
"Nona Shelly jaga ucapan anda!" Bobby menatap tidak percaya dengan Shelly. Untuk pertama kali nya ia melihat amarah dari Shelly.
Sementara Vaya yang mendengar ucapan dari wanita yang ada di depan nya tidak tau harus senang atau sedih.
"Jaga ucapan ku? Anda tidak salah tuan Bobby? Apa anda berhak berkata seperti itu pada ku?" Shelly menggelengkan kepalanya. Ia merasa muak melihat tingkah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Dan anda pikir anda juga berhak memutuskan perceraian yang anda tidak ada hubungannya sama sekali!" Bobby membalas ucapan Shelly.
Kedua mata mereka saling menatap dengan sangat lama. Tatapan mata mereka jelas terlihat sangat dalam satu sama lain.
"Walaupun aku tidak berhak dalam memutuskan hal ini. Tapi aku yakin saat sahabat ku mengetahui dia kehilangan anak nya, dia tidak ada alasan lagi untuk bertahan pada hubungan kontrak ini!" Shelly tersenyum tipis pada Bobby.
"Nona Shelly anda--"
"Oh dan satu hal lagi tuan Bobby! Masalah Tara anda tenang saja aku dan juga Viola pasti bisa menyekolahkan nya disana. Atau mungkin Tara bisa pulang dan kuliah di sini! Tidak ada masalah lagi bukan?" Tutur Shelly dengan mata yang tertutup lalu terbuka kembali.
Bobby menatap kearah Shelly lalu menatap kearah sahabat nya yang kembali membeku di tempatnya itu.
"Darren, kau tidak perlu khawatir! Viola tidak mungkin meninggalkan mu. Karna aku yakin dia sangat mencintai mu dan sangat tidak mungkin bagi Viola meninggalkan orang yang dia cintai." Bobby berusaha menyemangati sahabat nya.
"Kak Darren," Vaya memegang bahu Darren membuat Shelly merasa jijik.
"Aku terlalu muak berada di sekitar orang-orang yang terlalu banyak drama!" Shelly berjalan jauh dari mereka dan mendekat kearah ruangan Viola.
"Nona Shelly anda tidak boleh masuk," Bobby hendak menghentikan Shelly.
"Tuan Bobby anda lupa apa yang di katakan dokter Andhika?" Shelly berbalik menatap kearah Bobby.
"Aku tau! Tapi yang berhak saat ini untuk menemui Viola adalah suaminya." Tegas Bobby pada Shelly.
"Suami? Dalam arti apa suami yang sebenarnya ada pada diri sahabat mu itu? Suami kontrak? Atau suami yang sedang berselingkuh di belakang istri nya?" Shelly tersenyum tipis pada Bobby.
"Nona Shelly anda benar-benar sangat keterlaluan saat ini!" Bobby tidak tau lagi bagaimana cara nya bisa menang dari perdebatan antara dirinya dan juga Shelly.
"Jika aku keterlaluan, maka orang yang lebih keterlaluan dari ku itu adalah kalian semua!" Sinis Shelly dengan melanjutkan langkahnya.
"Kak kenapa sahabat dari istri kak Darren tidak memiliki sopan santu sama sekali!" Ujar Vaya dengan suara yang agak sedikit keras membuat Shelly menghentikan langkahnya.
"Vaya! Kau jangan membuat suasana kembali panas." Bobby mengancingkan kedua gigi nya itu.
"Kak yang ku katakan benar adanya," Vaya merasa kesal terus menerus di salah kan oleh kakak nya.
"Vaya, orang yang kau hadapi bukan Viola melainkan sahabat nya!" Tekan Bobby pada Vaya.
"Memang nya kenapa jika dia sahabat dari istri kak Darren," Vaya masih melihat kearah Shelly yang masih diam jauh dari nya.
__ADS_1
"Vaya sudah cukup!" Bobby kecewa melihat sikap adik nya yang sudah sangat berubah.
Sebuah senyuman terukir kecil dari bibir Shelly. Shelly membalikkan tubuh nya berjalan kearah Vaya tanpa mengalihkan pandangannya kearah lain. mata Shelly tertuju lekat pada Vaya membuat Vaya sangat terkejut saat gadis itu hendak mendekati dirinya.
"Nona Shelly kenapa anda kembali?" Bobby yang melihat Shelly berjalan kearah mereka sedikit heran.
"Ka-kau mau apa?" Vaya sadar kearah mana jalan nya Shelly.
Shelly hanya menaikkan kedua bahu nya dengan sedikit senyum dan juga sorot mata yang sulit untuk di artikan. Saat ini Darren malah hanya diam saja tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sekitarnya itu. Ia masih merasa sangat terpukul dan terkejut dengan kejadian yang begitu cepat terjadi.
"Nona Shelly," Bobby menghentikan langkah kaki Shelly dengan cara menghadang nya. Bobby tau Shelly hendak mendekat kearah siapa.
"Menyingkir lah! Aku tidak ada urusan dengan mu." Tatap tajam Shelly pada Bobby.
"Tentu saja ini urusan ku!" Tegas Bobby dan membalas tatapan tajam Shelly.
"Baiklah karna kau bilang ini urusan mu, maka jangan salah kan aku melakukan hal ini," Shelly langsung menampar wajah Bobby dengan sangat kuat nya membuat Vaya membelalakkan matanya itu.
"Itu untuk kesalahan adik mu yang sudah menabrak ku dan juga menghancurkan kehidupan sahabat ku!" Ujar Shelly dengan wajah yang tidak bisa di artikan.
Plakk!!
Tamparan kedua lebih keras terdengar dari sebelumnya membuat Bobby sedikit meringis.
"Vaya sudah hentikan!" Bobby malah menyuruh adik nya untuk berhenti.
"Ada apa? Kau tidak terima? Bukan kah tamparan ini seharusnya untuk dirimu? Jika kau merasa bersalah maka kemari lah dan suruh kakak mu ini untuk menyingkir!" Mata Shelly sedikit membesar menatap kearah Vaya. Vaya yang mendengar ucapan Shelly memundurkan langkahnya. Ia tau pasti tamparan itu sangat menyakitkan.
"Tidak! Biar aku saja yang menerimanya. Jika tamparan ini bisa membuat amarah mu mereda. maka lakukan lah nona Shelly!" Bobby menatap mata yang penuh amarah itu dalam tatapan yang berbeda.
"Anda salah tuan Bobby! Tamparan itu bukan berarti amarah ku akan mereda. Aku hanya ingin kau merasakan betapa perih nya rasa tamparan yang aku berikan untuk mu. Dan satu hal lagi anggap saja tamparan kedua itu sebagai pengingat atas kegagalan nya diri mu sebagai seorang kakak untuk adik perempuan mu itu." Ujar Shelly pada Bobby membuat Bobby langsung terdiam.
"Dan satu hal lagi! Anda salah dengan mengatakan bahwa sahabat ku tidak akan meninggalkan suaminya itu. Ingat lah satu hal! Kelemahan seorang wanita yang paling terbesar adalah kehilangan anak nya." Ucapan Shelly membuat Darren menatap kearah nya.
"Ap-apa maksud mu?" Tanya Darren yang membuat Bobby berusaha menenangkan Darren.
"Jika kau bisa membuat cinta kalian sangat kuat. Mungkin Viola tidak akan meninggalkan mu walaupun kehilangan anak nya. Tapi, aku sendiri tidak yakin untuk hal itu. Karna alasan kehilangan anak nya adalah dari orang yang sangat ia cinta sendiri!" Ujar Shelly pada Darren.
"Nona Shelly," Bobby berusaha untuk memberitahu kan Shelly jangan tambah membuat suasana semakin keruh.
"Tuan Bobby, aku mengatakan hal yang sebenarnya! Tidak hanya Viola saja. Tapi, ini berlaku untuk semua wanita!" Tegas Shelly dan langsung meninggalkan mereka semua yang hanya terdiam saja di sana.
Darren langsung terduduk di lantai yang membuat Bobby dan juga Vaya sangat panik.
"Darren," Bobby berusaha memapah tubuh sahabat nya untuk duduk di kursi.
__ADS_1
"Kak Darren maaf kan aku! Ini semua salah ku." Vaya benar-benar merasa bersalah. Ia hanya bisa menangis saja saat ini.
Suasana sangat pilu saat ini. Shelly yang sampai di depan ruangan Viola. Membuka pintu dengan tangan yang gemetar. Langkah kaki Shelly terasa begitu gemetar. Hampir saja membuat Shelly terjatuh jika saja ia tidak berpegang pada tembok ruangan Viola.
"Vi, kenapa kau sampai seperti ini?" Air mata Shelly mengalir melihat kondisi yang begitu buruk ia lihat pada sahabat nya.
Shelly berjalan mendekat kearah Viola dan langsung memeluk tubuh Viola yang sama sekali tidak bergerak. Air mata Shelly menetes tepat pada wajah sahabat nya itu di usap nya wajah sahabat nya dengan sangat lembut.
"Apakah ini begitu menyakitkan Vi?" Isak Shelly pada Viola.
"Aku mohon seberapa menyakitkan nya yang Lo rasain. Lo harus tetap bangun Vi! Kasian Tara. Bagaimana ia bisa hidup tanpa kakak nya Vi? Dan bagaimana aku bisa bertahan tanpa dirimu Vi. Aku tidak bisa Vi! Apa yang harus aku katakan pada Tara jika ia bertanya tentang dirimu pada ku." Suara sesenggukan menjelaskan bahwa betapa sedihnya Shelly saat ini.
"Vi! Jika dia tidak menginginkan mu. Tapi, aku dan juga Tara benar-benar sangat membutuhkan dirimu Vi. Aku harus apa Vi?" Shelly menggenggam tangan Viola dan terus saja memeluk Viola dengan Isak tangis nya.
Saat Shelly mengangkat kepalanya, Shelly melihat wajah Viola yang saat ini sudah mengeluarkan air mata.
"Vi ada apa? Kenapa kau menangis?" Shelly sangat panik melihat sahabatnya terus saja mengeluarkan air mata. Tangan Viola sedikit bergerak membuat Shelly sangat terkejut dan langsung menekan tombol lalu berlari keluar ruangan untuk segera memanggil dokter.
"DOKTER!!" Teriak Shelly dengan sangat kuat ketika ia sudah keluar dari ruangan Viola.
Darren, Bobby dan juga Vaya yang mendengar teriakan dan wajah panik dari Shelly langsung berlari menghampiri Shelly dengan wajah yang sangat panik. Tidak hanya Darren, Bobby dan juga Vaya saja. Tapi, mama dan omay juga mendengar teriakan dari Shelly langsung menghampiri Shelly.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak? Apa terjadi sesuatu pada istri ku?" Tanya Darren dengan sangat khawatir nya.
"Nak ada apa?" Omay menatap wajah Shelly. Namun Shelly tidak menjawab sama sekali.
"Saya mohon ada apa sebenarnya?" Mama Darren sampai memohon agar Shelly menjawab.
Shelly tidak menjawab dan malah menarik tangan Andhika yang saat ini hendak berjalan kearah Shelly.
"Cepat lah periksa sahabat ku!" Ujar Shelly dengan wajah yang sangat panik.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Andhika pada Shelly.
"Viola terus saja mengeluarkan air mata nya dan tangan Viola tadi sedikit bergerak saat aku memeluk nya." Ujar Shelly pada Andhika.
"Kau berbuat apa pada istri ku?" Suara Darren sangat tinggi pada Shelly membuat Shelly menatap nya dengan perasaan yang kembali kesal.
"Bukan urusan mu!" Tekan Shelly pada Darren membuat semua orang yang ada di sana terdiam.
Shelly berjalan masuk ikut bersama dokter Andhika. Ia sangat khawatir dengan kondisi sahabat nya. Sementara Darren yang berada di luar hendak masuk kedalam namun tangan nya di tahan oleh mama nya.
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1