Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 153 deal?


__ADS_3

Bandar Udara Charles de Gaulle Paris (Aรฉroport Paris-Charles de Gaulle).


Tara saat ini menutup wajah nya dengan topi dan juga masker. Karna saat mengantar kepergian kakak ipar dan kakak nya itu. Seluruh Reporter sudah berbondong-bondong ingin mengambil potret mereka. Terlebih lagi mereka semua sangat penasaran seperti apa wajah istri dari miliader dunia tersebut.


"Dek seharusnya kamu tidak usah ikut. Disini terlihat sangat berbahaya." Bisik Viola pada adik nya. Karna Viola sendiri juga memakai topi dan kacamata atas perintah suaminya itu


"Kakak tidak perlu khawatir! Para bodyguard dan juga agen rahasia kakak ipar sangat ketat menjaga kita." Tara berusaha mengurangi rasa cemas kakak nya. Sementara Darren berjalan dengan sangat gagah nya sambil menggandeng tangan Viola.


Semua Reporter sudah sibuk memotret mereka. Terlebih lagi mereka juga fokus memotret kearah Tara. karna mereka sendiri tidak tau siapa adik dari seorang istri miliader dunia itu.


Sebelum penerbangan mereka tiba, Viola merangkul adik nya dengan sangat kuat nya. Sementara Darren hanya bisa menghela nafas nya saja. Percuma dia naik pesawat umum dan bukan pribadi kalau pada akhirnya para reporter mengetahui kedatangan nya di Paris.


"Jaga diri baik-baik ya dek! Jangan buat masalah. Kasian kakak ipar mu ini mengurus masalah mu lagi disaat dia sudah lelah dengan pekerjaan nya." Nasehat Viola pada Tara.


"Aku mengerti kak," Tara terus saja memeluk kakak nya. Ia sangat rindu akan pelukan kakak nya itu.


"Kakak akan mengunjungi mu kembali saat wisuda mu tiba. Oh iya soal pria yang kau ceritakan itu. Kakak selalu mendukung apapun itu keputusan mu." Viola mencubit pipi adik nya dengan sangat gemas dan hampir saja masker adik nya terbuka.


"Istriku!" Darren menekan kalimat nya membuat Viola panik sambil membenarkan kembali masker adik nya yang hampir lepas itu.


Para wartawan disana dengan sangat cepat mengambil momen itu. Mereka berharap ada keajaiban tiba dengan terbongkar nya wajah di balik masker tersebut. Karna sampai saat ini misteri tentang adik ipar dari seorang miliarder dunia belum terpecahkan.


"Maafkan aku," Viola menatap suami nya.


"Tidak apa-apa," Darren membelai Viola dengan sangat lembut nya. Melihat kemesraan mereka membuat para reporter tidak tinggal diam dan langsung memotret momen tersebut.


"Tara kau boleh kembali sekarang. Para bodyguard dan juga agen rahasia ku akan menjaga mu." Darren memberi kode pada bodyguard nya untuk menjaga adik ipar nya. Sementara bodyguard lain nya menjaga mereka disini.


"Jika sehelai rambut nya hilang, maka kalian juga akan hilang!" Ucapan Darren sontak membuat kepala bodyguard menelan Saliva nya dengan sangat susah. Tidak hanya mereka saja Tara dan juga Viola ikut terkejut mendengar ucapan tersebut.


"Kakak ipar, makasih!" Teriak Tara dengan sangat kuat nya membuat Darren hanya tersenyum kecil saja melihat kelakuan Tara.


"Kau tersenyum?" Viola langsung menatap suami nya itu.


"Tidak,"


Darren kembali memasang wajah sehari-hari nya sembari mengandeng tangan Viola dan mereka pun melakukan penerbangan. Mereka yang berarada di penumpang VVIP membuat Viola sangat nyaman.


"Darren kita akan langsung pulang?" Tanya Viola pada suami nya.


"Tidak," jawab Darren dengan mata yang tertutup.


"Tapi, kenapa?" Tanya Viola dengan nada yang bingung.


"Kita akan ke apartemen Bobby dulu." Darren menghela nafas nya.


"Kenapa kita kesana?" Viola masih tidak mengerti akan ucapan suaminya itu.


"Karna aku akan membunuhnya!"


Degg..


Ucapan Darren membuat Viola sedikit menjauh dari nya. Bagaimana bisa suami nya berkata seperti itu dengan ekspresi yang datar tanpa beban sedikit pun. Sementara dirinya sudah hampir tidak bisa bergerak.


"Kau itu bicara apa sih?" Viola menatap suaminya dengan wajah yang tidak suka.


"Kau tidak dengar? Aku akan membunuh sekretaris brengsek itu!" Tegas Darren dengan mata yang sudah memerah saat ia membuka mata nya.


"Darren berbicara lah dengan benar." Viola menekan kalimat nya sambil memegang tangan suami nya itu.

__ADS_1


"Dia sudah menghamili sahabat mu dan bahkan akan menikahi nya."


"What's!!!" Viola langsung meninggikan suara nya begitu mendengar ucapan Darren.


"SIALL!!! BENAR-BENAR LAKI-LAKI BRENGSEK!! AKU AKAN MENGHABISI MU SEKRETARIS BOBBY!!" Viola mengepalkan tangannya itu. walaupun ia tau hal ini bakal terjadi namun, ia tetap akan marah! karna, mereka memutuskan untuk menikah tanpa memberitahu nya terlebih dahulu.


"Sayang tenang lah!" Darren langsung menenangkan istri nya yang sudah sangat marah itu


"Tenang kau bilang?? Kau tidak sadar apa yang sudah sahabat mu lakukan itu pada sahabat ku?" Viola justru memarahi suami nya itu.


"Oleh karna itu aku ingin membunuhnya tadi! Dan kau malah memarahiku." Kesal Darren melihat istrinya yang selalu saja berubah-ubah.


"Biar aku yang membunuhnya sendiri!" Mata Viola benar-benar marah hingga berhasil membuat Darren menelan Saliva nya dengan sangat susah.


"Sayang tenang kan diri mu. Kau masih belum pulih sepenuhnya!" Darren sedikit khawatir dengan kondisi Viola saat ini.


"Darren kau tidak perlu khawatir. Aku masih mampu untuk berdiril! bahkan untuk membunuh sahabat mu itu tenaga ku lebih dari cukup." Tutur Viola menatap wajah suami nya.


"Hahahaha kau itu," Darren langsung tertawa melihat ekspresi wajah istri nya dan malah menarik viola kedalam pelukan nya.


"Darren lepaskan! Aku belum selesai marah nya!" Viola berusaha melepaskan pelukan suami nya.


"Simpan untuk nanti amarah mu itu! Saat ini aku ingin bermanja dengan istri ku." Darren memejamkan mata nya sambil mengelus rambut Viola.


Viola tersenyum mendengar ucapan suami nya dan malah dia juga ikut memeluk suaminya sampai-sampai ia ketiduran karna lelah merepet saja sejak tadi.


...๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹...


Bandara Soekarno-Hatta ...


Viola dan Darren langsung menuju ke apartemen Bobby saat mereka sudah tiba di Indonesia. Di sepanjang perjalanan menuju ke apartemen Bobby, Viola terus saja mengomel tidak jelas membuat kepala Darren terasa pusing.


"Tuan muda kita sudah sampai," kata supir pribadi Darren.


Viola yang di tatap oleh suaminya menjadi salah tingkah. Ia pun tersenyum kecil lalu keluar dari mobil saat para pengawal mereka yang sejak tadi mengikuti mobil mereka dari belakang membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.


"Kau itu jangan sering marah-marah istriku! Itu tidak baik untuk kesehatan mu." Ujar Darren dengan mengandeng tangan Viola.


"Maafkan aku," Viola tersenyum pada suaminya dengan senyuman manja nya.


Darren hanya menggeleng kan kepalanya. Jujur saja sangat sulit bagi Darren untuk marah pada Viola apalagi berlaku kasar. Karna Viola adalah wanita satu-satunya yang paling ia cintai.


Mereka yang sudah berada tepat di apartemen Bobby. Langsung di sambut oleh Bobby dan juga Shelly yang sudah berada di depan pintu menunggu kehadiran mereka.


"Ubull!!!"teriak Shelly sambil berlari membuat Bobby ikut berlari karna khawatir dengan kandungan Shelly.


"Shell, Lo itu sedang hamil!" Viola menatap tajam sahabat nya.


"Jangan berlari seperti itu lain kali!" Tegas Viola kembali membuat Shelly menggaruk-garuk belakang tekuk leher nya.


"Maafkan aku," lirih Shelly sambil tersenyum pada Viola dan juga Bobby.


Sementara sang miliader yang berada di samping Darren hanya memasang wajah dingin nya membuat suasana menjadi canggung.


"Vi, ayok masuk! Aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua." Ajak Shelly dengan sangat antusias nya.


"Tu-tuan muda--" belum lagi sempat menyelesaikan ucapannya Darren justru meninggalkan Bobby disana dan langsung masuk ke apartemen Bobby sambil menggandeng tangan Viola. Hingga membuat Viola sedikit terhuyung karna langkah kaki suami nya itu.


Shelly menelan saliva nya saat melihat betapa mengerikannya nya wajah dari suami sahabat nya itu.

__ADS_1


"Ada apa dengan tuan muda mu itu?" Tanya Shelly pada Bobby sambil bergidik ngeri.


"Entah lah! Jika tuan muda sudah pasang wajah seperti itu. Maka, ku jamin hidup ku akan segera terancam." Jawab Bobby dengan mengusap wajahnya secara kasar.


"Kalau begitu aku harus membujuk Viola untuk menenangkan hati suami nya." Shelly benar-benar takut jika harus melihat kemurkaan Darren.


"Sudah lah lupakan saja. Tanpa kau membujuk sahabat mu itu, dia pasti akan menenangkan suami nya sendiri."ujar Bobby membuat Shelly menghela nafas nya.


"Sebaiknya kita masuk! Tidak baik jika kau harus berlama-lama di luar. Nanti kau dan juga baby kita bisa masuk angin." Bobby tersenyum tipis lalu menggandeng tangan Shelly berjalan masuk kembali ke apartemen nya.


Saat ini mereka sedang melihat Darren duduk dengan menyilang kaki nya dan kedua tangan yang sudah menyilang di tubuh nya membuat mereka semakin panik. Sementara Viola hanya sibuk melihat makanan serta desert yang ada di depan mereka.


"Siapa yang menyuruh mu untuk duduk?" Saat Bobby dan juga Shelly hendak duduk di sofa Darren menatap mereka dengan tatapan membunuh nya.


"Darren kau itu apa-apaan sih! Sahabat ku itu sedang hamil." Dengan sangat cepat Viola menyuruh Shelly untuk duduk.


"Istriku saat aku sedang berbicara pada mereka. Aku minta pada mu jangan ikut campur!" Darren menatap mata Viola dengan sorot mata yang serius.


"Baiklah --"


"Vi," Shelly langsung menatap sahabatnya itu


Sementara Viola berusaha mencari tau apa arti dari tatapan sahabat nya dan--


"Selagi itu tidak membahayakan sahabat ku. Maka aku tidak akan ikut campur!" Timpal Viola kembali membuat sebuah senyuman penuh arti terukir di bibir Darren.


"Deal?" Darren mengulurkan tangannya pada Viola.


"Deal!" Balas Viola dengan sangat yakin membuat Bobby dan juga Shelly mengela nafas nya secara kasar.


"Bobby Charlton! Kau tau apa kesalahan mu sekarang?" Darren menatap tajam pada Bobby.


"Saya tau apa yang saya perbuat dan saya menyesal telah melakukan itu tuan muda. Tapi, Jujur saya memang ingin dia menjadi milik saya sepenuhnya." Jawab Bobby dengan kepala tertunduk.


"Huft!" Darren menghela nafas nya dengan sangat berat. Viola.yang melihat raut wajah suaminya seperti itu sedikit takut.


"Bukan kah sudah kukatakan pada mu berulang kali. Jika kau memang mencintai seseorang maka, lindungi lah dia! Bukan menghancurkan masa depan nya!" Ucap Darren dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"Aku menyesal tuan muda. Aku benar-benar tidak tau kalau semua ini bakal terjadi." Sungguh Bobby menyesali kebodohan nya itu.


"Bobby! Sejak kapan kau menyuruh seorang gadis untuk mabuk bersama mu? Terlebih lagi menghabiskan malam dengan mu. Apakah harga diri seorang wanita tidak berarti buat mu?"


Deg!!


Bobby mendongakkan kepalanya menatap kearah Darren begitu juga dengan Shelly dan Viola. Ucapan Darren terdengar sangat santai namun, makna dari ucapan nya sangat lah tajam.


"Darr--" Bobby langsung menggeleng kepalanya, "Tuan muda, tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran ku, kalau harga diri wanita tidak ada arti nya." Nafas Bobby sudah naik turun menahan rasa amarah saat mendengar ucapan Darren.


"Lalu mengapa kau menyuruh seorang gadis minum bersama mu dan juga bermalam di apartemen mu!!" Darren mulai meninggi kan suara nya membuat seisi apartemen yang sejak tadi berada di sana langsung bergetar akan gema suara Darren.


"Aku tidak tau! Hati ku terbakar oleh amarah saat melihat nya bersama Andhika! Dan bodohnya aku malah membuat kesepakatan seperti itu agar dia bisa lebih lama bersama ku." Bobby menatap mata sahabat nya yang memerah.


"Kau memang bodoh! Bahkan kau bukan lagi seorang pria yang terkenal sebagai sekretaris Darren Abraham Khan yang kompeten. Melainkan sekretaris bodoh dan juga Brengsek!" Raung Darren pada Bobby.


"Ya kau benar tuan muda. Aku brengsek!" Bobby menundukkan kepalanya itu. Untuk pertama kali nya Darren berbicara kasar pada nya dengan wajah yang sangat serius.


"Ambil kan aku alat Stungun pocket(kejut listrik) sekarang!" Perintah Darren pada agen rahasia nya.


Wajah Viola dan juga Shelly sangat panik saat pria yang saat ini berwajah tegas mengatakan hal itu. sementara Bobby hanya memasang wajah misterius nya

__ADS_1


^^^bersambung....^^^


...****************...


__ADS_2