
Apartemen Evan...
Roy yang sudah turun kebawah mengambil berkas milik tuan Erik adik dari bos nya itu. Dengan secepat mungkin di kembali naik ke atas agar tidak ada yang mencurigai nya.
"Tuan ini berkas yang kau minta," Roy menaruh berkas itu di atas meja yang tepat ada di depan Evan.
Evan yang masih bersandar di sofa mulai membuka matanya dan duduk layak nya seperti seorang pengusaha. Sementara Viola masih menatapi berkas yang juga berada di hadapannya.
"Baiklah Roy, kau harus tetap berhati-hati! Dan juga suruh para bodyguard untuk berjaga-jaga di sekitar apartemenku!" perintah Evan pada Roy.
"Baik bos." Balas Roy dan dia pun menghubungi bodyguard itu untuk berjaga-jaga.
"Berkas apa ini?" Viola masih saja fokus pada map yang sudah ada di depan nya tanpa, memperdulikan perbincangan antara Evan dan bawahannya itu.
"Kau akan mengetahui nya." Evan tersenyum menatap gadis yang masih dengan sangat serius menatap pada berkasnya.
"Kapan aku mengetahui nya? Dari tadi kau hanya bilang aku akan mengetahui nya saja!" Viola yang sangat kesal mendengar jawaban dari pria yang menculik dirinya itu hanya bisa menghela nafas nya saja.
"Baiklah aku akan memberitahu kan nya pada mu!" Evan membuka berkas milik adik nya dan memperlihatkan nya pada Viola.
"Gadis ini ...." Viola sangat terkejut melihat foto yang ditunjukkan Evan padanya.
__ADS_1
"Pria yang ada disamping gadis ini adalah adik ku!" Evan kembali sedih melihat wajah adik nya.
"Aku tidak mengenal siapa pria ini!" Viola sangat bingung dengan apa yang terjadi.
"Kau bilang tidak mengenal nya??" Raung Evan dengan nada yang sudah sangat tinggi. "Wanita ini adalah kau! Bahkan, kau tidak ingin mengakui wajah mu sendiri???" Evan mencekram tangan Viola dengan sangat kuatnya.
"Sakit Evan..! Lepaskan!" Viola tidak sanggup jika tangan nya yang luka itu terus menerus dicekram sangat kuat seperti itu.
"Bos dia itu seorang wanita yang sedang terluka! Kau tidak boleh terlalu kasar padanya!" Roy berusaha menenangkan bos nya itu. Agar tidak berbuat sembarangan pada gadis yang bukan sembarang. Karna, jujur saja dia sendiri merasa takut jika berurusan dengan suami dari wanita yang mereka culik.
"Roy kau diam lah...! Aku tau apa yang sedang aku lakukan. Jadi, kau tidak perlu mengingat kan nya pada ku." Evan menatap tajam kearah Roy dan kembali menatap tajam kearah Viola.
"Aku hanya mengingatkan mu saja bos! karna, gadis ini adalah istri dari Darren Abraham Khan! kau tidak bisa bermain-main terlalu lama dengan nya bos!" Roy berusaha meninggalkan kembali bos nya itu.
"Tapi, aku benar-benar tidak tau siapa pria ini Evan! Dan aku juga tidak tau bagaimana aku bisa berhubungan dengan nya." Viola terus saja membela dirinya.
"Bagaimana bisa kau bilang wanita ini bukan dirimu?? Kau sudah menyakiti adik ku! Apa kau lupa ha??" Evan terus saja menggenggam tangan Viola dengan sangat keras. Viola hanya bisa menahan rasa sakit nya dan mengeluarkan air mata yang sudah berusaha ia tahan.
"Aku benar-benar tidak mengenal pria ini Evan. percaya lah padaku!" Viola mencoba mengingat nya, tapi ia juga tidak ingat apa-apa.
"Kau wanita yang tidak punya hati!" Bentak Evan pada Viola. "Bagaimana bisa kau melupakan cinta dari adik ku begitu saja pada mu!" Evan sangat marah, ingin rasanya dia memukul Viola jika Viola itu bukan lah seorang wanita.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang terjadi pada adik mu Evan? Kau mungkin bisa menceritakan nya padaku! Siapa tau aku dapat mengingat nya kembali." Viola berusaha melepaskan genggaman tangan Evan padanya.
"Baiklah jika kau ingin mengetahui nya! Aku akan menceritakan nya pada mu." Evan melepaskan tangan Viola darinya dan menghela nafas nya dengan sangat kasar. Roy sangat tau bahwa bos nya itu sangat terpukul karna, kepergian adik kesayangannya. Apalagi untuk menceritakan kejadian yang sangat buruk dan menyakiti bos nya itu. Pasti akan sangat sulit.
"Bos jika kau tidak sanggup untuk menceritakan nya. Biar aku saja bos yang memberitahu pada nona Viola." Roy berniat untuk meringankan beban dari bos nya itu.
"Tidak perlu Roy! Mau bagaimana pun, cepat atau lambat aku harus tetap menghadapi ini semua." Roy menatap kearah Roy dan kembali pada foto adik nya.
"Evan...! Maaf aku tidak ingat apapun mengenai adik mu." Viola memegang tangan Evan dengan ragu-ragu. Dia sendiri mencoba mengingat nya kembali. Namun, dia tidak bisa mengingat nya juga.
"Bagaimana bisa wanita yang sangat dicintainya melupakan nya begitu saja." Evan tersenyum getir mendengar ucapan Viola padanya. "jika saja Erik bersabar sedikit saja! maka, semua ini tidak akan terjadi. mau bagaimana pun aku pasti akan tetap membantu mu. tapi, mengapa kau se egois itu!" gumam Evan di benak nya.
"Maaf...! Aku tidak tau sama sekali mengenai adik mu." lirih Viola. Dia sendiri juga merasa bersalah, entah kenapa Viola merasa wanita yang ada di foto itu bukan lah dirinya.
"Dia adik ku, namanya Erik Anggara. Umur nya masih terbilang sangat muda 23 tahun. Kami hanya berjarak 2 tahun. di juga seorang pembisnis yang sangat hebat! bahkan, aku sendiri saja hampir kalah dengannya. dia sangat pekerja keras, tidak ada kelemahannya sama sekali di dunia bisnis. hanya saja jika menyangkut cinta membuat nya sangat lemah. apalagi itu tentang cinta pertama nya. Semuanya baik-baik saja sebelum 2 tahun lalu. Namun, adik ku meninggal dunia 10 hari yang lalu membuat ku seperti orang gila." Evan meneteskan air matanya.
"Adik mu meninggal? Karna apa Evan?" Viola sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Evan padanya. Evan hanya menganggukkan kepalanya. Dan menghapus air matanya itu. Sementara Viola juga merasa sedih melihat pria yang sangat keras bisa menangis seperti ini. Bagaimana tidak menangis jika seseorang yang paling disayangi pergi begitu saja.
"Semua ini berkisah tentang 2 tahun yang lalu, sebelum adik ku meninggal..." Evan memulai menceritakan kisah cinta adik nya dengan gadis yang merupakan cinta pertama adik nya itu.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1
...****************...