
"Aku lupa! Tadi sebelum kau masuk aku menyuruh Tara untuk datang ke ruang kerja ku," jawab darren dengan sangat santai nya.
"Darren! Kau--"
"Itu karna kau sudah menggoda ku!" Sela Darren sebelum Viola melanjutkan ucapannya.
"Kau sekarang menyalah kan ku?" Viola menaikkan alis nya sambil menunjuk diri nya sendiri.
"Baiklah, ini salah ku! Maafkan aku sayang." Darren tersenyum paksa saat lagi-lagi ia melihat wajah Viola sudah berubah.
"Tidak perlu! Kau meminta maaf karena melihat aku marah." Dengan wajah yang kesal Viola langsung meninggalkan Darren di sana sendirian dan membanting pintu ruang kerja membuat Darren memejamkan kedua matanya.
Sementara Tara hanya melihat raut wajah kakak nya sambil mengerenyitkan kening nya itu.
"Tara, lupakan apa yang kau lihat! Dan fokus lah pada pendidikan mu. Karna semua laki-laki itu sama!! Mereka semua MESUMM!!!" Lagi-lagi Viola meninggikan suara nya agar Darren dengar dan kembali berjalan menuju kearah kamar nya.
"Kau tidak terlihat seperti kakak ku kak." ucap Tara sambil menggelengkan kepalanya itu. Jujur saja akhir-akhir ini kakak nya bertingkah seperti anak kecil yang sangat manja saat bersama kakak ipar nya itu.
"Masuklah!" Suara Darren langsung membuat Tara terdiam dan kembali deg-degan.
"Iya kakak ipar," Tara masuk keruangan dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak mengingat apa yang sudah ia lihat
"Stella Qianzy!" Darren menatap kearah Tara dengan tatapan yang sangat serius.
"I-iya kakak ipar." Tara menelan Salivanya dengan sangat susah saat nama samaran nya di panggil dengan sangat lengkap oleh kakak ipar nya.
"Sudah ku katakan pada mu, jangan pernah terlibat dengan mahasiswa di sekolah mu. Apalagi mereka adalah anak orang kaya!" Darren menatap adik ipar nya dengan sangat tajam nya.
"Aku tidak terlibat dengan mereka kakak ipar. Tapi, mereka saja yang terus menganggu ku bahkan melakukan hal buruk pada ku." Tara pun membela diri nya. Karna jujur ia tidak salah sama sekali.
"Aku tau mereka duluan yang memulai. Namun, kau--" Darren memijat pelipisnya itu. karna ia sangat lelah melihat tingkah istri dan juga adik iparnya.
"Tara kau harus ingat! Nama mu itu Stella Qianzy. Bukan Verlin Tara! Kau terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Kau harus bisa mengimbangi kehidupan mu dengan identitas baru mu yang kuberikan!" Tegas Darren pada adik ipar nya.
"Tapi, kak--"
"Kau pikir aku tidak tau apa saja yang sudah kau lakukan? Kau tenang lah. orang-orang ku akan selalu menjaga mu." Potong Darren membuat Tara terdiam.
"Selagi apa yang mereka lakukan masih bisa di terima. maka, orang-orang ku tidak akan maju untuk membalas mereka. Namun, jika apa yang mereka lakukan sudah kelewat batas. maka, orang-orang ku juga yang akan turun tangan. Jadi kau tidak perlu mengotori tangan mu itu untuk membalas orang-orang seperti mereka." Ucapan Darren membuat mata Tara membesar. Walaupun kakak ipar nya itu berbicara dengan sangat santai, tapi makna dari kata-kata tersebut sangat lah mengerikan.
"Maafkan aku kakak ipar." Tara menundukkan kepalanya.
"Dan satu hal lagi jauhi pria itu!"
Damm!!
Jantung Tara terasa seketika ingin berhenti berdetak. Bagaimana bisa kakak ipar nya tau semua hal tentang apa yang dia lakukan. bahkan Tara sendiri sudah sebisa mungkin menyembunyikan hal itu.
"Tapi kak, aku mencintai nya!" Tara memberanikan diri nya untuk menatap mata kakak ipar nya yang sangat mengeringkan.
"Aku tau itu! Dan aku juga tidak melarang mu untuk jatuh cinta dengan siapapun. Akan tetapi situasi yang kau alami saat ini sangat berbeda." Darren menghela nafas nya.
__ADS_1
"Maksud kakak?" Tara tidak mengerti sama sekali dengan ucapan kakak iparnya..
"Saat kau menjadi Stella maka, akan banyak sekali masalah yang kau hadapi! Pria yang saat ini bersama mu memang baik. Tapi, dia juga memiliki sifat yang serakah dan egois."
"Kakak ipar jangan bicara sembarangan!" Tara sedikit kesal saat kakak ipar nya mengatakan hal buruk tentang pria nya.
"Tara, aku lebih dulu ada dunia ini dari pada diri mu dan kakak mu. Aku bisa membedakan mana orang yang baik dan tidak. Ku akui dia memang mencintai mu. Tapi kita tidak akan tau apa yang akan terjadi kedepannya." Terang Darren kembali.
"Tapi, dia rela memarahi para wanita yang sudah mengganggu ku kak." Tara masih membela pria yang sudah mencuri hatinya.
"Dia membela mu karna wanita-wanita tersebut tergila-gila padanya dan tidak rela pria mereka menjadi kekasih mu." Sinis Darren.
"Baiklah kalau memang kau mengatakan dia tidak seburuk itu. Maka, tetap lah menjadi Stella sebelum dia memutus kan untuk mengenalkan mu pada orang tua nya dan menikahi mu." Tutur Darren kembali. karna, ia merasa tidak tega melihat wajah adik ipar nya yang terlihat sedih
"Bagaimana jika dia melakukan semua yang kakak ipar katakan?" Tara menatap kakak ipar nya dengan sangat percaya diri.
"Maka, aku sendiri yang akan memberitahu pada seluruh negara identitas mu yang sebenarnya dan siapa kau di dalam keluarga ku."
Deg!!
Ucapan Darren lagi-lagi bikin Tara susah untuk bernafas.
"Kak kau serius?" Tara berusaha memastikan nya kembali.
"Tentu saja! Nikah atau tidak nya kau dengan pria itu. Identitas mu juga akan segera terbongkar saat wisuda mu nanti. maka, berdoa lah agar pria yang kau cintai itu tidak berbuat masalah." Darren tersenyum melihat wajah adik ipar nya terlihat bahagia.
"Aku janji kak, semua nya akan baik-baik saja dan sesuai dengan apa yang aku dan semua orang harap kan." Dengan sangat semangat Tara memegang tangan kakak ipar nya.
"Tara, walaupun kau adik dari istri ku. Kau juga sudah menjadi adik ku sekarang! Aku tidak akan membiarkan siapun menyakiti keluarga ku termasuk pria yang kau cintai itu. Jadi kuharap jangan terlalu mudah mempercayai seseorang dan jatuh cinta." Nasehat Darren membuat air mata Tara menetes.
"Yasudah kau boleh kembali ke kamar mu sekarang. Belajar lah dengan giat buat kami semua bangga pada mu!" Darren mengelus rambut adik ipar nya itu
"Aku janji akan membuat kakak dan juga kakak ipar bangga pada ku." Tara pun berjalan meninggalkan Darren disana dengan perasaan yang gembira.
"Biarlah kau merasakan yang namanya sakit hati! Jika seperti itu mungkin aku rasa kau akan berpikir dua kali sebelum jatuh cinta!" Melihat kepergian Tara dari kejauhan hanya bisa membuat Darren menghela nafas nya.
Sebenarnya pada saat Tara di dalam ruang kerja nya. Darren ingin membongkar semua tentang keluarga pria yang Tara cintai dan seperti apa mereka. Tapi, Tara terlalu mempercayai kekasih nya itu sehingga membuat Darren hanya bisa mengalah dan membuat kesepakatan dengan adik ipar nya.
...🎋🎋...
Seminggu kemudian....
Sudah seminggu Shelly di kurung oleh Bobby di dalam apartemen milik nya. Shelly benar-benar sangat bosan. Ia ingin bebas namun, Bobby sangat ketat dalam menjaga diri nya.
"Bob, aku ingin keluar! Sudah seminggu aku tidak keluar. Apalagi aku belum meminta izin cuti di tempat kerja ku." Kesal Shelly pada Bobby.
"Kau itu belum sehat dan kau juga sekarang tidak sedang membawa diri mu. tapi juga anak kita saat pergi nanti!" Bobby mengambil susu ibu hamil dan memberikan nya pada Shelly.
"Tapi aku bosan!! Kau tau bosan kan?" Shelly mengacak-acak rambut nya itu karna sudah terlalu jenuh berada di tempat yang sama.
"Bersabarlah sayang. Ini semua untuk anak kita!" Bobby hanya bisa menenangkan Shelly saja. Ia tidak membalas amukan Shelly pada nya. Karna jika itu terjadi maka perang ketiga akan segera dimulai.
__ADS_1
"Setidaknya ajak aku dan juga babby kita jalan-jalan." Lirih Shelly.
Bobby menghela nafas nya sambil membelai rambut Shelly dengan sangat lembut nya dan juga mengelus perut rata Shelly.
"Baiklah kita akan jalan-jalan"
"Benarkah--"
"Tapi tidak hari ini!" Saat senyum Shelly mulai merekah, langsung berubah kembali setelah mendengar ucapan selanjutnya dari Bobby.
"Selalu saja seperti ini!" Kesal Shelly mengingat kembali seminggu yang lalu saat Bobby mengatakan hal tersebut. Namun, nyata nya ia tetap dikurung di apartemen Bobby.
"Jangan salah paham dulu! Tuan muda dan juga nyonya muda akan kesini." Ujar Bobby kembali.
"Mereka sudah pulang?" Mata Shelly langsung berbinar mendengar ucapan dari Bobby.
"Emh, mereka berangkat kemarin dan akan tiba hari ini." Bobby pun ikut tersenyum melihat wajah wanita nya bahagia.
"Tapi, apa Viola tau tentang kehamilan ku ini?" Wajah Shelly kembali cemberut.
"Kurasa sahabat mu itu sudah tau." Sebenarnya Bobby sendiri juga tidak tau. Namun, ia tidak ingin melihat wajah Shelly sedih.
"Kalau begitu kita harus buat penyambutan untuk kepulangan sahabat ku itu." Dengan semangat empat lima Shelly hendak berjalan kearah dapur untuk menyiapkan sesuatu atas kepulangan sahabat nya.
"Tidak," Bobby langsung menahan tangan Shelly yang hendak mengambil alat-alat masak nya.
"Biar kan mereka yang melakukan nya!" Timpal Bobby kembali dengan menunjuk ke arah koki yang sudah di panggil nya dari kediaman Darren.
"Dari mana asal mereka?" Shelly terkejut tiba-tiba saja sudah ada para koki di hadapan nya.
"Tidak penting!" Bobby menyuruh Shelly untuk duduk kembali.
"Kalian masaklah makanan kesukaan tuan muda dan juga nyonya muda." Perintah Bobby.
"Baik sekertaris Bobby," jawab mereka dengan sangat kompak.
Sementara Shelly yang melihat nya hanya tersenyum saja. Kadang ia bertanya-tanya siapa tuan muda yang sebenarnya. Kenapa mereka juga selalu menuruti apa yang di katakan oleh pria yang kini sudah berstatus sebagai calon suami nya itu
"Kenapa kau tersenyum?" Melihat wajah Shelly seperti itu membuat Bobby menatap nya
"Tidak ada! Aku ingin senyum aja tadi." Bohong Shelly.
"Kau itu harus tetap sehat! Begitu juga dengan bayi kita." Bobby tersenyum lalu mencium kening Shelly.
"Ini seperti mimpi bagi ku!" Gumam Shelly di dalam hati nya melihat kelakuan pria misterius yang pernah ia jumpa saat sahabat nya menikah.
"Bukan kah ini terlalu tiba-tiba? Bahkan aku sendiri masih tidak percaya kalau ini nyata." Shelly menundukkan kepalanya itu.
"Aku tau kau masih terkejut dengan yang terjadi saat ini. Namun, percayalah ini semua nyata dan kehadiran anak kita juga nyata." Bobby kembali menyakinkan Shelly yang mulai meragukan apa yang terjadi saat ini.
Shelly hanya terdiam saja. Bobby yang melihat Shelly seperti itu langsung memeluk Shelly hingga membuat wajah Shelly terbenam di dada bidang Bobby.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...