Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps 112 ada apa dengan Viola?


__ADS_3

1 jam kemudian.


"Tuan semua nya sudah beres." Ujar bodyguard tersebut saat panggilan nya sudah di angkat oleh Darren.


"Kau yakin semuanya sudah sesuai dengan perintah ku?" Darren kembali bertanya pada kepala bodyguard nya itu.


"Ya tuan muda. Saya jamin tidak akan ada kesalahan sama sekali!" Jawab kepala bodyguard tersebut dengan suara yang menyakinkan.


"Bagus! Jika terjadi kesalahan sedikit saja. maka kalian semua akan mendapatkan hukuman yang sangat berat." Tegas Darren pada kepala bodyguard.


"Ba-baik tuan muda," kepala bodyguard yang mendengar ucapan dari tuan muda nya menelan Saliva dengan sangat susah.


Darren langsung memutuskan panggilan tersebut dan langsung keluar dari ruangan rahasia nya yang berada di lantai 6. ia langsung kearah lift pribadi nya menuju ke lantai 2 yang dimana istri nya sudah menunggu dirinya itu.


Sementara Viola yang berada di dalam kamar tiba-tiba saja merasa sangat pusing. ia terus saja berkeringat padahal di dalam kamar nya sudah ada AC yang menyala.


"Viola ada apa dengan mu?" Tanya Viola pada dirinya sendiri.


Viola berusaha bangkit untuk sekedar mengambil gelas yang ada di meja sofa. Viola pun tidak tau mengapa tiba-tiba saja ia merasa sangat pusing sekali.


"Aku kenapa ya? Gak biasa nya seperti ini. Apa karna tadi aku belum makan sedikit pun ya." Pikir Viola.


Darren yang sudah ada di depan pintu kamar nya ia pun membuka pintu tersebut dan menatap kearah Viola.


Prang!!


"Istriku," Darren sangat terkejut saat melihat Viola menjatuhkan gelas yang ada di tangan nya.


"Darren," Viola terlihat sangat lemas ia hampir saja jatuh pingsan.


"Kau baik-baik saja?" Saat ini Viola sudah berada di pelukan Darren. Karna melihat Viola hampir saja terjatuh di pecahan gelas yang Viola pecah kan tadi. dengan sigap Darren langsung menahan tubuh istri nya itu.


"Darren mengapa kepala ku pusing sekali ya?" Tanya Viola pada Darren.


Darren benar-benar sangat khawatir melihat situasi Viola saat ini. Ia pun mengendong tubuh Viola dan meletakkan nya secara perlahan di atas ranjang.


"Minum lah dulu!" Darren yang tau Viola ingin minum. Ia pun mengambil segelas air putih dan memberikan nya pada Viola.


"Aku akan menghubungi Kasella sekarang." Darren hendak bangkit dari duduk nya. Ia ingin mengambil ponsel nya yang terjatuh dari saku celananya karna menangkap Viola yang hampir pingsan tadi.


"Darren kau tidak perlu mengganggu dokter Andhika. Dia pasti sedang beristirahat di hari libur nya." Viola menarik tangan Darren.


"Tidak ada kata istirahat bagi seorang dokter. jika pasien nya sedang dalam bahaya!" Tegas Darren menatap kearah Viola. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa istri nya itu terus saja keras kepala.


"Darren, kondisi ku tidak dalam bahaya. mungkin ini karna aku belum makan sejak tadi pagi." Ujar Viola pada Darren.


"Itulah akibat nya jika kau terus saja keras kepala! Sudah kukatakan pada mu bukan? Kau harus makan terlebih dahulu sebelum kita pergi. Namun, kau terus saja membantah ucapan ku! Viola Talisa kau ingin melihat aku cepat mati ya?" Darren sudah kehabisan kata-kata menghadapi sikap Viola.


"Darren maafkan aku," lirih Viola.


Darren yang mendengar ucapan dari Viola hanya menghela nafas nya dengan kasar iya pun langsung menekan tombol yang ada pada layar di dalam kamar nya itu.


"Dengar semuanya!" Suara Darren sudah terdengar di seluruh kediaman nya.


"Siapkan makanan dalam waktu 30 menit! Aku ingin beberapa menu makanan sudah ada di dalam kamar ku secepat nya. Jika telat 1 menit saja maka kalian semua akan tau apa akibatnya." Darren pun langsung menekan tombol tersebut untuk memutuskan koneksi nya itu.


Para pelayan yang mendengar perintah tuan muda nya tanpa basa-basi sudah langsung kalang kabut karna perintah tuan muda nya yang terdengar sangat menakutkan.

__ADS_1


"Dengar semuanya! lakukan dengan cepat! tanpa kesalahan sedikitpun! Kalian mengerti?" Tegas pak Dadang pada mereka.


"Mengerti kepala pelayan." Jawab mereka serentak.


Para koki yang di sana sangat bingung masakan apa yang akan siap dalam waktu 30 menit. Dan yang lebih membuat mereka tidak percaya tuan muda nya meminta beberapa menu makanan yang harus di hidangkan.


Viola yang melihat suaminya berbicara seperti itu merasa sangat bersalah. Karna dirinya seluruh orang yang ada di kediaman menjadi ketakutan dan panik.


"Darren apa harus kau bersikap seheboh itu?" Viola menatap punggung suaminya yang membelakangi dirinya itu.


"Jika kau tau aku akan bersikap seperti ini. Maka, berhenti lah membuat ku terus-menerus mengkhawatirkan mu!" Tatap tajam Darren mengarah ke Viola. Viola yang di tatap oleh Darren hanya bisa menundukkan kepalanya itu.


"Darren aku tau aku salah! Aku minta maaf." Viola tidak tau harus berkata apa lagi pada suaminya.


"Aku akan menyuruh Kasella untuk segera datang." Ujar Darren dengan suara datar nya.


"Darren, sudah ku katakan pada mu! Aku tidak apa-apa. Setelah aku makan semua nya akan baik-baik saja." Viola berusaha menyakinkan Darren. Ia kasian melihat dokter Andhika yang terus saja datang hanya untuk masalah kecil. Dan yang yang lebih parah nya lagi, Viola terlalu muak melihat perdebatan antara suaminya dengan dokter pribadi nya itu.


"Istriku, aku akan semakin khawatir jika semuanya belum di pastikan secara medis." Darren mengelus punggung tangan Viola.


"Darren kali ini saja! Aku mohon jangan panggil dokter Andhika. Aku lelah jika harus di periksa setiap saat." Viola terus saja membujuk suami nya.


"Viola!" Darren menatap tajam kearah Viola.


"Darren, bisakah kali ini kau menuruti ku?" Isak Viola pada Darren.


"Arghhh!!" Darren mengusap wajah nya dengan kasar saat ia terus saja melihat Viola seperti itu.


"Darren," lirih Viola pada Darren.


"Baiklah! Aku tidak akan memanggil Kasella kemari. Tapi kau harus makan sebelum kita pergi ketempat yang ingin kau datangin itu." Ucap Darren dengan suara datar nya.


"Bagus," Darren duduk di samping Viola dan ia mengecek suhu tubuh istri nya itu.


Darren terus saja mondar-mandir menunggu hidangan makanan tiba ke kamar nya. Dia bolak-balik memberikan perintah pada pak Dadang membuat pak Dadang sangat kuwalahan.


"Lama sekali mereka!" Geram Darren dan terus saja memegang walkie talkie nya itu.


"Bagaimana mereka bisa cepat jika kau saja seperti itu Darren!" Viola menghela nafas nya melihat suaminya itu.


"Aku seperti ini juga karna dirimu," sindir Darren pada Viola.


"Ya maaf," Viola merasa sangat kesal pada suaminya itu yang terus saja menuduh dirinya.


"Istriku kau jangan terus saja protes pada ku! Yang terjadi pada mu saat ini, itu karna kau selalu tidak pernah mau mendengarkan ucapan ku. Jadi istirahat lah dan jangan banyak membuang tenaga dengan kau berbicara ini dan itu." Tegas Darren pada Viola membuat Viola langsung terdiam.


"Darren apa-apaan sih! Aku ini bukan terkena penyakit mematikan. Jadi dia tidak perlu seperti itu." Ketus Viola di dalam hati nya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk lah!" Perintah Darren.


Setelah mendapatkan notifikasi dari tuan muda nya. Dengan sangat cepat pak Dadang membuka pintu kamar tuan muda nya itu dan sudah terlihat beberapa pelayan membawakan makanan dan langsung meletakkan nya di atas meja sofa milik Darren.

__ADS_1


"Darren," Viola menelan saliva nya dengan sangat susah saat melihat ada banyak sekali makanan di depan nya itu.


"Kalian boleh pergi!" Darren langsung menatap kearah kepala pelayan nya.


"Baik tuan muda," mereka semua menundukkan kepalanya dan mengundurkan diri dari hadapan Darren.


Setelah melihat para pelayan itu sudah pergi semua dan menutup pintu kamar mereka kembali. Darren beralih menatap kearah Viola sambil tersenyum melihat wajah istri nya yang sangat membuat nya gemas.


"Istriku sekarang makan lah!" Darren menghampiri Viola.


"Darren apa yang kau lakukan!" Viola sangat terkejut saat suaminya menghampiri dirinya dan langsung mengendong Viola.


"Tentu saja membawa mu kesana." Jawab Darren dengan sangat enteng nya.


"Aku bisa jalan sendiri Darren!" Kesal Viola.


"Kau ingin jatuh seperti tadi?" Darren menatap kearah Viola dengan tatapan yang sangat mematikan.


"Ti-tidak," Viola yang mendengar ucapan dari Darren hanya menundukkan kepalanya saja.


"Jika kau tidak ingin jatuh lagi, maka patuh lah pada ku." Darren menghela nafas nya dan langsung berjalan kearah sofa milik nya. Ia menurunkan Viola secara perlahan.


"Darren kau tidak makan?" Viola menatap kearah makanan lalu menatap kearah Darren.


"Kau saja yg makan!" Darren pun menyuapi Viola. "Buka mulut mu!"


"Darren aku bisa makan sendiri," Viola membuka mulut nya sambil berbicara dengan Darren, dalam kondisi mulut yang sudah terisi penuh.


"Menurut lah istri ku!" Ujar Darren pada Viola.


"Baiklah," Viola memajukan bibirnya dengan perasaan yang kesal.


Darren pun kembali menyuapi Viola dengan berbagai makanan yang pelayan nya hidangkan itu. Viola yang terus saja di suapi tanpa henti membuat perut nya menjadi mual.


"Darren cukup--," Viola langsung berlari kearah kamar mandi.


"Istriku ada apa?" Darren sangat terkejut dan langsung menghampiri Viola.


"Darren kau menyuapi ku terlalu banyak! Perut ku ini tidak sanggup menerima nya. Uwekkk, uwekk," Viola langsung memuntahkan semua makanan yang sudah ia makan tadi.


"Istriku kita hubungi Kasella saja ya? Aku khawatir melihat mu seperti ini." Darren sangat cemas melihat Viola terus saja muntah-muntah seperti itu.


"Ti-- uwekk!!" Viola kembali muntah. "Aku hanya kekenyangan saja. Bentar lagi baikan kok.'' sambung Viola.


"Seperti nya kau memang harus istirahat total. Aku tidak mengijinkan mu untuk pergi naik bus yang kau ingin kan itu." Ujar Darren.


"Ta-tapi kenapa Darren? Kau kan sudah berjanji pada ku." Viola yang mendengar ucapan Darren langsung menatap Darren.


"Itu karna kau sedang tidak sehat!' tegas Darren.


"Aku hanya kekenyangan Darren! Aku tidak sakit. Kau tidak liat apa berapa banyak makanan yang kau masukan kedalam perut ku ini." Gerutu Viola pada Darren.


"Aku bilang tidak! Jangan membantah ku Viola Talisa." Darren tidak ingin kondisi Viola semakin memburuk.


Viola yang mendengar suara suaminya sangat penuh dengan penekanan langsung terdiam. Sementara Darren berusaha mengontrol emosi nya itu agar tidak menyakiti perasaan istri kecil nya tersebut.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2