Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 128 Apa maksud mu?


__ADS_3

Shelly yang sudah sedikit tenang perlahan melerai pelukan nya pada Viola. Helaan nafas Viola terdengar oleh Shelly.


"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Viola pada mereka semua.


"Shell, gue udh baik-baik saja. Jadi jangan nangis lagi ya!" Viola mengusap sisa air mata sahabat nya.


"Istriku, kita perlu bicara." Darren menatap Viola dengan tatapan datar nya.


Viola langsung terdiam mendengar ucapan dari Darren. Ia takut pria yang ada di hadapannya itu marah pada nya karna sudah berani tidak mendengar ucapan nya yang mengakibatkan dirinya kecelakaan.


"Kau ingin bicara apa suamiku?" Mata Darren langsung melebar mendengar ucapan dari Viola.


"Su-suami ku?" Darren mengulangi ucapan dari Viola.


"Kau kan memang suami ku." Jawab Viola yang mulai terukir sebuah senyuman di wajah Viola.


"Aku memang suami mu dan seterusnya akan tetap menjadi suami mu!" Tegas Darren pada Viola.


"Darren kau baik-baik saja bukan?" Viola merasa heran melihat sikap suaminya yang aneh.


"Dia baik-baik saja Nyonya muda," seseorang dari arah belakang membuat tatapan mata Viola beralih ke suara tersebut


"Dokter Andhika," Viola hanya bisa tersenyum saja menatap kearah Andhika.


"Nyonya muda bagaimana perasaan anda?" Tanya Andhika pada Viola.


"Cukup baik dokter," jawab Viola.


Sementara Darren yang melihat Viola mengobrol pada Andhika berusaha mengambil kesempatan dengan mengatakan sesuatu pada Bobby.


"Ajak lah omay dan juga mama ku keluar dari sini! Aku ingin berbicara dulu pada Viola." Perintah Darren pada Bobby.


"Tapi tuan Nyonya besar pasti menolak." Bobby tau bagaimana sifat dari mama sahabat nya itu.


"Kau hanya perlu membuat omay ku keluar saja! Jika omay ku setuju untuk keluar maka mama ku pasti akan keluar." Ujar Darren tanpa mengalihkan pandangannya kearah Viola.


"Baiklah tuan saya akan berusaha membujuk nyonya tertua dan nyonya besar untuk keluar." Bobby langsung melangkahkan kaki nya menuju kearah Omay dan juga mama Darren.


Tidak butuh waktu yang lama Bobby berhasil membujuk omay untuk keluar. Karna dugaan dari sahabat nya itu benar. karna nyonya besar juga ikut keluar bersama nyonya tertua dengan sedikit wajah yang kesal. Bobby yang sudah selesai mengajak omay dan juga mama dari sahabat nya itu kembali memasuki ruangan dimana istri dari sahabat nya berada.


"Dokter bagaimana kondisi kandungan saya?" Ucapan Viola spontan membuat Darren, Bobby, dan Shelly sangat terkejut.


"Nyonya muda, anda tahu? jika kita ingin memperoleh sesuatu maka kita juga harus siap untuk kehilangan sesuatu." Andhika kembali fokus ke pemeriksaan nya.


"Dokter Andhika jangan bermain kata-kata pada ku!" Viola sangat kesal pada Andhika. Dari Andhika masuk sampai melakukan pemeriksaan hanya secara profesional sebagai seorang dokter. Berbeda sekali pada saat mereka bertemu pertama kali nya.


"Anda sudah baik-baik saja!" Ujar Andhika kembali.


"Dokter Andhika anda mau kemana?" Viola yang melihat Andhika ingin pergi merasa semakin bingung.


"Nyonya muda, saya harus memeriksa pasien saya yang lain! Karna tidak hanya anda saja yang membutuhkan saya disini." Andhika sedikit melirik kearah Darren. Darren yang di lirik oleh Andhika hanya memasangkan wajah dingin nya saja.

__ADS_1


"Dokter Andhika," Viola kembali menghentikan langkah Andhika.


Andhika membalikkan tubuhnya dengan wajah yang tersenyum paksa.


"Bagaimana kondisi bayi ku?" Tanya Viola kembali pada Andhika yang membuat suasana kembali mencekam.


"Tuan muda?" Andhika menatap kearah Darren dengan wajah tenang nya.


Andhika tau masalah sahabat nya merupakan masalah nya juga. Namun, karna Andhika seorang dokter ia harus menjelaskan nya pada pasien nya mengenai kondisi pasien nya tersebut. Sebelum Andhika menjelaskan Andhika memilih untuk meminta ijin terlebih dahulu pada sahabat nya walaupun ia sendiri masih sangat marah pada Darren.


"Biar aku saja yang menjelaskan nya pada istriku!" Darren paham akan tatapan mata dari Andhika. Membuat Darren harus berani menceritakan semua nya dari diri nya sendiri.


"Shell ada apa ini?" Tanya Viola dengan suara yang sangat pelan pada Shelly yang berada di samping nya.


Shelly hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan dari Viola. Mau bagaimana pun ini adalah urusan rumah tangga sahabat nya yang memang ia tidak berhak untuk ikut campur.


"Kalian semua aneh!" Viola menggelengkan kepalanya itu.


"Semoga saja kau tidak seperti mereka ya sayang," Viola tersenyum sambil mengelus perut nya yang datar itu.


Shelly yang melihat Viola melakukan hal itu semakin tak kuasa menahan tangis nya. Dengan sigap Bobby menghampiri Shelly dan langsung memeluk tubuh Shelly.


"Shell Lo kenapa sih?" Viola sangat terkejut mendengar tangis Shelly yang keluar lagi.


"Ada apa ini Darren?" Nada Viola terdengar sangat serius oleh mereka.


"Jelaskan tuan muda! Kau tau semakin masalah ini kau undur maka kita tidak akan pernah tau sebesar apa resiko yang akan kita dapatkan." Bisik Andhika pada Darren.


"Kau yang harus tau Kasella! Emosi yang kau tuju pada ku bukan karna perkara aku membentak mu tadi. Melainkan hal yang berbeda!" Sinis Darren dan berjalan kearah Viola.


"Kenapa kau minta maaf Darren?" Viola semakin kebingungan.


"Allah lebih menyayangi bayi kita! Sehingga kita belum di kasih kepercayaan untuk merawat nya." Ujar Darren dengan suara yang sangat pelan membuat semua orang yang berada disana memejamkan mata mereka sejenak


"A-apa maksud mu Darren?" Viola langsung melerai pelukan Darren pada nya.


"Aku tidak sanggup untuk mengatakan nya Viola Talisa!" Darren meremas selimut yang ada pada Viola untuk menahan agar air mata nya tidak menetes. Namun, semuanya hanya lah sia-sia saja. Air mata Darren sudah keluar dengan sangat deras nya walaupun tidak ada suara tangis dari bibir Darren.


"Darren, kenapa kau seperti ini?" Viola ikut menangis melihat sikap Darren.


"Sayang maafkan aku! Seharusnya aku lebih menjagamu. Jika saja aku langsung memecahkan kaca mobil mu atau menghadang mobil mu. Mungkin kau tidak akan kecelakaan yang mengakibatkan kita kehilangan bayi kita." Jelas Darren dengan wajah yang kembali kacau.


"Ke-kenapa kau tidak mengatakan nya pada ku? Kenapa aku tau kau hamil saat aku kehilangan bayi ku?" Darren masih tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Ia berharap ini semua adalah mimpi. Tapi ini adalah sesuatu yang terasa sangat nyata.


Viola hanya diam membisu mendengar ucapan dari Darren membuat Shelly merasa sangat khawatir dengan wajah sahabat nya yang seperti itu.


"Vi?" Shelly langsung mendekati Viola.


"Istriku? Kenapa kau diam saja? Kau tidak apa-apa kan?" Darren sadar sejak tadi hanya dia saja yang berbicara. Tanpa ia sadari Viola hanya membisu di tempat nya.


"Kasella! Periksa istriku." Teriak Darren.

__ADS_1


"Tuan muda, aku tepat berada di belakang mu!" Andhika mengusap telinga nya yang terasa panas mendengar ucapan dari Darren.


"Tidak usah banyak protes!" Raung Darren pada Andhika.


Andhika tidak menjawab perkataan dari sahabat nya. Ia langsung memeriksa tubuh Viola kembali.


"Nona Viola? Kau bisa mendengar ku?" Andhika berusaha mengajak Viola berbicara.


"Dokter Andhika, apa benar bayi ku sudah tiada?" Mata Viola sudah berkaca-kaca menatap kearah Andhika.


Andhika yang di tatap seperti itu terdiam sejenak lalu menghela nafas nya dengan sangat panjang.


"Karna benturan yang sangat kuat terjadi pada bagian perut anda membuat anda mengalami keguguran nyonya muda." Jawab Andhika dengan suara pelan nya.


"A-aku kehilangan bayi ku?" Lagi-lagi perkataan itu yang keluar dari bibir Viola membuat Shelly tidak kuasa menahan air mata nya itu.


"Vi," panggil Shelly secara perlahan.


"Darren," Viola menatap kearah Darren dengan tatapan mata yang sudah tidak dapat untuk diartikan lagi.


"Kita kehilangan bayi kita?" Perkataan Viola membuat Darren kembali memeluk Viola dengan sangat erat nya.


"Hisk ... Hisk ... Hisk.." Isak tangis Viola sudah memenuhi seluruh ruangan tersebut.


Shelly tidak kuasa melihat sahabatnya menangis ia hanya bisa memegang dada nya yang terasa sangat sakit. Bobby yang melihat keadaan Shelly langsung merangkul tubuh Shelly.


"Istriku tenang lah! Mungkin sang maha kuasa lebih mencintai anak kita. Sehingga ia mengambil nya lebih dulu dari kita." Darren mengelus punggung Viola secara perlahan.


"Baru sebentar rasanya aku bahagia karna kehamilan ku! Dan-dan sekarang dalam sekejap aku kehilangan bayi ku." Viola terus saja menangis hingga membuat dirinya benar-benar merasa sangat sesak.


"Tidak hanya dirimu saja yang merasakan kehilangan Viola. Aku, aku juga merasa kan hal yang sama! Bahkan lebih sakit dari yang kau rasakan. Aku tau tentang kehamilan mu disaat kau sudah keguguran!" Darren menahan air mata nya agar tidak keluar. Namun, rasa amarah yang ada di hati nya tidak dapat untuk di bohongi.


"Kau bilang apa? Kau tidak tau tentang kehamilan ku?" Viola mendorong tubuh Darren.


"Istriku," Darren terkejut didorong seperti itu oleh Viola.


"Darren sadar lah!" Mata Viola terlihat sangat marah. Tapi hati Viola masih terasa sangat sakit.


"Aku datang perusahaan mu dengan perasaan yang sangat gembira untuk memberitahu kan tentang kehamilan ku ini, yang aku sendiri juga baru mengetahui nya! Namun, apa yang aku dapat? Kau tau jelas kan apa yang terjadi selanjutnya." Viola terus saja menatap bola mata Darren yang terlihat berlinang.


"Kenapa kau tidak mencoba mendengar penjelasan ku istriku," Darren mengusap pipi Viola yang masih basah karna air mata nya.


"Hah! Penjelasan?" Viola tertawa kecil menatap kearah Darren.


"Vi tenang lah!" Shelly langsung mengusap bahu sahabat nya. Ia tau apa arti dari tawa sahabat nya itu.


"Tidak Shell! Darren sudah keterlaluan. Dia tidak menganggap diri ku sebagai istri nya!" Ujar Viola pada sahabat nya.


"Apa maksudmu Viola? Jadi selama ini kau anggap apa pernikahan kita!" Darren sangat marah mendengar ucapan dari Viola.


Andhika yang saat ini berada di samping Darren langsung menekan bahu Darren dengan sangat kuat nya. Andhika berusaha memberi kode pada Darren untuk bisa mengontrol emosinya

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


...****************...


__ADS_2