
"Tarik nafas mu perlahan agar pusing nya menghilang." Vaya langsung mengambil semua perlengkapan yang ia butuh kan.
"Bagaimana kalau aku hamil?" Shelly sedikit takut. Ia belum siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tentu saja aku akan menyuruh nya untuk bertanggung jawab." Ujar Vaya dengan sangat mudah nya.
"Aku belum siap! Aku sendiri tidak tau bagaimana rasa nya bercinta. tapi, sekarang tiba-tiba saja sudah ada janin di rahim ku." Timpal Shelly kembali.
"Bagaimana bisa kau tidak tau rasanya?" Vaya menatap kearah Shelly sambil melakukan pemeriksaannya.
"Dia menyuruh ku meminum wine milik nya dan tanpa sadar kami sama-sama mabuk dan melakukan itu. Jika aku tidak menuruti nya dia tidak akan membiarkan ku pulang." Jelas Shelly pada Vaya.
"Brengsek! Berani sekali dia melakukan itu." Geram Vaya ketika mendengar apa yang diucapkan gadis yang sedang ia periksa.
"Kenapa kau marah pada nya? Bukan kah kau sendiri membenci ku?" Shelly menatap wajah Vaya. Ia tidak sangka gadis yang selama ini dia benci tidak seperti yang ia bayangkan kan.
"Aku tidak membenci mu. Aku hanya tidak menyukai karakter mu saja." Balas Vaya.
"Bagaimana?" Tiba-tiba saja kedua pria tersebut sudah masuk kedalam ruangan USG tersebut.
"Dia hamil. Kandungan nya baru berusia 2 Minggu." Vaya menatap tajam kearah kakak nya.
"Akan ku habisi kau kak!" Ucapan adik nya tidak mempan sama sekali untuk Bobby.
"Dan kau! Kenapa kau ceroboh sekali. Saat tengah hamil bisa-bisa nya mengonsumsi obat dengan dosis yang tinggi." Vaya menepuk bahu Shelly membuat Shelly sedikit terkejut.
"Kalau aku tau aku hamil aku tidak akan meminum obat itu." Shelly sedikit menyesal karna hampir saja membahayakan kandungan nya
Andhika masih terdiam di tempatnya. Ia masih sangat bingung dengan semua yang terjadi.
"Ada apa?" Bisik Vaya pada Andhika.
"Kenapa keluarga kalian begitu rumit?" Bisik Andhika pada Vaya.
"Sebenernya keluarga ku dan keluarga kak Darren tidak rumit. Hanya saja orang-orang nya yang membuat semua ini menjadi rumit." Vaya tersenyum kecil dan mengedipkan mata nya itu.
Andhika menatap heran pada Vaya. Gadis yang dulu nya sangat manja kini berubah drastis.
"Kak, kau harus menikahi nya. Aku akan menghubungi Daddy dan mommy." Ujar Vaya pada Kakak nya.
"Aku belum siap," Shelly langsung menyela perkataan Vaya.
"Siap tidak siap, kau memang harus menikah! Pikirkan anak mu. Jangan pernah bilang kau mampu membesarkan nya sendiri. Karna dia juga butuh sosok Daddy nya." Ucapan Vaya membuat Shelly terdiam.
"Selagi aku kembali ke London dan mengurus semua nya. Kakak jaga gadis ini dan juga janin nya. Karna saat ini kondisi kandungan nya sangat lemah akibat obat yang dia minum." Vaya menepuk bahu kakak nya.
"Terimakasih Vaya." Bobby merasa sangat bersalah karna sudah mendiami adik nya selama sebulan ini. Tapi disaat seperti ini justru Vaya lah yang membantu nya.
"Jangan berterima kasih dulu pada ku. Karna aku belum kasih kakak pelajaran! bisa-bisanya kau mengambil kehormatan nya begitu saja." Vaya menatap tajam Bobby.
"Aku salah, dan aku menyesal akan hal itu. Namun, aku juga sangat ingin memiliki nya." Ucapan Bobby membuat Shelly menatap Bobby sangat dalam.
"Baiklah kak, kuharap kau tidak pernah menyakiti nya. Dan jika itu terjadi maka, aku akan menjadi orang pertama yang memusuhi mu." Vaya menekan bahu kakak nya.
"Dan kau kak kasella! Cepat antar aku ke bandara! 30 menit lagi pesawat yang akan ku tumpangi lepas landas." Kesal Vaya pada sahabat kakak nya itu yang sejak tadi hanya diam saja.
"What's kenapa kau baru mengatakan nya?" Andhika yang terkejut langsung menarik tangan Vaya tanpa melepaskan jas dokter nya.
"Kau lupa kenapa aku marah-marah saat datang kerumah sakit mu ini?" Vaya mengingat kan kembali pada Andhika yang sudah berjanji akan mengantar nya saat ia akan pulang nanti.
"Oh sorry baby," Andhika tersenyum kecil melihat wajah Vaya sedikit cemberut.
Disisi lain Bobby masih berdiri diam di tempat nya. Ia merasa ragu mendekati Shelly karna Shelly hanya diam saja tanpa ekspresi sedikit pun.
"Aku haus," Bobby yang mendengar suara Shelly langsung mendekati Shelly.
"Kau ingin minum?" Tanya Bobby pada Shelly dan di jawab dengan anggukan kepala.
"Pelan-pelan," Bobby mengelus belakang Shelly saat Shelly tersedak oleh minuman nya.
__ADS_1
"Aku hamil?" Shelly kembali memastikan hal yang ia sendiri masih tidak percaya.
"Emh, kau hamil. anak kita!" Bobby tersenyum pada Shelly sambil mengelus perut rata Shelly.
"Tuan bukan kah ini terlalu tiba-tiba buat ku dan juga buat mu. untuk menjadi seorang ayah dan juga ibu?" Shelly menatap wajah Bobby dengan sangat dalam nya.
"Tentu saja tidak. Aku sudah siap dan aku senang sekali menjadi seorang Daddy. Shelly, ku mohon jangan memanggilku tuan. Kau harus memanggil nama ku atau dengan panggilan sayang." Ucapan Bobby langsung membuat wajah Shelly memerah.
"Ada apa? Kau baik-baik saja kan? Apa masih terasa pusing?" Bobby langsung memijat kepala Shelly dengan sangat lembut.
"Terimakasih," Shelly tersenyum dan mulai memejamkan mata nya itu.
Saat Shelly sudah tertidur dengan sangat perlahan Bobby mengangkat tubuh Shelly kembali menuju ke kamar VVIP milik tuan muda nya. Agar Shelly tidak merasa sakit pada tubuh nya saat tidur. Terlebih lagi saat ini Shelly sedang mengandung anak nya.
...🎋🎋...
Mansion utama Paris.
Darren menatap ke handphone nya saat mendengar ponselnya berbunyi.
"Ada apa?" Tanya Darren saat ia sudah mengangkat panggilan tersebut .
"Aku akan segera menikah,"
"What's??" Darren yang mendengar nya langsung berdiri dari duduk nya.
"Dia hamil dan aku harus bertanggungjawab." Ujar Bobby pada Darren yang langsung membuat emosi Darren menyulut.
"Bobby Charlton!!!"
"Aku tau aku salah!!" Bobby langsung lemas mendengar suara Darren yang sudah sangat murka.
"Bersiap lah kau saat aku kembali nanti!" Darren langsung memutuskan panggilan nya itu membuat Bobby semakin panas dingin.
Darren melempar ponsel nya dengan sanga kuat hingga ponsel tersebut hancur pada diding ruang kerja nya.
"Berani sekali kau melakukan itu pada sahabat istriku Bobby!" Geram Darren dengan mengepalkan tangannya.
Jika memang Bobby sudah tidak tahan kenapa tidak langsung menikah saja. kenapa malah mengambil kehormatan gadis tersebut apalagi sampai hamil.
"Darren," Viola mengetuk pintu kerja suami nya.
"Masuklah sayang," saat ia sudah mulai tenang dengan emosi nya. Darren langsung menyuruh Viola untuk masuk.
"Ada apa?" Tanya Viola saat melihat ponsel milik suami nya sudah hancur.
"Aku tidak sengaja menjatuhkan nya." Jawab Darren dengan sangat santai nya.
"Darren bagaimana bisa kau se ceroboh itu." Viola ikut merasa sakit hati melihat handphone yang sangat mahal rusak begitu saja.
"Kita bisa membelinya lagi." Darren mengambil ponsel tersebut dan membuang nya ketempat sampah membuat Viola semakin sakit hati.
"Memang orang kaya bisa semau nya saja!" kesal Viola menatap kearah tempat sampah.
"Kau sudah makan?" Darren memilih mengalihkan pembicaraan nya dari pada harus berdebat dengan istri nya itu
"Em sudah," Viola tersenyum pada pria yang kini sudah sepenuhnya menjadi milik nya dan juga mencintai diri nya.
"Darren," panggil Viola.
"Ada apa sayang," Darren kembali duduk di kursi kerja nya sambil melihat beberapa berkas membuat Viola sangat kesal.
"Kau sudah tidak mencintai ku lagi ya?" Viola menatap kearah suaminya.
"Kau bicara apa?" Darren yang mendengar ucapan Viola pun langsung menghentikan kegiatan nya itu.
"Soalnya kau lebih memperhatikan kertas-kertas itu daripada aku," ketus Viola.
"Come here baby!" Darren menepuk paha nya memanggil Viola.
__ADS_1
"Ha?" Viola yang tidak mengerti hanya bisa menatap Darren dengan tatapan tanda tanya.
"Sini, duduklah di pangkuan ku!" Ujar Darren kembali.
"Ada apa?" Viola tersipu malu sembari duduk di pangkuan suami nya.
"Kau tau sayang? Perusahaan saat ini sedang mengalami masalah. Jadi aku harus sedikit memperhatikan nya." Terang Darren pada istri nya.
"Apa masalah nya besar?" Tanya Viola dengan wajah cemas.
"No baby, masalah nya tidak terlalu besar. Hanya saja perusahaan ku itu terlalu banyak, sehingga aku harus sangat teliti dalam menangani nya." Darren membelai rambut Viola.
"Aku mencintaimu," tiba-tiba saja Viola mencium bibir suami nya itu dengan penuh kasih.
"Istriku," Darren tersenyum tipis melihat kelakuan Viola.
"Ada apa? Kau tidak suka?" Viola memainkan dada bidang suami nya dengan wajah yang menggoda.
"Istriku kau sedang menggoda ku?" Darren menatap wajah Viola dengan seringai tipis di wajah nya.
"Tidak," Viola pun langsung menghentikan kegiatan nya itu. Karna, ia tidak mau kalau suami nya mengajak bermain di ruang kerja ini.
"Kau mau kemana?" Saat Viola ingin berdiri dari pangkuan Darren. Dengan sangat sigap Darren menarik tangan Viola hingga membuat Viola kembali terduduk.
"Aku mengantuk," Viola menguap di depan wajah Darren dengan sengaja.
"Istriku, kau pikir semudah itu bisa melarikan diri dari ku setelah kau menggoda ku?" Senyum kecil terukir di bibir Darren membuat Viola menelan Saliva nya itu
"Suamiku, sudah kukatakan pada mu. Aku tidak menggoda mu sama sekali!" Balas Viola dengan suara percaya dirinya.
"Baiklah kalau memang kau tidak menggoda ku. Maka, aku yang akan menggoda mu." Darren langsung mencium leher jenjang istri nya membuat Viola mengancingkan gigi nya itu.
"Tidak," Viola mendorong pelan tubuh Darren.
"Tara ada disini!" Timpal Viola kembali dengan nafas yang sudah naik turun. Entah mengapa sentuhan suaminya itu benar-benar bisa membuat nya gila.
"Tenang sayang, dia tidak akan ke sini." Ucap Darren yang malah sedang bermain-main di bagian atas Viola
Saat Darren hendak membuka beberapa kancing baju tidur yang Viola gunakan membuat jantung Viola terus saja berdebar ketika ia melihat wajah tampan suami nya.
"Darren, sebaiknya kita kembali ke kamar dulu," Viola sudah tidak tahan lagi saat suami nya mulai menj*lati kedua aset milik nya.
"Aku ingin melakukan nya disini." Balas Darren yang masih menikmati tubuh Viola.
"Ahh, Darren aku tidak tahan!" Tubuh Viola bergejolak begitu hebat ketika Darren memasukkan jari nya di bagian inti Viola..
Darren menyeringai penuh kemenangan saat suara istri nya keluar dengan sangat merdunya. Membuat birahi Darren memuncak dan ingin segera melakukan penyatuan nya.
"Kakak ipar, ada apa memanggil ku?"
ARGHHHHHHHHH!!!!!
Tara langsung berteriak begitu kuat nya saat melihat apa yang sedang dilakukan oleh kakak nya dan juga kakak ipar nya.
Dengan wajah yang pucat dan tubuh gemetaran Tara segera menutup kembali pintu tersebut dengan sangat kuat membuat Viola mengerutuki kebodohan nya itu. Karna sudah membiarkan Darren melakukan hal intim di ruang kerja milik nya.
"Darren lihat lah sekarang! Adik kecil ku itu melihat semua nya." Kesal Viola pada Darren.
"Rapikan pakaian mu," Darren yang sedang merapikan pakaian nya. Ia juga tidak lupa menyuruh Viola untuk merapikan pakaian nya.
"Tunggu dulu!" Saat Darren hendak membuka pintu Viola langsung menghentikan langkah Darren.
"Ada apa istriku?" Darren menghela nafas nya.
"Bukan kah kau bilang Tara tidak akan masuk keruang kerja mu? Tapi kenapa sekarang ia malah menyaksikan hal memalukan ini?" Selidik Viola saat ia ingat apa yang dikatakan Darren.
Darren menghela nafas nya. Karna, ia sendiri juga lupa sudah menyuruh adik ipar nya untuk datang keruang kerja nya itu.
^^^. Bersambung.....^^^
__ADS_1
...****************...