Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 69 Pertengkaran Hebat Darren dan Violah.


__ADS_3

"Viola! Viola! Apa yang kau katakan? Kau lihat lah sekarang wajah nya sangat mengerikan itu!" Viola menatap kearah Darren dan menelan saliva nya dengan sangat susah.


Darren berjalan mendekat kearah Viola. Mata nya bertemu dengan mata indah Viola membuat Viola semakin merasa takut.


"Ka-kau mau apa?" Viola sudah gemetar ketika pria yang ia bentak itu sudah ada di hadapannya.


Darren yang mendengar ucapan Viola hanya tersenyum tipis saja dan mengunci kedua tangan Viola membuat Viola sudah berada di bawah tubuh Darren.


"Da-Darren jangan macam-macam!" Viola menatap Darren dengan mata yang sangat takut.


"Macam-macam?" Darren menaiki alis matanya.


"Macam-macam seperti apa yang kau maksud istri ku?" Senyum tipis sudah terlihat di wajah tampan Darren.


"A-aku mau tidur!" Viola berusaha melepaskan kedua tangan nya. Namun, tenaganya kalah dari Darren.


"Kau mau tidur? setelah kau sudah berani berteriak seperti itu pada ku!" Darren menekan setiap kalimat nya itu pada Viola.


"A-aku tidak meneriaki mu!" Bela Viola pada dirinya sendiri.


"Lalu?" Darren hanya mengeluarkan satu katanya yang membuat Viola bingung harus menjawab apa.


"Ta-tadi kau itu sangat jauh! Jadinya a-aku takut kau tidak mendengar nya." ujar Viola dengan suara terbata-bata nya.


"Kau pikir aku tidak tau apa!" Darren hanya tersenyum sinis menatap Viola tanpa berkedip sedikit pun.


"Terserah kau mau percaya atau tidak! Sekarang lepaskan aku!" Viola terus saja memberontak agar tangan nya di lepaskan.


"Viola Talisa! Sejak kapan kau sudah berani berbicara tinggi pada ku?" Tatapan membunuh Darren sudah mengarah pada Viola. Membuat Viola diam seribu diam dan hanya mengalihkan matanya itu agar tidak bertemu dengan mata Darren.


"JAWAB!" Nafas Darren sudah memburu ketika tidak mendengar jawaban sedikit pun dari istri nya. Membuat Viola merasa betapa hangatnya nafas yang di hembuskan oleh suaminya itu menyentuh pipi Viola.


"Aku harus jawab apa?" Viola membalas tatapan Darren pada nya yang gak kalah tajam.


"Kau harus jawab apa yang aku tanyakan!'' Darren terus saja menatap mata Viola yang hampir mengeluarkan air mata.


"Argh!" Darren langsung melepaskan tangan Viola dan kembali berdiri.


"Aku akan keruang kerja ku! Hal yang paling menjijikkan bagi ku adalah melihat mu menangis!" sergah Darren dengan nada yang tinggi dan penuh penekanan.


"Ya! Ya kau memang benar! Kau kan selalu merasa jijik jika melihat ku. Kalau kau tidak ingin melihat perempuan yang menjijikkan ini maka ceraikan lah aku!" Viola sudah berbicara dengan suara yang sangat tinggi nya melihat punggung Darren yang membelakangi dirinya.


"Berani nya kau!" Darren mencekram tangan Viola dengan sangat kuat membuat Viola meringis.


Viola berusaha menahan rasa sakit nya itu agar tidak terlihat lemah di hadapan Darren.


"Kenapa? Kau marah pada ku? Jika kau marah kenapa tidak kau hancurkan saja lagi hidup ku ini! Bukan nya kau paling seneng menghancurkan hidup seseorang?" Air mata Viola kembali membasahi pipi nya itu.


"Ada apa dengan mu? Mengapa kau sangat sensitif sekali!" Darren melepaskan tangan Viola. Dia berusaha mengatur emosi nya agar tidak menyakiti orang yang sudah menempati posisi terpenting di hati nya itu.


"Kau bilang ada apa dengan ku?" Viola hanya tersenyum getir mendengar ucapan Darren pada nya.

__ADS_1


"Seharusnya aku lah yang bertanya seperti itu!" Viola kembali meneriaki Darren.


"Kau kenapa? Apakah sebegitu ingin nya kau bercerai dari ku?" Darren sudah berbicara dengan nada yang serius.


"A-apa! Dia bertanya pada ku?" Viola menatap Darren dengan bingung. Seharusnya dia lah yang bertanya hal itu.


"Jawab!" Darren yang melihat Viola hanya diam dan kembali tidak berani menatap mata Darren.


"A-aku .. hiks hiks hiks," Viola yang tidak tau harus ngomong apa sudah menangis histeris.


"Argh! mengapa aku bisa memiliki istri yang cengeng seperti ini." Darren mengusap wajah nya itu dengan kasar.


"Istriku, sudah jangan menangis!" Darren kembali duduk di atas ranjang nya dan menghapus air mata Viola. Walaupun di hati Darren sendiri masih merasa geram mendengar ucapan Viola pada nya.


"Darren, bukan kah seharusnya aku yang bertanya? Kau kan tidak mencintai ku jadi mengapa kau tidak ceraikan saja aku! Dengan begitu kau bisa mendapatkan istri yang kau cintai dan yang mencintai mu." Viola menundukkan kepalanya dengan suara sesenggukan nya tanpa berani menatap mata Darren.


"Istriku! Jangan pernah kau mengucapkan kata yang menjijikkan itu lagi padaku!" Tegas Darren pada Viola. Viola menatap wajah Darren dengan sangat intens.


"Ta-tapi kenapa?" tanya Viola pada Darren.


Darren menghela nafas nya dengan berat dan mengusap wajah nya itu secara kasar. Dia benar-benar sudah kehabisan kata-kata menghadapi istri kecil nya.


"Istriku, dengar baik-baik! Kau itu tetap akan menjadi istri ku selama nya dan menjadi mommy untuk anak ku nanti. Jika kau ingin berpisah dari ku. maka itu akan terjadi setelah aku meninggalkan dunia ini terlebih dahulu!" ucapan Darren terdengar sangat serius di telinga Viola. membuat Viola merasa bersalah.


Saat ini ingin sekali Viola membungkam mulut Darren yang sudah mengatakan kematian di hadapan nya. Namun ia mengurungkan niat nya itu. Menatap Darren saja dia sudah sangat gemetar apalagi jika harus menutup mulut Darren. Bisa mati dia hari ini juga!


"Darren kau saja tidak mencintai ku! Bagaimana bisa aku melahirkan anak mu?" ujar Viola dengan suara yang sangat pelan. Walaupun suara itu sangat kecil namun masih terdengar oleh Darren.


"Bagaimana dengan mu? Apa kau mencintaiku?" Darren bertanya balik pada Viola membuat Viola jadi salah tingkah.


"Jawab lah pertanyaan ku!" Darren terus saja menatap Viola.


"Te-tentu saja tidak! Mana berani aku mencintaimu." Elek Viola tanpa menatap mata Darren.


"Baiklah! Kau saja tidak mencintai aku, jadi untuk apa kau harus tau bagaimana perasaan ku yang sebenarnya!" Darren hanya tersenyum tipis saja.


"Kau pikir aku itu bodoh apa!" Gumam Darren di dalam hati nya.


"Setidaknya kau harus menjawab nya dengan jelas! Agar aku tidak bertanya-tanya." gerutu Viola.


"Istri ku! Apa kau sebegitu ingin tau nya tentang perasaan ku?" Darren menaiki alis nya dengan senyum sinis nya di hadapan Viola.


"Cih! Kau itu pede sekali." Viola menghembuskan nafas nya dengan kasar.


"Jika begitu baiklah! Kau tidak perlu tau bukan?" Darren menatap Viola dengan intens.


"Baiklah! Lagi pula itu tidak penting bagi ku." ujar Viola dengan nada yang lumayan tinggi. membuat Darren kembali bangkit dari duduk nya dan berjalan meninggalkan Viola begitu saja.


"Hah! Dia pergi begitu saja?" Viola menatap kesal kearah Darren yang sudah meninggalkan dirinya.


"Oh Viola! Bodohnya dirimu. Kau kan tau dia itu tuan singa sekaligus Mr.ice! Yang memiliki sifat kejam sekaligus dingin." Viola terus saja memaki-maki Darren dengan kata-kata nya.

__ADS_1


Saat ini Viola benar-benar kesal di buat oleh Darren yang seenaknya saja memperlakukan dirinya itu. Viola bangkit dari duduk nya dan segera menghubungi sahabat nya untuk segera datang ke bandara menemui adik nya itu.


...🌾🌾...


Bandara Internasional Soekarno-Hatta..


Saat ini Tara sudah berada di bandara internasional. Tara melihat kearah kanan dan kiri nya mencari keberadaan seseorang yang bagi dirinya tidak kalah penting dari kakak nya itu.


"Nona Tara!" Panggil Bobby berjalan mendekat kearah Tara.


"Anda siapa ya?" Tara menatap kearah pria paruh baya yang ada di hadapannya dengan penuh tanda tanya.


"Saya sekertaris kakak ipar mu nona Tara." Jawab Bobby dengan suara pelan nya agar tidak ada orang yang merasa curiga.


"Tu-tuan Bobby!" Kejut Tara dengan menutup mulut nya itu menatap Bobby tidak percaya.


"Nona jaga suara anda! Saya harap anda tidak berbicara yang tidak perlu anda katakan." Bobby sedikit menekan kalimat nya pada Tara karna dia saat ini sudah menjadi objek perhatian orang yang ada di sana.


"Ma-maaf tuan Bobby." Tara melirik kearah sekitar dan menatap Bobby dengan penuh penyesalan.


"Baiklah nona Tara! Mari ikut saya." Bobby segera mempersilahkan Tara untuk berjalan mengikuti dirinya.


"Kita mau kemana tuan Bobby?" Tara merasa bingung dengan arahan dari sekretaris kakak ipar nya itu.


"Kita akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu nona! Oh iya satu hal lagi anda itu status nya sebagai putri saya saat ini nona Tara. Jadi ketika kita sudah mulai berada di sekitar orang yang sangat ramai anda harus memanggil saya papa!" Perintah Bobby pada Tara dengan suara khas nya.


"Uhuk!" Tara yang mendengar ucapan dari sekretaris kakak ipar nya merasa sangat terkejut. "Maaf tuan Bobby! Saya tidak mengerti maksud anda."


"Baiklah nona Tara! Saya akan menjelaskan nya pada anda." Bobby menarik nafas nya dengan sangat dalam.


"Saya di perintahkan oleh kakak ipar mu untuk memastikan agar anda pergi dengan selamat. Dan saya di perintahkan oleh kakak ipar mu untuk menyamar agar tidak ada yang curiga. Jadi saya harap ikuti lah alur drama kita saat ini nona Tara." Bobby tersenyum kaku pada Tara yang menatap nya dengan sangat intens.


"Drama?" Tara terus saja menatap wajah Bobby yang terlihat masih tampan walaupun sudah menyamar.


"Iya nona Tara! Bukan kah kejadian kita saat ini terlihat seperti drama yang sering anda tonton?" Bobby menautkan kedua alis nya itu.


"Tuan Bobby, anda kok tahu saya suka nonton drama?" Tara terkejut mendengar ucapan dari suruhan kakak ipar nya.


"Tentu saja saya tau nona Tara! Semua yang menyangkut tentang nyonya muda saya akan tahu." balas Bobby dengan tersenyum.


"Ahh baiklah! Aku sudah tahu. Jadi, papa sekarang kita akan melakukan apa?" Tanya Tara dengan tawa yang mulai di tahan.


"Ki-kita akan melakukan pemeriksaan Stella!" Bobby merasa sangat merinding mendengar ucapan yang di keluar dari mulut Tara itu.


"Untuk seketika aku menjadi seorang papa!" Lirih Bobby di dalam hati nya.


Mereka berdua pun berjalan kearah bagian pemeriksaan. Satu persatu koper Tara sudah di periksa. Tara yang berada di sana masih tidak fokus dengan keadaan yang ada di hadapannya. Yang dia pikirkan saat ini dimana kakak angkat nya itu.


"Adik kecil!!" Teriak seseorang dari arah belakang Tara membuat Tara sangat terkejut.


Tara langsung menatap kearah seseorang yang memanggil nya. begitu juga dengan Bobby, Bobby menatap kearah orang yang tidak lain ia sudah sangat mengenal orang tersebut. saat itu hanya senyuman tipis saja yang terukir di wajah Bobby.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


...****************...


__ADS_2