
Darren yang melihat wajah istri nya seperti itu merasa sangat gemas dan ingin sekali mencubit pipi tembem Viola. namun, Darren berusaha menahan keinginan nya itu.
"Istri ku! Kau itu sedang terluka jadi jangan banyak bersuara. Karena itu akan banyak mengeluarkan tenaga mu. Jadi aku tidak ingin kau mengeluarkan tenaga mu lagi." Darren menyuruh Viola duduk dan menyuruh para pelayan untuk menghidangkan beberapa menu makanan sehat untuk Viola.
"Darren aku tidak suka makanan ini." Viola merasa aneh melihat makanan yang di hidangkan padanya.
"Makanan ini sehat untuk mu. Jadi makan lah dan jangan banyak berulah!" Kali ini ucapan Darren pada Viola sangat tegas.
"Baiklah." Viola yang tau akan tatapan suaminya itu langsung menuruti perintah suaminya.
"Good girl! Kau harus patuh pada ku, jika tidak kau tau bukan istri ku apa yang akan aku lakukan padamu?" Darren pun tersenyum dengan senyuman licik nya pada Viola.
"Tidak, tidak! Aku akan menuruti mu Darren. Kau tidak perlu menghukum ku." Dengan segera Viola memakan makanan yang di hidangkan pada nya itu. Viola terpaksa melakukan nya karna dia sendiri tidak ingin Darren melakukan hal yang gila ketika mereka berada di kediaman pertama nya.
"Bagus! Sekarang habis kan lah makanan mu itu. Aku ingin keruang kerja ku untuk menyelesaikan beberapa dokumen penting " Darren pun bangkit dari duduknya dan membelai rambut istri nya itu.
"Baiklah Darren, oh iya Darren! Adik ku ada dimana ya? Dari semalam aku tidak melihat nya?" Viola yang menyadari adik nya tidak berada di kediaman ini mulai merasa sangat khawatir.
"Kau tenang lah! Adik mu sudah meminta izin pada ku kemarin untuk menginap semalam saja di rumah teman nya. Dia juga katanya ingin menjumpai sahabat mu, agar bisa menemui kakak nya ini." Jelas Darren pada Viola dengan nada santai nya.
"Apa!! Darren kau itu gila ya? Mengapa kau mengijinkan adik ku bertemu dengan Shelly? Kau tidak tau apa kalau aku sedang di culik. Jika adik ku tidak menemukan keberadaan ku di rumah Shelly bagaimana? Kau tidak berpikir apa!" Ujar Viola dengan nada tingginya membuat semua yang ada di sana langsung terkejut. Untuk pertama kali nya ada seorang perempuan yang berani berbicara tinggi pada tuan muda nya itu.
"Heyy!! Kau sedang membentak ku." Sentak Darren pada Viola dengan tatapan tajam dan dingin nya membuat suasana menjadi mencekam.
"Darren, bukan itu maksud ku. Aku hanya terkejut saja mendengar jawaban mu. Makanya aku berbicara seperti itu." Viola yang melihat semua orang ketakutan mulai angkat suara walaupun sebenarnya dia lebih takut jika di bandingkan mereka semua.
"Viola Talisa! Jangan sementang aku bersikap lembut padamu, kau bisa melakukan semua hal dan berbicara sesuka hati mu pada ku!" Darren yang masih emosi dengan Viola kini semakin menatap nya.
"Darren maaf kan aku." Viola menatap mata suaminya itu dengan sangat intens. Viola pun tertunduk ketika suaminya itu menatap nya dengan sangat tajam.
"Darren aku sungguh menyesal, aku tidak bermaksud membentak mu," Viola menetes kan air mata nya itu karna takut.
Darren yang masih emosi dengan amarah nya memilih untuk pergi dari hadapan istri nya itu. Dia tidak ingin bertindak di luar kendali nya pada Viola. Jujur saja melihat Viola menangis di hadapan nya membuat Darren sedikit terluka. Namun, karna harga Darren terlalu tinggi dia memilih untuk meninggalkan Viola disana bersama pelayan yang lain.
"Darren kau mau kemana?" Viola yang dari tadi tertunduk langsung mengangkat kepalanya ketika melihat Darren menjauh dari nya.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!!" ujar Darren dengan suara tinggi nya.
Pelayan yang berada di taman masih merasa ketakutan dan juga kasian melihat nyonya muda nya itu menangis di hadapan mereka. Dan untuk pertama kali nya juga mereka sangat terkejut mendengar nyonya muda nya membentak tuan nya itu.
Pak Dadang yang mengerti akan gerak gerik dari para bawahan nya itu dengan segera menatap mereka semua. Pak Dadang tidak ingin satu kata saja terucap dari mulut bawahannya itu tentang nyonya dan juga tuan nya tersebut. Mereka yang mendapati tatapan dari kepala pelayan dengan segera kembali menundukkan kepalanya.
"Kalian pergilah!" perintah Viola pada mereka semua dengan air mata yang masih mengalir.
"Tapi, nyonya muda. Nyonya belum memakan semua makanan ini." Pak Dadang berusaha membuat nyonya nya itu kembali fresh seperti biasanya.
"Tidak usah, saya tidak berselera hari ini pak. Kalian saja yang makan! Saya ingin kembali kekamar dulu." ujar Viola lagi pada mereka semua.
"Baik nyonya muda." Pak Dadang yang tahu akan situasi nya memilih untuk mengikuti saja apa ucapan nyonya muda nya. Begitu juga dengan yang lain nya.
Viola melangkah kan kaki nya perlahan menuju kembali kedalam kediaman suami nya itu. Yang jarak nya juga lumayan jauh dari taman belakang karna halaman kediaman tersebut sangat lah luas.
"BRUKK!!!" Viola yang sejak tadi merasa pusing di kepala nya langsung terjatuh ketika ia sedang berjalan menuju ke dalam.
"NYONYA MUDA!!" pak Dadang yang melihat nyonya nya itu terjatuh langsung terkejut dan berlari kearah nyonya nya.
"Pak nyonya berdarah." Wati yang melihat ada darah yang keluar dari kepala nyonya muda nya semakin merasa khawatir.
"Darah? Dimana?" Mendengar ucapan dari bawahannya pak Dadang semakin takut dan gemetar.
"Di kepala nyonya muda pak. Pak mengapa di taman ada batu?" Wati semakin khawatir ketika melihat ada batu kerikil yang kecil dan sangat runcing berada di kepala nyonya muda nya.
"Gawat!! Bagaimana jika tuan tau tentang hal ini? Kita semua sedang berada dalam masalah." Pak Dadang semakin gelisah ketika melihat ada batu di taman tuan nya itu. "Kau! Angkat tubuh nyonya muda sekarang." Pak Dadang pun menyuruh Wati untuk mengangkat tubuh nyonya muda nya. Karna sangat tidak mungkin jika pak Dadang yang mengangkat nyonya muda nya itu. Bisa-bisa masalah nya akan semakin parah.
"Tapi, pak! Bagaimana jika tuan marah? Lagian saya juga tidak kuat angkat nyonya sendiri pak." Bukan niat Wati menolak perintah atasan nya itu. Namun dia sendiri juga takut jika tuan muda nya marah.
"Kau, kau, kau dan kau!! Cepat bantu dia untuk mengangkat nyonya muda!" Perintah pak Dadang pada mereka. Namun mereka tidak juga bergerak.
"Cepat lah!!!" Raung pada pak Dadang ketika melihat darah di kepala nyonya nya itu terus mengalir. "Kalian lupa siapa tuan Darren? Dia akan lebih murka lagi jika melihat keadaan istri nya seperti ini!" Bentak pak Dadang pada mereka. Mereka yang sangat terkejut dan ketakutan pun langsung mengangkat tubuh nyonya muda nya dengan sangat hati-hati.
Wati yang melihat darah dari nyonya muda nya terus mengalir berusaha menahan aliran darah itu agar berhenti keluar.
__ADS_1
"Pak kita letakkan tubuh nyonya muda di sofa saja ya? Kami semua sudah tidak kuat berjalan dari taman belakang menuju ke lantai 2 lagi pak." Ujar salah satu pelayan wanita pada pak Dadang.
"Baiklah kalian boleh letakkan tubuh nyonya muda di sofa. Saya akan menghubungi tuan melalui intercom yang ada di lantai bawah." Pak Dadang berjalan mendekat kearah intercom dengan langkah yang gemetar.
"Baik pak." Jawab mereka dengan serentak dan terus saja menaruh minyak kayu putih di kepala dan hidung nyonya muda nya itu agar lekas sadar. Mereka juga menaruh Betadine dan memperban kepala nyonya muda nya itu agar tidak semakin parah.
Pak Dadang menekan tombol pada layar intercom dan berdiri di hadapan intercom dengan wajah yang tertunduk. Darren yang berada di ruang kerja nya melihat ada suara dari intercom yang ada di ruang kerja nya langsung melihat kearah intercom tersebut.
"Ada apa?" Tanya Darren dengan suara dingin nya. Karena suasana hati Darren saat ini benar-benar sangat buruk.
"Tu-tuan muda!" Pak Dadang berusaha mengatur nafas nya itu. Namun sulit bagi nya ketika mendengar suara dari tuan muda nya. Mendengar suara nya saja pak Dadang sudah ketakutan setengah mati. Apalagi melihat kemurkaan tuan nya itu. Dan baru kemarin tuan nya sudah memperingati mereka.
"Berbicara lah dengan benar! Saya tidak suka orang yang berbasa-basi." Darren menghela nafas nya dengan sangat kasar.
"Tu-tuan muda, nyonya-" pak Dadang kembali terdiam. Dia bingung harus mulai dari mana bicara pada tuan nya itu.
"Ada apa dengan Viola?" Ketika mendengar ucapan dari bawahan nya itu. Darren merasa semakin khawatir.
"Nyonya muda pingsan tuan." Ujar pak Dadang dengan sangat cepat dan langsung menghela nafas nya kembali.
Darren yang mendengar ucapan dari pak Dadang langsung mematikan intercom nya dan keluar dari ruang kerja nya dengan berlari. Di lihat nya istri nya itu sudah tidak bergerak di atas sofa dari lantai 2.
"VIOLA!!" teriak Darren dari lantai 2 membuat semua yang ada di sana terkejut dan semakin ketakutan.
"Mati lah aku hari ini!" gumam pak Dadang dari dalam hati nya yang melihat tuan nya itu dari atas.
Darren berlari ke lift pribadinya dan menekan tombol lantai 1. Tidak menunggu waktu yang lama Darren pun tiba di lantai 1.
"Minggir!" Sergah Darren pada pelayan wanita yang ada di samping istri nya itu.
"Apa yang terjadi pada istri ku?" Tatap tajam Darren pada mereka semua. Hanya diam seribu diam saja dari mereka semua. Mereka sendiri tidak tau harus menjawab apa pada tuan mudanya itu.
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1