
Perusahaan Drn.khan
Bobby kini sudah berada di perusahaan sahabat nya. Menatap pria yang masih melihat kearah layar yang berada di depannya dengan sangat serius.
"Bagaimana??" tanya Darren memecahkan keheningan diantara mereka.
"Belum ada tanda-tanda keberadaan nyonya muda tuan." Bobby pun menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak berguna karna belum juga menemukan nyonya muda nya itu.
"Kau itu bagaimana sih!!!" Raung Darren pada sekertarisnya. "Untuk mencari satu orang saja kau tidak becus." Darren sudah benar-benar tidak terkontrol lagi. Dirinya kini seperti orang gila. Karna, Viola.
"Darren! Bersabarlah. Ini baru lewat 1 hari! Kita akan menemukan nya." Bobby kasian melihat sahabatnya seperti itu. Bagaimana bisa seorang miliarder dunia menjadi seperti orang gila hanya karna satu orang wanita.
"Kau bilang bersabar??? Bagi ku satu hari adalah waktu yang paling berharga! Kau lupa aku sangat mementingkan waktu??" Darren menarik kerah baju sahabat nya itu. Menatap dengan sangat tajam, di sudut mata Darren sudah terlihat sangat jelas butiran-butiran air bening yang ingin sekali jatuh. Namun, dia berusaha menahan nya dan mengalihkan pandangannya.
"Menangis lah! Jika itu membuat kau tenang sahabat ku." Bobby menghampiri Darren yang mulai menjauh dari nya. "Aku tau kau pasti sudah mencintai istri mu itu bukan? Dia juga seperti nya cinta pertama mu." Bobby menepuk pundak sahabat nya itu.
"Aku tidak mau terlihat lemah di depan semua orang sekalipun itu sahabat ku sendiri!" Darren kembali duduk ke kursi kerja nya.
"Darren! Aku ini sahabat mu dari kecil? Mengapa kau harus malu menangis dihadapan ku!" Bobby menghela nafas nya dengan sangat perlahan.
"Kau tidak usah membahas tentang persahabatan dulu pada ku untuk saat ini! Jika kau memang benar-benar sahabat ku, kau harus fokus mencari keberadaan istri ku!" Darren kembali melacak jejak keberadaan Viola dari komputer nya. "Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk memerintahkan agen rahasia kita bertindak?
"Aku sudah menyuruh mereka semua. Sekarang mereka sedang melakukan pencarian dimana-mana." Bobby kembali fokus melaporkan semuanya pada Darren.
"Kau sudah memeriksa seluruh cctv-nya?" Darren menatap kearah sahabat nya itu.
"Seluruh cctv yang ada di negara ini sudah ku periksa dan di negara lain jugak sudah diperiksa semuanya." Bobby memberikan flashdisk pada Darren.
"Apa ini?" Darren mengambil flashdisk itu dan memasukkannya ke komputer nya.
"Data seluruh cctv yang sudah kami lacak!" jawab Bobby pada Darren.
"Baiklah ... Bagaimana dengan orang yang menculik istriku? Apa kau sudah menemukan nya?" tanya Darren yang melihat ke arah komputer nya. Melihat data cctv yang diberikan Bobby padanya.
"Aku sudah menemukan siapa pelakunya! Hanya saja kita tidak menemukan bukti yang kuat untuk menjatuhkan dia." Bobby menghela nafas nya.
"Apa maksudmu?" Darren menghentikan kegiatan nya dan melihat kearah Bobby yang menghela nafas.
"Salah satu orang yang menyerang bodyguard mu sudah kami tangkap dan juga kami interogasi. Untuk pertama kali dia tidak ingin mengatakan nya pada ku. Namun, aku mengancam akan menghancurkan keluarga nya dan dia baru memberitahu kan nya pada ku!" jelas Bobby pada Darren.
"Bob...! Langsung ke intinya! Aku tidak ingin tau bagaimana proses nya kau membuat dia untuk jujur!" Darren menatap tajam Bobby
"Baiklah tuan! Dia adalah Evan Anggara, seorang pembisnis yang tidak takut untuk kalah. Orang yang memiliki kekayaan lumayan banyak di Negaranya. Salah satu saingan bisnis yang lumayan berbahaya. Dia juga sekarang saingan bisnis baru kita yang ku beritahukan pada mu kemarin tuan! Adik nya bernama Erik Anggara, adik nya meninggal dunia sekitar 10 hari yang lalu. Penyebab adik nya meninggal adalah mengakhiri hidupnya sendiri. Sampai sekarang belum ada yang mengetahui apa motiv adik nya itu mengakhiri hidup nya sendiri tuan. Bisnis mereka adalah Evn.Aggra groups dan salah satu lawan bisnis yang lumayan sulit bagi kita tuan. Dan sampai sekarang motiv dia menculik nyonya muda juga belum diketahui. Karna, lumayan sulit untuk mencari tahu informasi tentang nya tuan." jelas Bobby dengan sangat panjang lebar nya pada Darren.
"Evan Anggara!" Darren tersenyum tipis mendengar nama itu, "kau tidak cukup sulit untuk ku hadapi! Baiklah akan kulihat sampai kapan kau sanggup bermain api dengan ku tuan Evan Anggara yang terhormat!" Darren yang mendengar nama Evan merasa tertarik untuk menjatuhkan Evan. Karna, bagi Darren lawan yang cukup sulit akan sangat menyenangkan untuk dijadikan nya sebuah tantangan.
"Darren...! Apa yang sedang kau pikirkan?" Bobby yang melihat Darren tersenyum tipis seperti itu merasa merinding.
__ADS_1
"Periksa seluruh cctv yang ada di sekitar perusahaan ini, Kediaman pertama dan kedua ku. Dan juga sekitar apartemenku." Perintah Darren pada sekertarisnya.
"Mengapa kita harus memeriksa nya? Semua yang kau sebut itu berhubungan dengan hal pribadi mu Darren. Aku tidak ingin mencurigai tempat mu sendiri." Bobby berusaha menolak nya. Bagi Bobby hanya orang bodoh lah yang akan menculik seseorang dan menyembunyikan nya di tempat orang yang berhubungan dengan orang yang diculik itu. Apalagi jika yang di culik bukan lah orang yang sembarangan.
"Bob...! Kau ikuti saja perintah ku. Aku sudah tau bagaimana jalan pola pikir nya." Darren tersenyum menatap kearah komputer nya.
"Tapi, ..."
"Bob, kau itu sahabat ku! Jadi tidak masalah jika kau melihat cctv yang ada di kediaman ku dan apartemen ku. Apalagi diperusahaan ini." Darren yang melihat sahabatnya itu masih berdiam diri saja. Menghela nafas nya.
"Baiklah tuan...!" jawab Bobby dan keluar dari ruangan atasannya tersebut.
"Kau itu tidak paham maksud ku Bob!" Darren mengambil ponselnya dan melihat layar ponsel nya yang dimana wallpaper ponsel nya adalah foto pernikahan nya.
"Sebentar lagi aku akan menemukan mu dan membawa mu pulang istri ku!" kini Darren sudah merasa sangat lega. Karna, sudah menemukan titik cerah keberadaan istri nya itu. Jika saja Bobby tidak menjelaskan tentang pria yang menculik istri nya itu. Mungkin sampai sekarang Darren tidak akan menemukan tanda-tanda keberadaan istri nya.
...πΎπΎ...
Kediaman two drn.khan..
Tara yang sudah bangun dari tidur nya melihat kearah jam dinding yang berada dikamar nya dengan mata yang masih mengantuk.
"Ha?? Sudah jam 9! Mengapa aku bangun sesiang ini." Karna, Tara bangun kesiangan dengan segera Tara masuk kekamar mandi dan membersihkan dirinya itu.
"Setelah aku selesai mandi aku akan turun kebawah untuk melihat apakah kakak sudah pulang atau belum!" ujar Tara dengan sangat antusias nya.
"Dimana kakak ya?" Tara terus saja melihat keseluruhan ruangan yang ada dibawah.
"Akan sangat lelah jika mencari kakak di kediaman kakak ipar yang sebesar ini!" kesal Tara. Untuk membayangkan nya saja sudah membuat nya lelah. Apalagi jika melakukan nya.
Pak Dadang yang melihat nyonya Tara seperti sedang mencari sesuatu, langsung menghampiri nya. Dan berniat untuk membantu adik dari nyonya muda nya itu.
"Nyonya Tara...!" Panggil pak Dadang dari arah belakang.
"Iya pak, ada apa?" Tara yang melihat pak Dadang langsung membalikkan tubuhnya.
"Tidak ada apa-apa nyonya! Saya tadi sedang mengawasi para pekerja disini. Namun, saya melihat nyonya Tara sedang mencari sesuatu. Apa nyonya membutuhkan bantuan?" Pak Dadang masih berkata dengan sopan nya pada Tara.
"Saya mencari kak Viola pak! Bapak lihat kak Vio tidak?" tanya Tara pada pak Dadang.
"Nyonya muda belum pulang nyonya Tara." balas pak Dadang dengan tersenyum.
"Berarti kakak masih berada di rumah kak Shelly dong!" gumam Tara dalam hatinya.
"Baiklah pak ... Terimakasih! Kalau begitu saya ke taman belakang dekat paviliun belakang dulu ya pak." ujar Tara yang langsung berjalan menjauh dari pak Dadang. Sementara pak Dadang hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaan nya.
Sesampainya di taman belakang Tara melihat kearah tempat duduk yang sudah tersedia di taman belakang. Dengan segera Tara duduk disitu dan mengambil ponselnya yang ada di saku celana yang ia kenakan.
__ADS_1
"Sebaiknya aku telfon kak Shelly aja! Siapa tau kakak yang angkat. Soalnya ponsel kakak jugak gak aktif dari kemarin." Tara pun menghubungi Shelly.
"Drrtt drtt drtt," getar ponsel Shelly. Shelly yang melihat ponselnya bergetar langsung panik begitu ia tahu siapa yang menelfon dirinya itu. Shelly berusaha mengontrol nafas nya yang sudah naik turun dan mulai mengangkat panggilan dari Tara.
"Kak Shelly! Lama banget sih angkat nya." Ketus Tara pada Shelly.
"Uhh ... Adik kecil, baru lama sedikit saja kau sudah semarah ini pada ku." Shelly berusaha membuat suasana sebiasa mungkin.
"Lama tau kak!" Sungut Tara pada Shelly, "oh iya kak! Mana kak Vio? Soalnya kakak ipar bilang kak Vio tidur dirumah kakak. Karna, kata kakak ipar kak Vio lagi ngambek." Tara pun langsung bertanya pada Shelly. Sementara Shelly sudah merasa kebingungan harus menjawab apa.
"Sial! Suami si Vio gak kasih tau lagi sama Tara kalau kakak nya lagi di culik. Jika udah seperti ini dengan terpaksa deh aku harus mengikuti jejak-jejak kebohongan mereka!" Shelly hanya bisa menghela nafas nya saja.
"Kak Shelly! Kakak kok diam saja sih." Merasa tidak mendapatkan jawaban Tara langsung berteriak dengan sangat keras nya.
"Hey adik kecil! Jika kau berteriak seperti itu maka aku tidak akan menjawab nya." Shelly yang terkejut diteriakin dengan segera mengusap telinga nya itu.
"Siapa suruh kakak gak jawab!" Tara terus saja membela dirinya.
"Baiklah...! Maaf kak Shelly salah." Shelly pun langsung meminta maaf. "Kakak mu sedang mandi Tara."
"Yaudah kasih bentar ponsel nya pada kak Vio kak! Aku ingin bicara pada kakak." ujar Tara pada Shelly.
"Enak saja! Nanti kalau ponsel kak Shelly jatuh masuk kedalam bak mandi gimana ha?" Shelly berusaha membuat alasan sebisanya.
"Sebentar saja loh kak Shelly! Aku cuman ingin menanyakan sesuatu pada kak Vio." bujuk Tara dengan rengek nya.
"Tara...! Kau kan bisa menanyakan nya nanti ketika kakak mu itu pulang. Untuk saat ini jangan menggangu nya dulu! Karna, kakak mu itu lagi galau gara-gara kakak ipar mu yang gak jelas itu." Shelly yang kesal pada Tara dan juga suami sahabat nya itu langsung menekan kan setiap kalimat nya.
"Kak Shelly pelit!!!" Teriak Tara pada Shelly.
"Biarin..! Yasudah kak Shelly mau charger ponsel dulu. Nanti saja nelfon nya! Soalnya ponsel kakak sudah mau mati ni." Shelly pun mematikan ponselnya dan menghela nafas nya dengan sangat lega.
"Syukurlah aku bisa menghindari pertanyaan Tara yang tiada habisnya itu." Shelly benar-benar mulai tenang. Namun, dia juga merasa sedih karna, sampai saat ini sahabat nya itu tidak juga ditemukan.
"Dimana kamu sebenarnya Viola?" lirih Shelly dengan mata yang kembali mulai basah.
Sementara Tara yang melihat panggilan dari nya di putus oleh Shelly merasa sangat kesal.
"Kak Shelly apa-apaan sih! Aku kan ingin berbicara pada kakak ku saja salah!" ketus Tara dengan wajah yang sangat marah.
"Tapi, biar lah kakak menenangkan dirinya dulu dari cengkraman kakak ipar! Lagian ini semua terjadi juga karna aku." Tara merasa sangat bersalah. jika bukan karna dirinya mungkin sampai saat ini mereka akan seperti dulu yang sangat bahagia walaupun hidup sederhana.
Tara termenung duduk di taman memandangi semua bunga dan pepohonan yang ada di taman. Dan juga ada kebun buah yang sangat lebar di halaman belakang.
Dia saja tidak menyangka bisa tinggal di rumah sebesar itu. Antara senang dan juga sedih bagi nya. Senang karna, kakak nya tidak akan kesusahan lagi memikirkan tentang uang dan juga biaya sekolah nya. Namun, dia juga sedih karna, ini semua menghancurkan hidup kakak nya sendiri. Tara menghapus air matanya yang sudah mengalir dengan cepat.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1
...****************...