Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 146 Berkunjung sekaligus bulan madu!


__ADS_3

Sebulan kemudian....


Viola yang sudah terlihat sangat rapi begitu juga dengan Darren berjalan kearah mobil mereka.


"Darren kau yakin tidak perlu membawa barang apapun?" Viola terlihat sangat ragu saat semalam ia bertanya barang apa saja yang harus di bawa, suaminya malah menjawab tidak perlu membawa barang apapun.


"Tidak perlu sayang," Darren membelai rambut istri nya dengan sangat lembut.


"Darren kita akan ke luar negri bukan piknik! Tentu saja kita harus membawa sesuatu. Setidaknya beberapa pakaian!" Ketus Viola pada suaminya yang terlihat sangat santai.


"Sayang kita akan membeli semua yang kita perlukan disana. Lagian terlalu lelah jika kita harus membawa koper." Ujar Darren pada Viola.


"Kau kan bisa menyuruh beberapa pelayan untuk membawa nya." Balas Viola.


"Aku hanya ingin berdua dengan mu disana. Jadi tidak ada satu pun pelayan yang akan ikut bersama kita." Jelas Darren


"Darren kau itu kan laki-laki masaan bawa koper saja lelah." Celetuk Viola.


"Yang ingin ku gandeng itu tangan mu bukan koper!" Darren menatap istrinya dengan tatapan yang sedikit mengerikan membuat Viola menelan Salivanya itu.


"Ah baiklah, kita tidak perlu membawa apapun." Melihat raut wajah suami nya berubah Viola langsung merangkul tangan suaminya dan masuk kedalam mobil.


Darren hanya bisa menghela nafas nya saja dengan kelakuan istri nya itu. Di sepanjang perjalanan Viola terus melakukan Vidio call bersama Shelly.


"Shell," Shelly yang melihat lirikan mata dari sahabat nya langsung mengerti.


"Vi, gue heran kenapa dia tidak ada kabar sama sekali sejak kejadian bulan lalu." Ujar Shelly pada Viola.


"Lo serius Shell?" Viola melirik sedikit kearah Darren yang masih fokus pada laptop nya.


"Tentu saja Vi. Sejak dia mengatakan hal itu sama gue. Dia tidak ada kabar apapun lagi." Jawab Shelly dengan sangat antusias nya.


"Apa mungkin dia berubah pikiran Shell?" Viola menautkan alis nya itu.


"Bagus lah jika dia berubah pikiran." Shelly tersenyum tipis mendengar ucapan Viola.


Entah kenapa hati Shelly terasa sangat sesak mendengar apa yang di katakan Viola pada nya.


"Jika dia berubah pikiran. dia tidak perlu mengatakan hal itu pada ku!" gumam Shelly


"Shell?" Viola yang melihat sahabat nya itu termenung sedikit khawatir.


"Eh iya Vi." Setelah beberapa kali Viola memanggil Shelly, membuat Shelly tersentak oleh lamunan nya.


"Lo kenapa Shell?" Selidik Viola menatap sahabatnya dengan sangat intens.


"Gue gak apa-apa Vi. Oh iya Vi nanti saat Lo udah tiba di Paris kirim salam sama adk kecil ya." Ujar Shelly dengan raut wajah yang tersenyum.


"Tentu saja Shell. Gue akan sampaikan salam Lo pada Tara. Dia pasti senang," jawab Viola dengan sangat antusias nya.


"Oke lah Vi! Oh iya Vi kayak nya gue gak bisa lama-lama deh. Soalnya hari ini pelanggan sangat banyak." Shelly langsung menunjuk pelanggan yang sangat ramai pada Viola.


"Yasudah Shell gak papa. Lagian gue juga udah hampir tiba di bandara. Lo jaga diri baik-baik ya selama gue di luar negeri." Setelah mendapatkan anggukan dari Shelly, Viola pun menutup panggilan nya sambil melambaikan tangan pada Shelly.


"Sudah selesai?" Tiba-tiba saja senyuman yang merekah di wajah Viola langsung menghilang begitu mendengar suara Darren.


"Su-sudah," jawab Viola dengan nada terbata-bata.

__ADS_1


"Viola betapa bodohnya dirimu! Kenapa kau bisa lupa kalau suami mu ini singa. Dia pasti marah karna aku mengabaikan nya sejak tadi dan hanya melakukan video call pada Shelly." Gumam Viola sambil menelan Saliva nya.


"Istriku, kau itu baru saja sembuh. Aku tidak ingin kau terlalu fokus pada layar ponsel mu itu." Ujar Darren sambil membelai kepala Viola membuat Viola sangat terkejut.


"Darren boleh aku bertanya?" Mata Viola menatap kedua mata Darren.


"of course my dear," jawab Darren dengan senyum tipis di bibir nya.


"Kita akan tinggal di hotel mana saat tiba di Paris nanti Darren?" Tanya Viola. Jujur saja Viola sangat penasaran bagaimana hotel di luar negri sana. Ia ingin tau nama hotel tersebut dan mencari nya di internet.


"Kita akan tinggal di mansion drn.khan nanti nya." Jawab Darren dengan nada datar nya.


"Apa!!" Viola sangat terkejut mendengar ucapan suaminya itu.


"Jangan bercanda Darren!" Cetus Viola pada suaminya.


"Istriku, di setiap negara aku memiliki mansion sendiri. Kau pikir aku mau tinggal di hotel yang sudah pernah di tinggali oleh orang lain." Ucap Darren yang lagi-lagi membuat Viola terngangga.


"Sayang, mansion ku itu bukan hanya untuk tempat singgah ku saja. Di sana juga banyak pelayan yang tinggal dan bodyguard lain nya." Jelas Darren saat ia masih melihat wajah istri nya yang berubah.


"Tunggu dulu, bukan nya tadi kau bilang hanya kita berdua saja di Paris. Kenapa sekarang malah banyak sekali pelayan." Viola menautkan kedua alis nya itu.


"Tenang saja, mereka semua saat ini sedang cuti. Kau tidak perlu takut istriku! Tidak akan ada yang mendengar suara indah mu nanti malam kecuali aku." Bisik Darren yang langsung membuat wajah Viola berubah seketika menjadi rona merah


Darren yang melihat Viola salah tingkah hanya bisa menahan rasa tawa nya saja. Jujur saja Darren sudah tidak sabar menghabiskan malam bersama istri nya itu. Hasrat yang sudah Darren tahan selama sebulan ini akhirnya ia bisa melampiaskan hasrat nya itu.


"Oh iya Darren, Tara tinggal di mansion juga?" Darren langsung menatap istrinya yang tiba-tiba saja membuat lamunan nya buyar.


"Tidak istriku." Jawab Darren


"Tapi kenapa?" Tanya Viola dengan nada heran nya.


"Baiklah," Viola yang ngerti akan tatapan nya memilih untuk tetap diam.


Darren tau hati istri nya pasti sedih, dengan sangat lembut Darren memegang tangan Viola dan mencium nya.


...πŸŽ‹πŸŽ‹...


Bandar Udara Charles de Gaulle Paris, (AΓ©roport Paris-Charles de Gaulle).


Akhirnya mereka berdua pun tiba di Paris. Dengan sangat cepat para bawahan Darren yang berada di Paris langsung menghampiri tuan muda nya itu.


"Wellcome young master and young lady," sapa mereka semua dengan wajah yang tersenyum.


"Darren dia bicara apa?" Tanya Viola dengan nada berbisik.


"Tidak penting," jawab Darren.


Viola yang mendengar jawaban dari suami nya merasa sangat kesal. Sementara Darren langsung menggandeng tangan istri nya menuju kearah mobil.


"You don't have to follow me!" Tegas Darren pada para manajer yang sejak tadi mengikuti diri nya


"Mr, There is a very urgent matter." Ujar manajer tersebut.


Sorot mata Darren langsung tajam mengarah pada para manajer. Saat mata nya bertemu dengan mata Viola Darren berusaha menahan emosi nya.


"Darren ada apa?" Tanya Viola dengan khawatir.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa sayang. Kita ke mansion sekarang!" Darren pun masuk ke dalam mobil bersama Viola tanpa menggubris perkataan bawahannya itu.


...🌞🌞...


Mansion utama drn.khan Paris.


Mata Viola langsung takjub melihat kemegahan mansion milik suaminya sejak mereka sudah tiba disana.


"Cup," tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat tepat di bibir Viola. Membuat Viola sangat terkejut.


"Darren, apa yang kau lakukan?" Viola sangat malu melihat perubahan sikap suaminya itu.


"Kau memancing gairah ku sayang! Kau tau bukan aku sangat tidak tahan saat melihat mulut mu terbuka seperti itu." Ujar Darren sambil memeluk tubuh Viola.


"Hah kau itu ada-ada saja! Aku hanya merasa kagum pada mansion mu ini." Jelas Viola yang masih menahan rasa salah tingkah nya.


Saat mereka terus saja bermesraan tiba-tiba saja "ehem!!"


Viola yang mendengar suara tersebut langsung menatap kearah sumber suara itu.


"Tara," teriak Viola dengan spontan menolak Darren begitu kuat.


"Kakak, kapan kakak tiba?" Tanya Tara dengan menahan tawa nya melihat kakak ipar nya itu sudah berada di lantai saat ini.


"Kakak merindukan mu dek. Kakak baru saja tiba." Ujar Viola yang terus memeluk Tara.


"ISTRIKU!!" Panggil Darren dengan suara yang sudah sangat di tekan membuat Viola terkejut.


"Darren mengapa kau ada di lantai? dan kau berbohong pada ku! kau bilang Tara tidak ada di mansion mu." Tanpa merasa bersalah Viola malah menanyakan hal yang semakin membuat Darren emosi.


Tara yang melihat perdebatan antara kakak dan kakak ipar nya hanya bisa tertawa saja. Sementara Viola mulai sedikit merasakan ada perubahan pada adik nya itu.


"Sudah kak, jangan bertengkar lagi." Tara langsung melerai saat pertengkaran mereka mulai serius.


"Bukan salah kakak Tara! Tapi salah dia. siapa suruh dia tidak menahan tubuh kekar nya itu saat kakak dorong." Viola masih tidak terima atas tuduhan suaminya.


"Jika aku tau kau akan menolak ku pada akhirnya, maka aku tidak akan memeluk mu." Darren tersenyum sinis pada Viola.


"Ha? Kalau begitu baiklah! Kau tidak perlu memeluk ku selama nya!" Dengan sangat emosi Viola langsung masuk kedalam kamar nya meninggalkan Tara dan juga Darren.


"What's apa-apaan ini? Mengapa dia merasa seakan-akan dia yang paling tersakiti." Darren memijat kening nya itu dengan wajah yang sangat lelah.


"Kakak ipar, maafkan kak Vio ya. Kak Vio memang seperti itu saat marah. Kuharap kakak ipar mengerti." Tara berusaha menenangkan hati kakak ipar nya. Dia tidak ingin karna kecerobohan kakak nya itu kakak ipar nya menghukum Viola.


"Tenang saja, saya sudah biasa menghadapi sikap kakak mu itu." Darren tersenyum dan menghela nafas nya secara perlahan.


"Jika kakak mu sudah keluar dari kamar nya suruh dia untuk makan. Dan bilang padanya saya mengurus beberapa sedikit masalah di perusahaan saya yang ada disini." Timpal Darren kembali.


"Em, baik kakak ipar." Jawab Tara sambil menundukkan kepalanya.


"Verlin Tara! Setelah urusan saya selesai kau harus menjelaskan semua yang terjadi pada mu di Paris." Tekan Darren membuat Tara bergidik ngeri.


"Apa Kakak ipar tau semua nya ya?" Batin Tara yang masih dengan kepala tertunduk nya.


Darren menghela nafas yang sangat panjang dan langsung meninggalkan adik ipar nya itu. Karna ia juga sangat marah pada bawahan yang membicarakan pekerjaan di depan istri nya.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2