Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 106 Tidak apa-apa, kau juga tidak mengetahui nya!


__ADS_3

"Istri ku kenapa kau berteriak!" Darren mengusap telinga nya saat mendengar teriakkan dari Viola.


"Darren apa maksud nya semua ini? Kenapa di sini ada dokter dan juga orang kebersihan?" Viola menatap kearah Darren.


"Tentu saja untuk memastikan buah itu sudah bisa di konsumsi atau tidak." Jawab Darren dengan nada santai nya.


"Darren! Aku hanya ingin memakan buah saja. Apa harus merepotkan semua orang? Terlebih lagi kau memanggil seorang dokter hanya untuk memastikan buah itu ada bakteri atau tidak. Tidak kah kau berpikir akan lebih banyak orang yang membutuhkan mereka?" Viola menghela nafasnya. Pada awalnya Viola berpikir positif pada suaminya itu. Namun setelah melihat kejadian ini membuat Viola sedikit emosi.


"Sayang, mereka tidak ada jadwal hari ini. Lagian ini semua untuk kesehatan mu. Aku tidak ingin sesuatu yang istri ku makan tidak sehat." Darren merapikan rambut Viola.


"Darren aku ingin memakan buah tanpa harus serepot ini! Kau mengerti bukan?" Keluh Viola pada Darren.


"Ini tidak akan merepotkan istriku! Mereka sudah memeriksa bagian buah anggur yang ada di sana. Jadi kau bisa memakan buah yang ada di sana sebelum kau memakan buah yang lain." Terang Darren pada Viola.


"Sama saja itu merepotkan Darren! Kau tidak tau apa? jika nanti aku ingin memakan buah itu tapi mereka belum memastikan kebersihan buah itu. Apakah kau akan membiarkan aku memakan nya?" Viola menautkan kedua alisnya menatap kearah Darren.


"Tentu saja tidak!" Jawab Darren dengan sangat santai nya.


"Tapi aku menginginkan nya," rengek Viola pada Darren.


"Sudah makan buah yang ada di sana dulu." Darren meraih tangan Viola dan langsung membawa Viola kearah buah yang sudah di periksa oleh dokter dan juga orang kebersihan.


"Darren kau benar-benar membuat ku kesal!" Gerutu Viola pada suaminya itu.


"Kau malah membuat ku gemas," Darren hanya tersenyum kecil dan terus saja berjalan kearah buah anggur nya.


Mereka pun akhirnya tiba di tempat buah yang sudah di sterilkan oleh orang-orang Darren. Viola menatap buah yang sangat lebat ini langsung menelan Saliva nya. Buah yang ada di sana sangat harum ia cium.


"Sayang kau bisa memakan buah itu! Tidak perlu menatap nya hingga air liur mu itu hampir menetes." Ejek Darren saat melihat wajah istri nya itu.


"Darren," Viola sangat malu mendengar ucapan suaminya.


"Darren kenapa buah nya sebanyak ini?" Viola memilih buah anggur yang sangat nikmat saat di lihat.


"Itu karna sudah saat nya mereka berbuah." Jawab Darren dan memetik beberapa buah lalu memberikan nya kepada Viola.


"Kau pernah memakan buah yang ada di kebun mu ini?" Viola memakan buah anggur itu. Wajah nya terlihat sangat bahagia saat buah itu masuk ke dalam mulutnya.


"Tidak pernah," Darren hanya tersenyum saja melihat tingkah istri nya seperti anak-anak saat melihat sesuatu yang sangat memukau bagi istri nya itu.


"Tapi kenapa?" Viola menghentikan kegiatan nya menatap kearah Darren.


"Sudah tidak perlu di pertanyakan. Sekarang makan lah yang banyak. Ingat jangan berlebihan memakan nya." Darren membersihkan sudut bibir Viola yang sudah mengeluarkan air dari buah yang ia makan.


"Tapi ini manis sekali! Coba kau makan." Viola langsung memberikan anggur yang ada di tangan nya kearah Darren.


"Aku tidak menginginkan nya istri ku," Darren menahan tangan Viola.


"Darren aku ingin melihat mu memakan nya." Lirih Viola pada Darren.


"Kau saja yang makan." Darren tetap menolak tawaran Viola padanya.


Viola menunduk kan wajah nya itu. Ia sangat ingin melihat Darren memakan buah dari tangan nya sendiri. Karna Darren terus menolak. Viola pun langsung duduk diatas rumput membuat Darren sangat terkejut.


"Apa yang kau lakukan!" Darren langsung menyuruh Viola untuk berdiri.


"Aku lelah!'' jawab Viola dengan sangat singkat.


"Bawa tempat duduk yang sudah ada bantal nya di tempat duduk tersebut." Perintah Darren dari walkie talkie milik nya itu.


Tidak menunggu waktu yang lama para pelayan sudah membawa sofa mini untuk tuan dan juga nyonya mereka. membuat Viola tidak habis pikir melihat tingkah suaminya itu.


"Sekarang duduk lah." Ujar Darren pada Viola.


Viola tidak menjawab dan langsung duduk di sofa mini itu. Ia terus saja menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Istriku kenapa kau tidak memakan buah nya lagi? Bukan kah sebelumnya kau sangat menginginkan buah ini." Darren menatap wajah Viola yang masih cemberut.


"Aku memang menginginkan nya." Jawab Viola.


"Lalu kenapa kau tidak memakan nya?" Tanya Darren dengan tatapan yang bingung.


"Tapi aku lebih ingin melihat mu memakan buah ini dari pada aku." Gerutu Viola pada suaminya itu.


"Istriku sejak kapan kau selalu menginginkan sesuatu yang jelas-jelas yang tidak aku inginkan?" Darren merasa aneh melihat perubahan Viola. Viola akhir-akhir ini lebih sering merajuk pada nya dan menginginkan hal yang menurut nya aneh.


"Aku juga tidak tau." Sungutnya pada Darren.


"Huft! Baiklah aku akan memakannya." Darren tidak ingin Viola merasa sedih. Ia langsung menuruti keinginan istri nya itu.


"Benarkah itu?" Mata Viola langsung membulat ketika Darren mengatakan hal yang membuat nya sangat senang.


"Emh!" Darren menganggukkan kepalanya dihadapan Viola.


"Kalau begitu buka mulut mu! Aaa--" Viola langsung membuka kan mulut nya di hadapan Darren sehingga membuat pria itu ingin tertawa.


Bisa-bisanya hal yang seharusnya Darren lakukan malah Viola yang melakukan nya. Viola langsung memasukan buah itu kedalam mulut suami nya yang sudah terbuka karna ulah Viola yang mempraktekkan nya di hadapan Darren.


"Bagaimana?" Tatap intens Viola kearah Darren. Ia sangat menunggu bagaimana pendapat suaminya itu tentang rasa buah yang ia makan.


"Lumayan," jawab Darren dengan sangat singkat.


"Lumayan? Darren buah ini sangat manis bagaimana bisa kau bilang lumayan!" Ketus Viola pada Darren.


"Baiklah coba kau berikan satu lagi! Mungkin aku salah menilai nya." ujar Darren pada Viola. Viola pun menuruti perkataan Darren dan kembali menyuapi satu buah anggur pada Darren.


"Sekarang bagaimana?" Tanya Viola dengan wajah yang sangat penasaran.


"Kali ini sangat enak! Karna kau sudah memberikan nya dengan tangan mu sendiri." Darren tersenyum tipis pada Viola.


"Itu karna kau ikut membuka mulut mu! Jadi rasanya terbagi oleh mu. Sekarang rasanya sangat enak karna aku sendiri yang menikmatinya." Darren tersenyum kecil melihat wajah Viola yang sudah memerah.


"Darren sejak kapan kau pandai gombal seperti itu?" Viola kembali memetik buah anggur itu dengan wajah yang menahan rasa malu.


"Sejak aku memutuskan untuk tetap bersama mu." Darren langsung memeluk Viola dari arah belakang saat ia melihat istri nya itu kembali memetik buah.


"Darren banyak orang." Viola berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Mereka tidak melihat nya." Darren semakin mempeerat pelukan nya itu pada Viola.


"Darren jelas-jelas mereka melihat kita!" Decak Viola pada suaminya itu.


"Jika aku bertanya pada mereka pasti mereka akan mengatakan tidak melihat apapun sayang." Darren mencium leher Viola membuat Viola sedikit geli.


"Tentu saja mereka bilang seperti itu! Mereka kan takut pada mu. Darren kau itu selalu memiliki orang-orang mu untuk melakukan semua yang ingin kau perintah kan." Gerutu Viola dan menggeliatkan leher nya itu karna kegelian.


"Itu lah keuntungan menjadi seorang pemimpin sayang." Bisik Darren di telinga Viola.


"Darren hentikan! Aku malu." Viola sangat malu saat para dokter dan juga yang lain nya sudah menatap kearah nya.


"Istriku jika kau tidak berteriak seperti itu. Maka, mereka tidak akan melihat kemari." Darren hanya tersenyum kecil saja.


"Tapi mereka sudah melihat nya."kesal Viola.


Darren yang melihat wajah Viola semakin memerah. Ia hanya bisa menghela nafas nya itu dan mulai memberikan kode pada tangan nya untuk menyuruh mereka tidak menatap kearah nya lagi.


"Sekarang mereka sudah tidak melihat nya." Darren kembali memeluk tubuh Viola.


"Darren lepasin! Aku ingin makan buah yang ada di sana." Viola menunjuk kearah buah yang sudah di sterilkan oleh orang-orang suruhan suaminya itu.


"Kau itu! Disaat seperti ini ada saja yang kau inginkan." Darren mengacak-acak rambut Viola membuat Viola tertawa kecil.

__ADS_1


"Maaf," ujar Viola dan memanjakan kepala nya itu di dada bidang suaminya.


"Yasudah kita kesana sekarang." Darren langsung menggandeng tangan Viola dan membawa Viola kearah buah strawberry milik nya.


Viola yang sudah ada di buah strawberry itu dengan sangat tidak sabar nya ia langsung memakan buah itu.


"Darren kenapa rasanya asam!" Viola mengecil kan bola mata nya dengan dahi yang berkerut membuat Darren tidak bisa menahan tawa nya.


"Itu karna kau memakan buah yang sepenuhnya belum matang. Coba makan yang ini! Ini tidak terlalu asam." Darren menyerahkan buah yang sudah ia pilih dan memberikan nya langsung pada Viola.


"Emh, yang ini enak." Viola langsung melahap buah yang sudah di petik oleh suaminya itu.


"Darren kau sangat paham tentang buah ya! Kau belajar dari mana?" Tanya Viola dengan mulut yang sudah penuh oleh buah yang ia makan.


"Dari Daddy ku." Jawab Darren dengan suara datar nya.


"Darren maaf," Viola merasa bersalah karna sudah mengungkit masa kelam suaminya yang ia sendiri tidak tau seperti apa masa lalu suaminya itu.


"Tidak apa-apa! Kau juga tidak mengetahui nya." Darren tersenyum dan membelai rambut Viola dengan sangat lembut.


Sudah cukup lama Viola berada di kebun buah suaminya itu. Ia sudah sangat puas dan memilih untuk kembali ke kediaman mereka.


"Darren aku sudah kenyang! Kita kembali ke kediaman saja yuk." Ajak Viola pada Darren.


"Baiklah kau juga sudah terlihat sangat lelah." Darren mengelap keringat yang ada di wajah istri nya itu.


"Bawa kendaraan kediaman kesini!" Perintah Darren melalui walkie talkie nya.


"Baik tuan muda," jawab pak Dadang setelah mendengar suara dari atasan nya itu.


Tidak menunggu waktu yang lama kendaraan listrik yang sudah Darren pesan khusus dari luar negri untuk menjelajahi seluruh kediaman nya itu agar tidak kelelahan sudah tiba di hadapan Darren.


"Tuan muda ini kendaraan pribadi kediaman." Pak Dadang menyerahkan kendaraan itu pada Darren.


"Kau boleh pergi sekarang." Perintah Darren.


"Darren apa ini?" Viola menatap Darren dengan tatapan bingung nya.


"Tentu saja ini kendaraan! Kau tidak tau?" Jawab Darren dengan sangat singkat.


"Aku tau! Tapi untuk apa?" Viola masih tidak mengerti.


"Untuk kita kembali ke dalam kediaman ku. Bukan nya kau itu sudah lelah! Jadi aku tidak ingin kau tambah lelah karna berjalan jauh untuk kembali." Terang Darren pada Viola.


"Tapi, kenapa tadi kita tidak menaiki nya saat kemari?" Tanya Viola.


"Itu karna aku sedang mengerjai mu!" Darren hanya tertawa kecil saja.


"Berarti tadi saat pak Dadang bertanya kenapa kau berjalan kaki karna kau tidak pernah berjalan kaki sebelum nya?" Viola mengingat kembali ucapan kepala pelayan yang terhenti sebelum mereka ke kebun buah milik Darren.


"Of course sayang," Darren semakin tersenyum melihat wajah Viola yang langsung terlihat sangat kesal.


"Darren! Kenapa kau hari ini mengerjai ku terus-menerus!" Ketus Viola pada suaminya itu. Ia membuang wajah nya kesembarangan arah.


"Maaf sayang," Darren mengusap wajah Viola yang sangat kesal.


"Janji jangan ulangi lagi ya?" Tatap Viola dengan sangat intens.


"Iya janji," Darren membalas tatapan istri nya dengan senyuman.


Viola pun kembali tersenyum dan mengandeng tangan Darren. Mereka akhirnya menaiki kendaraan yang sudah ada di hadapannya itu. Darren pun langsung meninggalkan semua orang di kebun buah dengan perintah tugas mereka sudah selesai dan mereka sudah boleh pergi. Sementara Viola menatap wajah yang awal nya dingin menjadi sangat hangat padanya dengan tersenyum lebar.


^^^Bersambung...^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2