
"Berani sekali kau menyakiti istriku..!" Darren hendak memukul Evan. Namun Viola menahan tangan Darren.
Viola tidak ingin ada perkelahian disini. Dia sendiri saja sudah lelah memikirkan semua masalah yang ia hadapi. Dan sekarang Viola tidak ingin melihat kekacauan lagi jika suami nya bertengkar dengan pria yang sudah menculik nya itu.
"Mengapa kau menahan ku?" Darren menatap kearah Viola dengan sudut matanya.
"Aku tidak ingin ada pertengkaran disini Darren! Aku benar-benar sudah lelah." Darren pun terdiam menatap wajah Viola yang sudah sangat pucat.
"Ikut aku..!" Darren hendak menarik tangan Viola.
"Kita mau kemana?" Viola menatap suaminya dengan tatapan bingung nya.
"Kerumah sakit. Kau tidak lihat apa istri ku? Tangan mu itu terluka! Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada mu." Ujar Darren pada Viola dengan cemas.
"Tuan Darren Abraham Khan! Kau tidak bisa membawa calon istri ku begitu saja." Evan mulai angkat suara ketika melihat Viola akan meninggalkan nya.
"Bos apa yang kau lakukan??" Roy tertegun mendengar ucapan atasan nya itu. Tadinya Roy akan menghela nafas lega nya, karna Darren tidak ingat pada mereka lagi. Namun karna ulah bos nya membuat seorang Darren menghentikan langkah kakinya.
"Kau bilang apa??" Darren menatap tajam kearah Evan ketika mendengar ucapan yang dilontarkan Evan pada Darren.
"Kurasa kau sudah sangat jelas mendengar nya tuan Darren." Evan tersenyum sinis menatap kearah Darren.
"Kau cari mati ya..!" Darren pun langsung melayangkan bogem nya pada Evan dengan sangat kuat membuat Evan mengeluarkan darah di sudut bibir nya.
"Pukulan mu lumayan juga." Evan mengusap bibirnya yang sudah berdarah itu.
"Darren hentikan!" Teriak Viola yang melihat mereka berdua sudah saling memukul.
"Kau suruh aku berhenti? Ketika kau sendiri tau apa yang di katakan bajingan ini pada ku!" Darren menatap tajam kearah Viola yang berusaha menghentikan nya.
"Mengapa kau mendengarkan ucapan nya suami ku." Viola kembali merangkul tangan kekar suaminya itu. "Kau sendiri tau bukan? Aku ini istri mu. Aku tidak mungkin menikah lagi dengan nya." timpal Viola lagi. Ada rasa sakit yang cukup mendalam yang tiba-tiba dirasakan oleh Evan ketika mendengar Viola berbicara seperti itu. Dia sendiri tidak tau kenapa dia merasa sakit di dadanya.
"Tentu saja aku tidak akan menikah lagi! Hutang ku saja pada mu belum lunas. Bagaimana bisa aku menikah lagi dengan pria yang sama tidak waras nya dengan mu!" batin Viola.
"Bagus lah jika kau tau posisi mu itu!" Darren berusaha menutupi rasa senang nya ketika mendengar ucapan Viola.
"Aku lelah Darren. Bisa kita pulang?" Viola memang sudah sangat lelah. Dia sendiri sudah banyak mengeluarkan darah. Syukur saja pendarahan di tangan nya sudah di hentikan sebentar oleh Evan. Namun karna tangan nya terus-menerus di cengkram membuat Viola sangat kesakitan.
"Baiklah istri ku. Kita pulang sekarang!" Darren mengusap wajah Viola dengan sangat lembut.
Viola pun menganggukkan kepalanya. Darren merangkul Viola dengan sangat lembut. tatapan Darren terhenti ketika melihat Evan yang ada di hadapannya.
"Tuan Evan Anggara,Jangan kau pikir aku tidak bisa menjatuhkan mu karna kau terkenal di new York. Menjatuhkan seseorang itu sangat muda bagi ku! Hanya seekor semut seperti mu saja tidak akan pernah bisa menggertak ku sama sekali..!" Darren menatap sinis kearah Evan dan juga Roy. Roy yang mendengar nya menelan saliva nya dengan sangat susah. Dia sendiri tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti pada bos nya itu.
__ADS_1
"Tuan Darren Abraham Khan! Aku tau kau sangat berbahaya di dalam dunia bisnis. Namun kau juga jangan lupa, bahwa aku adalah saingan bisnis terberat mu." Evan sendiri kembali membalas kata-kata Darren dengan sangat tajam.
"Benarkah itu?" Darren yang mendengarnya langsung tertawa dengan sangat besar. Membuat semua orang merasa ngeri mendengar nya. Termasuk sahabat nya sendiri.
"Darren kau itu menakutkan sekali." gumam Bobby yang melihat kearah sahabat nya.
"Darren mengapa kau tertawa?" Viola yang juga merasa aneh melihat Darren dengan segera iya menelusuri mata Darren seperti sedang berusaha menemukan sebuah jawaban.
"Istri ku, kau itu sedang terluka. Jadi diam dan jangan lepas genggaman mu pada ku!" Darren kembali mengusap wajah Viola. Dan kembali menatap kearah Evan.
"Tuan Evan! Saya sarankan anda sebaiknya pulang segera ke negara anda sebelum perusahaan anda benar-benar akan bangkrut!" Darren berbicara dengan aura dingin nya dan penuh penekanan.
"Deg..!" Evan terkejut mendengar apa yang diucapkan Darren padanya. Roy yang mendengar nya dengan segera menghubungi sekertaris bos nya yang ada di new York.
"Hahahaha..!" Lagi-lagi Darren tertawa sangat keras. "Kalian itu baru di gertak saja sudah sangat panik!" Darren pun langsung keluar mengandeng Viola kearah luar.
Sementara Evan sudah sangat geram karna Darren sudah mengerjai nya. Begitu juga dengan Roy. Darren berjalan dan dia juga menghentikan langkah kaki nya sebentar.
"Bob, kau urus mereka..! Karna mereka sudah berani menculik dan juga menyakiti istriku. Jangan biarkan mereka lolos dengan mudah setelah apa yang mereka lakukan..!" bisik Darren pada sekertarisnya itu.
"Baik tuan." balas Bobby.
Darren pun keluar dari apartemen Evan membawa Viola. Evan hendak menghentikan mereka. namun, Evan sendiri sadar dengan dia menghentikan langkah Darren itu sama saja dia mencari kematian yang sia-sia.
...πΎπΎ...
"Roy kau sudah urus keberangkatan ku?" Evan melirik kearah orang kepercayaan nya itu.
"Sudah bos, kita akan berangkat besok." balas Roy yang sedang melihat kearah bodyguard itu dengan menelan saliva nya.
"Bagus! Aku sudah muak berada disini." Evan pun menatap sinis kearah Bobby.
Bobby yang mendapati tatapan seperti itu merasa sangat geram. Ingin sekali dia memukul orang yang sudah ada dihadapannya itu. Karna, sudah membuat dia repot selama 2 hari ini.
"Tuan Evan Anggara," panggil Bobby dengan tersenyum kecil kearah nya.
"Tuan Bobby Charlton, saya tau betul siapa anda. Sekertaris dari pria yang tidak memiliki sikap manusiawi adalah ciri khas tuan mu itu bukan?" Sebelum adik Evan meninggal dunia. Evan juga pernah sempat bertemu dengan sekretaris Darren ketika melakukan kerja sama dengan perusahaan lain.
"Hahaha ... Tuan Evan kau itu sangat mengenal atasan ku ya." Bobby tertawa mendengar ucapan Evan padanya. Bukan nya marah Bobby malahan merasa geli mendengar ucapan itu.
"Mengapa kau tertawa?" Evan merasa aneh ketika melihat Bobby menertawakan nya.
"Tuan Evan, kau sangat mengenal atasan ku! Jadi kenapa kau malah mencari masalah dengan nya?" Bobby pun berjalan ke depan dan duduk di sofa yang ada di ruangan mereka berada.
__ADS_1
Roy sendiri sudah tau seperti apa seorang sekretaris Darren selama ini. Karna, dia juga ingin seperti sekertaris dari Darren yang memiliki karisma yang berbeda.
Banyak pepatah mengatakan tentang mereka, "dimana ada Darren disitu juga ada sekertaris nya."
Kini tatapan mata Bobby beralih kearah Roy dan melihat nya dengan sangat intens membuat Roy merasa risih.
"Tuan Evan, jadi ini orang kepercayaan mu!" Bobby pun tersenyum sinis melihat nya.
"Iya, memang nya kenapa?" Evan yang sudah merasa geram mendengar ucapan Bobby ingin sekali iya menendang laki-laki yang ada di depannya itu.
"Sayang sekali!" Bobby menggeleng kan kepalanya. "Kau sangat cerdas, tapi kau tidak teliti dalam memilih orang yang akan kau jadikan kepercayaan mu."
"Brak!" Evan langsung mengebrak meja yang ada di depannya dengan hati yang sudah sangat memanas. Sementara Bobby dia seperti biasa bersikap tidak terjadi apa-apa.
Bodyguard yang mendengar nya dengan segera berdiri dibelakang Bobby. Namun Bobby pun menyuruh mereka untuk menjauh.
"Bos tenang lah! Aku sudah memperingatkan mu sebelum nya untuk tidak berhubungan dengan mereka. Namun kau tidak mendengar kan ku." Bisik Roy pada Evan.
"Roy!" Evan pun menatap tajam bawahannya itu.
"Tuan Bobby Charlton, kau mungkin sudah tau apa alasan aku menculik istri dari atasan mu itu bukan?" Evan menatap kearah Bobby dan mengambil berkas milik Erik yang sudah berserakan di lantai.
"Itu tidak penting bagi ku!" Bobby membalas tatapan Evan dengan tajam. "Saya hanya ingin mengingatkan anda kali ini! Karna, kau sudah berani membuat masalah. Maka kau harus siap menerima akibatnya!"
"Hahaha baik lah aku siap menerima nya tuan Bobby." Balas Evan pada Bobby. Sementara Roy sudah tidak tau harus berkata apa pada bos nya yang sangat keras kepala itu.
"Kalau begitu, kau harus siap untuk menjalani hari-hari yang penuh dengan masalah tuan Evan Anggara." Bobby pun bangkit dari duduk nya dan melangkah keluar. Sebenarnya Evan juga merasa sedikit ragu membalas ucapan Bobby. Namun dia juga tidak ingin harga dirinya itu jatuh.
"Bos bagaimana ini?" Roy pun menatap kearah bos nya.
"Kau tidak bisa diam apa!" Kesal Evan pada bawahannya itu.
Namun ketika Bobby hendak keluar. Dia pun menghentikan langkah kaki nya sebentar.
"Tuan Evan. Saya melupakan sesuatu!" Bobby kembali berjalan menuju ke Evan. "bughh!" Suatu pukulan yang sangat keras melayang ke wajah Evan. Evan yang terkejut mendapati pukulan tersebut. Karna dia sendiri tidak sempat untuk menghindar.
"Kau!" Evan menatap tajam kearah Bobby dan hendak membalas nya. Namun dengan sigap bodyguard Bobby menghalangi Evan.
"Tuan Evan. Kau sudah melakukan kesalahan besar karna bermain api dengan seorang pria yang sangat tidak berperikemanusiaan seperti atasan ku." Bobby pun tersenyum tipis menatap nya. Sebenarnya Bobby juga senang karna bisa mengambil sedikit kesempatan untuk mengejek sahabat nya itu.
"Pukulan mu akan ku balas nanti!" Evan setengah berteriak melihat Bobby yang sudah menjauh.
"Baiklah tuan Evan akan saya tunggu." Bobby kembali melangkah keluar. Sebelum dia keluar dia sempat memerintahkan bodyguard nya untuk sedikit memberi pelajaran pada Roy dan juga Evan.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...