Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 76 Kemurkaan Darren


__ADS_3

"Jadi, dimana makanan ku yang sudah kau siapkan?" Tanya Darren pada Viola. membuat Viola kembali menatap kearah Darren dengan wajah sedih nya.


"Ada apa istriku?" Darren menatap kearah Viola yang sudah berubah.


"Aku tidak sengaja menjatuhkan makanan nya." Viola menunjuk kearah makanan yang ia jatuh kan secara tidak sengaja karna ia terkejut.


"Tidak apa-apa kau sudah melakukan yang terbaik! Setidaknya kau sudah ada niat untuk membuat kan ku makanan dan begitu perhatian padaku." Darren tersenyum di hadapan Viola yang tertunduk.


"Tapi, kau belum mencoba nya." Lirih Viola.


"Apa perlu aku mencoba makanan itu?" Darren menatap kearah Viola dengan tersenyum.


"Ti-tidak bukan itu maksud ku! Darren makanan itu sudah kotor. Aku akan membuat kan mu yang baru! Sekarang bisa kah kita pulang dulu?" Viola tidak ingin masalah ini di perpanjang. Ia berusaha untuk mengajak Darren pulang bersama nya.


Darren hanya menghela nafas nya. Ia tau istri nya itu tidak akan pernah bisa melihat mereka yang sudah melakukan kesalahan di hukum oleh dirinya.


"Kita akan pulang setelah masalah ini selesai!" Tegas Darren pada Viola.


Darren kembali menatap kearah para bawahan nya termasuk juga kearah Laura yang dari tadi terus saja membuat masalah di hadapan nya.


"Bob bawa rekaman cctv-yang terhubung di lantai 1 sekarang juga!" Suara Darren terdengar seperti menyambar di telinga mereka semua.


Mereka sama sekali tidak menyangka kalau tuan muda nya akan berpikir sejauh itu. Laura yang tiba-tiba mendengar ucapan dari Darren dengan seketika tubuh nya langsung gemetaran. Ia sadar kali ini Darren tidak akan bisa memaafkan nya bahkan lebih parah lagi yang akan ia dapat kan.


"Baik tuan muda," ujar Bobby yang terlihat tenang.


Walaupun sebenarnya Bobby juga merasa kan hal yang sama di rasakan oleh mereka semua. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan menerima segala hukuman yang akan di berikan sahabat nya itu.


"Sayang, boleh tidak aku duduk?" Lirih Laura pada Darren. Ia berharap Darren akan mengijinkan nya duduk di sebelah nya.


"Berdiri lah di tempat mu dan berhenti lah memanggil ku sayang! Istri ku saja tidak pernah memanggil ku sayang jadi kau tidak memiliki hak untuk memanggil ku seperti itu kecuali istri ku sendiri!" Darren menatap tajam kearah Laura membuat Laura langsung tertunduk.


"Kau itu sedang menyindir ku bukan?" Ketus Viola pada Darren.


"Kau merasa tersindir?" Darren hanya tersenyum tipis saja pada Viola.


"Pada kenyataannya dia kan juga istri mu! Bahkan dia sekarang sedang mengandung anak mu!" Viola hanya tersenyum sinis saja pada Darren.


Darren yang mendengar ucapan Viola merasa semakin ada yang tidak beres. Ia yakin karna hal itulah membuat istri nya terus saja memberontak.


"Istri ku! Jangan pernah menyimpulkan suatu masalah tanpa memastikan nya terlebih dahulu." Ujar Darren dengan suara datar nya membuat Viola terdiam.


Bobby yang sudah mengambil rekaman cctv-yang terhubung di lantai 1 dengan segera ia turun dan menjumpai tuan nya itu kembali.


"Tuan muda, ini rekaman cctv nya." Bobby menyerahkan sebuah flashdisk kepada Darren.


"Ambil laptop yang ada di meja kerja karyawan!" Perintah Darren pada bodyguard yang berdiri dekat dengan meja.


"Baik tuan muda," bodyguard itu pun mengambil laptop yang ada di meja dan menyerahkan pada tuan muda nya.


"Istri ku! Setelah masalah ini selesai. Kau harus bertanggungjawab karna sudah berani membentak ku di depan semua orang!" Bisik Darren dengan tersenyum licik pada Viola.


"Ap-apa maksud mu?" Viola menatap kearah Darren dengan ragu.


"Kau akan tau nanti!" Darren hanya membalas tatapan Viola sekilas. Membuat Viola menelan saliva nya itu.


Darren sudah membuka data rekaman yang terjadi di lantai 1 hari ini dan melihat semua kejadian yang terjadi pada Viola. Mata Darren langsung memerah ketika ia melihat para karyawan yang ada di sana berani berteriak kearah istri nya dan hendak menyakiti istri nya itu.


"Kalian semua berdiri di sisi kanan!" Darren menatap mereka dengan sangat tajam nya. Membuat mereka ketakutan dan tidak bisa bergerak sedikit pun.


"Bob! Perintah kan para bodyguard ini untuk mematahkan kaki mereka yang tidak ingin bergerak!" suara Darren sangat bergema di ruangan tersebut. Membuat mereka perlahan melangkah kan kaki mereka itu untuk segera bergeser. Meraka tau jika tuan muda nya sudah mengatakan sesuatu maka itu bukan lah hal yang spele


"Sudah aku katakan! Kalian akan menyesali tindakan kalian hari ini. Darren akan bertindak sangat kejam jika itu menyangkut tentang istri nya." Bobby hanya menggeleng kan kepalanya itu. Ia tau nasib para karyawan yang ada di sana pasti akan berakhir secara mengganas kan.


"Darren kau berlebihan sekali!" Viola menatap kasihan kearah para karyawan tersebut. Jujur saja karyawan itu memang menyakiti hati nya tapi ia juga manusia biasa yang bisa melakukan sebuah kesalahan.


"Kau tidak perlu mengasihani mereka! Karna mereka tidak pantas untuk di kasihani." ujar Darren dengan suara datar nya membuat viola kembali terdiam.

__ADS_1


"Maafkan aku! Sebenarnya aku ingin sekali menyelamatkan kalian semua. Tapi, aku saja tidak jamin bisa selamat dari si singa ini atau tidak! Karna, sejak tadi aku sadar sudah membentak nya di depan semua orang." Lirih Viola yang sedang meratapi nasibnya itu.


Darren kembali memutarkan rekaman cctv tersebut dan ia benar-benar merasa terkejut melihat istrinya berani menampar Laura. Senyum kecil terukir di wajah Darren.


"Kau lucu sekali kalau sedang marah!" Bisik Darren pada Viola.


"Apa maksudmu?" Viola tidak mengerti dengan apa yang di ucap kan oleh Darren pada nya.


Darren tidak membalas perkataan istri nya dan kembali melihat kearah rekaman cctv. Tepat di adegan Laura mendorong Viola sehingga membuat Viola terbentur di meja resepsionis dengan sangat kuat. sehingga mengakibat kan Viola berdarah di kepala nya, membuat emosi Darren kembali berapi-api.


Semua orang ketakutan melihat aura yang di keluarkan oleh Darren. Viola juga merasa sangat ketakutan jika melihat Darren dalam ekspresi seperti itu. Bobby yang di belakang Darren sudah mengerti dan memilih untuk tetap diam saja. Laura tau saat ini dirinya lah yang menjadi amukan Darren.


"Kau akan tau apa akibat nya Laura Kiehl!" tatap tajam Darren sudah menuju kearah Laura membuat Laura memundurkan tubuh nya itu.


Darren kembali melihat rekaman tersebut dan emosi terus saja meningkat. Ia menatap kearah para bodyguard itu dengan sangat marah.


"Laura Kiehl! Berdiri lah di hadapan ku." Raung Darren pada Laura yang membuat Laura sangat ketakutan.


"Bob! Kau suruh wanita tidak tau diri ini untuk berdiri di hadapan ku. Jika tidak maka kau berikan saja dia kepada pria hidung belang yang ada di luar sana untuk mencicipi tubuh nya itu!" Tegas Darren pada Bobby membuat bobby bergidik ngeri.


Viola sangat terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya yang terdengar sangat kejam. Semua orang yang ada disana hanya tertunduk saja dan memikirkan nasib mereka masing-masing. Sementara Laura benar-benar ketakutan seperti orang yang sudah kehilangan separuh nyawa nya.


"Nona Laura menurut lah! Jika anda masih ingin tetap hidup. maka ikutilah semua perintah tuan muda." Bisik Bobby pada Laura dan menarik tangan Laura untuk berdiri di tengah.


Kini tatapan Darren mengarah kearah 10 bodyguard yang sudah ia perintahkan untuk menjaga istri nya itu.


"Dan kalian berdiri lah di sisi kiri ku!" ujar Darren dengan suara meninggi nya.


"Baik tuan muda," jawab mereka dengan sangat serentak.


Para bodyguard tau mereka melakukan kesalahan yang besar. Tapi, mereka juga harus siap menerima segala hukuman nya kecuali di pecat oleh tuan muda nya itu.


"Giliran mu akan tiba belakangan Bob!" Darren menatap Bobby dengan sudut pandang nya itu.


"Saya akan menerima hukuman apapun yang tuan muda berikan." Balas Bobby yang sudah kembali berdiri tepat di belakang tuan muda nya.


"Hukuman apa yang pantas aku berikan untuk kalian?" Darren menatap kearah para karyawan.


"Maafkan kami tuan muda." Lirih mereka dengan tangan yang terus saja gemetar.


"Maaf? Berani sekali kalian meminta maaf pada ku ketika kalian sendiri sadar apa kesalahan yang telah kalian perbuat!" Darren terus saja menatap mereka dengan tajam.


"Siapa dari kalian yang ingin membuat pembelaan?" tanya Darren dengan suara datar nya.


"Tidak ada?" Darren yang melihat mereka diam saja mulai meninggikan suara nya.


"Tu-tuan muda maafkan kami. Kami tidak tau kalau gadis yang masuk kesini adalah nyonya muda." Salah satu karyawan yang ada di situ memberanikan diri nya untuk berbicara.


"Bukan kah sekretaris ku sudah mengatakan nya bahwa dia adalah istri ku!" Sergah Darren pada karyawan itu.


"Sa-saat itu kami tidak mempercayai nya tuan muda." Karyawan yang lain nya ikut berbicara.


"Kenapa kalian tidak mempercayai nya?" Darren menekankan kalimat nya pada mereka. Namun, mereka tidak berani melanjutkan perkataannya lagi.


"JAWAB!!" Perintah Darren dengan suara tinggi nya membuat mereka semakin merasa ketakutan.


"Karna, kami merasa nona Laura lah yang lebih pantas bersama anda tuan muda." Jawab mereka dengan suara yang sangat gemetaran.


Argh! Prang!


Darren langsung melempar semua barang yang ada di meja termasuk laptop tersebut dengan sangat kasar dan memukul meja kaca itu dengan kuat sehingga meja tersebut pecah.


"Maksud kalian istriku ini tidak layak bersama ku! Berani sekali kalian menyimpulkan segala sesuatu tentang ku dengan sesuka hati kalian! apa kalian itu sudah bosan hidup hah!" Nafas Darren sudah tidak beraturan lagi. Ia benar-benar sangat marah mendengar ucapan mereka.


"Darren tangan mu berdarah." Viola sangat takut melihat keadaan Darren yang seperti itu. Ia sendiri sangat gemetar ketika melihat Darren memukul meja yang ada dihadapannya.


"Maafkan kami tuan muda," mereka langsung berlutut dihadapan Darren dan memohon padanya untuk dimaafkan.

__ADS_1


"Kalian semua di pecat!" Nada suara Darren terdengar sangat serius di telinga mereka.


"Tuan muda kami mohon, jangan pecat kami." Lirih mereka semua pada Darren. Mereka tidak tau harus berbuat apa pada tuan muda nya agar di maafkan.


"Bob! Kau urus berkas pemecatan mereka. Dan jangan biarkan mereka mendapatkan pekerjaan yang layak di manapun mereka berada!" Tegas Darren pada mereka semua membuat mereka sangat syok dan ada beberapa dari mereka sudah ada yang pingsan.


"Kalian urus mereka yang sudah pingsan disana! Dan usir mereka untuk segera keluar dari perusahaan ku." Darren menyuruh petugas keamanan perusahaan nya untuk mengurus para karyawan itu.


Darren berusaha mengatur nafas nya dan kembali menatap kearah Laura dengan sorot mata yang ingin membunuh nya.


"Aku tidak ingin basa-basi lagi dengan wanita tidak tau dirimu seperti mu!" Darren menatap sinis kearah Laura.


"Darren maafkan aku!" Lirih Laura pada Darren.


"Berani sekali kau memanggil nama ku dengan mulut kotor mu itu!" ujar Darren menatap jengah kearah Laura.


"Kau itu berlebihan sekali Darren! Hanya karna wanita murahan itu kau sampai memperlakukan aku seperti ini!" Laura mengeluarkan semua perasaan ketidaksukaan nya pada Viola.


"Wanita murahan? Kau sebut istri ku ini wanita murahan? Berani sekali kau mengatakan hal itu dihadapan ku!" Darren menatap Laura dengan bara api yang sudah ada di mata nya itu.


"Kau tampar gadis yang ada di samping mu itu dengan sangat kuat! Agar dia sadar siapa yang murahan sekarang." Darren menyuruh kepala bodyguard yang berdiri tepat di samping Laura dengan suara tinggi nya.


Plak!


Kepala bodyguard tersebut dengan segera menuruti perintah tuan muda nya itu dan menampar Laura yang lumayan kuat. Viola yang tadi nya berdiri kembali terduduk lemas melihat kejadian yang sangat menyeramkan dihadapannya. Untuk pertama kalinya ia melihat sosok asli suami nya yang terkenal sangat kejam di mata semua orang. Saat ini Viola benar-benar melihat dengan mata kepala nya sendiri.


"Darren kau jahat sekali padaku!" Laura mengelus pipi nya yang terasa sangat sakit sekali dan mengeluarkan air mata nya itu.


"Itu akibat nya karna, kau sudah berani berkata hal yang sangat membuat ku marah! Laura Kiehl hukuman mu tidak sampai disini saja! Kau telah melukai istri ku dan kau juga telah mendorong nya kearah lift dengan sangat kuat. Apakah kau tidak berpikir apa akibat nya jika aku mengetahui hal tersebut?" Suara Darren kembali meninggi membuat Laura sangat ketakutan.


"Darren tangan mu berdarah!" Viola mencoba menenangkan suaminya itu.


"Sini biar aku obati dulu!" ujar Viola dengan suara pelan nya.


"Istri ku! Duduk lah dengan tenang di sofa. Kau sedang terluka. jadi kau itu tidak boleh banyak bergerak yang bisa mengakibatkan luka mu bertambah sakit." Darren menahan emosi nya agar bisa berbicara dengan suara yang terdengar lembut pada Viola.


"Darren kita pulang saja ya! Aku takut melihat mu seperti ini." Lirih Viola dengan kepala nya yang tertunduk.


Darren menghela nafas nya itu dan membalikkan tubuhnya menatap kearah Viola dengan tersenyum kaku pada Viola.


"Apakah aku terlihat sangat mengerikan?" tanya Darren menatap wajah Viola yang tertunduk.


"Iya eh enggak!" Viola mengangguk kan kepalanya namun ia juga menggelengkan kepalanya itu.


"Sebenarnya iya atau egakk istriku?" Darren berusaha menatap kearah Viola yang mulai mengangkat kepala nya itu.


"Iya aku takut Darren!" Viola berbicara dengan suara yang ragu.


Darren hanya menarik nafas nya dan menatap kearah Bobby yang masih setia berdiri di belakang nya.


"Bob! Bawa Viola keruangan ku. Dan biarkan dia beristirahat di kamar yang ada di dalam ruangan ku." Perintah Darren pada Bobby.


"Baik tuan muda." Balas Bobby.


"Istri ku, ikut lah bersama Bobby! Bukan kah kau takut berada disini. Setelah semua nya selesai aku akan menemui mu. Istirahat lah disana sebentar!" Darren membelai lembut rambut Viola dan tersenyum padanya.


"Tapi tangan mu--" Viola menatap kearah tangan Darren yang terus saja mengeluarkan darah.


"Aku tidak apa-apa! Ikut lah bersama Bobby. Menurut lah sayang!" Darren berusaha bersikap tenang dihadapan Viola agar Viola tidak mengkhawatirkan nya.


"Silahkan nyonya muda." Bobby mempersilahkan Viola untuk mengikuti nya.


Dengan langkah yang ragu Viola mengikuti sekretaris suami nya itu. Sesekali Viola menoleh kebelakang untuk melihat wajah Darren. Darren yang di lihat oleh istri nya kembali tersenyum. Viola pun akhirnya ikut pergi bersama Bobby ke ruangan Darren yang ada di lantai paling atas.


^^^Bersambung...^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2