Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 102 kedatangan Vaya!


__ADS_3

1 bulan kemudian.


Vaya benar-benar merasa putus asa. Sudah segala cara ia lakukan untuk mendapatkan perhatian Darren pada padanya. Namun, Bobby selalu memblokir semua cara yang ada di pikiran Vaya. Membuat Vaya sangat kesulitan dan kesal.


Semenjak pertengkaran dirinya dan kakak nya Vaya lebih memilih membeli apartemen nya sendiri. Ia tidak ingin terus-menerus kakak nya selalu menjadi sandungan untuk dia bertindak.


"Aku harus memikirkan sesuatu! Agar kakak tidak selalu mengacaukan kerja keras ku." Tekad Vaya pada dirinya.


Vaya bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat yang mungkin kakak nya sendiri tidak akan berpikir bahwa dia akan senekad itu.


Dengan langkah terburu-buru nya Vaya menaiki mobil nya dan segera meninggalkan apartemen nya. Di sepanjang jalan Vaya terus melatih dirinya agar tidak melakukan kesalahan.


...🌾🌾...


Kediaman two drn.khan.


Viola sedang menyiapkan sarapan untuk Darren. Ia masih mengenakan baju daster nya yang dimana Darren selalu melarang Viola mengenakan pakaian itu. Namun, Viola terus saja berisikeras untuk tetap mengenakan nya membuat Darren menghela nafas nya. Dengan sangat terpaksa Darren menyuruh desainer terkenal untuk mendesain sendiri daster yang akan di kenakan oleh istri nya.


"Darren sarapan nya sudah siap!" Begitulah pesan Viola pada ponsel nya. Karna Darren masih mandi saat ia tinggal masak. Jadinya Viola harus mengirim pesan ke Darren. Ia sangat malas jika harus ke lantai 2 hanya untuk bilang hal itu.


"There is guest! Mr Darren and Mrs Viola." Suara bel pintu Viola pun berbunyi berulang kali dengan berbagai bahasa.


"Suara apa itu! Mengapa aku tidak pernah mendengar itu sebelumnya." Pikir Viola di dalam hatinya.


Saat pak Dadang sedang lewat di depan Viola untuk membuka pintu dengan sangat cepat Viola menghentikan langkah pak Dadang.


"Pak suara apa itu?" Tanya Viola pada pak Dadang.


"Suara bel pintu Nyonya muda," jawab pak Dadang dengan kepala tertunduk.


"Tapi, sebelumnya bukan seperti ini bunyi nya pak! Tapi bunyi nya seperti tinungg pak." Viola memperagakan seperti apa bunyi bel yang sering ia dengar.


"Nyonya muda, bel kediaman ini baru di ganti Minggu lalu. Karna, kediaman tuan muda jarang sekali menerima tamu. Makanya, nyonya muda baru mendengarkan bel itu berbunyi." Jelas pak Dadang pada Viola.


"Tapi pak kenapa bunyi nya seperti itu? Kenapa harus ada nama saya dan juga Darren saat bel itu berbunyi?" Viola semakin bertanya. Namun, orang yang di luar sudah berulang kali menekan bel tersebut dengan kasar.


"Itu karna pemilik kediaman ini tuan dan juga nyonya. Nyonya boleh kah saya membuka kan pintu utama dulu? Saya khawatir yang datang itu nyonya tertua dan juga nyonya besar." Pak Dadang berbicara dengan sangat ragu. Ia khawatir nyonya muda nya akan tersinggung jika dia berkata seperti itu.


"Oh iya pak saya lupa! Yasudah pak biar saya saja yang buka pintu nya." Ujar Viola pada pak Dadang.


"Tapi, nyonya sedang memasak." Pak Dadang masih setia berdiri di depan Viola.


"Saya sudah selesai pak! Semua nya tinggal di tata di meja makan saja." Viola tersenyum pada pak Dadang.


"Baiklah kalau begitu nyonya muda saya akan meletakkan makanan nya di atas meja dengan pelayan lain nya." Pak Dadang berbicara dengan sangat sopan nya.


"Baiklah pak!" Viola meninggalkan pak Dadang dan berjalan kearah pintu utama.


"Syukurlah aku memasak lumayan banyak hari ini! Jadi, jika itu omay dan juga mama aku bisa menyuruh mereka untuk makan bersama disini." Viola sangat bahagia. Ia tahu jika ada yang datang ke kediaman nya itu pasti omay atau pun mama Darren. Karna hanya mereka saja.yang mengetahui kediaman Darren. Dan kalau pun bukan mereka pasti itu sekretaris Bobby. Begitulah yang ada di pikiran Viola saat ini.


Sementara Vaya yang berada di luar kediaman Darren merasa sangat kesal karna menunggu terlalu lama. Terlebih lagi saat ia mendengar seperti apa bunyi dari bel pintu rumah Darren membuat nya benar-benar marah.


"Seharusnya nama ku lah yang harus di sebut di bel ini!" Vaya kembali menekan bel tersebut dengan kasar.


Saat Viola hendak membuka pintu ia memasang wajah yang tersenyum lebar dan langsung membuka pintu itu dengan perlahan.


"Omay, ma--" Viola yang membukakan pintu utama langsung terdiam melihat siapa yang datang.


"Maaf anda siapa ya?" Tanya Viola pada Vaya yang sudah berdiri di depan nya.


"Saya--"

__ADS_1


"Dia adik nya Bobby istri ku," Darren yang keluar dari lift pribadinya melihat kearah Viola yang tengah berdiri di hadapan Vaya. Betapa terkejutnya Darren saat ia melihat siapa yang datang.


"Darren," Viola membalikkan badan nya dan menatap kearah Darren.


"Kak Darren," Vaya langsung masuk begitu saja dan hendak memeluk Darren.


"Jaga batasan mu Vaya Charlton!" Tatap tajam Darren pada Vaya.


Vaya terdiam saat mendengar ucapan pria yang ia cintai begitu menyakitkan bagi nya. Darren yang masih melihat Viola menatap kearah nya dengan bingung. Darren pun segera menghampiri Viola.


"Istri ku, yuk kita makan! Bukan kah kau bilang kau sudah selesai membuat makanan untuk ku?" Darren merangkul Viola dengan erat membuat lamunan Viola buyar.


"Oh iya aku lupa Darren! Kau adik nya sekretaris Bobby ya?" Viola menatap kearah Vaya. Namun, Vaya tidak menjawab dan masih menatap kearah Darren.


"Nona kalau boleh tau nama mu siapa ya? Seperti nya kau jauh lebih tua dari ku." Viola masih berusaha untuk bertanya pada Vaya. Tapi, Vaya tetap tidak menjawab.


"Istri ku, nama dia Vaya Charlton! Usianya jauh lebih tua 3 tahun dari mu." Darren merasa tidak tega melihat Viola yang berbicara tapi tidak di jawab oleh Vaya.


"Vaya kau pulang lah! Aku ingin makan bersama istri ku." Darren tidak ingin Vaya membuat ulah di kediaman nya. Ia menyuruh Vaya untuk meninggalkan kediaman nya itu.


"Tapi aku baru datang kak!" Betapa terkejutnya Vaya saat Darren menyuruh Vaya untuk pergi ketika ia sendiri baru saja datang ke kediaman Darren.


"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin bersama istri ku saja." Tegas Darren pada Vaya.


"Darren, kau itu tega sekali sih!" Viola mencubit pinggang Darren. Mata Viola beralih ke arah Vaya.


"Aku harus memanggil mu apa ya? Kakak atau Vaya?" Tanya Viola pada Vaya.


"Kau tidak perlu sok dekat dengan ku!" Ujar Vaya dengan suara ketus nya.


"Maafkan aku! Baiklah karna kau berpikir aku tidak perlu terlalu dekat dengan mu. Sebaiknya aku memanggil mu Vaya saja ya. Lagian kau juga memanggil suamiku kakak! Jadi seharusnya aku juga harus seperti suamiku yang memanggil mu Vaya." Viola tersenyum lebar kearah Vaya.


"Istriku kau tidak perlu mempedulikan nya! Sebaiknya kita makan sekarang." Darren merasa kesal melihat kelakuan Vaya yang tidak sopan pada Viola.


"Vaya kau mau ikut makan bersama kami?" Viola masih berusaha untuk dekat dengan Vaya. Karna jujur saja dia juga ingin sekali memiliki teman yang tau di mana ia tinggal sekarang.


"Kak, boleh aku makan bersama mu?" Vaya tidak memperdulikan ucapan Viola dan malah menatap kearah Darren.


"Tidak bo--" dengan sangat cepat Viola mencubit pinggang Darren.


"Aww! Sakit tau." Bisik Darren pada Viola.


"Darren kau itu harus bersikap sopan pada tamu." Bisik Viola dengan menekankan Kalimat nya pada Darren.


"Bagaimana bisa aku menganggap nya tamu sedangkan aku sendiri tidak pernah mengundang nya untuk datang!" Darren menghela nafas nya.


"Darren!"


"Baiklah-baiklah!" Darren memutar bola matanya dengan sangat malas saat Viola sudah mulai memaksa nya.


"Kak," panggil Vaya pada Darren.


"Setelah kau makan, maka kau harus secepatnya pergi dari kediaman ku!" Tegas Darren pada Vaya.


"Baiklah kak! Setidaknya aku bisa bersama mu hari ini." Walaupun hanya sekedar makan bersama Vaya sudah sangat bahagia.


"Aneh! Ada apa dengan gadis ini? Seperti nya ia sangat terobsesi pada Darren." Pikir Viola di dalam benak nya.


"Istriku, kenapa kau melamun? Bukan nya tadi kau sangat memaksa untuk membiarkan nya makan disini." Darren menatap kearah Viola yang masih menatap kearah Vaya.


"Eh iya maafkan aku suamiku! Aku tadi melupakan sesuatu. Tapi seperti nya itu bukan hal yang penting deh." Viola berusaha mengalihkan perhatian Darren.

__ADS_1


"Kau itu aneh!" Darren menghela nafas nya melihat kelakuan Viola.


Viola hanya tertawa kecil. Ia pun menggandeng tangan Darren untuk berjalan bersama nya ke meja makan. Sedangkan Vaya berusaha untuk berjalan berdekatan dengan Darren.


Darren duduk di kursi meja makan utama. Sementara Viola duduk di sisi kanan Darren dan Vaya duduk di sisi kiri Darren. Yang melambangkan seperti bentuk segitiga.


"Kak, makanan apa ini?" Tanya Vaya dengan wajah bingung saat melihat sudah ada ikan yang hancur di matanya.


"Oh itu namanya ikan geprek! Kau belum pernah memakan nya ya?" Viola menatap kearah Vaya yang masih melihat kearah makanan nya seperti tidak menyukai makanan itu.


"Memakan nya? melihat nya saja aku tidak pernah." Dengan wajah yang tidak suka Vaya menjauhkan makanan tersebut dari pandangan nya.


"Jika kau tidak suka, maka kau tidak perlu memakan nya! Karna, aku juga tidak suka makanan yang sudah di masak oleh istri ku di makan oleh orang lain!" Darren menatap sinis kearah Vaya.


"Darren! Kau tidak boleh berkata seperti itu." Viola tidak ingin acara makan bersama menjadi acara yang canggung.


Viola beralih melihat kearah Vaya yang menunduk di hadapan makanan nya. "Vaya jika kau tidak menyukai nya kau bisa menyuruh koki disini untuk memasak makanan yang kau suka."


Viola tersenyum menatap kearah Vaya. Tapi, Vaya hanya menatap dirinya dengan tatapan tidak suka.


"Aku menyukai cara gadis ini bersikap pada orang lain. Tapi, aku sangat membenci dia karna sudah mengambil kak Darren dari ku!" Kesal Vaya di dalam hati nya.


"Tidak perlu! Aku bisa memakan roti saja." Balas Vaya dengan suara ketus nya.


"Baiklah jika kau tidak mau. Aku juga tidak akan memaksamu." Viola langsung diam dan mulai memakan makanan nya itu.


"Aku salah apa sih sama adik nya sekertaris Bobby? Seperti nya dia terlihat sangat tidak menyukai ku." Pikir Viola dan masih memakan masakan nya.


Mereka bertiga pun makan dalam keheningan. Karna, tidak ada salah satu dari mereka yang buka suara. Namun, sesekali Darren meminta Viola untuk mengambil kan nya beberapa makanan yang ingin ia makan. Akan tetapi Vaya selalu saja berusaha untuk mendapatkan perhatian Darren dan langsung bangkit dari duduk nya.


"Biar aku saja yang mengambil nya kak," Vaya bangkit dari duduk nya membuat Viola yang sudah ingin berdiri langsung duduk.


Darren menatap kearah Vaya dengan tatapan tajam nya. Saat Vaya hendak menaruh makanan tersebut keatas piring Darren. Dengan sangat cepat Darren menghentikan tangan Vaya.


"Aku sudah tidak berselera lagi!" ujar Darren dengan menatap mata Vaya yang sudah menatap nya.


"Kak kenapa kau seperti itu pada ku?" Lirih Vaya di hadapan Darren.


"Darren! Kau jangan seperti itu. Lihat lah dia mau nangis tu." Viola berusaha menenangkan Vaya.


"Aku tidak perlu belaskasian dari mu!" Vaya menghempaskan tangan Viola yang hendak menghapus air mata nya. Membuat viola sangat terkejut.


"Vaya Charlton! Keluar lah kau dari kediaman ku!" Raung Darren pada Vaya membuat Vaya menatap kearah Darren dengan tatapan tidak percaya.


Sementara Viola yang mendengar betapa tegas nya suara dari suaminya langsung membelalakkan matanya itu menatap kearah Darren.


"Darren," Viola berbicara dengan sangat perlahan. Ia sangat takut melihat Darren seperti itu.


"Diamlah di tempat mu Viola!" Darren menatap kearah Viola. Sehingga Viola hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Kak, kau membentak ku hanya karna dia?" Vaya benar-benar sangat kecewa dan juga sakit hati yang mendalam. Air mata nya itu terus saja mengalir di matanya.


"Aku sedang tidak ingin berdebat dengan mu! Sebaiknya kau pulang sekarang atau aku akan menelpon kakak mu untuk menjemput mu pulang." Suara Darren benar-benar terdengar sangat serius.


"Kau jahat kak! Walaupun kau sudah menyakiti ku tapi, aku tetap akan berusaha dengan apa yang sudah aku putuskan." Vaya juga tidak kalah kerasnya menekankan setiap perkataan yang ia lontarkan


Karna, Vaya juga tidak ingin kakak nya murka. Ia lebih memilih untuk pergi dari kediaman Darren. Perasaan campur aduk terus saja mengobrak-abrik hati Vaya. Sementara Viola masih saja diam dan tidak berbicara. Setelah melihat Vaya pergi Darren langsung menghela nafas panjang nya.


^^^Bersambung....^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2