
"Sayang kita tunggu di luar saja ya." Mama Darren berbicara dengan sangat lembut nya.
"Tapi kenapa ma? Viola istri ku. Aku berhak untuk tau kondisi nya seperti apa?" Darren menatap sedih kearah mama nya saat ini.
Aurora yang melihat kondisi putra nya merasa sangat sedih. Bagaimana bisa putranya seperti orang yang tidak berdaya seperti sebelumnya. Aurora kembali mengingat bagaimana wajah Putra nya itu saat kehilangan sosok papa nya.
"Sayang, mama paham maksud mu. Tapi saat ini jika kau masuk ke dalam. Yang ada suasana akan semakin keruh dan membuat kondisi Viola semakin buruk." Jelas mama Darren pada Darren.
"Iya nak, yang di katakan mama mu benar." Timpal omay pada Darren.
"Kenapa? Kenapa ma, omay? Sesusah itu kah aku untuk menemui istri ku sendiri!" Air mata mengalir di wajah Darren. Darren kembali terduduk di kursi yang ada di rumah sakit sahabat nya.
"Kenapa harus aku? Kenapa orang-orang yang aku sayangi selalu dalam bahaya? Apakah ini takdir yang kau buat untuk ku?" Teriak Darren membuat semua orang semakin sedih mendengar ucapan dari Darren.
"Aku ingin bahagia!" Lirih Darren.
"Sayang maafkan mama," Aurora langsung memeluk Darren dengan sangat erat.
Mereka semua menunggu berita dari Andhika saat ini. Hampir cukup lama mereka menunggu akhirnya Andhika keluar bersama dengan Shelly dari ruangan tersebut.
"Bagaimana? Bagaimana kondisi Viola saat ini?" Darren langsung menatap kearah Andhika yang hanya menundukkan kepalanya saja.
"Kenapa kau diam?" Darren menatap wajah Andhika.
"Setelah di periksa lebih teliti. Istri mu di pastikan akan sangat sulit untuk hamil kembali!" Ujar Andhika membuat seluruh tubuh Darren melemah. Tidak hanya Darren, Shelly sendiri hendak terjatuh dan langsung di tahan oleh Bobby.
"Kenapa sahabat ku memiliki nasib seperti ini?" Lirih Shelly dengan memeluk Bobby dengan sangat kuat nya.
"Darren, tapi tidak ada kemungkinan kalian tidak memiliki anak. Aku percaya kalian pasti bisa memiliki anak." Andhika berusaha membuat sahabat nya tidak sedih.
"Nak, kenapa Viola sulit memiliki anak?" Tanya omay dengan air mata yang sudah terus saja mengalir di pipi nya.
"Omay, saat Viola menggerakkan tangan nya. Ia sudah tersadar, namun ia langsung meringis kesakitan pada bagian perut nya. Sehingga kami melakukan pemeriksaan ulang dan karna benturan yang sangat kuat pada bagian rahim Viola. Mengakibatkan Viola sangat sulit untuk memiliki anak. Tapi, bukan berarti Viola tidak bisa punya anak." Jelas Andhika kembali pada omay.
"Maaf kan aku istriku," Darren langsung menerobos masuk keruangan istri nya.
"Darren," panggil mereka semua saat melihat Darren berlari.
"Tidak Tante! Biarkan Darren menemui istrinya saat ini." Andhika menahan Aurora yang hendak masuk kedalam.
"Baiklah kau benar," mama Darren hanya menundukkan kepalanya.
"Sebaiknya kalian semua pulang dulu saja! Karna kemungkinan besar Viola akan terbangun besok hari." Ujar Andhika kembali pada mereka semua.
"Aku tidak mau pulang! Aku mau menemani sahabat ku saat ini." Lirih Shelly dengan kondisi tubuh yang sangat lemah.
"Nona Shelly, tidak ada gunanya juga jika anda menunggu hari ini. karna sahabat mu tidak akan sadar hari ini." Jelas Andhika pada Shelly.
__ADS_1
"Aku akan tetap menunggu! mau bagaimana pun aku tetap akan disini." Shelly tetap bersikeras dengan pendirian nya.
"Dengar kan lah dokter Andhika nona Shelly! Jika anda menunggu nyonya muda dalam kondisi seperti ini yang ada anda yang di jenguk oleh nyonya muda saat sadar nanti." Ujar Bobby pada Shelly.
"Iya nak, yang di katakan Bobby benar. Jika nanti Viola sudah sadar dan kamu dalam kondisi lemah seperti ini. Bagaimana reaksi Viola nanti? Dia pasti sangat sedih melihat sahabatnya seperti ini." Omay berusaha membuat sahabat dari istri cucu nya itu tenang.
Shelly yang mendengar ucapan dari wanita tua yang ada di hadapannya hanya bisa terdiam saja dan melerai pelukan nya pada Bobby. Ia berjalan perlahan meninggalkan mereka semua dalam pandangan mata yang kosong. Semua orang menatap kearah Shelly dengan tatapan yang sangat sedih.
"Persahabatan macam apa yang ada pada mereka ma? Kenapa mereka terlihat memiliki hubungan yang sangat kuat. Bahkan melebihi dari seorang keluarga." Ujar mama Darren menatap kearah Shelly.
"Seribu satu jika ada orang yang memiliki sahabat seperti Shelly Ra! Mama sangat senang Viola memiliki sahabat yang sangat sayang pada nya." Omay tersenyum menatap kearah Shelly.
"Mama benar," mama Darren juga tersenyum.
"Aku salut pada keberanian anda nona Shelly," Andhika juga tersenyum menatap kearah Shelly yang berjalan dengan langkah gontai nya.
"Perasaan apa saat ini yang terjadi pada ku? Mengapa aku sangat sedih saat melihat mu menangis?" Bobby menatap lekat kearah Shelly.
"Andai aku memiliki sahabat seperti dirinya." Vaya juga tidak kalah salut nya melihat sikap Shelly.
Namun tiba-tiba saja saat mereka tengah menatap Shelly. Shelly langsung terjatuh lemas di atas lantai membuat semua orang terkejut. Orang yang pertama berlari sangat kencang adalah Bobby. Sehingga membuat seluruh orang yang berada di sana menatap kearah Bobby.
"Nona Shelly anda baik-baik saja?" Tanya Bobby dengan raut wajah yang sangat khawatir.
Shelly yang mendengar ucapan Bobby hanya menatap wajah Bobby dengan sangat lekat. Senyuman kecil terukir di wajah Shelly.
Bobby yang melihat Shelly pingsan merasa sangat sakit pada hati nya. Ia langsung mengangkat tubuh Shelly. Semua orang yang ada di sana menghampiri Bobby.
"Bob bawa nona Shelly keruangan ku!" Perintah Andhika pada Bobby.
"Tidak perlu Andhika! Dia hanya pingsan." Bobby melangkahkan kakinya menjauh dari mereka.
"Kau ingin bawa dia kemana Bob?" Teriak Andhika pada Bobby.
"Ke apartemen ku!" Balas Bobby dengan nada dingin nya.
Andhika yang mendengar ucapan Bobby merasa sangat terkejut. Seorang Bobby yang tidak pernah membawa satu wanita pun kedalam apartemen nya. Kini sudah merubah sikap misterius nya itu.
"Vaya ada apa dengan kakak mu?" Tanya Andhika yang masih menatap kearah Bobby yang sudah menjauh itu.
"Aku sendiri tidak tau kak! Ini pertama kali nya kak Bobby seperti itu." Jawab Vaya dengan raut wajah yang sangat terkejut.
"Sudah jangan pikirkan itu dulu untuk saat ini! Dokter Andhika, Tante serahkan Viola pada mu. Tante harap kau tidak mengecewakan Tante!" Mama Darren menatap lekat kearah Andhika.
"Andhika akan berusaha semampu Andhika Tante." Jawab Andhika pada mama sahabat nya.
"Baiklah kalau begitu Tante dan juga omay pulang dulu." Mama darren mengandeng tangan omay.
__ADS_1
"Baik Tante," Andhika tersenyum pada Aurora.
"Vaya, pulang lah! Biarkan Darren bersama istri nya dulu saat ini." Omay menatap kearah gadis yang dulu nya pendiam sekarang menjadi gadis yang banyak bicara.
"Tapi omay Vaya--"
"Vaya dengarkan lah omay saat ini!" Mama Darren menatap tajam kearah Vaya.
"Baiklah Tante," Vaya tidak tau harus seperti apa lagi. Saat ini yang harus ia lakukan hanya lah menerima semua nya.
Mereka bertiga pun meninggalkan Andhika sendirian disana. Andhika yang melihat mereka semua sudah pergi merasa sangat lega. Suasana yang mencekam adalah hal yang paling Andhika benci. Andhika kembali berjalan kearah ruangan nya untuk kembali melihat resume para pasien nya.
Sementara Darren yang berada di ruangan Viola menatap wajah Viola yang terlihat sembab karna menangis merasa sangat bersalah.
"Istriku," panggil Darren dengan suara pelan nya dan terus menggenggam tangan Viola.
"Aku salah, maafkan aku sayang!" Lirih Darren pada Viola.
Namun, lagi-lagi air mata Viola mengalir dari kedua mata nya yang tertutup itu. Darren yang melihat Viola terus menangis semakin merasa sesak di hati nya.
"Maafkan aku, maaf kan aku, maafkan aku Viola!" Darren memukul wajah nya dengan tangan Viola.
"Jangan menangis aku mohon." Darren mengusap air mata yang terus saja mengalir itu.
"Kenapa istriku? Kenapa kau tidak memberikan ku kesempatan untuk menjelaskan nya terlebih dahulu." Darren menatap lekat wajah Viola dan mengelus pipi Viola.
"Aku sangat mencintaimu Viola! Kau lah cinta pertamaku. Tidak ada wanita manapun yang bisa mendapatkan hati ku ini selain diri mu." Bisik Darren di telinga Viola.
"Aku berharap kau bisa mendengar ucapan ku yang ini istriku." Darren terus saja menghujani wajah Viola dengan ciuman.
"Aku mohon ketika kau sadar nanti jangan berpikir untuk meninggalkan diriku Viola! Karna jika itu terjadi aku benar-benar tidak tau harus hidup atau tidak." Ujar Darren kembali pada Viola.
Tangan Viola kembali bergerak membuat Darren semakin menatap wajah Viola dengan wajah yang sedikit tersenyum.
"Kau mendengarkan nya sayang? Kau tau kan apa yang ku katakan saat ini? Aku mohon sadar lah istriku." Darren semakin berusaha membuat Viola kembali menunjukkan interaksi nya.
"Istriku saat ini banyak orang yang sedang menghawatirkan dirimu! Jadi cepatlah sadar. Istriku jika kau memang membenci ku setidaknya sadar lah demi adik mu dan juga sahabat mu." Sebenarnya berat sekali bagi Darren untuk mengatakan hal ini. Tapi setidaknya Darren harus mencoba nya bukan.
"A-aku membenci mu Darren!" Kata-kata samar terdengar dari mulut viola membuat darren langsung terduduk.
"Sayang kau sadar? Aku akan panggil dokter sekarang!" Darren yang terduduk hendak bangkit kembali saat mengetahui viola membuka mata nya perlahan.
"Jangan pergi!" Viola menahan tangan Darren dan kembali menutup kedua matanya.
Darren yang melihat Viola kembali tidak sadarkan diri langsung menekan tombol yang ada di ruangan Viola. Tidak menunggu waktu yang lama Andhika pun sudah berada di ruangan dimana Darren dan juga Viola berada.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1
...****************...