Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 44 Kisah cinta Erik part 4


__ADS_3

"Erik, kau meragukan mama mu yang sudah mengandung mu ini?" Dengan seketika air mata nyonya Anggara sudah mengalir mendengar ucapan dari putra nya itu.


"Kau anak macam apa yang berbicara seperti itu pada mama dan papa mu ini ha?" Tuan Anggara langsung menampar wajah Erik dengan sangat keras.


"Pa..! Apa yang kau lakukan?" Dengan sontak Evan langsung melihat kearah pipi adik nya yang sudah memerah.


"Orang tua mana yang akan menyakiti anak nya sendiri dan merebut kebahagiaan anak nya!" Erik mengusap wajah nya dengan sangat kasar.


"Kami melakukan ini demi kebaikan mu nak..!" Mama nya berusaha mengelus pipi Erik.


"Tidak perlu ma!" Erik pun menepis tangan mama nya dengan sangat perlahan.


"Kalian melakukan nya hanya untuk martabak kalian berdua saja...! Jika kalian benar-benar melakukan nya demi aku. Maka, kalian akan merestui hubungan ini." Erik pun menjauh dari keluarga nya itu.


"Erik kau mau kemana..?" Evan berusaha menahan adik nya. Agar tidak melakukan hal yang akan disesali nya nanti.


"Jika kau melangkah keluar dari mansion ini! Maka aku akan mencari wanita itu dan menghabisi nya..!" Ancam tuan Anggara dengan gema suaranya.


Erik yang mendengar ucapan dari papa nya itu langsung menghentikan langkah kaki nya. "Jika papa dan mama menghabisi wanita yang aku cintai itu. Maka, aku akan memutuskan hubungan antar anak dan orang tua dengan kalian. Dan aku juga akan mengakhiri hidup ku yang tidak berguna ini..!" Erik pun melanjutkan langkah kaki nya dengan air mata yang sudah mengalir cepat.


"Deg...!" Seluruh yang ada di ruangan itu langsung terkejut mendengar ucapan dari Erik. Bagaimana bisa Erik mengancam kembali orang tuanya itu.


"Pa..? Jika papa melakukan nya. Maka, aku akan pergi dari keluarga ini!" Evan menatap kearah papa nya yang masih berdiam disana.


"Evan..! Kau juga menyalahkan papa mu ini?" tanya mama, menatap kearah Evan.


"Aku tidak menyalahkan siapapun ma! Tapi, jika aku kehilangan adik ku itu. Maka, aku tidak akan mengganggap keluarga ini lagi!" Evan pun pergi dari mansion keluarga nya meninggal kan kedua orangtuanya sendiri disana.


"Bagaimana ini sayang??" Tanya nyonya Anggara pada suaminya.


"Kita biarkan Erik menikmati satu tahun bersama orang yang dia cintai itu! Setelah itu baru akan ku urus wanita itu!" ujar tuan Anggara dengan suara beratnya.


"Tapi, bagaimana jika..." Nyonya Anggara tidak meneruskan kata-katanya. Dia sendiri merasa kebingungan harus berbuat apa.


"Aku tidak akan menghabisi gadis itu!" Tuan Anggara pun meninggalkan istri nya dan masuk keruang kerjanya.


......................


Erik yang sudah berada di mobil nya melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Menahan sakit yang ada dihatinya. Dia sendiri bingung harus mengatakan apa pada Vivian.


"Arghhh...!" Erik membanting setir mobil nya itu. "Aku harus apa??? Aku tidak sanggup jika kehilangan Vivi dari kehidupan ku!" Erik mengusap wajah nya dengan sangat kasar nya.


Dia terus saja mengemudi dengan sangat cepat nya dan tiba di apartemen milik nya. Dengan langkah gontai Erik memasuki apartemen nya. Melihat keseluruhan ruangan yang dimana Vivian sedang tertidur dengan sangat lelap nya.


"Aku mencintaimu..!" Erik mengecup kening Vivian. Vivin yang merasa ada yang menyentuh nya langsung terbangun.


"Kau sudah pulang?" Vivian mengucek matanya yang masih mengantuk itu.


"Iya sudah..! Kau sudah makan?" tanya Erik dengan suara serak nya.


"Ada apa dengan mu sayang?" Vivi yang melihat pipi Erik memerah dan juga basah merasa terkejut.


"Tidak ada apa-apa." balas Erik dan mengalihkan pandangannya dari Vivian.


"Kau sedang membohongi ku Erik?" Vivian menatap tajam kearah Erik.

__ADS_1


"Apa orang tua mu tidak merestui hubungan kita?" tanya Vivian yang langsung membuat Erik terkejut.


"Bagaimana kau tau Vi?" Erik langsung memegang tangan Vivian dan menelusuri kearah mata Vivian.


"Aku sudah tau hal ini akan terjadi! Kau tau Erik?" Vivian menatap kearah Erik dengan tersenyum.


"Aku tidak tau." Erik menggeleng kan kepalanya.


"Kita dari keluarga dengan kasta yang berbeda! Kau orang kaya dan terpandang, sedangkan aku sebaliknya." Vivian mengusap air matanya itu. "Untuk sesaat aku merasa ragu menjalin hubungan dengan mu! Namun, rasa cinta ku lebih besar dari rasa ragu ku itu. Sehingga membuat ku memiliki keberanian untuk bersama mu! Aku tau jika kau sudah sukses seperti ini orang tua mu juga akan tetap melarang hubungan kita. Sebenarnya ketika kau pergi tadi aku berharap ada sebuah keajaiban yang akan membuat hubungan kita ini lebih ringan." Vivian menatap lekat ke wajah Erik dan menghapus air matanya.


"Maaf..!" Lirih Erik pada Vivian.


"Kau tidak perlu minta maaf. Aku tidak pernah merasa menyesal sudah berhubungan dengan mu." Vivian memegangi wajah Erik. "Jangan menangis! Kau itu lelaki! Sangat tidak pantas jika kau menangis." Vivian pun tersenyum pada Erik.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu! Jika, itu terjadi maka aku akan mengakhiri hidup ku ini." ujar Erik dengan suara serak nya.


"Hustt..! kau itu tidak boleh berbicara sembarangan! Aku tidak suka jika kau berbicara seperti itu." Vivian menutup mulut Erik padanya.


"Jika kau tidak ingin hal itu terjadi. Maka, kau jangan meninggalkan ku!" tegas Erik pada Vivian.


"Iya aku janji..!" Vivian menatap Erik dengan tersenyum. "Erik..?"


"Iya sayang." Erik yang melihat Vivian memanggil nya dengan sangat lembut langsung membelai rambut Vivian.


"Aku ingin memiliki anak bersama mu!" ujar Vivian dengan suara pelan nya yang langsung membuat Erik sangat terkejut.


"Kau serius Vi?" tanya Erik dengan menatap Vivian sangat serius.


"Aku serius..!" Vivian pun mengangguk kepalanya nya itu dengan perlahan.


"Aku tidak akan menyesali hal yang sudah aku putuskan." jawab Vivi dengan nada yakin.


"Baiklah...!" Erik pun langsung mengangkat tubuh Vivian dan membawa nya kekamar.


Meletakkan Vivi dengan sangat perlahan diatas ranjang. Mecium bibir Vivi dengan sangat lembut nya. Perlahan ciuman mereka menjadi sangat panas.


Erik membuka baju Vivi dengan perlahan menelusuri setiap inci tubuh Vivi yang ada di bagian atas. Tepat dikedua milik Vivian yang berharga sudah terlihat dengan sangat jelas. Erik merasa panas di seluruh tubuh nya. Dan langsung menghujam milik Vivi yang lumayan mengembul itu.


Hanya desahan kecil yang terdengar dari Vivian membuat Erik bertambah semakin bersemangat. Ketika tepat di bagian inti milik Vivian dengan seketika Vivian menahan Erik yang hendak melakukan hubungan panas itu pada nya.


"Ada apa?" tanya Erik yang merasa ditahan.


"Kau harus berjanji tidak akan meninggalkan ku?" Vivian menatap lekat wajah Erik yang sudah naik turun mengatur nafas nya.


"Aku berjanji sayang..!" Erik pun mengecup kening Vivian dan mulai memasukkan bagian inti nya kebagian milik Vivian.


"Ahh... Erik sakit!" Vivian merasa sakit yang teramat dibagian inti nya yang sudah menyatu dengan milik Erik.


"Aku akan melakukan nya dengan perlahan Vi!" Erik pun mencium bibir Vivian untuk mengurangi rasa sakit pada Vivian.


Hari itu adalah hari dimana mereka menunaikan cinta mereka sepenuhnya. Erik yang sudah selesai tertidur di samping Vivian yang terbalut dengan selimut putih ditubuh nya.


...🌾🌾...


2 bulan kemudian...

__ADS_1


Setelah mereka melakukan hubungan panas itu. Dua bulan sudah berlalu mereka menjalani hari-hari mereka dengan bahagia tanpa ada gangguan sedikit pun. Erik bahkan berpikir bahwa kedua orang tuan nya sudah merestui mereka.


"Sayang...!" Teriak Vivian dari arah kamar mandi nya.


"Ada apa Vi!" Erik yang terkejut mendengar teriakkan dari Vivian langsung menghampiri nya.


"Kau baik-baik saja kan?" Erik menatap lekat wajah Vivian.


"Lihat ini..!" Vivian pun langsung menyerahkan sesuatu pada Erik.


"Kau..?" Erik yang terkejut seketika langsung terdiam.


"Iya sayang.." Vivian tersenyum bahagia.


"Ini serius sayang? Kau hamil?" Erik menatap kearah Vivian dan melihat kearah test pack yang diberikan oleh Vivi pada nya.


"Iya aku hamil! Sudah 2 Minggu aku telat." Vivian merasa bahagia hingga dirinya langsung menangis.


"Terimakasih sayang!" Erik langsung memeluk Vivian dengan sangat erat nya.


Sejak berita kehamilan Vivian sudah mulai terdengar di telinga tuan Anggara. Sehingga membuat tuan dan juga nyonya Anggara merasa murka. Niatnya ingin melihat putra nya itu untuk bahagia beberapa saat, tapi malah putra nya membuat ulah lagi. Tuan Anggara pun langsung mencari waktu yang tepat untuk menemui Vivian gadis yang putranya cintai itu. Namun, karna Erik menjaga Vivian dengan sangat ketat membuat tuan Anggara sulit untuk menemukan nya.


tuan Anggara juga merahasiakan berita kehamilan Vivian dari Evan. jujur tuan Anggara sendiri juga takut jika Evan mengetahui berita ini. karna, jika Evan mengetahui nya maka, semua rencana yang sudah ia susun rapi-rapi akan hancur begitu saja.


tuan Anggara sendiri merasa sulit untuk menghadapi putra sulung nya itu. jadi sebisa mungkin semua tentang berita kehamilan ini tidak boleh terdengar sedikit pun oleh Evan.


......................


8 bulan kemudian...


Sudah 8 bulan Vivian dan Erik lalui bersama. Kini perut Vivian sudah sangat besar. Mereka berdua tinggal menunggu proses lahiran nya saja. Mereka tidak sabar untuk segera melihat putri mereka itu. Karna, dokter juga sudah memberitahu kan pada Erik dan Vivi. Bahwa, bayi yang dikandungnya adalah bayi perempuan yang semakin membuat Erik sangat senang.


"Dia akan cantik seperti mu..!" Erik mengelus perut buncit Vivian itu.


"Dia juga akan secerdas papa nya ini." Vivian membelai rambut Erik.


"Oh iya, kau tidak kerja?" Tanya Vivi pada Erik.


"Aku tidak ingin kerja hari ini! Aku takut nanti kau akan melahirkan tanpa ku!" ujar Erik dengan mencubit pipi Vivian.


"Kau itu! Dokter kan sudah bilang aku akan melahirkan 3 Minggu lagi! Jadi, kau tidak usah khawatir sayang." Vivian tersenyum pada Erik yang masih bertingkah manja padanya.


"Baiklah..! Aku akan kerja. Jika terjadi sesuatu pada mu. Kau harus menghubungi ku!" ujar Erik dengan sangat tegas nya.


"Iya sayang. Yaudah berangkat kerja sana." Vivian pun mencium pipi Erik. Begitupun dengan Erik.


Erik pun berangkat kerja dan meninggalkan Vivian yang sendirian di apartemen Erik. Dan ada 2 bodyguard pribadi juga yang mengawasi Vivian. Namun...


"Prang...!" Suara pintu yang sudah di tendang dengan sangat kuat oleh lelaki yang cukup tegap dan besar membuat Vivian langsung terkejut.


"Kalian siapa?" Vivian yang melihat bodyguard yang menjaga nya sudah terkapar dilantai langsung terduduk diatas sofa nya dan mengelus perut nya itu.


^^^Bersambung...^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2