Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 104 Tidak boleh!


__ADS_3

Kediaman two drn. Khan...


Viola duduk di taman belakang ia masih mencerna baik-baik kejadian yang sempat terjadi di kediaman suaminya ini. Karna kehadiran adik Bobby membuat dia benar-benar bingung tentang apa yang terjadi sebenarnya.


"Kenapa adk nya Bobby terlihat sangat sedih sekali saat Darren membentak nya ya?" Pikir Viola yang duduk di ayunan taman belakang.


"Sebenarnya hubungan diantara Darren dan juga adk nya Bobby apa ya? Seperti nya Darren menyembunyikan sesuatu dari ku." Viola terus saja menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Nyonya muda ini minuman dan juga cemilan anda." Wati yang datang tiba-tiba langsung membuat Viola terkejut.


"Wati! Kau itu mengejutkan ku saja." Viola mengelus dadanya itu.


"Maafkan saya nyonya muda," Wati menundukkan kepalanya di hadapan Viola.


Viola yang melihat Wati seperti ketakutan hanya bisa menghela nafasnya. Karna semua pelayan yang ada di sini selalu saja seperti ketakutan padanya. Semua ini di sebabkan oleh suami nya yang sangat posesif itu.


"Wati kemari lah!" Viola menepuk-nepuk ayunan yang ada di samping nya untuk Wati duduk.


"Saya duduk di bawah aja nyonya muda," Wati merasa takut jika harus duduk bersebelahan dengan nyonya muda nya.


"Duduk lah disini! Aku tidak suka jika ada orang yang duduk di bawah sedangkan aku ada di atas." Viola sedikit berbicara dengan nada serius.


"Baiklah nyonya muda," balas Wati.


Wati tidak ingin nyonya muda nya marah ataupun kecewa pada nya. Sehingga dia memutuskan untuk segera duduk di samping nyonya muda nya dengan sangat sopan.


"Wati aku mau bertanya padamu." Ujar Viola pada Wati.


"Selama pertanyaan nyonya bisa saya jawab, maka saya akan menjawab nya nyonya muda. Nyonya muda ingin bertanya apa?" Tanya Wati pada Viola dengan suara yang sangat lembut.


"Aku mau tau apa hubungan antara suami ku dan juga adik nya sekretaris Bobby ya?" Viola menatap wajah Wati dengan penuh penyelidikan nya.


"Kalau soal itu saya kurang tau nyonya muda. Soalnya saya sendiri juga belum lama bekerja di sini." Jawab Wati dengan suara yang sangat meyakinkan.


"Aku bingung Wati! Seperti nya hubungan mereka tidak seperti seorang adik dan juga kakak." Viola menghela nafas nya itu.


"Nyonya muda jangan khawatir. Saya yakin hati tuan muda hanya untuk nyonya muda kok." Wati berusaha menyemangati nyonya muda nya.


"Ah kau itu bisa saja!" Viola tersenyum kecil dan menepuk pundak Wati dengan pelan.


Wati hanya menundukkan kepalanya dengan tersenyum melihat nyonya muda nya yang sangat mudah tersenyum pada mereka dan juga sangat baik pada mereka.


"Baiklah Wati. Terimakasih kau sudah mau mendengarkan semua ucapan ku." Viola menepuk tangan Wati.


"Nyonya muda tidak perlu berterimakasih kepada saya. Karna itu sudah jadi tugas saya untuk mendengarkan semua perkataan nyonya muda." Jawab Wati pada Viola.


"Oh iya kau ingin makan ini?" Viola menawarkan makanan yang di bawa oleh Wati untuknya.


"Tidak usah nyonya muda saya sudah kenyang. Nyonya saja yang makan ya." Wati menolak tawaran nyonya muda nya secara halus.


"Kau tidak usah merasa tidak enak pada ku! Anggap saja aku sebagai teman mu. Lagian juga usia kita tidak jauh berbeda." Ujar Viola pada Wati dan kembali menawarkan makanan nya pada Wati.


"Menganggap nyonya muda sebagai teman? Bisa-bisa aku di rebus hidup-hidup oleh tuan muda jika seperti itu." Wati bergidik ngeri membayangkan bagaimana murka nya seorang miliarder dunia itu.

__ADS_1


"Bukan begitu nyonya muda. Saya memang benar-benar sudah kenyang. Tadi sebelum mengantarkan cemilan nyonya saya baru selesai makan." Wati kembali menolak tawaran Viola.


"Ah baiklah jika kau tidak mau. Aku juga tidak bisa memaksa mu." Viola meletakkan kembali makanan yang ada di meja samping nya itu.


"Nyonya muda, boleh saya melanjutkan pekerjaan saya?" Wati bertanya sesopan mungkin pada Viola.


"Oh tentu saja boleh. Maaf sudah menganggu pekerja mu Wati." Viola tersenyum pada Wati.


"Sudah menjadi tugas saya melayani anda nyonya muda. Nyonya tidak perlu minta maaf pada saya." Wati merasa tidak enak mendengar perkataan Viola.


"Baiklah Wati kau boleh pergi sekarang." Ujar Viola pada Wati.


"Kalau begitu saya permisi nyonya muda." Wati pun mengundurkan diri di hadapan Viola.


Setelah melihat Wati pergi Viola kembali termenung. Ia merasa takut secara tiba-tiba. Takut kehilang Darren. Terlebih lagi akhir-akhir ini Viola merasa ada yang aneh pada dirinya sendiri.


"Aku ingin naik kendaraan umum," lirih Viola secara spontan membuat pak Dadang yang tadi ingin melihat keadaan taman langsung terkejut mendengar ucapan nyonya muda nya.


"Nyonya muda anda baik-baik saja?" Tanya pak Dadang dengan khawatir.


"Pak Dadang? Sejak kapan bapak berdiri di situ?" Viola kaget melihat kehadiran pak Dadang.


"Baru saja nyonya muda." Jawab pak Dadang.


"Ya Tuhan mengapa semua orang di sini selalu mengejutkan ku." Keluh Viola pada diri nya.


"Nyonya muda baik-baik saja?" Pak Dadang kembali mengulangi pertanyaannya.


"Saya ingin meliha kebun buah di sana nyonya muda." Jawab pak Dadang.


"Boleh saya ikut?" Viola membulatkan matanya itu menatap kearah pak Dadang.


"Sebaiknya nyonya di sini saja. Soalnya jarak kesana lumayan jauh." Pak Dadang tidak ingin nyonya muda nya kelelahan karna ulah nya sendiri.


"Tapi, saya ingin memakan buah yang ada disana pak." Viola semakin menunjukan wajah keinginan nya pada pak Dadang.


"Jika, nyonya sangat menginginkan buah yang ada di kebun. Saya dan pelayan lain nya akan membawakan buah tersebut untuk nyonya muda." Pak Dadang sebenarnya ingin membawa nyonya muda nya melihat kebun buah milik tuan nya itu. Tapi dia sendiri tidak punya cukup keberanian untuk melanggar perintah tuan muda nya yang melarang nyonya muda nya itu melakukan sesuatu.


"Itu berbeda pak! Aku ingin buah yang langsung di petik dari pohon nya langsung." Ketus Viola pada pak Dadang dengan wajah yang cemberut itu. Ia lebih memilih untuk menelpon sekretaris Bobby agar meminta ijin pada tuan muda nya untuk mengajak Viola ke kebun buah milik Darren.


"Ada apa?" Tanya Bobby tanpa basa-basi melalui telpon genggam nya itu.


"Sekretaris Bobby, saya ingin bilang nyonya muda sangat menginginkan makan buah langsung dari kebun buah milik tuan muda. Bisa tolong beritahukan pada tuan muda atas keinginan nyonya muda sekertaris Bobby?" Pak Dadang berbicara dengan intonasi yang sangat formal.


"Ke kebun buah saja harus meminta ijin! Benar-benar orang yang aneh." Kesal Viola.


"Baiklah saya akan bilang pada tuan muda." Bobby pun langsung membisukan panggilan tersebut untuk sementara.


"Dimana Nyonya muda?" Tanya Bobby saat panggilan tersebut sudah tidak ia bisukan lagi.


"Nyonya muda berada di dekat saya sekertaris Bobby." Jawab pak Dadang pada Bobby.


"Berikan ponsel nya pada nyonya muda! Tuan muda ingin bicara pada nyonya muda." Perintah Bobby pada pak Dadang.

__ADS_1


"Baiklah sekertaris Bobby," pak Dadang menjauhkan ponselnya dari telinga nya itu.


"Nyonya muda, tuan muda ingin berbicara dengan nyonya." Pak Dadang langsung memberikan ponselnya itu pada Viola.


Viola menerima telpon tersebut dan langsung mendekatkan telpon itu ke telinga nya.


"Ada apa?" Tanya Viola dengan suara yang ketus.


"Istriku, benarkah kau ingin makan buah dari kebun milik kita?" Darren yang sudah mendengar suara Viola langsung berbicara.


"Bukan hanya itu saja Darren! Aku juga ingin buah yang di petik langsung untuk ku makan." Ujar Viola pada Darren.


"Tidak boleh!" Darren berbicara dengan santai namun, membuat Viola kesal.


"Tapi kenapa?" Tanya Viola dengan suara yang kesal.


"Karna itu belum di sterilkan." Jawab Darren pada Viola.


"Darren itu hanya buah! Bukan kuman yang harus di sterilkan." Viola menekankan kalimat nya pada Darren.


"Aku akan mengijinkan kau memakan nya jika buah itu sudah benar-benar di pastikan kebersihan nya." Tegas Viola pada Darren.


"Darren kau keterlaluan! Aku marah pada mu." Viola dengan wajah yang sudah menahan marah langsung memberikan ponsel itu pada pak Dadang.


"Istriku?" Panggil Darren dengan sedikit teriak.


"Maaf tuan muda ini saya kepala pelayan." Pak Dadang sangat terkejut saat nyonya muda nya memberikan ponsel nya begitu saja padanya. padahal panggilan tersebut belum terputus.


"Dimana istri saya?" Tanya Darren pada kepala pelayan.


"Nyonya muda masuk kedalam kediaman tuan muda." Jawab pak Dadang pada tuan muda nya.


"Baiklah sebentar lagi saya akan pulang." Darren pun langsung memutuskan panggilan nya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari pelayan nya.


"Huh! Selalu saja aku yang jadi korban di balik perang dunia nya tuan dan juga nyonya." Pak Dadang menghela nafas nya itu.


Karna tuan nya tidak mengijinkan nyonya muda nya untuk ikut melihat kebun buah. Pak Dadang pun langsung pergi berjalan kearah kebun belakang untuk melihat keadaan kebun tuan muda nya itu.


Sementara Viola yang sudah berada di dalam kamar nya hanya bisa memukul bantal guling dengan sangat keras. Ia sangat kesal dengan sikap suaminya yang selalu saja melarang ini dan itu.


"Darren itu apa-apaan sih! Memakan buah saja tidak boleh. Aku seperti burung yang selalu di kurung oleh nya." Kesal Viola saat mengingat kembali semua larangan Darren pada nya.


"Dulu saja sebelum aku menikah apapun yang ingin aku lakukan pasti tidak ada yang larang." Keluh Viola.


"Aku sangat ingin memakan buah yang di sana! Kenapa dia terus saja melarang ku?" Lirih Viola.


Viola merasa sangat putus asa. Iya benar-benar menginginkan buah yang di petik langsung oleh tangan nya dan di makan oleh dirinya sendiri. Tapi suaminya selalu saja melarang sesuatu yang tidak masuk akal. Ingin sekali saat ini juga Viola pergi dari kediaman nya dan bertemu dengan sahabat nya itu. Tapi apalah daya para bodyguard terlatih selalu saja mengawasi setiap langkah nya.


Karna Viola juga sudah sangat kesal memikirkan keputusan suami nya itu. Ia lebih memilih menonton Netflix di layar tv yang ada di kamar nya dan juga Darren.


^^^Bersambung....^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2