
Setelah 30 menit berlalu Darren pun sudah selesai membersihkan tubuhnya itu. Di lihat nya seluruh ruangan di kamar nya sudah tidak terlihat sosok wanita yang sangat ia cintai. Darren sangat panik saat ia melihat infus yang ada di tangan Viola sudah ada di atas nakas.
"Istriku," panggil Darren dengan suara yang agak besar.
"Viola! Dimana kau?" Darren benar-benar sangat khawatir.
"Sebaiknya aku pakai pakaian terlebih dulu." Dengan sangat tergesa-gesa Darren pun melangkah kan kaki nya keruangan pakaian nya.
Tidak menunggu waktu yang lama Darren sudah selesai memakai kaos hitam dan celana santai nya. Darren langsung mengambil walkie talkie nya itu.
"Dengar! Apa kalian semua melihat dimana istri ku berada?" Tanya Darren melalui walkie talkie nya.
"Ja-jawab tuan muda. Saat ini nyonya muda sedang memasak di dapur." Jawab pak Dadang dengan suara yang sudah ketakutan.
"Apa!!!" Darren yang mendengar ucapan pak Dadang langsung marah besar.
Tanpa basa-basi lagi Darren langsung keluar kamar nya menuju ke lift pribadi nya dan langsung menekan tombol 1.
"Viola! Kenapa kau selalu seperti ini." Geram Darren sambil mengepal kedua tangan nya itu.
Setelah cukup lama Darren berada di dalam lift. Akhirnya nya pintu lift pun terbuka dan melihat kan dimana ia sudah berada. Dengan sangat cepat nya Darren berjalan menuju kearah dapur milik nya itu.
"Viola Talisa!!" Sentak Darren saat ia tengah melihat Viola yang terus saja sibuk dengan masakan nya.
"Darren," Viola sempat terkejut sesaat ketika namanya di panggil seperti itu. Namun, rasa terkejut Viola hilang dan langsung berubah menjadi sebuah senyuman.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Mata Darren menatap kearah Viola dengan sangat tajam nya.
"Darren kenapa pagi-pagi seperti ini kau sudah marah-marah gak jelas sih." Viola mengelus telinga nya yang sejak tadi mendengar nada tinggi dari suaminya itu
"Kembali ke kamar mu!" Perintah Darren dengan suara yang sangat serius.
"Ta-tapi aku belum selesai membuat kan mu sarapan Darren." Viola menatap kearah makanan yang ia masak lalu beralih menatap kearah Darren.
"Kembali ke kamar mu!" Kali ini suara Darren benar-benar sangat di tekan membuat Viola membeku di tempatnya.
Darren langsung menghela nafas nya itu saat ia melihat Viola tidak juga bergerak. Dengan menahan emosi nya Darren langsung mendekati Viola dan mengendong Viola di depan semua pelayan yang ada, membuat Viola semakin terkejut.
"Jika saya melihat kejadian seperti ini terulang lagi. Maka, habis lah kalian semua!" Raung Darren pada mereka semua sebelum meninggal kan para pelayan tersebut.
Para pelayan yang mendengar ucapan dari tuan muda mereka hanya bisa menelan Saliva nya dengan susah. Sementara pak Dadang berusaha menggelap keringat nya yang sejak tadi keluar.
"Bagaimana bisa saya melarang singa betina jika ia menginginkan sesuatu. Jika saya melakukan itu sama saja saya mengantar kan nyawa saya secara cuma-cuma pada malaikat pencabut nyawa tuan muda!" Gumam pak Dadang dan mendengus kesal saat tuan muda nya itu sudah pergi.
"Kembali lah bekerja! Apa yang sedang kalian lihat."pak Dadang yang sadar akan sesuatu langsung membentak pelayan yang masih diam di tempat mereka sambil menatap kepergian tuan muda nya itu.
"Ba-baik kepala pelayan." Jawab mereka secara bersamaan dan langsung bubar melanjutkan pekerjaan mereka kembali.
"Kediaman ini benar-benar sudah berubah." Pak Dadang menggelengkan kepalanya dan kembali melihat seluruh kediaman agar tetap aman.
Sementara Darren yang sudah kembali berada di dalam kamar mereka langsung meletakkan tubuh Viola secara perlahan diatas ranjang.
"Viola Talisa!" Darren menatap tajam Viola membuat Viola bergidik ngeri.
__ADS_1
"Da-darren kenapa kau marah pada ku?" Viola berusaha merangkul tangan suaminya itu. Namun Darren menghindar dari Viola.
"Tentu saja aku marah jika kau sulit untuk di atur Viola." Nafas Darren sudah naik turun. Ia tidak ingin lepas kendali saat sedang marah.
"Aku kan tidak melakukan apapun." Ketus Viola dengan wajah yang menunduk.
"Tidak melakukan apapun kau bilang? Lalu ini apa!" Darren menunjukan infus yang sudah Viola lepas.
"Dan yang ku lihat di dapur ku, kau sedang melakukan apa?" Timpal Darren kembali dengan nada yang cukup marah
"Darren tentu saja aku sedang masak." Jawab Viola dengan wajah yang merasa tidak bersalah.
"Istriku! Sudah berapa kali ku katakan pada mu untuk tidak melakukan apapun yang tidak seharusnya kau lakukan!" Tegas Darren pada Viola.
"Tapi memasak untuk mu itu memang harus ku lakukan Darren. Kau itu suamiku!" Viola tampak kesal saat Darren berkata seperti itu pada nya
"Ya! Kau benar aku memang suamimu. Tapi, untuk hal seperti itu aku tidak kekurangan pelayan untuk melakukan nya." Balas Darren menatap Viola.
"Darren! Itu hal yang berbeda. Aku ingin melakukan nya sendiri untuk mu. Terlebih lagi itu adalah tugas ku sebagai istri mu." Viola membuang muka nya menatap kearah lain.
Darren yang melihat Viola seperti itu hanya mengusap wajah nya dengan kasar dan perlahan menghembuskan nafas nya.
"Sayang, kau tau bukan selama ini aku tidak pernah melarang mu memasak untuk ku." Darren mendekati Viola dan memegang tangan Viola.
"Lalu kenapa sekarang kau melarang ku?" Viola menyingkirkan tangan suaminya itu secara perlahan.
"Itu karna kau belum sembuh sepenuhnya sayang." Darren membalas tatapan Viola yang mengarah padanya.
"Istriku, jika kau tidak ingin membuat ku jadi orang gila. Maka, turuti lah aku dan tidak melakukan apapun untuk sementara waktu! Sampai kau benar-benar sudah di pastikan sembuh sepenuhnya oleh Kasella. maka aku akan mengijinkan mu kembali untuk memasak." Tegas Darren dengan wajah yang berusaha mengontrol emosi nya.
"Tapi--"
"Viola, kau tidak tau betapa hancur nya aku saat melihat mu koma di rumah sakit. Betapa hancur nya aku saat mengetahui kau keguguran disaat aku sendiri tidak tau kau sedang mengandung. Dan kau tau? Aku benar-benar merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada mu. Terlebih lagi kau meminta cerai dengan ku! Jadi ku mohon jangan buat aku gila karna mu Viola Talisa!" Suara Darren terdengar sangat serius oleh Viola.
Viola menatap Darren dengan tatapan yang lumayan terkejut. Untuk pertama kali nya Darren mengutarakan hal yang sulit untuk di katakan oleh dirinya sendiri pada Viola.
"Darren maafkan aku! Aku janji tidak akan membuat mu khawatir lagi." Viola juga merasa kan hal yang sama seperti Darren. Ia langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.
"Bagus lah jika kau mengerti." Darren tersenyum tipis dan mengelus rambut Viola. Darren juga mencium rambut Viola yang sangat candu wangi nya bagi Darren.
"Darren, aku janji akan memberikan mu keturunan yang sangat langkah." Bisik Viola dengan suara menggodanya.
"Kau mau memberikan baby Darren untuk ku?" Darren menaikkan kedua alis nya itu menatap wajah Viola.
"Emh," Viola langsung menganggukkan kepalanya.
"Jika begitu maka, cepat lah kau sembuh! Karna kau tau betul bukan? Aku sangat tidak tahan jika melihat tubuh mu yang sexy ini!" Bisikan Darren benar-benar langsung membuat Viola menelan Saliva nya itu.
Sudah setengah jam lama nya mereka berada di dalam kamar. Saat ini Viola tengah memakan makanan yang di bawa oleh para pelayan untuk dirinya dan juga Darren. Saat tengah makan Viola ingat akan sesuatu dan langsung menatap kearah Darren.
"Ada apa?" Darren yang merasa di tatap hanya bersikap santai saja dan tetap melanjutkan makannya
"Darren, kau tau sahabat ku bukan?" Viola menatap wajah Darren dengan penuh penyelidikan nya.
__ADS_1
"Emh," Darren hanya membalas perkataan Viola dengan singkat.
"Iss, Darren! Bisa tidak kau mendengar kan ku dulu dengan serius." Ketus Viola ketika melihat wajah suaminya yang tidak peduli sama sekali.
"Baiklah," Darren menghela nafasnya lalu berhenti untuk memakan makanan nya saat
ini.
"Aku ingin ajak Shelly ke kediaman kedua mu." Ucap Viola dengan nada yang sangat semangat
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
Darren yang mendengar ucapan Viola langsung tersedak saat ia sedang minum air putih.
"Sayang kau bercanda ya!" Darren mengelap mulut nya itu.
"Aku serius suami ku." Viola memasang wajah imut nya di hadapan Darren.
"Tidak boleh!" Tanpa berpikir panjang Darren langsung tidak menyetujui permintaan konyol istri nya.
"Tapi kenapa?" Viola yang tidak terima keputusan Darren hanya menatap Darren dengan wajah yang kesal.
"Istriku! Dia orang luar. Tentu saja tidak bisa masuk ke kediaman ku sembarangan." Jelas Darren pada Viola.
"Dia sahabat ku Darren!" Tegas Viola dengan wajah yang sudah cemberut.
"Aku tau dia sahabat mu. Tapi, tetap saja dia orang luar sayang." Tekan Darren kembali pada istri nya.
"Kau tidak adil Darren! Bobby saja boleh keluar masuk kediaman ini sesuka hati nya. Masa sahabat ku sendiri tidak boleh." Rajuk Viola.
"Itu hal yang berbeda istriku. Bobby sekretaris ku tentu saja dia harus kemari." Ujar Darren.
"Tapi sama saja Darren! Dia kan juga sahabat mu. Darren aku mohon! Aku sangat kesepian berada di kediaman sebesar ini. Terlebih lagi saat kau sedang bekerja. Pasti tidak ada satu pun orang yang mau menemani ku." Rengek Viola dengan merangkul tangan suaminya.
"Disini ada Wati! Kau bisa mengobrol dengan nya." Darren tersenyum tipis pada Viola.
"Darren! Kenapa kau tidak ngerti sih. Wati itu tidak tau sepenuhnya tentang ku. Terlebih lagi dia selalu merasa tidak enak jika duduk bersama ku. Berbeda dengan Shelly yang sudah tau gimana aku." Viola langsung meninggalkan Darren dan berjalan kearah ranjang mereka.
Darren memejamkan kedua matanya lalu membuka nya kembali. Ia berjalan mendekati istri nya yang saat ini sedang ngambek pada nya.
"Baiklah kau boleh membawa sahabat mu kemari." Ujar Darren dengan suara berat nya.
"Benarkah?" Viola yang mendengar ucapan Darren spontan langsung duduk.
Darren menganggukkan kepalanya sambil merasa sangat gemas melihat tingkah lucu istri nya saat ini.
^^^Bersambung......^^^
...****************...
__ADS_1