
Boby menatap wajah Shelly dengan sangat intens lalu menatap kearah majalah yang sedang di buka oleh wanita nya.
"Sedang apa kau?" Tanya Bobby dengan intens.
"Kau tidak lihat aku sedang apa?' jawab Shelly dengan sangat kesal.
"Maksud mu membaca majalah?" Bobby menaikan alis nya itu.
"Sudah tau pakek bertanya lagi!" Ketus Shelly.
"Shelly Rula! Kau wanita paling unik yang pernah aku jumpai." Bobby tertawa tipis menatap Shelly.
"Apa maksud mu?" Shelly menatap tidak suka kearah Bobby.
"Kau itu membaca majalah terbalik! Seharusnya kau membaca nya seperti ini." Bobby berjalan mendekat kearah Shelly lalu membenarkan majalah yang dibaca Shelly membuat Shelly langsung malu.
"Is suka-suka aku dong! Aku mau membaca nya seperti ini. Itu terserah pada ku!" Karna sudah terlalu malu Shelly kembali membalikan majalah seperti pertama kali nya.
"Baiklah terserah apa mau mu." Bobby tersenyum tipis.
"Kau masih mengejek ku?" Shelly menatap intens wajah Bobby.
"Tidak sayang," Bobby mencubit pipi Shelly Dengan sangat gemas nya. Lalu ia beralih menatap kearah perut datar Shelly.
"Hallo sayang, bagaimana kondisi anak Daddy saat ini? Baik-baik ya di sana sayang. Jangan terlalu menyusahkan mommy mu yang bawel ini ya." Bobby mengelus-elus perut datar Shelly dan mengajak bayi yang ada di perut Shelly berkomunikasi.
"Bob, baby kita tidak akan mendengar kan mu." Tutur Shelly pada Bobby.
"Sayang kenapa kau berbicara seperti itu?" Bobby menatap tidak suka kearah Shelly.
"Itu karna dia masih sekecil biji Bob. Dia masih belum berbentuk!" Shelly menghela nafas nya itu.
"Tidak apa-apa setidaknya dia tetap akan mendengar kan apa ucapan Daddy nya ini." Bobby tidak peduli dengan ucapan Shelly membuat Shelly menggeleng-gelengkan kepalanya saat Bobby kembali berbicara pada perut nya.
"Terserah mu saja!" Shelly terlalu lelah hari ini. Ia pun mulai merebah kan tubuh nya itu.
Bobby langsung memegang perut Shelly secara perlahan saat Shelly hendak tidur membuat Shelly sangat kesal. Ia kesal Bobby lebih perhatian pada janin yang ada di perut nya ketimbang diri nya itu. Bobby tidur di samping nya sambil mengusap-usap perut nya lalu mencium perut nya terlebih dahulu baru diri nya sebelum mereka terlelap dalam tidur mereka.
...☄️☄️...
Keesokan hari nya...
Viola yang sudah berpenampilan cantik kini duduk di ruang tamu sembari ia menunggu suami nya turun dari lantai 2.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Viola saat sudah melihat sosok pria yang sejak tadi ia tunggu.
"Tadi ada urusan sebentar. Kita mau kemana sebenarnya?" Tanya Darren pada Viola.
"Kau tidak ingat apa yang kukatakan semalam?" Viola menatap suaminya dengan sangat kesal. Bagaimana bisa suaminya melupakan ucapan nya begitu saja saat ia sendiri sudah lelah berbicara panjang lebar.
"Maafkan aku sayang, aku terlalu sibuk bermain-main dengan tubuh mu ini." Darren tersenyum sambil mengecup kening Viola
"Baiklah kau menang hari ini. Tapi, jika lain kali kau tidak mendengarkan ku, jangan harap kau bisa tidur bersama ku lagi!" Ancam Viola membuat Darren ingin sekali tertawa.
Darren sangat gemas melihat tingkah istrinya itu. Ia hanya bisa mencubit pipi istri nya dengan lembut lalu meraih pinggang Viola.
__ADS_1
"Jangan pernah berubah sayang!" Bisik Darren dan berjalan kearah mobil sambil merangkul pinggang Viola. Viola yang mendengar ucapan Darren hanya bisa tersipu malu saja.
Viola sendiri tidak menyangka seekor singa dan pria Mr. Ice bisa bersikap sangat romantis dan ini adalah momen terlangka bagi nya.
"Kita mau kemana istri ku?" Tanya Darren saat sudah di dalam mobil.
"Kita akan makan siang di restoran favorit mu." Viola tersenyum menatap kearah Darren.
"Memang nya kau tau restoran favorit ku Dimana?" Darren tersenyum tipis sambil memainkan rambut Viola.
"Tentu saja aku tau suami ku. Kau kan suka hidangan Inggris dan aku sudah menanyakan pada mama di mana restoran favorit mu."
Dengan bangga nya Viola tersenyum penuh kemenangan saat suami nya tidak menjawab lagi. Viola membuka jendela mobil nya, ia ingin merasakan bagaimana suasana romantis saat sedang di perjalanan. Angin yang menyentuh di kedua pipi nya membuat Viola tersenyum bahagia sambil memejamkan mata nya agar bisa menikmati suasana yang jarang sekali terjadi.
"Kau tau kenapa aku memilih mu istri ku?" Tiba-tiba saja suara Darren sontak membuat wajah Viola melihat kearah nya.
"Apa maksud mu Darren?" Viola yang masih tidak mengerti hanya bisa menatap intens suami nya.
"Kau tau alasan apa yang bisa membuat ku terlalu ingin memiliki mu? Bahkan aku memilih mu tanpa berpikir dua kali." Ujar Darren kembali, lalu memegang tangan Viola.
"Kenapa?" Viola menatap suaminya.
"Itu karna kau berbeda dari yang lain." Darren membelai rambut Viola dengan sangat lembut.
"Berbeda? Jelas-jelas kami semua sama-sama wanita. Apa yang berbeda Darren? Sehingga kau memilih ku untuk menikah kontrak dengan mu sebelum nya."
Jujur saja sampai sekarang alasan Darren yang sebelumnya menikah kontrak dengan nya hanya Karna omay dan juga mama nya sangat tidak masuk akal bagi Viola. Bahkan saat omay Darren sudah baik-baik saja Darren tidak juga menceraikan nya. Sampai pada akhirnya mereka saling mencintai dan hidup bersama selamanya nya.
"Kau itu sebenarnya polos atau bodoh istriku?" Darren menghela nafas nya membuat wajah Viola memerah karna marah.
"Sayang, kau dan wanita lain itu berbeda. Disaat wanita lain berbondong-bondong untuk mendekati ku. Kau malah menjauh dari ku, menolak ku dan bahkan di saat sudah menikah pun kau memutuskan untuk bercerai dengan ku. Selain itu harta ku tidak berarti di mata mu! Walaupun kau sudah menikah dengan orang yang sangat kaya, itu bukan berarti kesederhanaan mu hilang. Bahkan kau tetap bersikap rendah hati pada semua pelayan ku walaupun terkadang mereka tidak sopan pada mu." Terang Darren pada Viola.
"Dan satu lagi yang membuat ku bangga pada mu! Kau terus berusaha semampu mu agar adik mu bisa sekolah sangat tinggi. Kau pun rela berkorban demi adik mu itu. Aku bangga sekali memiliki istri seperti mu sayang." Timpal Darren kembali membuat air mata Viola menetes.
"Darren lihat lah air mata ku keluar karna perkataan mu," lirih Viola memperlihatkan air mata nya di hadapan Darren.
"Kau itu," Darren tersenyum dengan menggeleng kan kepalanya lalu mengusap air mata Viola dengan sangat lembut
"Darren aku mencintaimu," Viola memeluk tubuh kekar Darren dengan sangat erat nya. Ia benar-benar sangat bahagia memiliki Darren dan yang lain nya. Walaupun orang tua nya sudah tiada. Setidaknya saat ini dia benar-benar sangat bahagia.
"Aku juga," balas Darren dengan mencium rambut Viola.
Disepanjang perjalanan mereka terus saja bermesraan satu sama lain. Membuat supir pribadi Darren hanya tersenyum saja.
"Tuan muda, nyonya muda! Kita sudah sampai." Panggil supir pribadi Darren saat mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka.
Darren dan Viola langsung turun dari mobil saat pintu mobil mereka sudah di buka kan. Dengan sangat cepat Viola memberi kabar melalui pesan pada Shelly kalau mereka sudah sampai.
"Shell gue udh sampai! Lo udah di mana?" Tanya Viola melalui ponsel nya
"Gue juga bentar lagi sudah mau sampai." Balas Shelly.
"Shelly jangan terlalu cepat sampai sini! Tunggu gue pesan makanan dulu agar lebih muda menahan Darren." Balas Viola lagi.
"Oke Vi," pesan mereka pun selesai sampai di situ saat Shelly sudah mendapatkan kabar dari Viola.
__ADS_1
Shelly yang duduk di dalam mobil langsung mencari cara agar bisa mengulur waktu sedikit lama.
"Aww," ringis Shelly memegang perut nya
"Ada apa?" Bobby yang melihat Shelly memegang perut nya dengan sangat cepat ia menepi kan mobil nya.
"Perut ku tiba-tiba terasa sakit. Seperti nya bayi kita sedang menendang!" Bohong Shelly pada Bobby
"Menendang?" Bobby menautkan alis nya lalu memegang perut Shelly.
"Iya, menendang Bob! Kau tidak percaya pada ku?" Tatap Shelly dengan sangat kesal nya.
"Sayang bukan nya aku tidak percaya! Hanya saja, bukan kah sebelum nya kau bilang bayi kita masih sebesar biji?" Ucap Bobby yang masih terus memegang perut Shelly untuk memastikan kan nya kembali.
"Sial! Shell mengapa kau bodoh sekali." Shelly langsung menerutuki kebodohan nya itu.
Namun, tiba-tiba saja pesan ponsel Shelly berbunyi. Shelly yang melihat pesan nya langsung tersenyum.
"Eh, seperti nya tidak deh."
"Apa maksud mu?" Bobby yang terkejut saat Shelly menyingkirkan tangan nya dari perut Shelly. Membuat Bobby semakin tidak mengerti.
"Maafkan aku sayang! Seperti nya yang menendang perut ku tadi bukan bayi kita. melainkan cacing-cacing yang ada di perut ku ini. Karna saat ini aku sudah sangat kelaparan!" Tukas Shelly sambil menggaruk-garuk tekuk leher nya yang tidak gatal.
"Kau itu ada-ada saja!" Bobby yang sudah sempat senang sesaat hanya bisa menghela nafas nya saja.
"Yasudah sebaik nya kita pergi ke tempat terdekat saja. Agar kau dan bayi ku tidak kelaparan!" Tutur Bobby membuat mata Shelly melebar dan memegang tangan Bobby
"Tidak!" Sergah Shelly.
"Aku mau makan di restoran yang ada daftar menu Inggris nya dan itu juga harus yang sering kau kunjungi." Shelly menatap sendu kearah Bobby.
"Restoran yang sering aku datangi?" Bobby menautkan alis nya itu.
"Iya sayang," jawab Shelly.
"Kau yakin akan menyukai makanan nya?" Bobby menelisik wajah Shelly dengan sangat dalam.
"Tentu saja yakin. Ini semua kan keinginan baby kita!" Ucap Shelly dengan sangat percaya diri nya. Walaupun jujur saja ia belum pernah sama sekali merasakan makanan tersebut.
"Baiklah kalau itu keinginan baby kita." Bobby tersenyum lalu kembali mengemudi kan mobil nya.
Sebenernya Bobby juga sangat rindu dengan masakan pada restoran tersebut. Terlebih lagi tempat tersebut adalah tempat ia bersama sahabat nya kalau sedang berkumpul.
Viola yang saat ini sudah duduk manis di sebuah ruangan kelas atas yang dimana Darren sudah boking di ruangan kelas atas tersebut agar tidak ada yang boleh masuk membuat Viola sedikit kesal.
Namun, jangan salah dulu! Setelah ruangan ini deal Darren boking. Viola langsung mengambil kesempatan untuk menyuruh para pelayan agar tidak melarang masuk wanita dan pria yang ada di foto ia tunjuk pada pelayan tersebut secara diam-diam. Saat pelayan sudah oke dengan rencana nya membuat Viola tersenyum lebar.
"Kau kenapa istri ku?" Tanya Darren yang sejak tadi melihat Viola cengar-cengir tidak jelas.
"Tidak apa-apa," balas Viola. Ia masih tersenyum karna dia sangat bangga akan kepintaran nya itu.
Hanya helaan nafas saja yang bisa Darren lakukan melihat tingkah konyol Viola. Sungguh terkadang Viola membuat nya gemes dan juga sedikit kesal.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1
...****************...