
Jam makan malam...
Viola yang sudah selesai membersihkan dirinya. langsung keluar dari kamar nya dan menuju Kelantai bawah.
"Kakak!" Panggil Tara.
"Sudah lama dek?" Viola menghampiri adik nya yang sudah duduk di ruang makan.
"Belum lama kak!" balas Tara. "Ini kakak yang membuat nya?" Tara merasa sangat bahagia melihat menu makan malam mereka. Karna, itu adalah makanan favorit Tara juga.
"Bukan Kakak dek! Tapi, kakak yang meminta menu ini." ujar Viola.
"Makasih kak!" Tara langsung memasang wajah manja nya pada Viola.
"Hay ada apa Tara? Kenapa harus berterimakasih?" Viola kaget melihat sikap adik nya itu.
"Iya makasih kak! Karna, cuman kakak yang paling ngerti aku! Selama aku disini, aku hanya memakan roti saja kak! Aku tidak suka makanan yang ada di kediaman kakak ipar kak!" Tara langsung menceritakan penderitaan nya pada Viola.
"Adik ku yang malang!" Seru Viola dengan tersenyum.
"Kakak!!" pekik Tara.
"Hahaha ... Sudah-sudah makan gih!" Viola langsung menyuruh adik nya makan. Sementara, pak Dadang masih berdiri di belakang nyonya muda nya.
"Oh iya, pak! Darren mana?" Viola yang tidak melihat Darren merasa khawatir.
"Tuan masih di lantai 6 nyonya!" Jawab pak Dadang.
"Dia masih di lantai 6? Ada apa dengan mu sebenarnya Darren?? Kenapa kau penuh dengan misteri sih." gumam Viola.
"Baik lah pak! Bapak boleh pergi kok! Saya akan makan bersama adik saya saja." Viola pun mempersilahkan pak Dadang untuk meninggalkan mereka.
"Kakak ada apa?" Tara yang melihat wajah kakak nya yang khawatir. Mulai memberanikan diri untuk bertanya.
"Gak papa dek. Ya udah lanjut gih makan nya! Abis ini kamu langsung kekamar aja ya dek." Viola masih dengan raut wajah penasaran nya.
"Iya kak! Oh iya, besok aku izin keluar ya kak!" ujar Tara pada kakak nya.
"Emang nya mau kemana dek?" tanya Viola.
"Mau kerumah temen kak! Sekalian mau ngumpul bareng kak! Soalnya kan kami mau lulus. Apalagi nanti aku akan pergi jauh setelah lulus." Dengan seketika raut wajah Tara berubah menjadi sedih lagi.
"Sudah jangan sedih! Yaudaa kalau memang besok mau pergi bersama teman mu. Tapi, ingat jangan lama-lama pulang nya." Viola tersenyum menatap adik kecil nya itu.
"Siap bos besar!" Dengan segera Tara memberi hormat pada kakak nya.
"Hahaha ... Kau ini lucu sekali dek!" Seru Viola.
Mereka pun akhirnya melanjutkan makan mereka berdua. Tara yang sudah selesai makan, lebih memilih untuk masuk kekamar nya. Sedangkan, Viola masih meratapi lantai 6.
Viola masih bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan lantai tersebut. Namun, dia juga tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan privasi suami nya itu.
Viola pun memutuskan untuk kembali kekamarnya. Karna, hari sudah semakin malam. Viola yang lebih memilih memainkan game di hp nya, sambil menunggu kedatangan Darren. Namun tiba-tiba ...
"Boleh aku menyentuh mu?" Suara seseorang yang sudah memeluk Viola dari arah belakang. Viola yang merasa terkejut langsung membalikkan tubuhnya.
"Darren...!" Viola benar-benar terkejut mendengar ucapan Darren padanya.
"Boleh aku menyentuh mu istri ku?" Dengan suara serak Darren membisikkan nya di telinga Viola. Dan masih memeluk Viola.
"Darren ada apa denganmu?" Viola benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihat nya. Wajah pucat Darren membuat Viola khawatir. Sedangkan, Darren tidak menjawab nya.
"Darren kau demam!" Viola yang merasa tubuh Darren panas langsung memegangi kening Darren.
"Aku tidak apa-apa!" ujar Darren.
"Kau gila ya! Jelas-jelas tubuh mu panas sekali. Tapi, kau bilang tidak apa-apa. Hentikan ini Darren! Aku akan panggil pak Dadang untuk memanggil dokter." Viola langsung bangkit dari tidur nya.
"Aku tidak memerlukan dokter istri ku!" Darren pun menarik tangan Viola kembali dan membenamkan wajah Viola di dadanya.
"Darren! Sebenarnya, kau kenapa? Mengapa setelah kau keluar dari ruangan itu, kau menjadi seperti ini." Viola berbicara dengan sangat lembut pada Darren.
"Istri ku! Boleh aku menyentuh mu?" Darren tidak menjawab pertanyaan Viola sama sekali. Yang di ucapkan Darren selalu saja kata-kata itu.
"Ha?? Darren kau kenapa? Bukannya, kau tidak suka jika ada wanita yang menyentuh mu." Viola merasa Darrren sedang bercanda padanya.
"Aku sangat menginginkan nya Viola Talisa!" Dengan seketika Darren memukuli kepalanya. Yang membuat Viola merasa takut. "Tidak! Nama mu sekarang Viola Talisa drn.khan. dan kau juga sudah menjadi nyonya Darren Abraham Khan istri ku!" Darren masih memeluk Viola.
"Darren! Sepertinya, aku memang harus memanggil dokter! Kau sedang sakit. Makanya, bicara mu melantur seperti ini." Viola pun berusaha melepaskan pelukan Darren padanya. Namun, tenaga Viola tidak sekuat Darren.
__ADS_1
"Istri ku! Aku berbicara serius padamu! Apakah kau tidak menyukai ku?"
"Deg!!" Jantung Viola langsung berdebar sangat kencang. Dia merasa kata-kata Darren seperti Sambaran petir baginya.
"Darren, kenapa kau berbicara seperti itu?" Viola tidak tau harus menjawab pertanyaan Darren apa lagi.
"Jadi, kau memang tidak menyukai ku?" Wajah Darrren langsung sedih.
"Darren! Kau minum alkohol? Mulut mu bau alkohol." Viola langsung tersadar. Bahwa, Darrren sedang mabuk. Dan dia juga sedang sakit.
"Aku hanya minum sedikit istri ku!" Darren langsung tersenyum menatap wajah Viola.
"Sebenarnya, ada apa dengan mu Darren? Kau terlihat sangat menderita! Apa yang membuat mu sesakit ini." Viola langsung membalas pelukan Darren padanya.
"Istriku!" Panggil Darren.
"Iyaa .." jawab Viola.
"Mengapa kau tidak memanggil ku suami lagi? Aku sangat menyukai jika kau memanggil ku dengan panggilan suamiku, istri ku!" Darren masih berbicara yang tidak masuk akal.
"Baiklah, aku akan memanggil mu suami ku." Viola mencoba menenangkan Darren.
"Aku sangat senang istri ku!" Darren terus memeluk Viola.
"Kau senang kenapa?" tanya Viola.
"Karna, aku menikahi gadis yang tidak pernah di sentuh oleh pria mana pun!" Jawab Darren dengan hawa alkohol di mulut nya.
"Hahaha ... Kau terlihat sangat manis jika mabuk seperti ini!" Viola langsung tersenyum melihat kekonyolan suaminya.
"Istri ku! Boleh aku menyentuh mu?" lagi-lagi Darren bertanya hal yang membuat Viola kaget.
"Darren, kau serius ingin menyentuh ku? Bukannya kau tidak menyukai ku?" Viola bertanya dengan sangat hati-hati.
"Sejak kapan aku tidak menyukai mu istri ku! Pertama kali aku melihat mu, aku sudah jatuh cinta pada mu!" Darren langsung menatap wajah Viola.
"Viola kendalikan dirimu! Dia tidak mungkin menyukai mu. Dia sedang tidak sadar kan diri!" gumam Viola.
"Darren kau sedang tidak sehat dan kau juga mabuk! Sebaiknya kau istirahat saja. Aku akan mengompres mu." Viola pun mencoba melepaskan pelukan Darrren. Namun, Darren tidak mengizinkan nya.
"Istri ku! Mengapa kau menghidar dari ku." Darren meneteskan air matanya.
"Darren kau menangis?" Viola tidak percaya sama sekali. Bahwa, seorang miliarder dunia yang terkenal sangat kejam ternyata memiliki hati yang rapuh juga.
"Maaf ..!!" Viola langsung menghapus air mata Darren.
"Jika, aku tidak boleh menyentuh mu. Boleh aku mencium mu?" Darren memandang wajah Viola dengan sangat dalam. Viola tidak bisa menolak Darren. Lagian, itu juga adalah kewajiban dia sebagai istri. Jadi, Viola menganggukkan kepalanya.
"Istri ku kau benar-benar mengizinkan ku mencium mu?" Darren menanyakan nya sekali lagi.
"Sejak kapan kau meminta izin pada ku Darren. Sebelumnya kau juga langsung mencium ku. Sekarang, kau juga boleh melakukan kan nya." Viola memandangi wajah Darren.
Dengan segera Darren membaur bibir Viola dengan nya. Viola masih kaku dengan ciuman Darren, hanya senyuman kecil yang terlihat di bibir Darren. Darren pun menuntut Viola agar membalas ciuman nya. Darren langsung memeluk tubuh Viola dengan sangat erat dan terus ******* bibir kecil Viola. Memasuki lidah nya kedalam mulut Viola. Viola hanya bisa menerima nya saja. Lama-kelamaan tangan Darren sudah menjelajahi bagian atas Viola. Darren mencoba membuka bra Viola. Namun ...
"Darren..! Berikan aku waktu. Aku ingin melakukan nya, jika kau benar-benar sadar. Dan tidak mabuk seperti ini." Viola langsung menghentikan tangan Darren dan juga melepaskan ciuman mereka.
"Baiklah istri ku! Aku tidak akan memaksa mu." Dengan segera Darren memeluk Viola dan langsung tertidur.
"Kau seperti anak kecil jika sedang mabuk Darren!" Viola meletakkan tangan Darren di bantal guling dan berjalan perlahan keluar dari kamar.
Viola langsung mencari keberadaan pak Dadang. Tidak menunggu waktu yang lama pak Dadang menghampiri nya.
"Nyonya ada apa ?" tanya pak Dadang.
"Pak, Darren sedang tidak sehat. Sebaiknya, kita panggil dokter untuk memeriksa nya." ujar Viola pada pak Dadang.
"Tuan sakit lagi nyonya?" Pak Dadang menatap nyonya muda nya.
"Lagi bapak bilang? Berarti Darren sering sakit seperti ini pak?" Viola langsung menatap pak Dadang dengan intens.
"Aduh! Kenapa aku jadi keceplosan." gumam pak Dadang.
"Nyonya jangan kasih tau tuan ya? Kalau saya bilang seperti tadi. Tuan muda memang seperti itu. Setiap kali tuan muda berada di ruangan rahasia nya dan ketika tuan muda keluar. Maka, tubuh tuan muda demam dan juga mabuk berat." jelas pak Dadang.
"Pak! Ini bukan hal yang spele. Jadi, sebaiknya hubungi dokter sekarang!" Viola merasa sangat khawatir tentang keadaan Darren.
"Kau kenapa Darren! Aku sedih jika melihat mu seperti ini!" Viola pun menetes kan air matanya.
"Nyonya muda jangan khawatir! Saya akan memanggil dokter Andhika. Dia adalah dokter pribadi tuan." ujar pak Dadang.
__ADS_1
"Yasudah hubungi dokter itu pak." Perintah Viola.
Dengan segera pak Dadang menghubungi dokter pribadi Darren. Setelah di hubungi dokter pribadi Darren pun tiba.
"Dimana bocah itu!" Dokter pribadi Darren langsung menendang pintu kediaman Darren. Dia merasa sangat emosi.
"Pak!" Panggil Viola yang ngeri melihat dokter pribadi Darren dari arah atas.
"Iya nyonya muda." Jawab pak Dadang.
"Dia beneran dokter pak?" Viola masih menatap kearah dokter itu.
"Iya nyonya muda." Jawab pak Dadang.
"Tapi, kenapa tempramen dia buruk sekali pak!" Viola langsung meringis melihat nya.
"Nyonya muda tenang saja! Dokter Andhika memang seperti itu. Tapi, jika tuan sudah sadar maka, nyali dia yang seperti ini dengan seketika akan menciut nyonya muda." jelas pak Dadang dengan tersenyum.
"Oh jadi begitu ya pak!"
"Dimana bocah itu?" Tanya dokter Andhika menatap kearah Viola.
"Dia ada dikamar nya." Jawab Viola dengan nada ngeri nya.
"Dia siapa pak?" Dokter Andhika yang tidak pernah melihat Viola langsung menanyakan nya kepada pak Dadang.
"Dokter Andhika, perkenalkan ini adalah nyonya muda kami. Dia istri dari tuan muda." jawab pak Dadang.
"Ternyata bocah itu pandai juga memilih istri! Kau hebat mendapatkan istri secantik ini teman ku." Dokter Andhika masih memandangi Viola dari atas sampai bawah.
"KASELLA!!" teriak seseorang dari arah kamar.
"Pak!! Kau bilang dia sedang tidur dan mabuk. Tapi, mengapa dia berteriak seperti itu." Andhika langsung terkejut mendengar suara Darren yang sangat kuat dari arah dalam. Viola yang mendengar nya langsung masuk ke kamar.
"Itu namanya ikatan batin seorang suami dokter Andhika Kasella." Pak Dadang pun langsung tersenyum dan memasuki kamar tuan nya. Begitu juga dengan Andhika.
"Sobat! Kenapa kau selalu merepotkan ku saja!" ujar Andhika dan langsung memeriksa tubuh Darren.
"Buat apa aku membayar mu, jika kau tidak ada gunanya." Darren langsung menatap datar kearah Andhika.
"Kata-kata mu itu kejam sekali Darren." Andhika langsung menghela nafas nya.
"Jika, kau sudah selesai. Kau boleh pulang sekarang!" ucap Darren dengan suara datar nya.
"Baiklah tuan Darren Abraham Khan!" Andhika pun memasuki alat periksa nya kedalam tas nya. Dan memberi beberapa obat untuk Darren.
"Oh iya, dari mana kau mendapatkan wanita secantik ini teman?" Andhika mengedipkan matanya kearah Viola. Dengan segera Darren menarik kerah baju Andhika.
"Tuan Kasella! Jika, kau melakukan seperti itu lagi pada istri ku. Maka, kau tau bukan apa akibatnya?" Darren langsung mendorong tubuh Andhika.
"Iya tuan Darren aku tau dengan sangat jelas! Dan ku ingat kan pada mu. Jangan memanggilku Kasella! Namu ku Andhika Darren." Kesal Andhika pada temannya.
"Sama saja bukan." Darren tersenyum tipis menatap kearah Andhika.
"Beda! Sudah ah. Lebih baik aku pulang saja. Dan ini untuk terakhir kali nya aku di panggil Tengah malam seperti ini." Andhika pun langsung keluar dari kamar Darren. Yang diantarkan oleh pak Dadang.
Viola yang melihat dokter Andhika dan pak Dadang sudah keluar. Langsung menutup pintu kamar nya.
"Darren kau sudah baikan?" Viola langsung duduk di sebelah Darren dan memegang kening Darren.
"Sepertinya, panas mu sudah turun." Viola merasa sangat lega.
"Kau menghawatirkan ku ?" Darren menatap Viola dengan sangat dalam.
"Tidak! Aku hanya memeriksa nya saja. Jika, kau sudah mendingan aku jadi bisa tidur sekarang!" Dengan segera Viola merebahkan dirinya di sebelah Darren dan memejamkan matanya.
"Sepertinya kau sudah terbiasa tidur bersama ku!" Bisik Darren pada Viola. Viola langsung merasa spontan mendengar ucapan Darren dan merasa sangat malu.
"Aku bukan terbiasa. Tapi, kau yang selalu memaksa ku tidur di samping mu. Jadi, baiklah aku akan tidur di sofa saja." Viola pun membangun kan tubuh nya.
"Aku tidak menyuruh mu untuk pergi Viola!" Darren langsung menarik Viola kembali. Dan memeluk nya dari belakang.
"Darren lepaskan!" Viola memberontak dan berusaha melepaskan tubuh nya dari pelukan Darren.
"Menurut lah hari ini saja! Aku sangat lelah. Maaf..! jika aku melewati batasan ku pada mu saat aku sedang mabuk tadi. Aku tidak mengingat nya sama sekali. Jadi, biar lah aku memeluk mu. Tidur lah di pelukan ku untuk malam ini saja Viola." Darren langsung mecium kepala Viola dan memejamkan matanya sambil memeluk Viola.
"Aku bukan tidak mau menuruti mu Darren! Aku hanya takut ini hanya sebuah mimpi ku saja." Gumam Viola. Dan akhirnya Viola pun memejamkan matanya dengan tertidur di dalam pelukan Darren.
^^^Bersambung.....^^^
__ADS_1
...****************...
^^^.^^^