
Bobby yang sudah mengantar istri dari sahabat nya dengan segera ia memasuki lift umum dan kembali menemui sahabatnya itu.
"Tuan muda, nyonya muda sudah berada di ruangan anda dan sedang istirahat." Ujar Bobby kembali di posisi nya.
"Hubungi Dokter Kasella! Suruh dia datang ke perusahaan ku sekarang." Perintah Darren kembali pada Bobby.
"Baik tuan muda." Balas Bobby dengan menundukkan kepalanya.
Kini tatapan Darren kembali menatap tajam kearah Laura. Urusan nya dengan wanita yang sudah berani menyentuh istrinya itu belum selesai. Amarah Darren pun belum kunjung reda juga.
"Laura Kiehl! Bukan kah nama itu sangat terkenal di dunia permodelan? Haruskah aku mulai menghancurkan mu dari sini dulu atau--" Darren tersenyum sini menatap kearah Laura.
"Ti-tidak! Kumohon jangan lakukan itu. Lebih baik kau membunuh ku saja dari pada menghancurkan karir ku." Laura sangat ketakutan mendengar ucapan Darren padanya. ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti.
Darren benar-benar jijik mendengar ucapan yang keluar dari mulut Laura. Pada kenyataannya Laura juga tidak ingin mati sia-sia. Jadi buat apa wanita itu menyuruh Darren mengotori tangan nya sendiri.
"Membunuh mu?" Darren menatap jengah kearah Laura.
"Darren maafkan aku! Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi." Laura terus saja memohon pada Darren.
"Sudah aku katakan jangan pernah menyebut nama ku itu dengan mulut kotor mu!" Sorot mata Darren begitu tajam tertuju kearah Laura membuat Laura menelan saliva nya.
"Ba-baik lah aku tidak akan menyebut nama mu lagi. Tapi tolong biarkan aku pergi sekarang." Ujar Laura. Dia terus saja berharap agar Darren mau memaafkan nya.
"Membiarkan mu pergi? Hahahaha--" Darren yang mendengar ucapan Laura langsung tertawa.
"Laura Kiehl! Membiarkan mu pergi begitu saja adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Kau sudah menyentuh istriku dan aku harus melepaskan mu begitu saja? tanpa harus membuat perhitungan terlebih dahulu padamu? Apa kau pikir aku ini terlalu bodoh!" Darren menekankan setiap kalimat nya pada Laura.
"Aku tau aku salah! Tolong maafkan aku tuan muda." Lirih Laura.
Perasaan Laura saat ini bercampur aduk. Ia merasa takut, malu dan juga marah. Jika orang yang ia hadapi bukan lah orang seperti Darren maka sudah dari tadi ia memaki-maki orang tersebut. Namun kali ini sangat berbeda! Laura harus menahan semua perasaan nya dan memohon untuk dimaafkan jika ia ingin selamat.
"Bob aku sudah malas berurusan dengan wanita rendahan seperti nya! Kau buat karir nya hancur berkeping-keping tanpa sisa sedikit pun! Aku juga tidak ingin ada orang yang mengontrak nya untuk pekerjaan. Jika perlu kau bayar saja orang yang ingin mengontrak nya itu!" Perintah Darren pada Bobby dengan suara yang datar. namun sangat mengerikan yang terdengar oleh Laura.
"Baik tuan muda," jawab Bobby pada Darren.
Laura yang mendengar ucapan Darren merasa sangat sesak. Karir yang sangat ia impikan akan hancur dalam hitungan detik saja membuat Laura sangat sedih. Ia tidak ingin kehilangan karir nya dan juga ketenaran nya itu. Sudah banyak yang Laura korbankan agar ia bisa menjadi model yang terkenal.
"Tu-tuan muda, kumohon jangan hancurkan karir ku! Kau boleh menghukum ku apa saja asal jangan karir ku. Ini adalah impian ku sejak kecil, aku tidak sanggup jika harus kehilangan semua nya." Laura memohon pada Darren dengan wajah nya yang sudah di buat-buat nya.
"Kau pikir aku peduli!" Darren hanya menatap sekilas saja kearah Laura.
__ADS_1
"Kumohon! Jangan lakukan ini. Aku benar-benar menyesal telah menyakiti istri mu! Beri aku kesempatan sekali saja." Lirih Laura. Air mata Laura sudah mengalir cukup deras nya.
Darren yang melihat Laura hanya menghela nafas nya saja. Namun tiba-tiba senyuman terukir di wajah Darren membuat Bobby yang melihat nya bergidik ngeri.
"Kau lebih baik memasang wajah dingin mu daripada harus tersenyum sendiri secara tiba-tiba seperti itu!" gumam Bobby di dalam hati nya.
"Baiklah! Aku akan membuat 2 pilihan yang harus kau pilih." Darren menatap kearah Laura.
"Yang pertama karir mu akan hancur dalam hitungan detik saja! dan yang ke-dua kau harus menyerahkan tubuh mu itu kepada pria hidung belang yang akan aku perintahkan untuk mencicipi tubuh mu. Pilih lah! Aku sudah berbaik hati pada mu! Pada kenyataannya tubuh mu juga sudah tidak berharga lagi." ujar Darren dengan suara licik nya.
"Tuan muda kedua nya sama-sama merugikan ku. Bisakah kau memberikan pilihan yang lain?" Laura bingung harus memilih yang mana.
"Jika aku memberikan mu sebuah pilihan yang menguntungkan mu itu namanya bukan hukuman! Pilih lah! Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu. Istri ku sedang menunggu ku sekarang!" Tegas Darren pada Laura membuat Laura semakin kebingungan.
"A-aku--" Laura terus saja berpikir.
"Baiklah! Bob hancurkan karir nya. Dia tidak bisa memilih nya." ujar Darren dengan suara datar nya.
"Baik tuan mu--"
"Tunggu!" Dengan cepat Laura memotong ucapan Bobby.
"Aku memilih pilihan yang ke-dua!" Laura menundukkan kepalanya itu.
"Cih! Sudah kuduga. Ternyata kau itu sangat murahan! Hanya karna tidak ingin karir mu hancur. Kau lebih memilih menjual tubuh mu itu." Sinis Darren pada Laura.
Bobby yang mendengar jawaban dari Laura sangat terkejut. Ia tidak menyangka seorang model yang terkenal seperti nya memiliki harga diri yang sangat rendah. Sementara Laura hanya diam menanggung rasa malu dan juga amarah yang sudah ia pendam.
"Baiklah karna kau sudah memilih nya! Sekarang kau pulang lah dulu. Siapkan diri dan juga mental mu! Datang lah ke hotel grand Hyatt. Nomor kamar mu akan di berikan langsung oleh resepsionis disana. Dan kau juga akan menemui para pria yang sudah ingin menyantap mu." Darren langsung menyuruh para petugas keamanan disana untuk mengantar kan Laura keluar dari perusahaan nya.
Masalah karyawan dan juga Laura sudah selesai. Kini saat nya giliran para bodyguard dan juga Bobby yang akan kena sidang oleh Darren.
"Kalian tau apa kesalahan utama kalian?" Darren menatap mereka semua.
"Kami tau tuan muda," jawab mereka dengan serentak.
"Jadi pilih lah hukuman apa yang harus aku berikan pada kalian?" Tanya Darren pada mereka.
"Tuan muda boleh memberikan kami hukuman apa saja! Asal jangan memecat kami semua." Balas mereka dengan serentak nya.
"Minggu lalu aku memberi kalian hukuman dengan tidak mendapatkan gaji selama 2 bulan. kurasa itu terlalu ringan bagi kalian. Jadi sekarang aku harus memberi kan kalian hukuman apa?" Darren tampak berpikir sangat keras.
__ADS_1
"Maafkan kami tuan muda." Mereka pun meminta maaf pada Darren karna tidak bisa menjaga Viola dengan baik.
"Bukan kah sudah aku katakan untuk selalu melindunginya dalam keadaan apapun! Hanya karena seorang wanita itu saja. Istri sudah terluka dan bahkan ia hampir terbentur oleh lift! Jika itu sampai terjadi maka aku tidak akan mentoleransi nya lagi!" suara Darren sudah terdengar sangat tegas pada mereka semua.
Darren juga tau semua ini bukan lah kesalahan mereka sepenuhnya. Karna, mereka juga sudah berusaha melindungi istri nya itu. Namun, ketelitian dan kecepatan mereka sangat kurang dalam menyikapi sesuatu. Apalagi jika ada seseorang yang hendak menyerang secara tiba-tiba mereka harus siap melindungi Viola dalam keadaan apapun.
"Maafkan kami tuan muda," mereka semua menundukkan kepalanya dan memohon dimaafkan oleh Darren.
"Baiklah! Hukuman kalian adalah melatih kekuatan kalian selama 3 bulan berturut-turut tanpa henti nya. Siang dan malam! Pada saat nya nanti aku akan melihat perubahan kalian. Jika tidak ada perubahan sama sekali maka nasib kalian akan sama dengan karyawan yang tadi!" Tegas Darren pada mereka.
"Baik tuan muda!" Mereka menerima hukuman dari tuan muda nya dengan lapang dada.
"Sekarang pergilah dan mulai latihan." Darren pun menyuruh mereka untuk pergi meninggalkan nya.
"Baik tuan muda,'' dengan sigap mereka pergi dari hadapan tuan nya.
Darren memutarkan badan nya dan masih melihat kearah Bobby yang masih setia menunggu nya disana.
"Bob," panggil Darren pada Bobby.
"iya tuan muda," jawab Bobby pada Darren.
"Hukuman mu adalah tidak boleh menggunakan lift yang ada di perusahaan ini selama 3 bulan! Kau harus menaiki tangga dan turun tangga jika ingin melakukan pekerjaan. Itu akibat nya karna, kau tidak bisa mencegah wanita murahan itu mendorong istri ku." Darren tersenyum sinis pada Bobby membuat Bobby sangat terkejut.
"Ayolah Darren! Aku ini sahabat mu. Kau kejam sekali menghukum ku seperti itu. Belum 3 bulan saja pasti kaki ku akan patah! naik turun tangga yang ada di perusahaan sebesar ini? Terlebih lagi perusahaan ini memiliki 25 lantai! OMG yang benar saja." Bobby mengeluh mendapatkan hukuman yang sangat berat di berikan oleh Darren pada nya.
"Baiklah hukuman mu bertambah 6 bulan!" Ujar Darren dengan suara datar nya dan berjalan memasuki lift Presdir.
"Ti-tidak tuan muda! 3 bulan sudah lebih dari cukup. Saya akan menjalani hukuman ini dengan sebaik-baiknya." Bobby menekankan setiap kalimat nya pada Darren.
Darren hanya diam saja, yang ada di pikiran Darren adalah bagaimana keadaan istri nya saat ini. Tidak menunggu waktu yang lama kini Darren sudah tiba di depan ruangan nya dan segera membuka pintu ruang kerja nya.
Darren yang sudah berada di dalam ruangan nya langsung berjalan kearah ruangan satu nya lagi. yang dimana ada tempat tidur untuk dirinya beristirahat sejenak. Wajah Darren tersenyum Ketika melihat Viola yang masih memandangi wajah nya sendiri di depan cermin.
"Istriku!" Panggil Darren pada Viola.
"Darren," dengan segera Viola bangun dari duduknya.
Viola berlari kearah Darren dengan khawatir. Sejak tadi Viola memikirkan bagaimana keadaan tangan suaminya yang berdarah itu. Viola juga sangat penasaran apa yang terjadi pada Laura. Kini Darren dan juga Viola sudah saling berhadapan dan menatap satu sama lain nya
^^^...Bersambung.....^^^
__ADS_1
...****************...