Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 109 Sebaiknya kita cari tempat lain saja!


__ADS_3

Viola menatap ke jalan yang mereka lewati dengan wajah yang sangat bahagia. Entah sudah berapa lama ia tidak melihat keadaan jalan raya seperti ini.


"Hanya sebuah jalan saja kau terlihat sangat senang," Darren menatap wajah istrinya itu.


"Tentu saja aku bahagia! Kau tidak ingat apa sudah sebulan lebih aku di kurung oleh mu." Gerutu Viola pada Darren.


"Aku mengurung mu bukan berati aku tidak mengijinkan mu untuk tidak pergi. Aku akan mengijinkan mu pergi asal kau pergi bersama ku." Ujar Darren pada Viola.


"Sama saja!" Ketus Viola pada Darren.


Tidak menunggu waktu yang lama mobil yang mereka naikin pun akhirnya berhenti di sebuah gedung yang menjulang tinggi dan juga sangat besar. Viola turun dari mobil nya bersama Darren dan ia langsung mendongakkan kepalanya menatap kearah gedung yang besar itu.


"Istriku," Darren tidak suka jika istri nya menatap sesuatu dengan tatapan yang sangat kagum. Hanya dirinya saja yang boleh di tatap seperti itu oleh Viola.


"Darren kita serius akan kesini?" Viola menatap sekilas kearah Darren lalu kembali lagi menatap kearah bangunan tersebut.


"Tentu saja!" Jawab Darren dengan sangat cepat nya.


"Tapi, Darren barang di sini terkenal sangat mahal. Sebaiknya kita cari tempat lain saja!" Viola teringat saat dirinya hanya ingin membeli sebuah handuk saja namun harga nya di luar akal sehat nya.


"Kau tidak lihat ini mall milik siapa?" Darren hanya menghela nafas nya saja. Saat mendengar istri nya mengatai mall nya sendiri.


"Emang nya milik siapa?" Viola masih tidak mengerti maksud dari ucapan suaminya itu.


"Viola Talisa! Jelas-jelas di situ tertera nama drn.khan Import shopping place. Mall ini punya ku dan jika kau bilang harga barang disini mahal itu karna barang di sini memiliki kualitas yang sangat tinggi. Ada harga tentu saja ada kualitas istri ku." Darren menggelengkan kepalanya itu.


"Oh gitu ya," Viola mengangguk kepalanya lalu seketika mata nya melebar.


"Ja-jadi mall ini beneran milik mu?" Kejut Viola menatap kearah Darren.


"Istriku, kemana saja kau? Kenapa baru terkejut sekarang." Darren hanya tersenyum saja melihat wajah Viola yang sangat lucu.


"Jika begitu mari kita habiskan uang mu!" Dengan sangat senangnya Viola menarik tangan Darren.


"Kau yakin ingin menghabiskan uang ku?" Tanya Darren dengan tersenyum tipis kearah Viola.


"Tentu saja yakin." Dengan sangat semangat nya Viola mengangguk kepalanya.


"Baiklah jika uang ku dalam satu hari ini tidak bisa kau habiskan. Maka, kau harus menerima hukuman dari ku. Bagaimana?" Darren menatap ke arah Viola yang ada disampingnya.


"Lalu bagaimana jika sebaliknya?" Viola menghentikan langkah nya dan membalas tatapan suaminya itu.


"Jika kau berhasil menghabiskan uang yang ada di kartu ATM ini. maka, aku menerima apapun hukuman dari mu!" Darren menaikan satu alis nya di hadapan Viola.


"Deall!" Dengan sangat cepat nya Viola memberikan jabatan tangan pada Darren.


"Deall!" Balas Darren dengan tersenyum pada Viola.


"Aku yakin, uang di kartu ini pasti bisa aku habis kan dalam hitungan menit saja! Karna, Darren membuat kesepakatan tanpa ada rencana sedikit pun." gumam Viola di dalam hati nya.


Namun berbeda sekali yang terlihat di wajah Darren. Karna jelas-jelas kartu yang ia berikan adalah kartu black card yang dimana kartu itu unlimited yaitu tanpa batas.


Mereka pun memasuki mall tersebut. Semua karyawan yang bekerja di sana langsung menunduk kan kepalanya di hadapan Darren. Mereka semua menyambut kedatangan Presdir mereka itu. Sementara Viola yang terus saja di gandeng oleh Darren merasa sangat canggung. Ia tidak terbiasa dengan sikap mereka.


Di kediaman nya saja Viola sudah merasa tidak enak jika di hormati seperti itu. Apalagi di situasi saat ini. Yang jumlah nya jauh lebih banyak dari kediaman Darren.


"Ada apa istriku?" Darren yang menatap istrinya terus menunduk langsung menghentikan langkahnya itu dan menatap wajah Viola.


"Darren bisa kah kau menyuruh mereka untuk bersikap biasa saja saat kita membeli sesuatu disana." Ujar Viola pada Darren.

__ADS_1


"Tentu saja bisa!" Dengan sangat cepat Darren menggerakkan tangan nya yang berarti menyuruh mereka untuk melanjutkan pekerjaan mereka kembali.


Dengan sangat cepat nya mereka semua mengikuti semua perintah Presdir nya itu. Hanya sebuah gerakan tangan saja mereka sudah mengerti.


"Secepat itu?" Viola sangat takjub ketika ia melihat seluruh orang yang ada disana bersikap seperti biasa saja.


"Ya tentu saja! Jika kau menginginkan mereka kembali untuk berkumpul maka aku bisa--"


"Tidak-tidak! Kau jangan membuat ku semakin pusing." Viola langsung berjalan menjauh dari Darren.


Sementara Darren yang melihat tingkah istri nya itu hanya bisa tertawa kecil saja. Ia sangat senang jika melihat wajah istri nya seperti itu. Namun, tanpa Viola sadari ketika ia terus berjalan dengan menggelengkan kepalanya ia tiba-tiba saja menabrak sesuatu.


"Aww!" Viola mengelus kening nya itu.


"Istriku!" Darren terlihat panik saat melihat istri nya menabrak seseorang.


"Kau baik-baik saja?" Tanya orang tersebut pada Viola.


Viola mendongakkan kepalanya dan menatap kearah orang yang ia tabrak, "kau?" Mata Viola membulat saat melihat siapa yang ia tabrak.


"Kau adik nya Bobby kan?" Timpal Viola lagi dengan wajah yang sudah tersenyum.


"Istri ku kau baik-baik saja?" Darren langsung melihat kearah kening Viola dan langsung meniupi nya. Ia sama sekali tidak menatap kearah Vaya yang sudah berdiri di depan nya.


"Darren lihat siapa yang aku jumpai! Ini Vaya adik nya Bobby." Viola langsung menyuruh Darren melihat kearah Vaya. Ia sudah tidak memperdulikan kening nya yang masih terasa sakit karna tabrakan nya dengan Vaya.


"Kak Darren," Vaya menatap kearah Darren.


Darren yang di panggil oleh Vaya hanya memasang kan wajah datar nya saja tanpa menjawab sepatah katapun dari Vaya.


"Darren! Vaya sedang memanggil mu." Viola menghela nafas nya saat ia melihat sifat dingin suami nya itu kembali lagi.


"Aku tidak tau kak! Aku berbeda apartemen dengan kak Bobby." Jawab Vaya tanpa mengalihkan pandangannya dari Darren.


"Emh," hanya itu saja jawaban akhir dari Darren.


"Oh iya Vaya, kau sedang berbelanja juga ya?" Tanya Viola pada Vaya.


Vaya tidak menjawab sedikit pun perkataan Viola. Sehingga membuat Viola sedikit kesal. Namun dengan sangat cepat ia mengubur rasa kesal nya itu dan berpikir, "mungkin dia tidak terlalu suka jika terlalu akrab dengan orang yang baru ia kenal!'' begitu lah yang ada dipikiran Viola saat ini.


"Kakak sedang apa di sini? Aku berniat ke kediaman kakak loh." Vaya menatap intens Darren. Namun, Darren terus saja memasang wajah dingin nya itu.


"Darren," Viola menyenggol lengan Darren agar menjawab ucapan dari Vaya.


"Kau tidak lihat aku sedang menemani istri ku berbelanja." Jawab Darren dengan penuh penekanan nya.


"Kenapa sebelumnya kakak tidak pernah mengajak ku berbelanja? Kenapa harus aku paksa dulu baru kakak mau menemani aku berbelanja? Itu pun saat berbelanja kakak tidak memperdulikan kan ku. Tapi, kenapa sekarang kakak melakukan hal yang sama sekali bukan seperti kakak yang dulu!" Vaya merasa sangat sedih mendengar jawaban dari Darren. Ia tidak menyangka bahwa pria yang sangat ia cintai berubah total.


Awal nya Vaya ke mall milik Darren ini hanya ingin membeli beberapa pakaian saja. Karna ia ingin terlihat berbeda saat datang ke kediaman Darren. Namun, tanpa ia sadari ia malah melihat hal yang bisa membuat dia sangat sakit hati.


Sementara Viola yang mendengar ucapan Vaya merasa sangat bingung. Viola selalu bertanya-tanya di dalam hati nya sebenernya hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik atau lebih dari itu. Karna ucapan dari Vaya mengarah di kedua hal yang ia pikirkan.


"Darren, aku tidak mengerti apa maksud dari perkataan nya?" Viola memilih bertanya pada Darren yang tanpa merasa bersalah sedikitpun karna sudah membuat air mata Vaya menetes.


"Vaya, aku tidak ingin melihat mu menangis di sini! Sebaiknya kau pulang saja agar kau bisa lebih tenang. Aku butuh waktu untuk ini semua!" Darren menghela nafasnya itu. Ia tau bagaimana perasaan Vaya saat ini. Karna sebelumnya Darren juga merasa sangat sakit hati saat Evan berkata ingin menikahi istri nya itu.


"Darren ada apa ini!'' Viola semakin seperti orang bodoh yang tidak tau kemana arah perkataan mereka.


Vaya menyeka air matanya beralih menatap kearah wanita yang kini sudah mengambil posisi yang seharusnya menjadi milik nya itu.

__ADS_1


"Kau mau tau apa yang terjadi saat ini dan 2 tahun yang lalu?" Vaya menatap kearah Viola dengan sangat tajam.


"2 tahun yang lalu? Maksudnya apa?" Viola semakin seperti orang yang kebingungan.


"2 tahun lalu adalah semua kisah yang terjadi antara keluarga ku dan juga keluarga kak Darren. Kau tau seharusnya saat ini aku lah--"


"Vaya Charlton!! Kau sudah melewati batasan mu." Sergah Darren pada Vaya.


Orang-orang yang ada di sana sangat terkejut dan menatap kearah mereka bertiga. Namun, dengan sigap nya para bodyguard pribadi Darren sudah mengamankan tempat yang saat ini tuan nya berada.


"Kenapa kak? Kau takut menceritakan kehidupan mu pada istri mu sendiri?"mata Vaya sudah memerah menatap kearah Darren.


"Pulang lah kau! Sebelum aku menghubungi kakak mu." Darren menatap tajam kearah Vaya.


"Hubungi saja! Aku tidak peduli." Tantang Vaya pada Darren.


Viola yang melihat kejadian yang ada di mata nya hanya diam Saja. Ia mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Kenapa semua nya seperti teka teki bagi Viola.


"Baiklah jika itu keinginan mu!" Darren pun mengeluarkan ponsel milik nya dari saku celananya. Ia langsung menekan layar ponsel nya itu dan menghubungi Bobby.


"Ada apa tuan muda?" Bobby yang baru saja selesai mandi sangat terkejut ketika Darren menghubungi dirinya di hari libur seperti ini.


"Segera kau urus adik mu sebelum aku lepas kendali!" Perintah Darren dengan suara yang sudah menahan emosi nya itu.


"Maksud anda Vaya?" Bobby masih belum mengerti akan ucapan dari Darren yang tiba-tiba saja berbicara dengan intonasi yang sangat tajam.


"Selain dia siapa lagi adik yang kau miliki!" Tekan Darren pada Bobby


"Anda di mana sekarang tuan muda?" Bobby berusaha menenangkan suasana yang menegangkan itu.


"Datang lah kau ke mall miliki dan jemput lah adik mu yang sudah kehilangan tata Krama ini." Darren langsung mematikan ponselnya itu.


Sementara Bobby yang mendengar ucapan dari Darren sangat terkejut. Bahkan Darren sendiri berpikir hal yang sama dengan nya. Vaya dulu terkenal gadis yang sangat sopan. Namun, mengapa dia sekarang menjadi gadis yang sembrono seperti ini.


"Vaya! Vaya! Vaya!" Bobby berusaha menenangkan emosi nya itu. Ia tidak ingin suasana semakin memanas karena emosi yang ia miliki.


Sementara Vaya yang menatap kearah Darren merasa tidak percaya sama sekali. Bagaimana bisa Darren menyimpulkan dia seperti gadis yang ia katakan tadi.


"Darren kau tidak boleh seperti itu! Kasian Vaya." Walaupun Viola tidak mengerti ada apa sebenarnya yang terjadi saat ini. Namun, ia tau jika seorang gadis di bilang seperti itu pasti sangat menyakitkan.


"Diamlah di tempat mu istriku!" Tegas Darren pada Viola.


"Sebegitu takut nya kah kau kak? Sehingga kau mengancam ku dengan kakak ku sendiri." Sinis Vaya menatap kearah Darren.


"Aku tidak takut jika istri ku mengetahui semuanya! Tapi, jika ia harus tau hal yang menyangkut tentang diriku maka ia harus tau semua itu dari ku sendiri." Balas Darren pada Vaya.


"Kalian tidak malu apa jika ada orang yang melihat kejadian hari ini?" Viola berusaha mencari cara agar masalah ini cepat selesai.


"Cih! Kau pikir suami mu ini orang biasa apa. Yang akan membiarkan orang menyebarkan masalah tentang dirinya. Jangan kan untuk tersebar! Di dengar saja tidak akan pernah ada." Vaya menatap sinis kearah Viola membuat Viola langsung terdiam.


Sedangkan Darren hanya bisa menghela nafasnya saja. Ia benar-benar tidak habis pikir seorang adik dari orang kepercayaan nya bisa seperti ini.


"Sebaiknya kau pulang lah! Sebelum kakak mu itu sampai kemari." Darren kembali mengingatkan Vaya. Karna ia tau jika Bobby sudah sangat marah ia tidak akan mikir lagi siapa yang akan ia hadapi.


"Aku tidak peduli kak! Lagian hampir setiap hari aku bertengkar dengan nya." Jawab Vaya dengan sangat enteng nya.


Darren hanya menatap kearah Vaya sekilas lalu ia memilih untuk duduk di sofa yang ada di mall milik nya. Sementara Viola hanya mengikuti saja kemana langkah suaminya itu. Dan Vaya ia akan dengan sangat sabar nya ikut kemana pun Darren berada. Walaupun saat ini Vaya sangat kesal dengan perilaku Darren padanya. Namun, ia akan tetap berusaha mendapatkan Darren kembali.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2