
Bobby dan juga Shelly yang sudah tiba di restauran favorit nya langsung masuk kedalam restauran.
"Aku ingin di ruangan VVIP sayang," tukas Shelly dengan penuh semangat nya.
"Baiklah," Bobby berjalan kearah para pelayan yang sudah menyambut mereka.
"Welcome, what room would you like to order, ladies and gentlemen?" Tanya manajer restauran tersebut pada Bobby.
Manajer tersebut tau Bobby adalah pelanggan spesial di restauran tersebut. Selain itu atasan Bobby juga memiliki saham terbesar di restauran tersebut.
"The room I used to go to," ucap Bobby.
"Of course, let me deliver!"
"Thanks,"
Bobby pun mengikuti manajer tersebut sambil menggandeng tangan Shelly. Shelly yang saat ini masih kebingungan. Karna bisa masuk semudah itu membuat nya menatap kearah Bobby dengan penuh penyelidikan.
"Apa yang kalian katakan tadi?" Tanya Shelly dengan suara pelan nya.
"Mereka menyambut kita dan menanyakan kita ingin di ruangan apa." Jawab Bobby dengan sangat santai nya.
"Terus apa lagi?" Kesal Shelly
"Aku bilang aku memesan ruangan seperti biasanya dan manajer tersebut mengantar kita sekarang." Bobby menghela nafas nya dengan kasar.
"Semudah itu?" Shelly menautkan alisnya lalu memberhentikan langkah kaki nya
"Shelly ada apa? Bukan kah kau sangat ingin makan disini?" Bobby menatap jengah kearah Shelly.
"Bu-bukan begitu! Maksud ku kenapa bisa semudah itu untuk masuk." Shelly merasa sedikit aneh.
"Tentu saja mudah, aku memiliki akses disini! Sudah jangan banyak mikir. Kita masuk sekarang!" Bobby kembali mengandeng tangan Shelly.
Pintu ruangan VVIP pun langsung di buka oleh pelayan. yang kini sudah memperlihatkan dua orang tengah duduk disana. Viola dan Shelly langsung tersenyum saat berjumpa. Namun, Darren dan Bobby bagaikan perang dingin dalam diam membuat semua orang menelan Saliva nya.
"Why is he here?" Darren menatap tajam kearah manajer yang ada di samping Bobby.
"Darren kau itu apa-apaan sih! Marah-marah tidak jelas." Viola menatap tajam suaminya lalu berjalan kearah Shelly.
"Shell, masuk yuk." Shelly mengangguk kan kepalanya lalu ikut masuk bersama Viola.
Bobby saat ini masih berdiri di depan pintu menatap kearah Darren. Ia masih merasa bersalah dengan ucapan nya. Sementara Darren menghela nafas nya secara kasar.
"Jika kau tidak mau masuk! Setidaknya jangan menghalangi pintu." Sinis Darren dengan suara datar nya.
Bobby langsung masuk begitu mendengar ucapan dari Darren. Viola dan Shelly merasa senang Darren mau berbicara dengan Bobby. Langkah perlahan tapi pasti Bobby menghampiri meja mereka dan duduk di samping Shelly.
"Apa yang sedang kalian rencana kan?" Tatap intens Darren mengarah ke Viola dan Shelly.
"Re-rencana?" Viola dan Shelly saling tatap-tatapan.
"Da-darren apa maksud mu?" Tanya Viola dengan nada yang sudah gugup.
"Istriku, kau pikir aku tidak tau semua rencana mu itu?" Darren tersenyum pada Viola.
"Darren kau tidak boleh menuduh ku sembarangan!" Viola langsung berpura-pura tidak terima dengan ucapan Darren
Darren tersenyum lalu menyerahkan rekaman cctv-nya pada Viola. Viola sangat terkejut melihat rekaman tersebut. Ia lupa kalau kediaman Darren tidak pernah hilang dari pengawasan cctv di setiap sudut nya.
"Vi," Shelly mencubit lengan sahabat nya. Karna saat ini ia merasakan aura yang sangat dingin ketika pria disampingnya menatap dia dengan tajam sekali.
__ADS_1
"Tenang Shell," Viola berusaha menenangkan sahabat nya lalu menatap kearah Darren yang masih tersenyum mengerikan di hadapan nya.
"Darren, jika kau sudah tau semua nya. Kenapa kau diam saja?" Viola terlihat marah pada suaminya. Karna ia sudah merasa bangga dengan rencana nya itu. Namun, siapa yang sangka rencana nya sudah di ketahui Darren bahkan sebelum di mulai.
"Aku tidak tega melihat mu kecewa sayang. Kau sudah capek-capek menyusun rencana mu yang mudah untuk di tebak itu."
Deepp.
Mendengar ucapan Darren membuat emosi Viola membara di dalam diri nya.
"Jika kau tidak ingin aku kecewa, kenapa tidak kau ikuti saja sampai selesai rencana nya? sekarang kan aku jadi malu!" Kesal Viola pada suaminya.
"Istriku, kau juga harus belajar satu hal. Tidak semua rencana akan berjalan dengan sempurna!" Darren membelai rambut Viola.
"Aku tau niat kalian bagus! Namun, tidak semudah itu memaafkan seseorang yang meremehkan hubungan persahabatan, bahkan sudah seperti saudara, dengan sangat mudah nya memutuskan hubungan tersebut tanpa berpikir panjang." Ucapan Darren membuat Bobby menatap kearah nya.
"Darren --"
"Aku minta maaf! Aku tau aku melakukan kesalahan besar Darren." Sela Bobby saat Viola hendak berbicara.
"Cih! Mudah sekali kau mengatakan itu." Darren tersenyum sinis kearah Bobby.
"Darren aku melakukan itu karna aku benar-benar sudah hilang kendali! Rasa nya aku gila saat melihat kau ingin menyerahkan wanita ku pada laki-laki itu." Bobby menatap sendu kearah sahabat nya.
Darren yang mendengar ucapan Bobby langsung tertawa. Berani sekali ia mengatakan hal itu di depan nya.
Brakk!!!
Darren memukul meja makan yang ada di depan mereka dengan sangat kuat membuat Viola ketakutan.
"Konyol sekali! Pria yang ku kenal sangat genius kini sudah menjadi bodoh hanya karna wanita." Tekan Darren menatap tajam Bobby.
"Shell," Viola langsung bangkit dari duduk nya mengajak Shelly untuk sedikit menjauh dari mereka.
"Kau sedang mengatai ku?" Bobby sedikit tidak terima dengan ucapan Darren.
"Kenapa? Kau tidak terima?" Darren membalas tatapan Bobby pada nya.
"Kau tidak sadar? Kau juga bodoh hanya karna wanita mu." Balas Bobby yang tak kalah dari Darren.
Lagi-lagi Darren langsung tertawa mendengar ucapan Bobby.
"Bob, kau lupa kebodohan ku yang paling membuat ku menyesal seumur hidup ku itu apa?" senyuman kecil terukir di wajah Darren.
"A-apa maksud mu?" Bobby menatap sahabatnya sambil menelan Saliva nya itu
"Aku bodoh karna menerima permintaan mu untuk bertemu dengan adik mu itu! Hingga aku kehilangan bayi ku dan bahkan hampir kehilangan nyawa istri ku." Darren membuka kancing baju nya berjalan kearah jendela untuk menghirup sedikit udara.
Ia merasa sangat sesak saat mengingat bagaimana menderita nya dia saat melihat Viola terbaring tidak berdaya.
"Kenapa kau selalu membahas itu terus-menerus? Bukan kah aku sudah meminta maaf dan juga menerima hukuman yang kau berikan." Jujur saja sakit sekali saat Darren mengatakan hal itu lagi pada nya.
"Kau memang bodoh! Tidak ada satu pun kata-kata ku yang dapat kau simpulkan sekretaris Bobby." Kecam Darren membalikkan tubuh nya dengan satu tangan yang berada di dalam saku nya.
"Darren berbicara lah dengan jelas! Jangan buat masalah semakin rumit." Viola menatap suaminya dengan wajah yang ketakutan.
Darren langsung tersadar melihat Viola. Ia lupa sudah membuat istri nya ketakutan karna amarah nya yang sempat meledak tadi. Darren beranjak kearah Viola.
"Maafkan aku sayang," dengan sangat cepat Darren memeluk erat tubuh Viola.
"Tidak apa-apa Darren. Aku mengerti!" Viola tersenyum saat Darren melerai pelukan nya dan menatap diri nya itu.
__ADS_1
"Kau ingin pulang?" Tanya Darren dengan sangat lembut nya.
"Tidak," Viola langsung menggeleng kepalanya itu.
"Darren aku mau masalah di antara kalian segera selesai dengan baik." Viola tersenyum di hadapan Darren.
"Tuan muda, tolong maafkan Bobby!" Shelly langsung memohon pada Darren membuat Darren merasa serba salah.
Bobby yang melihat Shelly seperti itu menghampiri Shelly dan memeluk diri nya dengan air mata yang tanpa sadar sudah menetes.
"Sayang, kau tidak perlu melakukan hal ini demi diri ku." Bobby mencium Shelly berulang kali.
"Setidaknya aku bisa berbagi beban dengan mu Bob! Jika aku sudah memutuskan menerima mu sebagai suami ku. Itu berarti aku harus siap menerima penderitaan mu dan kebahagiaan mu juga." Shelly mengusap-usap punggung Bobby.
Huh!!
Darren yang melihat nya menghela nafas dengan sangat kasar lalu berjalan kearah sofa sembari mengandeng tangan Viola.
"Duduk lah! Akan kita selesai kan semuanya dengan kepala dingin." Perintah Darren pada Bobby dan Shelly.
"Baik tuan muda," Bobby pun duduk di hadapan sahabat nya yang masih memasang wajah dingin nya.
"Kau tau apa kesalahan mu?" Darren menatap intens wajah Bobby.
"Saya tau tuan muda! Dan saya sangat menyesal." Bobby menundukkan kepala nya begitu juga dengan Shelly.
"Aku sudah memaafkan mu!"
"Benar-"
"Tapi, hubungan persahabatan yang sudah kau putuskan secara sepihak itu sangat sulit untuk di perbaiki!" Timpal Darren kembali.
Deg.
"Darren--" Viola berusaha berbicara. Namun, Darren lebih dulu menepuk punggung tangan Viola dengan sangat pelan.
"Darren, maafkan aku! Aku tau aku bodoh." Bobby berusaha sebisa mungkin untuk memperbaiki hubungan persahabatan mereka.
"Bob, kau tau keputusan mu itu sangat membuat ku kecewa! Aku tau kau melakukan itu karna, aku hendak menyerahkan calon istri mu yang saat itu istri mu sendiri masih baik-baik saja. Sementara kau sudah seperti orang gila yang ingin membunuh ku saat itu juga! Pernah kah kau pikir bagaimana hancurnya aku saat melihat istri ku sendiri yang jelas-jelas dalam bahaya dan bahkan terluka? Kau tidak sadar mengapa Viola berada di situasi itu saat kejadian? Itu semua demi wanita mu! Tapi, kau dengan mudah nya memutuskan persahabatan kita hanya karna, aku mau menyerahkan wanita mu yang kau sendiri tidak tau apa rencana ku selanjutnya!" Darren mengusap wajah nya dengan sangat kasar sambil mengepal kedua tangan nya itu.
"Darren maafkan aku," lirih Bobby.
"Kenapa kau semudah itu memutuskan persahabatan kita sejak kecil Bob?" Tanya Darren dengan aura dingin nya.
"Itu karna aku terlalu di kuasai amarah Darren! Darren tolong mengerti akan perasaan ku saat ini. Aku benar-benar tidak tau kau akan merencanakan hal yang lain." Balas Bobby.
"Semarah itu kah kau Bob?" Darren tertawa kecil.
"Darren, kau tidak tau bagaimana rasanya melihat sahabat sendiri menyerah kan wanita nya hanya demi wanita nya. Saat itu aku tidak sadar kalau kau akan merencanakan hal lain." Tutur Bobby dengan wajah yang tertunduk.
Shelly langsung mencubit Bobby. Saat Bobby masih membela diri nya. Walaupun Bobby mengaku salah. tapi Bobby tetap masih tidak terima karna Darren melakukan rencana B tanpa memberitahu kan terlebih dahulu pada nya.
"Bob, aku lebih tau akan perasaan yang kau katakan itu! Bahkan aku dua kali lipat hancur nya dari pada dirimu. Tidak! kurasa sepuluh×lipat pun masih tidak bisa mengukur seberapa hancur nya aku."
"Apa maksud mu Darren?" Bobby memberanikan menatap sahabatnya.
"Bob, kau tau kan alasan utama mengapa istri ku kecelakaan? Bahkan kami kehilangan bayi kami yang sudah kami nanti-nanti kan kehadiran nya. Tapi, pernahkah aku memutuskan hubungan persahabatan ku dengan mu? Walaupun saat itu aku benar-benar marah pada mu."
Degg!!
Bobby benar-benar sangat bodoh. Ia merasa paling tersakiti oleh sahabat nya. Tanpa ia sadari ia lah yang paling menyakiti hati Darren.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^
...****************...