelly yang terlihat sangat panik.


"Iya sayang, Viola pasti baik-baik saja. Kita istirahat dulu ya." Timpal mama Darren pada Shelly.


"Bagaimana bisa aku beristirahat jika sahabat ku saja sedang memperjuangkan nyawa nya sendiri!" Bentak Shelly pada omay dan juga mama Darren yang membuat Darren menatap kearah Shelly.


Darren melangkahkan kaki nya itu mendekat ke perkumpulan mereka dengan mata yang masih memerah.


"Darren, tenang kan dirimu." Bobby paham akan raut wajah sahabat nya. Begitu juga dengan Andhika yang berusaha menahan Darren. Saat ini Darren sangat tertekan, sehingga membuat mereka sedikit takut Darren melakukan sesuatu di luar akal sehat.


Mata Darren menatap tajam kearah Shelly, Shelly yang di tatap oleh Darren tidak kalah nya menatap balik mata Darren membuat semua orang ketakutan dengan aura mereka berdua.


"Dengar baik-baik! Tidak hanya dirimu saja yang mengkhawatirkan istriku. Tapi mereka semua juga merasakan hal yang sama. Dan satu hal lagi! Jangan pernah sekalipun kau membentak mama dan juga omay ku!!'' suara Darren langsung meninggi. Tatapan membunuh Darren turut menyertai saat ucapan yang ia lontarkan itu.


Shelly yang mendengar suara Darren hanya tertawa kecil saja. Membuat semua yang ada di sana kebingungan sekaligus ketakutan.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2