Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 110 Sudah berapa kali aku di bodohi?


__ADS_3

Bobby yang sudah tiba di mall milik Darren. Dengan langkah cepat nya ia masuk ke dalam mall tersebut.


"Vaya Charlton!" Raung Bobby saat ia melihat Vaya berada dekat di samping Darren.


"Kak," Vaya sangat terkejut mendengar suara kakak nya.


"Sekarang pulang! Sudah berapa kali ku katakan pada mu. Jangan kau ganggu hubungan mereka." Bobby menatap tajam Vaya.


"Tapi kak--"


"Vaya! Semua ini karna salah mu sendiri. Seandainya kau tidak pergi 2 tahun lalu mungkin ini tidak akan terjadi!" Tegas Bobby pada adik nya. Ia langsung menarik tangan Vaya begitu saja.


"Tunggu kak!" Vaya berusaha memberontak. Namun, tangan Bobby memegang tangan Vaya dengan sangat kuat membuat gadis itu sedikit meringis.


"Tidak ada kata tapi!" Bobby tetap menarik Vaya menjauh dari mereka.


"Kak Darren, aku tidak akan pernah menyerah sedikit pun. Kau dengar itu kak!" Teriak Vaya pada Darren.


Darren yang ada di sana hanya memasang wajah datar nya saja. Ia tau Bobby bisa menangani nya sendiri. Sementara Viola yang menatap kearah Vaya yang di tarik seperti itu oleh Bobby merasa tidak tega.


"Darren, mengapa Bobby kasar sekali pada adiknya?" Tanya Viola yang menatap nanar kepergian mereka.


"Dia tidak akan sekasar itu jika adik nya tidak membuat masalah yang fatal." Jawab Darren dengan suara datar nya.


"Kesalahan fatal? Vaya tidak melakukan kesalahan apapun Darren." Ujar Viola pada Darren.


"Sudahlah istriku! Bukan kah kau bilang ingin menghabiskan waktu yang indah bersama ku? Jadi kita tidak perlu membahas hal yang sudah berlalu." Darren bangkit dari duduk nya itu dan mengambil tangan Viola.


"Darren boleh aku bertanya?" Viola mengikuti langkah suaminya itu.


"Kau ingin bertanya apa?" Darren hanya menatap sekilas lalu menatap kearah bodyguard nya untuk membuat suasana di mall itu kembali seperti semula.


Karna kejadian Vaya yang sembrono seperti itu. Membuat Darren harus mengamankan mall tersebut untuk sementara waktu.


"Kejadian 2 tahun yang lalu itu maksudnya apa Darren? Jangan kan 2 tahun lalu! selama kita menikah saja ada banyak hal tentang diri mu yang tidak ku ketahui. Sementara kau sendiri mengetahui semuanya tentang ku." Lirih Viola dengan wajah yang tertunduk.


"Istriku hari ini biarlah kita menikmati waktu bersama terlebih dahulu. Masalah itu kita bisa membahas nya di lain waktu." Darren belum siap untuk menceritakan tentang kehidupan nya pada Viola.


Masalah tentang Vaya itu tidak terlalu penting bagi Darren. Karna bagi dia menceritakan hal itu tidak ada pengaruh sedikit pun untuk nya. Namun, Darren ingin menceritakan seluruh tentang kehidupan nya dari ia masih kecil sampai ia sedewasa ini. jika ia memang benar-benar sudah siap untuk menceritakan nya pada Viola ia pasti akan menceritakan nya tanpa di tutup-tutupi sedikit pun.


"Darren kapan kau akan menceritakan tentang diri mu pada ku?" Viola menatap wajah Darren dengan sangat intens.


"Jika sudah waktunya nanti, kau akan mengetahui semua hal tentang ku." Darren membelai rambut Viola dan kembali menggandeng tangan Viola.


"Sampai kapan waktu nya tiba?" Gumam Viola di dalam hati nya. Ia meyakinkan dirinya lagi untuk lebih sabar menunggu waktu yang dimaksud oleh suaminya itu. Karna ia pun sadar pernikahan mereka di mulai dengan sebuah kecelakaan.


Darren memasuki butik baju yang ada di mall nya itu. Ia langsung memilih pakaian yang menurut nya bagus tanpa melihat harga sedikitpun. Viola yang melihat tindakan Darren langsung menghentikan nya.


"Darren setidaknya lihat lah dulu harganya!" Ujar Viola pada Darren. Ia pun langsung mengambil baju yang ada di tangan suaminya itu dan melihat berapa harga baju tersebut.


"What's!" Mata Viola langsung melebar saat melihat berapa harga baju tersebut.


"Ada apa istriku?" Tanya Darren pada Viola.


"Kita pergi ketempat lain saja." Viola hendak menarik tangan Darren. Namun Darren menahan tarikan Viola padanya.

__ADS_1


"Kenapa kita harus pergi?' Darren menatap Viola dengan sudut matanya.


"Itu karna baju nya terlalu mahal Darren," bisik Viola pada suaminya itu.


"Kau bilang mahal?" Darren tidak percaya bagaimana bisa baju seharga 5 juta di bilang mahal oleh istri nya itu.


"Ya tentu saja mahal! Kau tidak sehat ya?' Viola melihat kearah kiri dan kanan nya agar tidak ada yang mendengar perbincangan mereka.


"Istriku baju ini tidak mahal." Darren menghela nafas nya saja.


"Betul-betul tidak waras! Bagaimana bisa baju semahal itu di bilang murah oleh nya." Viola sudah kehabisan kata-kata mendengar ucapan dari Darren. Ia sadar Darren memang terkenal sangat kaya.


"Tapi ini beneran murah istri ku," Darren merasa sangat yakin harga segitu sangat murah untuk brand yang sangat terkenal.


"Kau tau Darren! uang sebesar 5 juta rupiah adalah gaji ku sebulan saat aku masih menjadi karyawan di salah satu mall milik mu. Dan dengan gampang nya kau mengeluarkan uang segitu hanya untuk sebuah baju? OMG jiwa kemiskinan ku merasa terinjak-injak oleh mu." Viola mengacak-acak rambut nya itu.


"Istriku, kau lupa dengan kesepakatan kita sebelum masuk?" Darren yang melihat Viola seperti itu hanya bisa merapikan rambut Viola.


"Kesepakatan apa?" Tanya Viola dengan wajah yang kembali mengingat-ingat hal yang dikatakan oleh Darren.


"Bukan kah kita sudah sepakat untuk menghabiskan uang yang ada di black card milik ku ini? Jika kau tidak bisa menghabiskan nya maka kau akan mendapatkan hukuman dari ku." Darren mengingat kan kembali perkataan nya pada Viola.


"Oh yaampun! Mengapa aku bisa melupakan hal itu." Viola menepuk kening nya.


"Kau itu," Darren mencubit gemas pipi Viola.


"Aww!! Sakit tau Darren." Ketus Viola.


"Yasudah sekarang pilih lah apa yang ingin kau beli." Darren tersenyum menatap wajah Viola yang langsung berbinar.


"Tentu saja aku serius! Apapun yang kau inginkan pasti akan ku kabul kan." Ujar Darren pada Viola.


"Baiklah karna kita sudah sepakat! Tanpa rasa ragu aku akan menghabiskan uang yang ada di kartu mu ini." Viola menaik turunkan alis nya pada Darren.


Darren yang melihat kelakuan Viola hanya menggeleng kan kepalanya sambil tersenyum. Ia sangat bahagia melihat wanita nya itu tersenyum.


"Darren aku mau ini! Boleh ya?" Viola menatap kearah Darren dan menunjuk kearah tas branded yang ada di mall tersebut.


"Pilih lah sesuka hati mu." Balas Darren yang membuat Viola melompat kegirangan seperti anak kecil.


"Lihat saja bagaimana cara ku membuat mu bangkrut dalam hitungan menit saja." Gumam Viola di dalam hati nya dengan wajah yang terlihat tersenyum kecil.


Darren yang menyadari akan senyuman dari istri nya itu hanya bisa menahan tawa nya. Ia tidak ingin istri nya mengetahui kartu yang ia pegang itu tidak akan pernah limit.


Viola yang sudah membeli ini dan itu membuat nya sangat lelah. Namun, kartu suaminya itu tidak menandakan batas maksimum. Padahal barang yang Viola beli sangatlah banyak dan termasuk harga yang sangat mahal.


Sementara para bodyguard yang sangat setia menjaga tuan dan nyonya muda mereka. Kini mereka menjadi seorang pemegang barang belanjaan milik nyonya muda nya itu.


"Darren mengapa kartu ini tidak ada habis-habisnya?" Kesal Viola menatap kearah Darren.


"Bagaimana bisa habis jika kartu yang kau pegang itu kartu unlimited! Yaitu tanpa batas. Oleh sebab itu mau sebanyak apapun kau membeli barang. Uang di kartu black card ku ini tidak akan pernah habis." Jawab Darren dengan enteng nya.


"DARREN! Kau--" Viola yang mendengar ucapan dari Darren merasa sangat marah. Sudah kesekian kali nya ia di bodohi oleh suami nya sendiri.


"Istriku, karna kau tidak bisa menghabiskan kartu kredit ku ini. Maka, sebagai hukuman nya kau harus menciumi ku sebanyak lima puluh kali. Dan ciuman yang harus kau berikan hanya boleh pada bibir ku saja." Darren tersenyum penuh kemenangan menatap kearah Viola.

__ADS_1


"Aku tidak mau." Viola memalingkan wajahnya dari hadapan Darren. Bagaimana bisa suaminya yang berbuat curang tapi ia yang harus di hukum.


"Kau harus mau! Karna kau sudah menyepakati tantangan ku." Jawab Darren pada Viola.


"Tapi, tantangan mu itu curang! Aku tidak mau." Dengan sangat kesal nya Viola meninggalkan Darren di dalam mall tersebut.


"Ini yang salah sebenarnya aku atau dia sih!" Darren menghela nafas nya menatap kearah Viola yang sudah menjauh dari nya.


Dengan sangat cepat nya Darren mengikuti langkah istri nya yang terlihat menghentakkan kaki nya itu dengan perasaan kesal.


"Istriku, kau ingin kemana?" Tanya Darren saat ia sudah berada di samping Viola.


"Aku ingin menikmati waktu bersama kita dengan cara ku sendiri." Jawab Viola tanpa menoleh kearah Darren.


Sedangkan para bodyguard Darren masih sangat setia mengikuti tuan muda dan juga nyonya muda mereka dari arah belakang.


"Nyonya muda walaupun sedang kesal, tapi nyonya tetap menjawab setiap pertanyaan dari tuan muda ya." Bisik bodyguard itu pada bodyguard lain nya.


"Tentu saja! Itu karna nyonya muda berbeda dari wanita lain nya." Jawab bodyguard tersebut.


Mereka hanya tersenyum saja satu sama lain. Dan memilih kembali fokus menjaga keamanan di sekitar nyonya dan juga tuan nya itu.


"Cara seperti apa yang kau maksud istriku?" Darren menatap penuh selidik nya pada Viola.


Viola hanya tersenyum kecil saja. Saat mereka sudah berada di luar mall milik Darren. Ia pun langsung berjalan kearah jalan raya yang di mana di sisi kanan nya sudah ada halte bus di sana.


"Darren," panggil Viola menatap kearah Darren.


"Ada apa istriku?" Darren menghela nafas nya saja.


"Aku mau naik itu!" Tunjuk Viola kearah halte bus yang dimana sebentar lagi bus di sana akan tiba.


"What's!" Darren sangat terkejut mendengar permintaan dari istri nya itu.


"Kenapa kau terkejut Darren! Ayo kita naik bus itu. Aku tidak ingin tertinggal bus nya." Viola berusaha menarik tangan Darren. Tapi Darren menahan tubuh nya.


"Kita pulang sekarang!" Kini keadaan berbalik. Saat ini Darren yang sedang memegang pergelangan tangan Viola.


"Tapi kenapa? Aku ingin naik itu Darren!" Rengek Viola menatap kearah suaminya.


"Kau tidak lihat berapa banyak orang yang menaiki bus itu? Aku tidak ingin kau bersentuhan dengan orang asing." Tegas Darren pada Viola.


"Tapi, aku tidak bersentuhan dengan penumpang lain nya Darren." Viola mencoba menyakinkan suaminya itu.


"Viola Talisa! Kau pikir aku tidak tau bagaimana kondisi saat kita berada di dalam bus? Aku tau jika supir nya sudah rem mendadak maka pasti ada orang yang tak sengaja menyentuh penumpang lain nya." Darren kembali mengingat saat ia dulu masih di dalam kondisi terpuruk nya saat ia pergi dari rumah karna memutuskan untuk maju tanpa bantuan dari mama nya sedikitpun. Membuat Darren benar-benar sangat tersiksa. Apalagi pada saat ia menaiki kendaraan umum yang ada di Jakarta.


"Bagaimana bisa kau tau itu?" Viola menatap tidak percaya pada ucapan suaminya.


"Itu tidak penting! Yang penting sekarang kita pulang." Darren kembali menarik Viola dengan pelan.


Viola tidak ingin pulang. Sudah sejak lama ia menginginkan menaiki sebuah kendaraan umum. Ia sendiri tidak tau mengapa ia sangat menginginkan nya. Sehingga Viola langsung jongkok dan menangis sekeras-kerasnya membuat seluruh bodyguard yang menjaga mereka berdua langsung terkejut mendengar tangisan dari nyonya muda mereka.


^^^Bersambung...^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2