Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 84 apakah hal yang dinantikan akan terjadi?


__ADS_3

"Darren ada apa dengan mu?" Viola menatap wajah Darren yang terus menatap nya itu.


"Kau akan menjadi milik ku sepenuhnya!" ujar Darren dengan wajah yang masih marah menatap kearah Viola.


"Darren jangan seperti ini aku takut!" Viola menutupi tubuh nya yang sudah tidak mengenakan pakaian lagi merasa sangat malu dan gemetaran.


"Untuk apa kau takut. Bukan kah ini sudah seharusnya aku lakukan sejak awal aku menikah bersama mu." Darren masih menatap wajah Viola yang ada di hadapannya.


"Darren ini salah! Kau tidak boleh seperti ini." Viola kembali mengingatkan hal yang membuat lelaki itu sangat marah.


Mereka yang masih berada di dalam bathtub dengan air dan juga wewangian membuat suasana yang seharusnya romantis menjadi suasana yang sangat dingin.


Mata Darren kembali menatap tajam kearah Viola ketika kata-kata itu keluar lagi dari mulut Viola.


"Kau bilang ini salah! Baiklah maka aku akan melakukan kesalahan yang akan membuat mu menyesal." Raung Darren pada Viola.


Dengan segera Darren mencium bibir Viola dengan sangat kasar. Viola terus saja memberontak dan memukuli tubuh Darren yang sudah sangat dekat pada nya tanpa mengenakan pakaian. Ia benar-benar takut melihat keadaan suaminya itu.


"Emmh." Viola berusaha melepaskan ciuman mereka yang sangat kasar itu. Namun, Darren tidak melepaskan nya dan melakukan yang lebih kasar lagi.


Darren beralih ke leher jenjang Viola dan langsung menciumi setiap lekuk tubuh Viola dengan sangat kasar. Viola tidak menyangka Darren yang tadinya bersikap lembut padanya tiba-tiba saja sangat kasar sekali padanya.


"Darren lepaskan aku! Kau menyakiti ku." Lirih Viola dengan suara yang sudah serak itu akibat menangis sejak tadi.


Viola sudah kehilangan semua tenaga nya. Ia tidak bisa lagi memberontak atas perlakuan Darren padanya. Jujur saja Viola juga merasa bersalah karna sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak ia kata kan. Dengan sangat pasrah Viola menerima setiap perlakuan kasar suaminya itu dan terus menangis. Sesekali Viola juga memohon untuk di lepaskan. Tapi, yang terjadi malah Darren terus saja menciumi seluruh tubuh nya itu dan meninggalkan beberapa tanda merah di tubuh Viola.


"Darren aku kedinginan," lirih Viola lagi pada Darren. Mereka yang sudah lama berada di dalam bathtub dan juga air yang sangat dingin membuat Viola semakin lemas.


Darren menghentikan kegiatan nya dan menatap wajah istri nya yang sudah sembab akibat menangis. Ia juga sadar sejak tadi Viola tidak memberontak lagi padanya.


"Argh!" Dengan nafas nya yang sudah naik turun karna emosi Darren langsung keluar dari bathub tersebut.


"Bagaimana bisa aku menyakiti orang yang aku sayangi!" Darren pun langsung memukul cermin yang ada di kamar mandi mereka dengan sangat kuat.


Prang!! Jelas terdengar suara pecahan kaca tersebut ke telinga Viola membuat Viola semakin ketakutan.


Viola menekuk lutut nya dan menundukkan kepalanya itu. Tubuh Viola terus saja bergetar melihat Darren menjambak rambut nya sendiri dan membuang semua barang yang ada di kamar mandi tersebut.


"Darren aku minta maaf, kau jangan seperti itu. Aku takut!" ujar Viola dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa terdengar oleh Darren.


Darren yang mendengar ucapan istri nya langsung tersadar dan mengambil baju handuk Viola dengan sangat cepat Darren menghampiri Viola yang masih berada di dalam bathtub.


"Bangun lah!" Perintah Darren dengan suara berat nya.


"Aku malu," Viola berbicara dengan nada kecil nya. Ia sangat malu jika harus berhadapan secara langsung pada Darren dalam keadaan nya saat ini.


"Kau tidak perlu malu! Aku sudah melihat semuanya." ujar Darren dengan suara dingin nya itu.


"Tapi--"


"Bangun lah!" Darren yang tidak ingin emosi nya kembali tersulut langsung menyuruh Viola bangun dengan menarik tangan nya secara perlahan.


Setelah melihat istri nya menurut dan keluar dari bathub dengan segara Darren melepaskan pakaian dalam Viola yang sudah basah itu tanpa rasa ragu sedikitpun.


"Darren kau--" Viola tidak tau lagi harus berkata apa. Hati nya sangat marah pada suaminya itu tapi jujur saja tubuh Viola tidak pernah bisa menolak atas semua perlakuan Darren pada nya.


Darren yang mendengar ucapan Viola tidak memperdulikan nya dan langsung memakai baju handuk tersebut ke tubuh Viola.


"Kita keluar sekarang!" Darren kembali menggenggam tangan istri nya itu dan ingin membawa nya keluar dari kamar mandi.


Namun, Viola tidak sanggup melangkahkan kaki nya itu. Ia sangat gemetaran sampai-sampai rasa takut dan juga gemetaran nya tidak bisa ia tutupi di hadapan Darren.


"Darren! Kau benar-benar keterlaluan. Lihat lah sekarang istri mu sangat ketakutan dengan mu." Darren memaki dirinya sendiri. Ia tidak habis pikir bisa sangat kasar pada Viola.


Darren yang melihat Viola tidak bergerak sedikit pun dengan cepat langsung menggendong Viola dan membawa nya keluar dari kamar mandi tersebut.


"Pakai lah pakaian mu dan kering kan rambut mu! Setelah itu nanti akan ku suruh kepala pelayan disini mengantar kan minuman hangat untuk mu." Ujar Darren dengan aura dingin nya.

__ADS_1


"Dia dingin sekali! Bahkan kali ini dia lebih dingin lagi dari sebelumnya." Viola terus saja menatap wajah Darren dan langsung menarik tangan Darren.


"Ada apa?" Tanya Darren ketika tangan nya di tarik oleh Viola.


"Aku tidak bisa menggunakan alat ini," ujar Viola dan memberikan pengering rambut tersebut pada Darren. Viola bukan nya tidak pandai menggunakan nya namun ia tidak ingin Darren meninggalkan nya sendiri di kamar yang sudah di tata oleh pak Dadang.


"Baiklah biar aku saja yang mengeringkan rambut mu." Darren menekan tombol di alat tersebut dan mengeringkan rambut Viola secara perlahan.


Senyuman kecil mulai terukir di bibir Viola ketika suaminya kembali bersikap lembut padanya.


"Darren aku salah! Maafkan aku ya." Viola memberanikan diri memulai pembicaraan pada Darren yang tetap diam saja dan terus mengeringkan rambut nya itu.


"Darren aku tidak bermaksud membuat mu marah! Aku hanya takut karena kau tidak mencintai ku kau akan meninggalkan aku kapan pun itu. Dan kalau kita melakukan hubungan tersebut lalu aku hamil setelah kita berpisah bagaimana? Darren aku tidak ingin hubungan kita berakibat buruk pada yang lain nya." Viola berusaha menjelaskan secara terperinci pada Darren.


Darren yang mendengar ucapan Viola langsung menghela nafas nya dengan berat dan menghentikan kegiatan nya itu.


"Jika kau hamil maka aku akan bertanggung jawab! Sudah lah. Aku juga tidak ingin memaksa mu." Darren meletakkan alat tersebut lalu berdiri kembali dari duduknya.


"Darren kau mau kemana?" Viola melihat Darren hendak pergi dari nya langsung memegang tangan Darren.


"Aku ingin keluar sebentar! Kau istirahat lah." Darren melepaskan tangan Viola secara perlahan.


"Aku akan menunggu mu." ujar Viola pada Darren.


"Tidak perlu menunggu ku! Aku tidak akan kembali malam ini." balas Darren dengan suara berat nya.


"Kau ingin pergi kemana?" Tanya Viola pada Darren.


"Ke lantai 6." Jawab Darren pada Viola.


"Tapi, kenapa?" Viola terus saja bertanya pada Darren.


"Istirahat lah disini! Aku hanya ingin menenangkan diri saja." Darren tidak menjawab pertanyaan Viola pada nya.


"Darren, bisa kah kau menemaniku di sini?" Viola kembali menarik tangan Darren yang hendak pergi darinya.


"Aku tidak bisa menemani mu hari ini. Aku tidak ingin menyakiti mu lagi." Darren kembali melepaskan tangan Viola pada dirinya.


Darren tidak menjawab perkataan Viola dan berjalan mendekat kearah pintu kamar nya. Ia tidak ingin lepas kendali lagi ketika melihat istri nya yang sudah ia sakiti itu.


"Darren," panggil Viola pada Darren


Darren menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh nya itu, "ada apa istriku?"


"Aku takut jika sendirian di sini! Aku mohon jangan pergi." Viola menundukkan kepalanya itu.


Darren menghela nafas nya dengan berat dan berjalan kembali mendekati Viola.


"Sudah jangan takut lagi!" Darren membelai lembut rambut Viola.


"Darren, mengapa kau sangat kasar tadi?" Viola langsung menangis dengan kuat dan memeluk Darren dengan erat nya.


"Aku salah! Aku sangat marah padamu karna sudah bilang kalau hubungan kita ini salah." Darren terus saja membelai rambut Viola.


"Maafkan aku," Viola meminta maaf pada Darren dengan sesenggukan nya.


"Kau tidak perlu minta maaf. Aku yang sudah membuat mu ketakutan seperti ini seharusnya aku lah yang meminta maaf." Darren mencakup wajah Viola dan menghapus air matanya itu.


"Sekarang tidur lah! Hari juga sudah malam." Ujar Darren pada Viola.


Viola langsung tersadar mereka sudah sangat lama berada di dalam kamar sampai malam hari. Viola juga tersadar malam ini adalah malam yang di nantikan oleh Darren dan juga dirinya. Tapi dengan sangat ceroboh nya dia melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan.


"Kau juga tidur lah." Viola menatap kearah Darren yang masih dengan wajah dingin nya.


"Kau tidak takut tidur bersama ku?" Tanya Darren pada Viola.


"Untuk apa aku takut! Bukankah sebelum nya kita juga tidur bersama?" Ujar Viola pada Darren.

__ADS_1


"Sudahlah malam ini kau istirahat saja sendiri! Aku tidak ingin melakukan hal yang akan menyakiti mu lagi." Darren kembali bangkit dari duduk nya itu.


"Kau kan sudah tidak marah lagi! Jadi tidak mungkin kau menyakiti ku." Viola berusaha menahan Darren agar tidak pergi darinya.


"Istri ku! Kali ini berbeda. Kau tidak memakai apapun dan hanya mengenakan baju handuk itu saja bisa membuat aku lepas kendali karna dirimu! Jadi jika kau tidak ingin hal itu terjadi sebaiknya biarkan aku pergi." ujar Darren pada Viola dengan tersenyum tipis pada Viola.


"Darren--" Viola kembali menggenggam tangan Darren.


Darren yang terus menerus di genggam seperti itu hanya bisa menghela nafas nya dan kembali menghentikan langkahnya itu.


"Baiklah aku akan menemanimu sampai kau tertidur." Ujar Darren pada Viola. Ia kembali duduk di samping Viola.


"Setelah itu kau mau kemana?" Tanya Viola pada Darren.


"Aku akan ke lantai 6," jawab Darren.


Viola langsung memeluk tubuh Darren. Ia masih gemetar walaupun rasa takut nya sudah mulai berkurang. Darren yang di peluk oleh Viola hanya menerima nya saja dan menghela nafas nya.


"Ada apa di lantai 6 Darren?" Tanya Viola pada Darren.


"Suatu saat nanti kau akan mengetahui nya." Ujar Darren pada Viola.


"Kenapa tidak sekarang saja aku mengetahui nya?" Viola kembali bertanya pada Darren.


"Istri ku sekarang tidur lah." Darren tidak menjawab perkataan Viola.


"Aku tidak ingin tidur!" Kesal Viola pada Darren karna sejak tadi ia selalu saja di suruh untuk tidur.


"Jika kau tidak ingin tidur, kau ingin apa? Melanjutkan yang tadi?" Darren tidak habis pikir kenapa istri nya itu selalu saja tidak menurut padanya.


Viola hanya diam saja tanpa menjawab ucapan Darren membuat Darren langsung mengusap wajah nya itu dengan sangat kasar.


"Kau menakuti nya lagi sekarang DARREN ABRAHAM KHAN!" gumam Darren di dalam hatinya dengan perasaan yang sangat marah pada dirinya sendiri.


"Istirahat lah dulu! Aku ingin mencari udara segar." Darren kembali bangkit dari duduk nya itu.


"Darren," Viola kembali menarik tangan Darren dengan suara nya yang sangat pelan.


"emh!" jawab Darren pada Viola dan berusaha melepaskan tangan Viola dari tangan nya.


"Darren," Viola kembali memanggil suami dan terus menggenggam tangan Darren dengan sangat kuat


Darren menatap wajah Viola yang masih menunduk itu dihadapan nya, "kau tidak perlu takut istri ku! Aku tidak akan melakukan hal yang akan menyakiti mu lagi." Darren membelai rambut Viola dan kembali melepaskan tangan Viola.


"Ada apa istri ku?" Darren terkejut melihat Viola tidak ingin melepaskan tangan nya itu dari tangan Darren.


"Bisakah kau melakukan nya secara perlahan dan tidak kasar seperti tadi? Aku sangat takut jika melihat mu seperti itu." Ucapan Viola seperti Sambaran petir yang terdengar oleh Darren.


"Apa maksudmu?" Tanya Darren kembali menatap wajah istri nya.


"Mari kita lakukan!" Jawab Viola dengan membalas tatapan Darren padanya.


"Viola jangan bercanda seperti ini! Kau akan menyesalinya." Darren kembali berusaha melepaskan tangan Viola.


"Aku tidak akan menyesalinya! Aku sudah memikirkan nya matang-matang. Walaupun kau tidak mencintai ku tapi aku mencintaimu! Jika suatu saat kau meninggalkanku dan aku hamil aku akan menerimanya dengan lapang dada. Tapi, sekarang biarkan lah aku memiliki mu!" Ujar Viola dengan suara percaya dirinya.


"Dasar bodoh! Bagaimana mungkin aku meninggalkan mu." Darren menyentuh hidung Viola secara perlahan.


"Aku tidak bodoh." Viola mengelus hidung nya itu dengan bibir nya yang maju.


"Kau sudah memutuskan nya bukan?" Tanya Darren sekali lagi pada calon nya.


"Emh!" Viola mengangguk kepalanya itu.


"Viola Talisa! Jika kau sudah memutuskan nya maka tidak akan ada kesempatan untuk membatalkan nya!" Ujar Darren pada Viola membuat wajah Viola langsung memerah.


Darren pun mendekati tubuh nya pada Viola dengan sangat dekat membuat mereka tidak ada jarak sedikit pun. Jantung Viola terus saja berdegup kencang ketika menatap wajah suaminya itu dengan sangat dekat. Hanya senyuman terukir di bibir Darren.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


...****************...


__ADS_2